
Pertemuannya dengan Andri membuat hidupnya sedikit lebih baik dari sebelumnya, mereka memutuskan untuk menjadikan bangunan itu sebagai toko butik, tentunya banyak yang harus mereka perbaiki dari bangunan itu dan merombak habis- habisan, menyulapnya menjadi lebih enak di pandang dari sebelumnya.
Tiga hari mereka habiskan untuk merombak toko itu, dengan keterampilan Aulina dalam bidang bisnis ia mampu memajukan bisnis Andri hanya dalam tiga bulan dengan perut buncitnya.
" Kakak beristirahat lah sebentar, sudah beberapa hari ini kamu terus bergadang. Bergadang tak baik bagi ibu dan si jabang bayi, benarkan? Utun? " katanya pada perut buncit Aulina yang masih kecil, kandungan nya sudah memasuki usia enam bulan. Kenapa Andri memanggil bayi dalam perut Aulina dengan panggilan Utun?, karena ia bingung harus memanggilnya apa jadi ia mengikuti tren ibu-ibu tempatnya dulu tumbuh dengan memanggil si jabang bayi Sebagai Utun.
Aulina menghela nafas, menoleh ," baik lah, baiklah aku akan pergi istirahat, jadi berhentilah mengoceh. Kepalaku selalu terasa sakit, setiap kamu berbicara,"
Andri terkekeh, semenjak ia tahu bahwa Aulina tengah hamil, ia menjadi merasa bersalah karena sudah memperkejakan seorang ibu hamil. sejaj itu ia menjadi over protektif terhadapnya, layaknya seorang suami yang mengkhawatirkan kondisi anak dan istrinya, ia juga memutuskan untuk menjadi ayah baptis nya kelak, ketika bayi itu lahir.
Aulina berjalan ke sebuah ruangan yang sudah dipersiapkan untuknya. Tentunya ruangan itu di desain secara khusus. Terdapat satu ranjang berisikan sebuah kasur berkualitas super serta ruangan itu dibuat kedap suara agar tak mengganggu waktu istirahat.
Ia membaringkan tubuhnya secara perlahan lalu menutup matanya.
*
Kicauan burung yang sedang bertengger di pohon membuatnya terusik . Netra nya mencoba menyesuaikan cahaya dari sinar matahari yang menerpa wajahnya. matanya menelusuri setiap sudut tempat itu, Aulina mengerutkan dahinya, ini bukan lah ruangan yang dibuatkan khusus Andri untuknya melainkan sebuah ruangan rawat inap rumah sakit. terdapat selang infus ditangannya.
Aulina mencoba mengingat- ingat
" Ah ternyata hanya mimpi ," gumamnya. Perlahan bangkit, kepalanya terasa sakit.
" Bubu!!,"
Aulina terlonjak kaget mendengar teriakan dari seorang anak kecil. Perlahan menoleh ke arah sumber suara dan menemukan sosok anaknya yang tengah berlari kearahnya sembari Aldan yang mengikutinya dari belakang. tangan kanannya menjinjing sebuah plastik hitam, Aroma enak menusuk indera penciumannya.
Aulina tersenyum " Naiklah ," tangan nya menepuk -nepuk atas ranjang.
Juju menoleh pada ayahnya.
Mengerti arti dari tatapan itu, Aldan mengangkat tubuhnya dan mendudukkan nya dia atas ranjang.
Aulina memeluk putranya, ia terdiam sesaat menyadari bahwa bobot tubuh anaknya berkurang. " Mengapa kamu sangat kurus sekali?, Bubu baru saja meninggalkan mu tadi pagi, bagaimana bisa tubuhmu menjadi sekurus ini? "
Juju dan Aldan saling terdiam.
Aulina memperhatikan ekspresi wajah kebingungan mereka, membuatnya penasaran " Ada apa? kenapa wajah kalian berekspresi seperti itu ? "
__ADS_1
Hening.
Aulina menyipitkan matanya , " Ada apa dengan kalian? apa kalian sedang menyembunyikan sesuatu dari ku?, "
" Bukan apa - apa," sela Juju. mengalihkan pembicaraan, " Bubu aku sangat lapar, kamu tidur begitu nyenyak hingga aku tak berani membangunkan mu ,"
Aulina menaikkan alisnya sebelah, ada yang mereka sembunyikan darinya, " Baiklah, ayo kita makan ," ia beranjak dari atas ranjang pasien, tubuhnya sedikit lemas, bahkan tubuhnya oleng jika saja tak ada Aldan di sampingnya mungkin ia sudah tersungkur di atas lantai.
Mereka menyantap makanan yang Aldan bawa, kecuali Aulina, Aldan melarangnya keras dan hanya memberinya semangkuk bubur putih polos, ingin menolak tapi ia tak punya tenaga untuk melawannya . nyam nyam nyam. Mereka menyantap makanan dengan lahap.
" Terima kasih "
Kalimat itu datang tiba - tiba dari bibir Aulina di selanya menyantap makanan.
Aldan menoleh, ia tersenyum lalu menjawab lembut. " Sama - sama, "
Hening kembali, hanya terdengar suara mereka yang sedang mengunyah makanan.
*
Aldan mengantar mereka pulang tentu nya ia sudah meminta izin terlebih dahulu untuk pulang lebih awal.
Sesampainya di rumah, Aldan membanjiri nya dengan berbagai ceramah, seperti jangan terlalu sering memakan makanan cepat saji, jangan banyak bergadang, perbanyak olah raga dan masih banyak lagi, bahkan telinganya sudah sakit mendengar ocehan Aldan, hanya bisa pasrah mendengar ceramah panjang lebar dari mantan suaminya ini. Di ujung kursi anaknya Juju hanya terkekeh melihatnya terjebak mendengar omelan dari mantan suaminya.
" Apa kamu dengar Lina? "
Matanya mengerjap beberapa kali , " hah. . . iya tentu aku mendengar semua yang kamu katakan," sembari mengangguk - anggukan kepalanya
Aldan menatapnya datar.
Aulina menjadi salah tingkah sekaligus takut jika ditatap seperti itu, ia mencoba mengalihkan pembicaraan mereka dengan membicarakan menu makan malam yang akan mereka santap.
" Maaf kan aku "
Aulina tercenung mendengar perkataan mantan suaminya.
" Untuk apa?"
__ADS_1
" Maaf ,karena tak bisa menjadi ayah dan suami yang baik bagi kalian ,"
Aulina dan Juju saling bertukar pandang.
" Aku tahu, tak seharusnya aku hadir dalam hidup kalian dan memaksa kalian untuk menerima ku," kepalanya tertunduk, kedua tangannya mengepal menyadari kesalahan nya.Ia membenci dirinya lebih dari siapa pun.
Hening, tak ada yang berani untuk berbicara, bahkan cicak pun enggan untuk bersuara.
Tanpa sadar air mata Aldan mengalir begitu saja ke atas pipinya. Aulina panik tapi ia tak tahu harus berbuat apa.
Tangan Aldan semakin mengepal kuat. " Lina, ada yang harus aku beritahukan padamu," ucapnya tiba-tiba, netra nya menatap tepat pada mata Aulina. Aulina menelan salivanya.
" Sebenarnya kamu sudah mengalami koma selama sebulan,"
" Ayah!" seru Juju.
Aldan menoleh sembari tersenyum, " tak apa nak, kamu tak perlu khawatir, biarkan ibu mu mengetahui segalanya,"
" Tapi ayah. . .
Aulina menyipitkan matanya. " Ada apa dengan kalian? kalian pikir aku tak tahu? kalian sudah menutupi sebuah fakta bahwa gula darah dalam tubuhku naik, hingga membuatku jatuh koma selama 3 bulan "
Aldan dan Juju tercenung" Bagaimana kamu tahu? "
Aulina menghela nafas, kedua tangannya ia taruh di depan dadanya, " apa kalian pikir aku terlihat seperti orang bodoh yang mudah dibodohi ?. . . tentu saja aku tak tahu, meski aku tak mengerti sama sekali tentang medis, tapi aku mengetahui jelas tentang kondisi tubuhku sendiri . aku salut pada kalian yang menutupinya dariku, lagi pula mengapa kalian menyembunyikan nya dariku?, gula dalam darahku hanya naik, bukan berarti aku menderita tumor , kanker atau semacamnya."
" Apa kamu pikir hanya tumor dan kanker saja yang berbahaya, jika gula darah mu rendah juga bisa mengakibatkan kematian " terangnya. " kami tak bermaksud menyembunyikannya darimu hanya saja, waktu itu kamu baru bangun dan tak ingin membebani pikiran mu ,"
Aulina hanya bisa diam, tak bisa membalas.
" Ada satu hal lagi yang ingin aku bicarakan pada mu ,"
" Apa itu?"
Aldan menatapnya serius.
" Tentang......
__ADS_1