
" Bagaimana aku pintar kan? " tanya nya.
Juju hanya bisa terdiam tanpa merespon apapun, tatapannya kosong kedepan. Setelah saling berkenalan, Bubunya meninggalkannya dengan Lingga di sebuah tempat penitipan anak yang berada di pusat perbelanjaan. Jika harus memilih, dia lebih memilih terjebak di gudang buku sendirian dari pada harus terjebak dengan seorang anak laki-laki di depannya, anak laki-laki itu Lingga tak henti-hentinya mengoceh, dari membahas kucing nya Neo yang akhir-akhir ini sering keluar rumah dan jarang pulang, atau pun nama seekor anjing saudara yang di beri nama Kimi, yang biasa nya nama itu di berikan pada seekor kucing. Dan sekarang dia sedang membanggakan diri karena berhasil menyusun puzzle berukuran sedang hanya dalam satu menit.
" Bagaimana menurut mu? " tanyanya lagi.
Juju terdiam, mengambil buku yang selalu ia bawa lalu membacanya, tanpa memperdulikan Lingga.
Kesal diabaikan, ia menggembungkan kedua pipinya seraya bertanya," Apa yang kamu baca? "
Tanpa mengalihkan perhatian dia menjawab " Apa kamu tak lihat! aku sedang membaca buku. "
Lingga bungkam tak bisa berkata, tapi ia tak menyerah begitu saja," kamu bersekolah dimana? " tanyanya lagi.
" Aku tidak sekolah. "
Lingga mendekatkan tubuhnya pada Juju " Kenapa? " tanyanya penasaran.
Juju menggeser tubuhnya menjauh darinya . " Karena tak ada sekolah yang mau menerima ku, jadi aku memutuskan untuk belajar langsung dari ahlinya. "
Lingga terdiam, mencoba mencerna perkataan yang dikatakan oleh Juju, tubuhnya kembali mendekat. " Kenapa tak ada yang menerima mu? apa karena kamu terlalu pintar?, ibu ku bilang kamu ini sangat pintar. "
" Begitulah. " timpalnya singkat.
Lingga memandangnya takjub. " Apa kamu juga pandai memainkan permainan? "
Juju mengerutkan dahinya. " Permainan? permainan apa yang kamu maksud? "
" Kamu tahu play station kan ?"
Juju mengangguk.
" Mau bermain? "
Juju menaikkan alisnya sebelah. " Maaf tapi aku tidak tertarik dengan hal kekanakan seperti itu. " ujarnya, berdiri seraya memasukkan kembali bukunya kedalam tasn, " maaf sepertinya kita tak cocok untuk menjadi teman," menenteng tas, " kau dan aku sangat berbeda. " mengambil ponsel, Menekan sebuah nomor di ponsel, " tapi aku akui, kamu anak baik, tapi sayang nya kita sangat bertolak belakang "
" Apa kamu takut? "
' Halo Juju, ada apa? ' Kata pria di sebrang sana. Juju menyipitkan matanya, " Apa yang kamu bilang barusan? "
' Halo Juju, Apa kamu de --' mematikan panggilan secara sepihak.
Lingga berdiri gagah, " Aku bilang, apa kamu takut? "
" Takut? " Juju terkekeh. " Untuk apa aku takut? "
" Benarkah? " menatapnya remeh.
Melipat kedua tangan di dada. " Apa kamu baru saja meremehkan ku? "
" Entahlah, meski ibu ku bilang bahwa kamu memiliki otak yang cerdas bukan berarti kamu juga pandai dalam segala hal, selama ini tak ada yang bisa mengalahkan ku. "
__ADS_1
Merasa tertantang. " Kalau begitu ayo kita lakukan. "
" Bukanlah tadi kamu bilang. .
" Yang kalah harus menuruti permintaan yang menang, Bagaimana?"
Lingga tersenyum penuh kemenangan.
" Siapa takut? ayo. "
Lingga pun mengambil ponselnya dan memesan sebuah taksi.
Setibanya di rumah Lingga. Juju menatap rumah itu takjub dalam hati. Rumah itu sangat besar dan mewah, bahkan jarak antara halaman dan rumah utama sangat jauh, layaknya rumah rumah orang kaya dalam sebuah drama.
' Kenapa Bubu tak pernah bercerita kalau dia memiliki teman anak sultan seperti ini. ' batin Juju.
Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke rumah utama.
" Selamat datang tuan muda. " para pelayan membungkuk menyambut kehadiran Lingga.
" Aku tak tahu orang tuamu sangat kaya. "
Lingga menoleh seraya berkata. " Kenapa? apa kamu menyesal karena sudah menolak berteman dengan ku? tapi tenang saja pintu . . .
" Tidak! aku tak menyesalinya, malah sekarang aku semakin yakin kalau kita tak bisa menjadi teman. "
Lingga hanya mengangkat kedua bahunya seraya terus berjalan membawa Juju ke kamar tidur miliknya.
" Nah ambil lah. " Lingga memberikan sebuah konsol game, Juju menerimanya lalu duduk di samping Lingga.
seraya menatap layar besar di depannya.
" Ingin bermain apa? " tanyanya.
" Terserah. "
Lingga pun mangut-mangut, tangannya terus menekan konsol game. " Bagaimana dengan balapan mobil? yang mudah mudah saja. "
" Terserah, yang penting aku bisa pulang dengan cepat. "
" Baiklah."
Mereka pun memutuskan untuk memainkan sebuah permainan balapan mobil yang terdapat di dalam play station.
Awalnya Juju memimpin jalannya permainan,membuatnya tersenyum puas, namun detik berikutnya Lingga menyusul dan memenangkan permainan tersebut. Senyumnya luntur seketika.
" Bagaimana? "
Juju tercengang dan tak merespon perkataan Lingga.
" Karena. . .
__ADS_1
" Kamu baru menang sekali masih ada dua babak lagi. " selanya.
" Baiklah, kamu benar. "
Mereka pun memainkan permainan itu hingga sepuluh kali. Dan berakhir Juju yang kalah telak. Membuatnya tertegun tak percaya, menatap telapak tangannya. " Tidak mungkin, bagaimana bisa? " gumamnya.
" Juju? " panggil Lingga.
Mengabaikan Lingga, terus bergumam" Bagaimana bisa ini terjadi? "
" Halo, apa ada orang? " katanya seraya melambaikan tangan di depan wajah Juju.
Masih mengabaiakannya
" Tidak bisa seperti ini. "
Kesal, Lingga pun berteriak tepat di samping telinganya" Oi, BANGUN! "
Juju terlonjak kaget, menatapnya dengan tatapan tak suka. Sedangkan Lingga tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.
" Aku menang. " katanya.
" Lalu? "
Lingga tercengang. " Apa kamu lupa? kita sudah bertaruh sebelumnya, jangan bilaaaaaaaanggg...
" Aku ingat, cepat katakan apa mau mu. "
Lingga terkekeh, tangannya merangkul tubuh Juju. " Kenapa harus terburu-buru? kita baru saja selesai bermain. Apa kamu tidak lapar? "
" Tidak! aku tidak.. . ~kruyuk. Perutnya berbunyi dan mengkhianatinya. Juju mempertahankan wajah datarnya.
Lingga menyunggingkan senyumnya. " Heh, aku baru saja mendengar sesuatu." godanya.
" Jika tak ada yang akan kamu katakan, lebih baik aku pergi saha. " katanya pergi seraya menahan malu, namun Lingga menahannya. " Baiklah, jangan marah, aku hanya bercanda. Aku sudah meminta salah satu pembantuku untuk membuatkan kue coklat sebagai kudapan kita. "
Mendengar kata coklat, membuatnya sedikit tergoda. " Baiklah, aku menghargai pembantu mu. "
" Sambil menunggu, bagaimana kalau kita mainkan satu babak lagi. "
" Tidak! "
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa ibu Juju, alias Aulina datang menjemputnya pulang, membuat Lingga sedikit sedih menatap kepergiannya.
" Lingga! " panggil Juju dari dalam mobil
Lingga menoleh.
" Besok, aku akan mengalahkan mu. "
Lingga kembali tersenyum cerah lalu mengangguk.
__ADS_1