My Little Hero

My Little Hero
21


__ADS_3

Aldan terus memikirkan kejadian kemarin hingga tak menyadari bahwa temannya terus memanggil namanya. " Aldan!!! " seru Bagas.


Aldan tersentak. " HAh, kenapa? "


Bagas menghela nafas, duduk di depan Aldan. " Dari tadi aku panggil, tapi kamu tidak menyahut sama sekali, kamu sedang memikirkan apa? "


Aldan terdiam sesaat. " Aku hanya berpikir jika sikap ku kemarin terlalu kasar padanya. "


Bagas menaikkan alisnya sebelah. " Maksud mu Aulina? "


Aldan mengangguk.


" Memangnya apa kamu lakukan padanya kemarin? "


" A--- aku bilang padanya apakah ibunya tak mengajarinya sopan santun. " cicitnya.


Bagas tertegun, ' buk ' Bagas memukul kepalanya dengan buku yang tengah ia pegang. " Apa ibu mu tak memberi tahu mu cara memperlakukan seorang wanita? "


Aldan terdiam, mengabaikan rasa sakit yang ia terima dari pukulan Bagas


" Apa kamu tak tahu siapa ibunya? "


Aldan menoleh.


" Nyonya Rinjani. "


' Buk ' Bagas memukul kembali kepalanya. " Bukan, itu ibu tirinya. "


Mata Aldan terbeliak.


" Jangan bilang kamu tak tahu? "


Hening.


Bagas kembali menghela nafas seraya berkata. " Aku beritahu yah, ibu kandungnya sudah meninggal saat dia masih kecil, lalu lima tahun kemudian ayahnya menikah lagi dengan nyonya Rinjani. "


Aldan mengerutkan dahinya. " Bagaimana bisa kamu tahu itu? "


" Tentu saja dari internet, sejak kamu bilang dia Aulina Darmawan, aku langsung mencari tahunya. Dan benar saja dia berasal dari keluarga terpandang. "


Aldan terdiam, berusaha mencerna informasi yang di berikan temannya. tangannya mengepal, mengutuk dalam hati betapa bodoh dirinya.


" Minta maaf lah, aku yakin dia pasti berpura-pura baik-baik saja di hadapanmu. "


" Tapi aku tak tahu bagaimana caranya? lagi pula aku takut dia akan salah paham. "


Bagas melipat kedua tangannya di dada, menatap Aldan dalam.

__ADS_1


Merasa di tatap, Aldan pun menoleh. " Kenapa kamu melihatku seperti itu? "


" Aku hanya berfikir jika kamu sangatlah bodoh. "


" Siapa yang kamu maksud bodoh, aku ini . . .


" Juara satu Nasional dan mendapatkan penghargaan sebagai mahasiswa tercerdas di bidang sains, dan dinobatkan sebagai pria terpintar se Nasional, " sela Bagas. Aldan pun bungkam. " Kamu sudah sering mengatakannya, kamu memang pintar jika dalam bidang sains tapi kamu begitu bodoh jika berhadapan dengan seseorang terutama perempuan, "


Aldan hanya bisa membisu tak mampu membalas, ia akui sejak kepergian ayahnya, ia menjadi lupa bagaimana caranya berinteraksi dengan orang-orang karena terlalu ambisius mengejar beasiswa dan menjadi murid terbaik.


Seperti yang dikatakan Aulina, sudah beberapa hari ini Aldan tak menemukan sosoknya yang seperti perangko yang selalu menempeli nya kemana pun ia pergi. Aldan merasa kehilangan.


Hari ini Aldan tengah menghadiri sebuah rapat untuk pengangkatan tumor otak pada seorang anak kecil yang baru berumur 5 tahun yang di pimpin oleh atasannya sendiri , Rangga. Namun karena terlalu memikirkan Aulina, ia menjadi tak bisa fokus bahkan tak memperhatikan apa yang disampaikan oleh atasannya.


" Aldan bagaimana menurutmu? "


Hening.


" Aldan! "


Bagas yang berada di sampingnya terus menyikut tangan Aldan, hingga akhirnya tersadar bahwa dirinya tengah mengikuti rapat penting.


" Iya pak! "


" Apa kamu sedang tak enak badan? " tanya Rangga.


" T . .


Rangga menoleh kearah Bagas lalu kepada Aldan


" Apa itu benar Aldan? " tanya Rangga lagi.


Dibawah meja, kaki Bagas terus memberikan isyarat untuk berbohong.


" Kamu tahu? saya tak suka jika ada orang yang berani melamun di saat saya sedang berbicara. "


Aldan berdiri lalu membungkukkan badannya seraya seraya berkata. " Maafkan saya ketua, saya memang sedang tidak enak badan. "


" Jika kamu merasa tidak enak badan, kenapa kamu tidak bilang? aku tak akan memaksa seseorang yang sedang sakit untuk bekerja, apalagi melakukan operasi. "


" Maafkan saya. "


" Sudahlah, lebih baik kamu pulang, jika perlu, kamu bisa mengambil cuti untuk beberapa hari. "


" Terima kasih pak. " Aldan menegakkan badannya.


" Lain kali jika kalian merasa tak enak badan lebih baik bilang dari awal, dari pada membuang-buang waktu datang ke sini. "

__ADS_1


ungkapnya. " Kalian mengerti! "


Dengan serempak mereka menjawab, " Iya pak. "


Aldan pun melangkah pergi meninggalkan ruangan, namun. . .


" Aldan! " panggil Rangga.


Aldan menoleh.


" Saya akui kamu memang memiliki otak yang jenius, tapi bukan berarti kamu bisa sesuka hati mengabaikan pendapat orang, apa lagi berani melamun disaat saya sedang memberikan penjelasan.---- bagiku kamu masih harus banyak belajar. "


Aldan terdiam sesaat. " Baik pak, maafkan saya, selanjutnya saya tak akan bersikap seperti itu. "


" Baguslah jika seperti itu, saya akui saya sangat iri sama akan kepandaian mu yang tanpa harus bekerja keras sedikitpun. "


Aldan terdiam, namun diam-diam tangan nya mengepal kuat di balik sakunya jasnya.


" Pergilah, waktu menjadi terbuang percuma, karena kamu. "


Tanpa berbicara, Aldan meninggalkan tempat itu, tangan nya masih mengepal, dia sangat tak menyukai ketuanya yang terus memojokkannya setiap ia melakukan kesalahan.


Pintar dan tak perlu bekerja keras, jangan bercanda. Aldan bahkan mengorbankan masa kecilnya hanya agar bisa seperti ini, andaikan bisa, ia ingin menyobek mulut pedas Rangga hanya karena dia lebih tua lima tahun darinya bukan berarti dia harus meremehkannya seperti itu, apalagi di depan rekan-rekan seangkatannya. Beruntung ia masih memiliki Bagas di sampingnya yang selalu membela dan menyadarkannya sebagai teman.


Untuk pertama kalinya Aldan merasa bahagia bisa pulang lebih awal tanpa harus mendengar nyinyiran dari atasannya. Langkahnya yang gontai berjalan keluar meninggalkan rumah sakit.


*


Sesampainya di rumah.


" Aku pulang. " ucapnya.


" Selamat datang, kenapa kamu sudah pulang? "


" Aku kurang sehat jadi minta pulang lebih awal. "


" Kenapa? apa kamu demam? atau kamu merasa nyeri di sebelah mana? " tanya ibunya beruntun. seraya memeriksa seluruh tubuhnya.


" Aku hanya lelah saja bu. Tolong untuk hari ini jangan ganggu aku, aku ingin pergi beristirahat. "


" Baiklah kalau begitu.--- apa ingin ibu buatkan teh atau bubur? "


Aldan menggeleng. " Tidak bu, aku hanya perlu pergi beristirahat saja. "


" Ya sudah, pergilah ke kamarmu. "


Aldan mengangguk, seraya berjalan menuju kamar.

__ADS_1


Setibanya di kamar, Aldan pun merebahkan tubuhnya. Merogoh ponselnya namun tak ada satupun notifikasi yang masuk, biasanya ia akan mendapat puluhan bahkan ratusan pesan yang di kirimkan Aulina, kali ini ia hanya mendapat pesan dari operator yang kurang kerjaan, seperti mendapat pesan embel-embel hadiah ratusan juta dan lain-lain, ada pula Bagas yang menanyakan kabarnya yang berisi tentang tentang ketuanya yang bahagia ketika dirinya tak ada . pantas saja dia dengan senang hati memberinya izin bahkan cuti libur, tak heran karena sejak awal Rangga sangat tak menyukainya, takut tersaingi yang kapan saja bisa merebut kursinya.


Aldan menghela nafas. " Apa dia marah padaku? atau karena dia sibuk? apa dia begitu sibuk? apa dia sudah makan?. "


__ADS_2