
Kriiiiiiiing bel sekolah pun berbunyi, menandakan bahwa waktu pelajaran bahasa jepang telah usai, dan saatnya mengganti pelajaran dengan pelajaran baru, Semua murid termasuk sang guru, Bu Erika menghentikan aktifitasnya. Bu Nanami pun memandang seluruh kelas seraya berkata. " Ryokaishimashita. kyono ressun wa kore de jubundesu. Raishu no uta no kadai o teishutsu suru koto on wasurenaide kudasai. " pesannya .
( Baiklah, hari ini pelajaran kita cukup sampai di sini. Jangan lupa untuk mengumpulkan tugas puisi untuk minggu depan. )
Serempak semua murid menjawab. " Hai. "
( iya. )
" Kiritsu! " seru ketua kelas.
( Berdiri. )
Semua murid pun berdiri seraya membungkukkan sedikit tubuh mereka
" Arigatou gozaimas. Nanami sensei, "
( Terima kasih banyak, bu Nanami. )
Bu Nanami menganggukkan kepalanya lalu melenggang pergi keluar dari dalam kelas.
Setelah memastikan Bu Nanami telah pergi sepenuhnya, Lingga yang telah di penuhi rasa penasaran, menoleh seraya melontarkan pertanyaan pada sahabat sebangkunya.
" Juju, ada apa dengan mu? sejak tadi mengabaikan ku, lalu dari mana saja dirimu? meninggalkan ku dengan Zaydan."
Seraya membereskan barang-barang, Juju berkata. " Bukan apa-apa, hanya saja ada yang mengganggu sedikit pikiran ku. "
" Apa itu? " tanya nya penuh antusias.
" Selepas sekolah, aku akan memberi tahumu. " timpalnya, membuat kedua bahu Lingga turun ke bawah. Meski begitu dia tak berkecil hati dan sabar menunggu sahabatnya untuk bercerita. Raut wajahnya kembali ceria. " Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi ke ruang seni. "
Kepala Juju mengangguk, mengikuti Lingga dari belakang.
Sesampainya di ruang seni.
Seorang wanita paruh baya tengah berdiri di depan kelas dengan anggun, dia guru seni sekolah itu, Bu Erika. Setelah memastikan semua murid telah berkumpul, Bu Erika pun berkata. " Baiklah anak-anak sekarang carilah pasangan kalian untuk menggambar wajah satu sama lain. "
Mendengar hal tersebut membuat Lingga dan Diandra pun berebut tempat untuk menjadi pasangan Juju, membuat seisi kelas menjadi gaduh oleh mereka, akan tetapi seisi kelas menghiraukan pertengkaran mereka termasuk Juju sendiri yang mulai mencari pasangannya sendiri, Kecuali Bu Erika yang mulai kesal dengan kegaduhan yang mereka buat
" Lingga! Diandra! tolong jangan ribut di kelas ku. " ucapnya lantang seraya berkacak pinggang.
__ADS_1
" Tapi dia duluan bu. " bela Diandra.
" Kok aku sih, kan kamu yang mulai duluan. " Timpal Lingga tak mau kalah
Diandra mendelik tajam, " Jadi kamu nyalahin aku! "
" Kalau iya kenapa? "
" Kamu tuh sebagai laki-laki seharusnya mengalah padaku sebagai seorang wanita. "
Kedua tangannya di lipat di dada, salah satu alisnya terangkat seraya menatapnya remeh. " Oh kamu wanita, kupikir kamu adalah wanita jadi-jadian . "
Kedua bola mata Diandra melotot marah ke arah Lingga, tak terima di Katai, kedua tangannya mengepal kuat " Apa?!! kamu bilang? coba kamu ulangi sekali lagi. "
" Wanita jadi-jadian. " ulang Lingga seraya menjulurkan lidahnya pada Diandra.
Diandra yang murka, mulai menjambak rambut Lingga. Lingga yang tak terima pun membalas menjambak rambut Diandra dan terjadilah perkelahian di antara mereka. Meski begitu seisi kelas begitu tenang kecuali mereka berdua.
Juju yang masih mencari pasangan, menemukan Kayla yang termenung sendiri.
" Aku boleh jadi pasangan kamu? "
Juju pun tersenyum simpul lalu duduk di depannya, mengabaikan dua orang yang masih bertengkar karena nya.
" Lingga! Diandra! cukup! " teriak Bu Erika. yang sudah mulai jengah dengan pertengkaran di antara ke duanya dan memisahkan nya secara paksa.nafasnya terengah-engah menahan marah. " Apa kalian sadar, semua teman kalian sudah mulai melukis, "
Keduanya menatap seisi kelas yang mulai melukis dengan tenang.
" Pokoknya saya nggak mau tahu, kalian harus menjadi pasangan."
Lingga pun melepaskan tangan nya dari kepala Diandra dan berkata dengan percaya diri. " Maafkan saya bu guru, tapi aku sudah memiliki pasangan, benarkan Juju? " Lingga menoleh lalu tertegun tak mendapati sang sahabat di sampingnya, kepala nya celingak-celinguk mencari sosok sahabatnya.
" Kamu mencari siapa Lingga? "
" Tentu saja temanku, Juju. "
" Apa maksudmu Arjuna, dia sudah mendapat pasangan nya sendiri, lihat! dia sudah mulai melukisnya, "
Lingga menoleh ke arah yang di tunjukan oleh gurunya, matanya terbeliak, melihat sahabatnya tengah melukis dengan damai dan tenang, kembali menatap gurunya, " kok bisa sih bu? " kembali menatap sinis Diandra. " gara-gara kamu sih. "
__ADS_1
" Kok jadi nyalahin aku sih! "
" Lingga! Diandra! jika kalian terus seperti ini, jangan salahkan saya, jika kedua orang tua kalian akan hadir di sini, "
Kedua mata mereka terbeliak secara bersamaan, saling bertukar pandang, lalu berbalik memeluk tubuh bu Erika secara bersamaan. Menatap memelas memohon" Jangan bu, jika ibu bilang ke mamah saya, bisa-bisa jatah uang jajan saya dipotong. "
Diandra pun mengangguk-anggukan kepala menyetujui perkataan Lingga. " iya bu tolong, jangan beritahu orang tua kami. "
" Kalau begitu, berjanjilah untuk tidak membuat kegaduhan di kelas saya, "
Keduanya saling bertukar pandang sejenak lalu menganggukkan kepalanya. " Bu Nanami tersenyum simpul, " Kalau begitu cepatlah duduk dan mulailah untuk melukis! "
Keduanya mengangguk cepat, dan bergegas duduk di bangku kosong terakhir , rambut mereka acak-acakan serta terdapat cakaran pada wajah mereka masing-masing. Mereka berdua duduk saling berhadapan seraya melayangkan tatapan membunuh satu sama lain.
Berakhirnya pertengkaran antara Lingga dan Diandra membuat kelas menjadi hening kembali. Semua murid hanyut dalam suasana damai dalam kelas.
" Maaf. " cicit Kayla
" Untuk? " timpal Juju yang fokus melukis.
" Karena sudah memarahi mu kemarin. "
" Tak perlu, lagi pula, kamu benar tak seharusnya aku membiarkan mereka bertengkar, dan menganggu mu. "
Suasana menjadi hening kembali, hingga bu Erika itu menangkap hasil lukisan tangan Juju, membuatnya terkagum-kagum dengan bakat yang di milikinya, bahkan bu Erika dengan bangga memperlihatkan hasil karya nya kepada semua murid yang berada di dalam kelas, membuat seisi kelas menjadi iri serta kagum, termasuk Diandra dan Lingga yang merasa iri pada sosok yang di gambar oleh Juju, seharusnya salah satu dari mereka yang berada di buku sketsa Juju bukan Kayla saingan terbaru mereka.
Kayla pun terdiam menatap wajah Juju.
Sadar tengah di tatap, juju pun berbalik menatap. " Kenapa? "
" Tidak ada. aku tak pernah berpikir, selain pandai mengobati, kamu juga ternyata pintar menggambar. "
" Terima kasih, gambar mu juga bagus. "
Kayla pun menutup buku sketsanya lalu melenggang pergi tanpa mengatakan apa pun, meninggalkan kesan misterius.
Setelah kelas bubar, Lingga menghampiri Juju seraya merengek minta di tampol. " Juju, kenapa kamu tega mengkhianati ku? kenapa kamu memilihnya dan bukan aku? "
" Bisakah kamu berhenti merengek seperti seorang gadis. "
__ADS_1
Seketika wajah Lingga merengut sedangkan Diandra terkekeh, menatap Juju. " Arjuna! kalau begitu. bisakah kamu menggambar ku? kamu tahu? dia ini sangat tak pandai melukis, bagaimana bisa dia menggambar ku seperti ini. " ungkap Diandra