My Little Hero

My Little Hero
22


__ADS_3

Sepanjang perjalan pulang Juju hanya terdiam seraya memandang kendaraan yang berlalu lalang dari balik jendela mobil. Andri yang bingung harus berkata apa? hanya bisa diam membisu.


Jika semua yang di katakan Thedy padanya adalah sebuah kebenaran bahwa Bubunya mengenalnya, maka ada alasan yang pasti mengapa dia menguntit dirinya sejak kecil dan mengapa begitu membenci keluarganya?. Apakah itu juga menjadi salah satu alasan Bubunya meninggalkan ayahnya? tapi apa? jika ia bertanya langsung pada Bubunya, apakah dia akan memberikan jawaban yang di inginkan nya? pastinya tidak, satu-satunya orang yang bisa memberinya jawaban yang memuaskan adalah Om nya.


*


" Bagaimana dengan jalan-jalannya? apa sangat menyenangkan? " tanya Aulina seraya memberikan sepiring nasi kearahnya.


Juju tersenyum cerah, seakan tak terjadi apapun. " Saaaaaangat menyenangkan. "


Aulina dan Aldan saling bertukar pandang heran, tak biasanya dia seantusias itu. "Tumben kamu seantusias ini. Memangnya kalian ini pergi kemana saja ? "


" R-a-h-a-s-i-a. " katanya seraya menikmati hidangan makan malam, nyam nyam nyam ia mengunyah makanan itu dengan semangat.


Aldan menghentikan aktivitas nya sebentar, menatap kearah anaknya. " Apa ayah tak boleh mengetahuinya? "


Juju menggeleng.


" Kenapa? "


Juju menoleh, dalam mulutnya masih mengunyah sepotong daging hingga lembut kemudian menelannya. " Karena ini adalah R-a-h-a-s-i-a. "


" Kalau begitu, Bubu hanya perlu menghubungi pamanmu dan menanyakannya secara langsung. "


" Bagaimana dengan adikku? " tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Keduanya terdiam menghentikan sejenak aktivitas mereka. Saling bertukar pandang, " kenapa kamu ingin sekali memiliki adik? " tanya Aulina.


" Karena aku sangat kesepian, kalian terlalu sibuk dengan kerjaan kalian masing-masing, jika aku memiliki seorang adik mungkin aku tak akan kesepian, setidaknya ada seseorang yang harus aku jaga. "


Keduanya kembali bungkam.


" Jika kamu kesepian, Bubu bisa kenalkan kamu dengan anak teman Bubu. "


Juju menoleh. " Aku tak mau, apa Bubu lupa? semua anak yang sebaya denganku menjauhi ku karena aku anak aneh. "


' Brak ' Aldan memukul meja keras. " Siapa yang memanggilmu aneh? biar ayah datangi kedua orang tuanya."

__ADS_1


Aulina dan Juju, terlonjak kaget dengan sikapnya yang tiba-tiba, namun, detik berikutnya mereka berdua terkekeh secara bersamaan.


" Kenapa kalian tertawa? " tanyanya heran. " Aku serius. "


" Tentu saja kami tahu, " timpal Aulina, mengambil sesendok sayuran dan meletakkan di atas piringnya.


" Tapi aku lihat ka--- am. " Aulina memasukkan sesendok makanan kedalam mulut suaminya seraya berkata. " Habiskan dulu makanan nya, baru kita berbicara. "


Juju kembali terkekeh, kembali menyantap makan malamnya.


Aldan menatap keduanya tak percaya.


*


" Bagaimana menurut mu? " Tanya Aulina, memperlihatkan sebuah foto seorang anak laki-laki berumur sekitar enam sampai tujuh tahun, di setiap foto anak laki-laki itu selalu menampilkan senyum cerah.


" Entah lah, kurasa aku tak menyukainya, dia terlihat berisik dan mengganggu. " timpal Juju


Aulina tercengang. " Bagaimana kamu tahu? "


" Bukankah sudah terlihat jelas? "


Kini Juju mengerutkan dahinya. " Kenapa Bubu berpikir demikian? dari sifatnya saja kita sudah sangat bertolak belakang "


" Tentu saja kalian cocok, dia periang dan kamu pendiam, Bubu yakin kalau kalian pasti akan menjadi sahabat yang. . .


" Tidak! " selanya. " Aku menolaknya, aku meminta kalian untuk memberiku adik, bukan seorang teman, dan aku menolaknya. "


kesalnya seraya membuang wajahnya, kedua tangannya di lipat di dada.


Aulina menghela nafas, menatap suaminya.


Aldan pun mengambil alih posisi istrinya, " Juju. " Panggilnya.


Hening.


Melirik istrinya, Aulina mengangkat kedua bahunya. Aldan menghela nafas. " Juju, ayah dan bubu tahu kalau kamu sangat kesepian. "

__ADS_1


" Jika kalian tahu, kenapa kalian tak segera memberiku seorang adik? "


" Ayah bukannya tak ingin memberi mu seorang adik, butuh proses dan waktu yang sangat panjang. " berpikir sejenak, " bagaimana sambil menunggu adik mu datang, cobalah untuk berteman?. Ayah tahu ini pasti sulit, tapi tak ada salahnya untuk mencobanya. "


Hening kembali.


" Jika kamu mau mendengarkan kata-kata ayah, nanti Ayah akan memberimu dua adik sekaligus bagaimana? "


Mata Aulina terbeliak, menatap suaminya tak percaya.


Juju pun akhirnya menoleh. " Benarkah? jangan pernah membohongi ku. "


" Tentu saja ayah tak membohongi mu, bagaimana? "


Juju menaruh jari telunjuknya di dagu, " Baiklah, kali ini aku akan mencobanya kembali, ingat! jangan coba-coba untuk membohongi ku, jika itu terjadi? jangan salah kan aku jika aku tak mengenali ayah lagi. " Kepala Aldan mangut-mangut, " tapi. Jika kami tak cocok, jangan paksa aku lagi untuk berteman dengan siapapun, deal? " mengulurkan tangan.


" Deal. "


Esok harinya di sebuah kafe anak. Juju dan Aulina menunggu kedatangan seseorang seraya menyantap segelas es krim coklat dengan porsi besar.


Kring , pintu cafe terbuka, seorang wanita berumur tiga puluh tahunan berjalan masuk seraya menggandeng seorang anak laki-laki yang berusia sekitar enam sampai tujuh tahun, pakaiannya yang nyentrik membuatnya terlihat mencolok.


" Dara! " seru Aulina


Wanita itu menoleh tersenyum seraya berjalan kearah mereka.


" Lina? " berpelukan,cium pipi kanan, cium pipi kiri " ya ampun kamu kok makin cantik saja? sudah lama nggak ketemu bagaimana dengan hubungan kalian berdua? "


" Kamu ini bisa saja, cantik bagaimana? yang ada kamu semakin cantik. "


Disaat kedua orang tua saling bertukar sapa dan berbasa-basi, di saat yang sama para anak tengah saling menatap satu sama lain.


" Oh iya kenalkan, dia anak ku Lingga Magani. " ucap Dara. " Sayang ayo kenalan dengan teman baru kamu. "


Lingga tersenyum cerah, tangannya terulur ke depan. " Hai, aku Lingga Magani, kamu bisa memanggilku Lingga, atau Gaga. Atau kamu bisa memanggilku apa pun jika kamu punya julukan untukku, umur ku baru enam tahun, hobi ku memainkan game. Siapa namamu?. "


Dahi Juju mengerut, dia tak menyangka kalau teman barunya ternyata lebih parah dari perkiraan. Dia lebih berisik dari yang ia duga, Juju membalas jabatan tangan itu seraya berkata. " Aku Arjuna, kmu bisa memanggilku Juju.? "

__ADS_1


Mata Lingga semakin bersinar. " Juju? nama yang bagus, senang bertemu denganmu. Ayo kita berteman. "


Juju melirik Aulina sejenak. Aulina mengangguk


__ADS_2