My Little Hero

My Little Hero
35


__ADS_3

" Karena sebenarnya. . .


Juju duduk terdiam seraya menunggu penjelasan dari Lingga.


" Sebenarnya. . . .


Masih sabar menunggu


" Sebenarnya. .


Juju pun memutar bola matanya, mulai jengah dengan Lingga yang terus menggantungkan ucapannya, menghela nafas. " Jika kamu tak ingin mengatakannya, tak masalah. Aku tak pernah memaksamu untuk mengatakannya padaku. " ucapnya seraya berdiri lalu menyambar salinan artikel itu, " Kalau begitu terima kasih, karena telah membantuku. " sambungnya lalu melangkah pergi, namun, sebuah tangan menarik ujung bajunya seketika langkahnya terhenti, ia menoleh dan mendapati Lingga yang tengah menarik ujung bajunya dengan wajah yang sulit di artikan, antara cemas dan bingung.


" Tunggu, aku kan belum selesai bicara. " Lingga berkata.


" Bukan kah aku sudah bilang ? jika tak ingin. . .


" Aku ingin mengatakannya. " selanya cepat, " tunggulah beberapa menit lagi, aku perlu menenangkan dan mengumpulkan keberanian dalam diriku sejenak. "


Juju pun terdiam sejenak, seraya menatapnya. " Baiklah, aku akan menunggu jawaban mu dalam lima menit. jika tidak ? aku akan pergi. " putusnya


Lingga pun mengangguk senang


" Kalau begitu, bisakah kamu melepaskan tanganmu dari bajuku ? "


Sadar, tangannya masih memegang ujung baju temannya, ia pun tersenyum cengengesan, melepaskan tangannya seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. " Hehe maaf. "


Mendengar hal tersebut membuat juju kembali memutar bola matanya malas, lalu kembali duduk seraya menunggu penjelasan dari temannya, memasang timer pada ponselnya, lalu membaca kembali artikel yang ada di tangannya.


" Sebenarnya dulu, pernah ada artikel yang mengatakan bahwa ibu Yuda adalah seorang wanita cacat, " ucapnya tiba-tiba.


" Dan kamu adalah orang yang menyebarkannya. " Celetuknya.


Kepala Lingga mendongkak. " Bagaimana bisa kamu tahu? "


" Terlihat jelas di wajahmu. "


" Benarkah? "

__ADS_1


" Apa aku perlu memberimu kaca? agar kamu bisa melihat, bagaimana ekspresi wajah mu sekarang? "


Mulut Lingga bungkam, tak tahu harus berkata apa?


" Lalu kenapa kamu melakukannya? "


Kepalnya mendongkak, " Apa kamu tak marah? "


" Bohong jika aku berkata tidak, aku tak mengerti dengan isi dalam otakmu, kenapa kamu bisa sekejam itu pada temanmu sendiri? " ungkapnya dengan nada kecewa. " Tapi di balik semua itu, aku yakin kamu pasti punya alsan tersendiri untuk melakukannya. "


" Tentu saja, kamu tahu? untuk pertama kalinya ada seseorang yang mau mendengarkan ku, bahkan kedua orang tuaku saja tak mau mendengarkan ku, dan malah langsung menghukum ku, dengan mengurung diriku di dalam kamar selama seminggu, serta memutuskan semua jaringan internet di rumah ini, kamu tahu? betapa sakitnya hatiku pada saat itu. " ungkapnya dengan nada sedih.


" Lalu bagaimana bisa kedua orang tua mu mengetahui bahwa itu adalah kamu? bukankah kamu adalah seorang ahli dalam komputer? "


Menghela nafas., kepalanya kembali tertunduk. " karna aku lupa menghapus riwayat pencarian dalam komputer ku, dan kebetulan ibu ku yang selalu melakukan pemeriksaan secara rutin, menemukan hal tersebut, ibu ku sangat marah mengetahui bahwa anaknya yang menyebarkan artikel tersebut. Tanpa mendengarkan penjelasan ku terlebih dahulu, ibuku langsung menarik daun telinga ku dan membawa ke sekolah, dan membuat ku mengakui kesalahan ku di depan kelas, dan kamu tahu bagaimana ekspresi Yuda waktu itu? dia berpura-pura sakit hati, padahal aku tahu bahwa dalam hatinya dia sedang bersorak ria, aku menyesal karena sudah berteman dengan nya. " jelasnya panjang lebar.


" Teman? "


" Iya. dulu, aku dan Yuda adalah teman dekat, pertama kali mengenalnya dia adalah orang yang ramah dan baik, bahkan dari sifatnya itu membuatku menjadikannya sebagai teman pertamaku, kami pun pergi makan ke kantin setiap hari bahkan setiap hari dia selalu bermain di rumahku, meski dia adalah teman, tapi aku tak pernah membawanya keruangan ini, karena ruangan ini bersifat rahasia. jadi aku tidak membiarkan siapa pun masuk kecuali ayah dan ibu ku, tapi aku tak tahu bagaimana caranya dia bisa masuk kesini dan memasang virus pada perangkat komputer ku? "


" Kau tahu? selain meretas, aku juga suka membuat barang-barang seperti kamera CCTV kecil ini. " menyerahkan kamera berukuran mini pada Juju, Juju pun memperhatikan dengan seksama bentuk kamera itu.


" Karena merasa terkhianati, aku pun mencari tahu semua tentang nya, yang ternyata lebih sulit dari yang aku duga, aku bahkan meretas dokumen negara, seakan -akan identitasnya adalah rahasia negara, tapi aki tak menyerah begitu saja, setelah sekian lama aku mencari, aku pun menemukan sesuatu yang menarik dan membuat ku begitu terkejut, karena aku menemukan data rumah sakit, di sana tertera bahwa Yuda memiliki seorang ibu yang cacat otak. Tanpa pikir panjang aku pun menyebarkan berita itu ke isi sekolah, dan kamu tahu akhirnya bagaimana, aku di cap sebagai perundung dan tak ada yang mau berteman dengan ku, takut jika aib keluarga mereka terbongkar. Apa aku salah? " jelasnya kembali.


" Dilihat dari mana pun kamu memang salah. "


" Tapi, bukankah dia yang memulai lebih dulu? kamu tahu butuh satu minggu bagiku untuk memulihkan sistem, bagi mu mungkin itu bukanlah apa-apa, tapi bagiku mereka adalah anak-anak ku yang harus aku rawat, untung saja otakku ini pintar. "


" Lalu bagaimana denganku? " Juju bertanya tiba-tiba


Kepala Lingga mendongkak, " huh, apa maksudmu? "


" Iya ,bagaimana denganku? bagaimana jika aku melakukan hal yang serupa seperti yang di lakukan Yuda padamu? "


" Insting ku mengatakan, bahwa kamu tak mungkin melakukan hal itu. "


alisnya naik sebelah, " Insting? "

__ADS_1


" Ya insting ku ini sangat bagus, makanya aku tak pernah membawa Yuda keruangan ini, dan kamu adalah orang pertama yang aku bawa ke sini. " katanya bangga


" Apa kamu sungguh tak takut jika suatu saat aku mengkhianatimu? "


" Jika itu terjadi, mungkin aku akan bunuh diri. Lalu menghantui mu seumur hidup mu."


" Memangnya kamu percaya dengan adanya hantu? "


" Aku sangat percaya. karena aku pernah bertemu dengan mereka, bahkan kamera ku sempat menangkap penampakan dari mereka. "


" Kau serius?! "


" Tentu saja, jika kamu ingin a-


" Tidak perlu, lebih baik balik lagi ke topik pembahasan kita. " selanya.


" Oh kamu benar, sampai mana kita . . . oh iya sejak saat itu hubunganku dengan Yuda merenggang, dan aku tak lagi berteman dengannya, tapi kenapa kamu begitu penasaran dengan pamannya?


Juju hanya terdiam.


" Apa kamu masih tak ingin terbuka denganku bahkan setelah aku memberitahu semuanya padamu?! wah ternyata aku memiliki teman yang sangat kejam. "


" Aku tahu, aku memang kejam, tapi mungkin ini lebih baik. "


" Hey jangan seperti itu, baiklah aku tarik kembali kata-kata ku, bukan kah sebagai teman harus saling berbagi? ayolah aku mohon. "


" Kenapa kamu sangat ingin membantuku? "


" Tentu saja karena kita adalah teman. "


" Hanya itu saja? "


" Memangnya apa lagi selain itu? apa kamu curiga jika suatu hari aku akan menjatuhkan mu? "


mulut Juju kembali membisu.


" Baiklah kalau kamu tidak percaya, aku bisa bersumpah pada langit, jika aku mengkhianati mu maka aku Lingga akan menerima akibatnya. "

__ADS_1


__ADS_2