
Seminggu telah berlalu, selama itu Juju tinggal di rumah Thedy dan Yuda, selama itu pula ia bisa mengenal Yuda lebih jauh lagi, sikapnya yang arogan ketika di sekolah, sangat berbanding balik dengan sikapnya yang di rumah, yang lebih pendiam dan penurut.
Meski setiap hari mereka selalu bertatap muka, akan tetapi dia lebih menjaga jarak dengan nya, ' Apa dia tidak menyukai ku karena aku berteman dengan Lingga? " pikir Juju.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Juju merasakan kabur dari rumah, rasa rindu bercampur rasa bersalah menjadi satu, ' Bubu rindu tidak yah sama aku? tapi kenapa aku tak melihat satu berita tentang kehilangan ku? apa bubu marah karena aku sudah bersikap kasar padanya? kenapa aku jadi menyesal telah berkata kasar seperti itu? ' batinnya.
" Ada apa? apa makanannya tidak enak? " tanya Thedy di sela makannya.
" Ah tidak, hanya saja aku sangat merindukan keluarga ku. " ucapnya lirih. " Apa paman yakin? mereka tidak mencari ku? "
" Tentu saja, untuk apa aku berbohong padamu? "
" Tapi. .
Brak! Thedy memukul meja makan. sorot mata nya tajam nan menyeramkan.
" Habiskan makanan mu, jangan karena aku memanjakan mu bukan berarti kamu bisa membuang- buang makanan sesuka hati mu. " tegur nya dengan tegas.
Juju tertegun, meski sebelumnya ia tahu bahwa Thedy selalu melontarkan kata-kata kasar padanya, namun untuk pertama kalinya ia melihatnya terlihat sangat kesal dan marah terhadapnya, mulutnya seketika terkunci, kepalanya tertunduk, mau tak mau ia harus menghabiskan makanan di atas piringnya meski pun dirinya tak bernafsu sama sekali.
Setelah menghabiskan makan malam dengan terpaksa, Juju merebahkan dirinya di atas ranjang, air matanya mengalir begitu saja, ia sangat merindukan sosok dari Bubunya yang selalu ada menemaninya, dan juga seorang ayah yang selalu memanjakan dirinya
' Tok tok tok ' suara pintu di ketuk, Juju pun menghapus air matanya dengan segera, lalu menghampiri pintu itu, ketika pintu itu terbuka, Juju sedikit kaget mendapati Yuda yang tengah memegang buku pelajaran.
" Aku di suruh paman, untuk menerangkan pelajaran yang kamu lewatkan selama ini. "
" Oh, kalau begitu masuk lah. "
Yuda pun melenggang masuk, mereka duduk dia atas lantai beralaskan bulu harimau.
Mereka tengah duduk saling berhadapan, ketika Yuda membuka buku pelajaran, Juju tertegun sejenak, bukan karena tugasnya yang sudah menumpuk bagaikan gunung, atau pun karena bahasa yang sulit di pelajari, melainkan Yuda mengiriminya sebuah pertanda bahwa paman nya telah menipu dirinya, dengan menandai beberapa abjad menggunakan pena yang hanya bisa terlihat jika terkena kuku tangan.
Dia juga mengatakan bahwa paman nya juga menutupi kebenaran tentang kedua orang tua Juju yang kini tengah mencari keberadaannya.
' bersikap lah seolah-olah tak tahu. ' isyarat Yuda.
Setelah mengetahui kebenaran itu, Juju pun memutuskan untuk melarikan diri dari rumah itu.
' Terima kasih. '
Sejak saat itu, Juju mulai menghitung Jumlah CCTV, karena letak rumahnya berada di dalam gunung. Thedy memasang beberapa sistem keamanan otomatis berteknologi tinggi yang bisa mencegah hewan buas atau pun pencuri yang masuk kedalam rumah nya. Rumah itu pula dilengkapi sinar laser yang bisa membunuh hewan atau pun seseorang mati seketika.
__ADS_1
Setelah seminggu lebih dirinya tinggal. ia juga menyadari bahwa Thedy ternyata suka memaksa Yuda untuk melakukan apa pun yang di inginkan nya, salah satunya menyuruh Yuda untuk memasang virus pada perangkat milik Lingga.
Tiga Minggu kemudian.
Setelah memastikan bahwa rencana pelariannya sudah mencapai tingkat tujuh puluh persen kemungkinan berhasil, ia pun langsung melancarkan aksinya pada dini hari. Tak lupa sebelumnya ia mengajak Yuda untuk melarikan diri. Namun Yuda menolak, karena ia harus menjaga ibunya.Juju pun tak bisa berkata apa-apa lagi.
Meski memiliki resiko tinggi yang memungkinkan nya untuk bertemu hewan buas namun hanya dini hari lah waktu yang tepat untuk melarikan diri, sebab di waktu itu. Thedy menurunkan kewaspadaannya.
Seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya, Yuda akan membantu Juju untuk mematikan semua sistem yang akan mati hanya dalam sepuluh meni saja, dan selama itu juga Juju harus berlari sekuat tenaga untuk bisa melewati halaman yang luas itu.
Sesampainya di dalam hutan yang gelap. Juju pun mulai meningkatkan kewaspadaannya.
Layaknya dalam sebuah film, detak jantungnya terus berpacu dengan cepat.
Tiba-tiba terdengar suara grasak grusuk dari balik semak-semak. Juju pun berbalik bersiap-siap menyerang jika kemungkinan yang keluar dari balik semak-semak adalah itu serigala atau beruang.
Semak-semak itu terus bergerak semakin cepat, tangannya semakin kuat mencengkram pisau dapur yang sudah ia modifikasi menjadi tombak listrik bertegangan tinggi.
Setelah sekian lama menunggu, ternyata di balik semak-semak itu hanyalah seekor kelinci saja, Juju pun bernapas lega.
Dor! Terdengar suara tembakan yang berasal dari belakang.
" Sial, bagaimana bisa Thedy sudah terbangun? aku yakin sudah menaruh obat tidur di dalam air minumnya, " gumamnya, " atau jangan-jangan . .. . Dasar Yuda pengkhianat, seharusnya aku tak mempercayainya dengan mudah. " runtuknya.
Ditengah pelariannya, kurangnya pencahayaan, membuatnya tak menyadari bahwa kakinya menginjak ujung tebing, tubuhnya berguling terus ke bawah, untung saja tebing itu dangkal, hanya beberapa lecet yang di dapatnya.
Juju kembali bangkit, melanjutkan pelariannya hingga dirinya berhasil mencapai bahu jalan.
Nafasnya tersenggal-senggal, kedua matanya berbinar mendapati sebuah cahaya dari mobil, terdengar pula suara sirine dari polisi, Juju pun mengembangkan senyumnya, ia berlari ketengah jalan serta melambaikan tangannya.
Dan benar saja, itu adalah mobil polisi, Kedua polisi itu menghampirinya, mereka melirik penampilan Juju dari atas hingga bawah, seluruh tubuhnya di penuhi tanah.
" Pak tolong saya! saya sedang di culik. "
polisi itu berjongkok, menyamakan tingginya." Siapa nama mu nak? "
" Arjuna Lasmana Pratama. "
Juju tersenyum lega. Akhirnya dia bisa pulang dan bertemu dengan kedua orang tuanya.
" Lapor kami. . .
__ADS_1
Dor! dor! kedua polisi itu tergeletak di atas tanah, ada peluru tepat di kepala mereka.
Kedua mata Juju terbeliak, ia berbalik dan mendapati Thedy yang tengah memegang senapan.
Panik, ia mencoba lari, namun.
Dor!
" Aaaaaakhhhhh. " Juju berteriak meringis kesakitan mendapati kakinya yang tertembak oleh senapan Thedy.
" Kau, gila. "
" Kau pikir biasa melarikan diri dengan mudah, jangan kira aku tak tahu, tentang pelarian mu. "
" Seharusnya, jika kamu ingin bertemu dengan ibumu. kamu hanya perlu meminta ku, tak perlu menyiksa dirimu seperti ini. "
" Enyahkan tangan kotor mu dari ku. "
Thedy tergelak, " Ini sangat menyenangkan, sudah lama aku tak merasa sesenang ini, sebagai ucapan terima kasih, akan aku pertemukan kalian.
Esok harinya.
Thedy membawa dirinya kesebuah gedung di sebuah taman hiburan yang sudah terbengkalai, tangan dan tubuh nya terikat dengan kencang, Juju pun harus berjalan dengan pincang,
" Katakan sesuatu."
Juju terdiam sejenak.
" Bubu. "
" Juju! sayang kamu ada di mana? Kenapa dengan suara mu? kenapa suara mu terdengar begitu lemas? "
" Apa kamu merindukan ku? "
. " KAU !!! APA YANG TELAH KAMU LAKUKAN PADA PUTRA KU?! "
Thedy tertawa cekikikan. " Datang lah ke tempat biasa yang sering kita kunjungi dulu. "
" Bubu! jangan datang ini jebakan. " Teriak Juju.
Thedy yang merasa kesal pun menendang perut Juju hingga terbatuk-batuk. mematikan panggilan secara sepihak lalu menonaktifkan ponsel tersebut.
__ADS_1
" Kenapa kamu membohongi ku? "
" Aku tak membohongi. Kamu saja yang terlalu naif. "