My Little Hero

My Little Hero
21


__ADS_3

Jika di ingat kembali, Aulina merasa sangat malu setengah mati, jika saja perjalanan waktu itu ada mungkin ia akan memarahi dirinya di masa lalu. Jika anaknya tahu kalau ibunya bersikap seperti itu, Juju pasti akan malu memiliki seorang ibu sepertinya.


" Kamu sudah datang? "


Aulina terlonjak kaget, mendengar suara suaminya " Huh --- iya begitulah. " timpalnya, sesekali melirik Nadira.


Aldan mengerutkan dahinya. " Kenapa wajahmu memerah, apa kamu sakit? " tangannya terulur menyentuh dahinya yang tak panas.


" A-a-aku tak sakit.


Aldan menyipitkan matanya seraya bertanya. " Kamu tak memikirkan hal kotor bukan? "


Mata Aulina terbeliak. " Si-siapa yang memikirkan hal kotor? aku bukan lah orang seperti itu. "


Aldan melipat kedua tangan nya di depan dada, alisnya naik sebelah.


Di tatap seperti itu membuat Aulina menjadi salah tingkah dibuatnya. " Kenapa kamu menatapku seperti itu? "


" Apa aku tak boleh menatap istri ku sendiri? "


Pipinya bersemu. " Apa kamu sedang menggodaku? "


Aldan menyeringai, ia mencondongkan tubuhnya, menyamakan tingginya dengan Aulina seraya berbisik. " Bukankah semalam istriku ini lebih menggoda? "


Rona di kedua pipinya berubah warna menjadi merah padam kepalanya tertunduk malu, gemas. Aldan pun mencubit kedua pipinya. " Kenapa istri ku ini sangat lucu? eum "


Nadira yang melihat pemandangan di depan matanya hanya bisa memutar bola matanya. " Maaf mengganggu adegan romantis kalian. tapi bisakah kalian melakukan nya di rumah? kalian berdua melukai mataku. " katanya.


Aldan hanya terkekeh, sedangkan rona wajah Aulina masih merah padam.


" Sudahlah, lebih baik aku pergi. Tak baik untuk mataku jika aku terus berlama-lama melihat adegan romantis kalian, aku pergi. " Nadira pun pergi meninggalkan mereka berdua.


" Sampai kapan kamu mau mencubit kedua pipiku? apa kamu ingin menjadikan kedua pipiku menjadi bakpao?"


Aldan kembali terkekeh, kepalanya menengok ke arah kiri dan kanan, lalu ' cup ' ia mencium bibir Aulina kilat. " Ayo pergi! " katanya, tangan nya menggenggam erat tangan istrinya.


Aulina tertegun.


" Kamu mau makan apa? "


hening.

__ADS_1


Aldan menghentikan langkahnya. Matanya menatap wajah istrinya. " Apa yang barusan belum cukup? "


" Huh. "


" Kita bisa melanjutkannya malam ini. " bisiknya.


Rona pipinya kembali memerah. " Kamu!! "


" Sudahlah, ayo kita jemput anak kita. Dimana dia sekarang? "


" Ah, aku lupa memberitahumu, Juju bilang, dia akan makan siang bersama Andri. "


Aldan mengerutkan dahinya.


" Kenapa? "


" Apa kamu tak merasa kalau putra kita akhir-akhir ini lebih sering menghabiskan waktunya dengan Andri dari pada dengan kita, bahkan Direktur pun terus menanyainya. "


Aulina mengangkat kedua bahunya. " Biarkan saja, Mungkin dia rindu bermain dengan Andri. "


" Apa kamu akan membiarkannya begitu saja? "


" Kenapa? apa kamu tak menyukainya? Lagi pula Andri adalah ayah baptisnya, kamu tak perlu khawatir, sejak bayi hingga sekarang, dia selalu menemani Juju kemanapun. "


" Jangan menyalahkan diri sendiri, jika kamu terus seperti ini. Aku semakin merasa bersalah. " Aulina berkata, kepalanya tertunduk.


Seketika hati Aldan menjadi luluh . Tangannya menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya. " Mungkin seribu maaf ku tidak akan mengubah apapun dalam hidup kalian, seberapa banyak aku mengucapkannya tak akan membuat kita mengulang kembali waktu yang telah berlalu. " melonggarkan pelukan. " sorot matanya menatap dalam mata istri nya. " Bagaimana kalau kita beri dia adik seperti yang . . Aw, " Pinggangnya di cubit.


Matanya menatap tak percaya.


Aldan pun terkekeh. " Kenapa? tak ada salahnya bukan? "


Hening, Aulina pun melepaskan diri lalu pergi.


" Sayang! tunggu aku. "


Di waktu yang sama.


Juju menatap seorang pria dewasa di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. pria dewasa itu adalah Thedy Arga Putra, pemilik C company, sekaligus penguntit Juju.


Thedy menatapnya santai seraya menyesap secangkir teh yang dibawakan oleh Juju. " Aku tak menyangka, setelah kemarin menjadi penguntit ku, dengan terang-terangan kamu mendatangiku secara langsung , "

__ADS_1


" Setidaknya aku tidak seperti seseorang. " timpalnya.


Melirik Juju kilat. " Aku salut dengan nyali mu, memang gen Darmawan adalah gen yang terbaik. "


Juju menyeringai. " Terima kasih atas pujiannya. Bolehkah aku memakan kuenya? mereka sangat menggoda mata. "


" Tentu saja, paman sudah menyiapkan untuk menyambut kehadiran mu. "


" Heh, bagaimana paman tahu aku akan datang? "


Thedy tersenyum seraya menatapnya. " Jika paman bilang karena insting. Apa kamu akan mempercayainya? "


Juju tak menjawabnya langsung, tangannya memasukan sepotong cupcake coklat kedalam mulutnya, nyam nyam nyam Juju menikmati setiap gigitan cupcake itu. " Paman membeli cupcake ini dari mana? rasanya pas di mulutku. "


Thedy menyeringai. " Apa kamu tak takut? bisa saja aku memasukan racun kedalam mulutmu. "


Tanpa melepaskan pandangannya dari cupcake itu. Juju berkata, " bisa juga aku memasukan racun itu kedalam teh mu. "


Thedy terdiam sesaat, lalu kemudian ia tergelak. " Hahaha. " Tawanya menggelegar, " memang gen Darmawan adalah yang terbaik, kalian semua sama , " dia berhenti tertawa, matanya menatap dingin ke arah Juju. " Sama-sama menyebalkan. "


Kini bagian Juju yang tergelak. " Paman pandai memuji, aku jadi tersanjung. "


Thedy terdiam.


Kue di atas piring itu habis tak tersisa, lidahnya menjilati setiap jarinya. " Bukankah paman yang menguntit ku lebih dulu? "


" Apa ibu mu yang memberi tahunya? "


Jari telunjuknya ia simpan di dagu seperti sedang berpikir. " hm hm hm, coba aku ingat dulu. " katanya, Juju melirik Thedy sekilas. " Coba tebak. "sambungnya.


Thedy tergelak kembali, tangannya memegangi perutnya, salah satu tangannya menyeka air mata. " Kamu sangat menggemaskan, ingin rasanya aku menghancurkan mu berkeping-keping dan membuangnya jauh. "


Juju menggembungkan kedua pipinya, kedua tangannya ia lipat didada. " Bukankah ucapan paman terlalu kasar untuk di dengar oleh anak berusia enam tahun? " melirik Andri di sampingnya, " Benarkan ayah baptis? "


Kedua mata Andri mengerjap, " huh, iya bagaimana bisa orang dewasa seperti mu mengatakan kata-kata sadis kepada anak kecil? dasar tak tahu malu. " katanya seraya memeluk erat tubuh Juju.


Tatapannya menjadi lebih dingin kearah Juju dan Andri. " Sebenarnya apa yang kalian inginkan? "


" Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu? apa yang paman inginkan? kenapa paman menguntit ku sejak kecil? dan kenapa paman mengancam Bubu ku? dan siapa paman sebenarnya? apa hubungan paman dengan Bubu ku? " tanyanya beruntun


Thedy menyeringai. " Ayo bertaruh. Siapa yang pertama kali tahu kebenarannya? harus mengabulkan semua permintaannya, bagaimana? tertarik? "

__ADS_1


" Rasanya tak adil, paman sudah mengenal ku sejak kecil, sedang kan aku tak mengetahui apa pun tentang paman."


" Kamu bisa bertanya kepada Bubu mu, kita sudah lama saling mengenal. "


__ADS_2