My Little Hero

My Little Hero
24


__ADS_3

Jika di pikir kembali, Lingga bukanlah anak yang buruk untuk di jadikan seorang teman, meski anak itu terbilang sangat berisik dan menyebalkan, tapi dia termasuk anak yang baik dan jujur.


Melihat ekspresi wajahnya yang murung ketika Bubunya datang menjemput dan membawanya pulang, membuat perasaan Juju menjadi tak tega, seharian ini dia berusaha mendekatinya untuk menjadikannya sebagai sahabat, tanpa di ketahui olehnya, sejujurnya Juju sudah mulai menerima Lingga sebagai teman pertamanya.


Suara mesin mobil menyala, Lingga masih menatap sedih kepada dirinya dari balik kaca jendela mobil.


Menurunkan kaca jendela, menatap datar, " Lingga, " panggilnya


" Kenapa? "


" Tunggulah beberapa hari lagi, dan saat aku akan mengalahkan mu. "


Seketika senyumnya kembali mengembang seraya mengangguk. " Aku tunggu, jangan nangis jika nanti kamu kalah lagi. "


Juju mendengus. " Hal itu tak akan terjadi, sebab apa? nanti aku akan mengalahkan mu telak. " timpalnya


Lingga pun terkekeh mendengar perkataannya, " kita lihat saja nanti. "


Aulina dan Dara saling bertukar pandang melihat interaksi antara keduanya yang sudah akrab.


Lingga melambaikan tangannya seraya berkata. " Bye bye, aku akan menunggumu. "


Menutup kembali kaca mobil.


Mereka pun pergi meninggalkan pekarangan rumah Lingga, dari balik kaca spion Lingga terus berdiri menatap kepergiannya seraya terus melambaikan tangannya.


Sesekali Aulina melirik wajah putranya seraya tersenyum. " Jadi, kamu sudah memutuskan untuk menerimanya? " tanyanya.


" Begitulah. "


" Baguslah kalau begitu," jedanya, " bagaimana rasanya? "


" Rasa apa? "


" Tentu saja, bagaimana rasanya memiliki teman pertama yang sebaya denganmu? "


" Biasa saja, " timpalnya datar seraya bersandar pada jendela mobil.


Meski tak ada ekspresi yang tercetak di wajahnya yang lucu namun Aulina sang ibu tahu bahwa putra nya sangat bahagia memiliki seorang teman pertama yang sebaya dengannya.


" Oh iya Bubu bolehkah aku bertanya satu hal? "


" Apa itu? "

__ADS_1


" Sejak kapan Bubu berteman dengan ibunya Lingga? "


Hening sesaat, " Kami sudah berteman sejak kecil, kenapa kamu menanyakan hal itu? " timpalnya, sesekali melirik.


" Aku tak tahu kalau Bubu memiliki teman sekaya ibunya Lingga. "


Aulina hanya terkekeh.


" Bagaimana bisa Bubu berteman dengannya? bukankah Bubu itu miskin?. "


Aulina berdecak kesal, " siapa yang bilang kalau Bubu ini miskin? kamu tak tahu kalau dulu.." ucapannya terhenti begitu saja, " sudah lah lupakan saja. " Juju menatap curiga. " Bagaimana kalau kita rayakan hari pertama kamu mendapat seorang teman. " sambungnya.


" Bagaimana kalau kita bahas calon adikku saja? jangan lupa! kalian sudah menjanjikan dua adik untuk ku. "


" Sepertinya tidak perlu, kita pulang saja, ayahmu menunggu di rumah." timpalnya, mengalihkan pembicaraan.


Suasana menjadi hening kembali, Juju pun menyandarkan kembali kepalanya ke jendela, secara perlahan menutup matanya yang lelah.


Seharian ini ia menghabiskan waktu bersama Lingga dengan bermain basket, sejujurnya Juju tak menyukai olah raga yang mengeluarkan banyak keringat keringat, namun terpaksa di lakukannya karena Lingga terus menerus meremehkannya.


Setelah selesai menyantap kudapan, Lingga pun mengajaknya berkeliling rumahnya yang sangat besar layaknya sebuah kerajaan, halaman nya yang luas, memiliki asisten rumah tangga yang tak terhitung jumlahnya, kolam renang yang luas nan nyaman, lapangan basket serta salah satu ruangan yang di penuhi mesin Arcade.


" Apa kamu memainkan benda itu setiap hari? " menunjuk ke mesin Arcade.


" Tidak perlu, terlalu banyak menatap layar LED seperti ini, bisa merusak penglihatan, dan aku tak mau mataku menjadi rabun di usia muda. "


Lingga memutar bola matanya, " Kenapa kamu begitu kolot sekali, " terus berjalan. Untuk pertama kalinya Lingga mendapat seorang teman yang menatap rumahnya dengan tatapan biasa bahkan terkesan cuek, sejak dulu dia tak pernah mendapat teman seperti Juju, kebanyakan dari mereka mendekati bukan karena ingin berteman dengannya, melainkan ingin menikmati kekayaan orang tuanya, membuatnya enggan untuk berteman dengan siapa pun, namun tiba-tiba ibunya memberi tahunya bahwa dia ingin mengenalkannya kepada anak sahabatnya, Lingga menolaknya, karena menurutnya semuanya sama saja, setelah ibunya terus membujuknya, akhirnya dia pun menyerah dan menerima tawaran ibunya,


Pertama kali melihat Juju, Lingga langsung tertarik begitu saja, membuatnya menginginkannya sebagai sahabat pertamanya.


" Bagaimana kalau kita bermain basket? " ajaknya.


" Maaf, tapi Aku tak suka berkeringat. "


Hening sesaat, Lingga pun kembali bertanya. " Lalu apa yang kamu sukai? "


" Tentu saja membaca buku, apa lagi. "


Lingga menghela nafas frustasi. " Pantas saja tubuhmu terlihat lemah. "


" Siapa yang kamu panggil lemah?! "


" Yang jelas bukan aku. " timpalnya, berjalan meninggalkan Juju.

__ADS_1


" Kamu! --- kalau begitu, ayo kita tanding basket. "


Lingga menyeringai. " Baiklah. "


*


Nafas Juju tersenggal-senggal, rona wajahnya merah, keringat membasahi seluruh tubuhnya, membungkuk menahan tubuhnya dengan berpaku pada ke dua lututnya.


Lingga mengerutkan dahi seraya berkata. " Kita baru saja bermain lima menit, dan kamu sudah kelelahan seperti ini? "


Juju bungkam, menyadari bahwa tubuhnya memang jarang bergerak. Karena waktu yang dia habiskan hanya untuk membaca buku dan belajar, dia bahkan lupa kapan terakhirnya tubuhnya bergerak seperti ini, mungkin juga ini pertama kalinya tubuhnya bergerak banyak.


Lingga terus memantul - mantul kan bola itu di depannya. " Aku tak menyangka tubuhmu sangat lemah dari yang aku duga sebelumnya --- apa kamu ingin beristirahat? kita bisa melanjutkannya nanti. "


" Tidak perlu, " menoleh jam. " karena aku akan pulang. "


Bola itu menggelinding begitu saja. Lingga tertegun sejenak " Apa kamu bilang? "


" Aku mau pulang. " ulangnya, berjalan meninggalkan lapangan.


' grep ' Lingga menahan tangannya.


Melihat tangannya di tahan seperti itu membuatnya mengerutkan dahinya seraya menatapnya heran.


" Maaf kan aku, tolong jangan pulang, bermainlah sebentar lagi. oke? " pintanya seraya memelas memohon.


Juju memutar bola matanya malas, " lepasin nggak? "


Kepala Lingga menggeleng, tangannya semakin erat memegang tangan Juju, membuatnya kembali memutar bola mata dan menghempas tangan Lingga hingga terlepas, tubuhnya mundur satu langkah. Juju pun kembali melanjutkan langkahnya.


" Apa aku seburuk itu di matamu? sehingga kamu tak ingin berteman dengan ku?! " kedua tangan nya mengepal


Juju menghentikan langkahnya, melirik. " Apa maksudmu? "


Balik badan seraya menatap tajam. " Kenapa?! apa karena kamu memiliki otak yang sangat pintar? "


mengerutkan dahi. " Apa yang kamu bicarakan? " melipat kedua tangan di dada seraya menatapnya datar, "aku pergi karena Bubu ku sebentar lagi datang menjemput, dan aku tak mau di melihat penampilan ku seperti ini. " terangnya.


Lingga kembali tertegun mendengar perkataan Juju, rona pipinya menjadi merah, merasa malu karena sudah salah paham terhadapnya. Tangannya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


" Aku pikir . . .


Juju pun melenggang pergi mengabaikan Lingga yang akan mengucapkan sesuatu padanya.

__ADS_1


__ADS_2