
Setelah selesai menyantap makan malam,Aldan pun membawa putranya masuk ke kamarnya untuk pergi tidur,tapi sebelum itu dirinya pergi keluar sebentar untuk mengambil baju tidur untuk putranya pakai dan meninggalkannya sendirian di dalam kamar.
Sesampainya didalam kamar mata Juju tak henti-hentinya merasa kagum melihat isi kamar ayahnya yang dipenuhi berbagai buku medis,dirinya sangat beruntung memiliki ayah yang menggemari bidang yang sama dengannya,matanya menelusuri tiap jengkal rak itu hingga matanya tak sengaja menangkap sampul buku yang ia kenali,penasaran dengan buku itu ia pun mencoba meraihnya dengan kaki pendeknya,tapi karena terlalu tinggi,ia pun mencoba mencari cara agar bisa meraihnya,kemudian matanya menatap kursi yang terletak tak jauh dari sana yang kemudian dia gunakan sebagai pijakan untuk meraih buku tersebut, 'grep' ia berhasil mendapatkan buku itu,matanya semakin berbinar ketika buku yang diambilnya adalah buku yang selama ini ia cari,ia pun membawa buku itu ke meja belajar ayahnya dan membacanya dengan seksama, tangan kecil nya perlahan membuka setiap lembar buku itu dan membacanya dengan seksama,bahkan dirinya tak sadar sedang di tatap heran oleh ayahnya
"Apa yang kamu baca?,"tanya nya tiba-tiba membuat Juju terlonjak kaget dan langsung menutup bukunya,dengan cepat mengubah ekspresi terkejutnya dengan wajah biasanya.
"Apa yang ayah maksud?,"elaknya, Aldan menyipitkan matanya curiga.
"Lalu apa yang kamu pegang?,"katanya menunjuk buku yang Juju pegang.
"Ah,kupikir ini buku cerita,"elaknya lagi.
"Benarkah,?"curiganya,"tapi ayah lihat,kamu sangat serius membacanya,bahkan tak menyadari keberadaan ayah,"sambungnya.
'glek' Juju menelan Saliva nya gugup,takut ketahuan dan hanya bisa terdiam tak tahu harus menjawab apa?,karena dirinya sudah berjanji pada Bubunya untuk menutupi jati dirinya bahkan pada ayahnya sendiri.
"Tapi bagaimana kamu bisa membaca?,apa Bubu mu yang mengajarimu?,"tebaknya.
"I-iya,seperti itulah,"timpalnya gugup"Ayah,aku sudah mengantuk,bisakah kita pergi tidur sekarang?,"mengalihkan pembicaraan. Aldan mengerutkan alisnya lalu kemudian menghela nafas. Mungkin anaknya masih belum percaya padanya atau ibunya yang menyuruhnya. ia mendekat menghampiri Juju.
"Baiklah,"katanya,"karena anak ku sudah mengantuk,sebagai ayahnya yang baik akan ku turuti permintaan anak ku," katanya tersenyum lembut dan mengusap puncak kepala anaknya."Tapi sebelum itu,gosok gigi mu terlebih dahulu kemudian mencuci muka,"ucapnya. Juju mengangguk menuruti perkataan ayahnya lalu pergi ke kamar mandi.Setelah anaknya pergi ke kamar mandi,Aldan mengambil buku yang sedang dibaca oleh anaknya tadi,ia dibuat tertegun dengan melihat buku apa yang sedanh dibaca anaknya tadi pasalnya buku itu adalah buku yang sangat rumit untuk dipahami,bahkan ia baru bisa memahaminya saat dirinya berada di bangku kuliah,tapi barusan anaknya membacanya dengan serius seakan-akan memahami isi buku tersebut,ia tak habis pikir,bagaimana bisa Juju membacanya?,Apakah dia bisa memahaminya?.Bukan kah Juju baru berusia 5 tahun?,apa itu masuk akal?,sebenarnya apa lagi yang istrinya sembunyikan darinya?. Tak lama kemudian anaknya kembali dari kamar mandi dengan sudah mengganti bajunya dengan piyama,Aldan langsung menutup buku itu dan mengembalikan nya ketempat semula kemudian menghampiri anaknya yang sudah siap pergi tidur.
__ADS_1
"Tidurlah,"katanya seraya membenahi posisi tidur.
"Apa ayah tidak akan bercerita sebelum tidur?,"
"Tapi ayah tidak pandai bercerita,"
"Tapi aku ingin mendengar ayah bercerita, sebelum tidur,"pintanya dengan wajah melasnya,Aldan menyerah,melihat sikap anaknya yang begitu lucu membuatnya luluh dan menuruti permintaan anaknya.
"Tapi berjanjilah satu hal pada ayah,"
"Apa itu,?"
"Setelah ayah selesai bercerita,kamu harus langsung pergi tidur,"
"Baiklah,tapi jangan salahkan ayah jika ceritanya akan sangat membosankan,"ingatkan nya,Juju mengangguk.
"Baik,dahulu kala ada seorang anak kecil yang berasal dari keluarga yang sangat miskin. Saking miskin nya mereka bahkan kesulitan untuk makan normal seperti orang lain,terkadang mereka hanya bisa makan sehari sekali atau pun tidak sama sekali,tapi meski begitu anak kecil itu tak pernah mengeluh atau pun bersedih. Hingga suatu hari ayah anak kecil itu sakit keras dan membutuhkan uang yang banyak sekali untuk pengobatannya,tapi karena keluarganya yang miskin membuatnya tak bisa menolong ayah nya hingga akhirnya meninggal dunia,setelah kepergian ayah nya membuatnya terpukul dan bertekad untuk mendatangkan uang sebanyak mungkin agar hidupnya tak sulit.Untungnya otak anak itu sangat pintar hingga memudahkan nya untuk mengambil jenis ilmu apa pun yang ia inginkan,dan beruntungnya ia memiliki seorang donatur yang mau membiayainya sampai ia bisa membayar uang sekolahnya sendiri,lalu memutuskan untuk belajar ilmu sains. Ia juga berharap dengan kepandaian nya bisa membantu orang-orang yang sedang kesulitan seperti ia dulu,sejak saat itu ekonomi keluarga nya menjadi stabil dan tak pernah kekurangan lagi,"
"Apa dia hidup seperti itu terus menerus?"
Aldan tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Iya. Hingga suatu hari pria itu bertemu dengan seorang wanita yang cantik,kaya,dan juga agresif. Setiap hari wanita itu akan mengunjungi dan memintanya untuk menikahinya. Bahkan wanita itu menawarinya jika menikahi nya maka ia akan membiayai seluruh pendidikannya. Tentu saja sebagai pria sejati ia menolaknya setiap hari. Hingga suatu hari ia menyadari bahwa wanita itu tak seburuk yang ia pikirkan selama ini dan memutuskan untuk membuka hatinya untuk si wanita,mereka akhirnya bersama,tapi tiba-tiba wanita kaya itu menjadi miskin. Karena malu sudah menjadi miskin wanita itu kemudian pergi meninggalkannya."
"Apa mereka bisa bersama kembali?,"
"Ceritanya sudah selesai,".
"Apa?!," pekiknya,"tapi ayah,cerita mu belum selesai bagaimana kelanjutan mereka dan aku masih belum mengantuk,"
"Bukankah kamu sudah berjanji?,"
"Tapi ayah,aku sangat penasaran,siapa yang membiayai nya waktu kecil?,"
"sudah sudah,besok akan ayah lanjutkan ceritanya..lihat," menunjuk ke arah jam ,"sudah larut,kamu masih anak-anak dan membutuhkan banyak istirahat,"
"Baiklah,"Juju menyerah dan menarik selimut
"Apa kamu ingin ikut ayah ketempat kerja?,"
Matanya antusias semangat,"Tentu saja aku ingin,".
Aldan tersenyum,"kalau begitu tidurlah lebih awal. Jika tidak ayah akan meninggalkan mu"
__ADS_1
Juju yang antusias kemudian menutup matanya lalu terlelap,Aldan menatap wajahnya yang sedang terlelap ia menyesal karena tak bisa berada disisi mereka di saat membutuhkannya. Andaikan saja mereka tak berpisah mungkin saat ini mereka sedang bersama, tangan nya mengelus wajah Juju dengan lembut . Meski wajahnya mirip dengan nya tapi sifatnya lebih banyak ke sisi ibunya.
"Lina maafkan aku,andai saja aku lebih terbuka padamu waktu itu,mungkin kita tak akan pernah di kondisi seperti ini,".