
Hati Aulina begitu resah dan gelisah memikirkan anak nya yang kini tengah bersama ayahnya,setelah mengetahui kebenaran tentang anaknya,Aldan pun meminta izin padanya membawa Juju untuk menemui neneknya dan ia kini menyesal sudah membiarkan anaknya pergi bersama ayahnya.Andai saja hatinya tak luluh melihat sikap mantan suaminya yang antusias menjemput anaknya,mungkin saja ia tak akan seresah ini ditinggal oleh anaknya sendiri untuk pertama kalinya.Hati ingin menghubungi lebih dulu tapi gengsinya lebih tinggi hingga malam pun berlalu begitu cepat tanpa terasa berganti dengan cahaya pagi.Ia bahkan belum tidur sama sekali.
Brak tangannya menggebrak meja dengan keras.
"Baiklah jika dia tak mau mengembalikan Juju,maka aku yang akan menjemputnya sendiri,"putusnya dengan yakin menjemput anaknya sendiri kerumah mertuanya,ia pun langsung bergegas pergi ke rumah mertuanya,yang letaknya hanya memakan waktu 1 jam dari rumahnya.
Setibanya disana Aulina hanya bisa tertegun didepan pintu rumah mertuanya.Bingung harus berbuat apa?,padahal disepanjang perjalanan ia sudah menyiapkan berbagai skenario terbaik dan terburuknya,tapi kini bibirnya seakan terkunci rapat oleh sesuatu dan hanya bisa mematung seperti boneka kayu,kaku dan membisu. tak ingin seperti ini selamanya ia pun mencoba memberanikan diri dengan mencoba mengetuk pintu hingga sebuah pintu menghantam wajahnya dengan sangat keras membuatnya meringis kesakitan.
"Apa kamu tak apa-apa?,"terdengar suara perempuan paruh baya yang khawatir. Aulina perlahan mendongkakkan kepalanya dan mendapati ibu mertuanya yang terlihat panik melihatnya yang sedang kesakitan,mata mereka saling bertemu.
Canggung, itulah yang tengah mereka rasakan,setelah aksi saling diam yang berlangsung lama,ibu Aldan pun memutuskan untuk mengajak Aulina masuk kedalam rumah untuk mengobati lukanya,kebetulan Nenek dan Adik Aldan sedang pergi keluar dan hanya menyisakan mereka berdua.
"Juju sudah pergi ikut Aldan ,"ungkapnya tiba-tiba,Aulina pun langsung merasa kecewa mendengar pernyataan ibu mertuanya.
"Oh,begitu rupanya,"lirihnya kecewa.
"Bagaimana kabar mu?,"tanya nya tiba-tiba membuat Aulina tertegun.
"Hah...oh aku baik-baik saja,"katanya canggung.
"Apa kamu masih marah pada ibu,Lina?,"
"Apa yang ibu maksud?,"
"ibu tahu kamu pergi karena permintaan ibu,bukan?,"
Aulina menggelengkan kepalanya keras,"tidak ibu,aku pergi karena keinginan ku sendiri,berhentilah menyalahkan diri sendiri Bu,ini semua sudah takdir Tuhan,kita semua tidak bisa menentang keinginan Tuhan sekeras apapun kita berusaha."
__ADS_1
Ibu Aldan hanya bisa menangis,mengingat kesalahan yang ia perbuat hingga membuat anak dan cucunya terpisah. Setelah berhasil menenangkan ibu mertuanya. Aulina pun bergegas pergi menghampiri anaknya yang sedang berada dirumah sakit bersama ayahnya,bagaimana pun ia harus bisa mendapatkan Juju kembali apa pun caranya.
Setibanya disana Aulina pun memarkirkan mobilnya dan bergegas berlari kedalam rumah sakit,ia sempat tertegun melihat perubahan rumah sakit yang sangat drastis,bahkan ia merasa takjub dengan rumah sakit yang begitu megah dan modern,plak Aulina menampar pipinya untuk menyadarkan nya untuk berhenti mengagumi tempat kerja mantan suaminya,langkahnya perlahan membawa nya masuk.
"Kak Lina!,"panggil seorang pria,yang Aulina kenal,dia adalah Kevin yang selalu membantunya dulu. Kevin berlari menghampirinya dengan antusias.
"Wah sudah lama kita tak bertemu,tapi kakak masih cantik seperti dulu," pujinya, membuat Aulina merasa tersanjung dengan perkataan nya.
"Kau ini bisa saja,dan wow lihat dirimu...kamu banyak berubah,hingga aku sulit mempercayai bahwa kamu adalah pria dekil dan pendek yang dulu..tapi sekarang kamu sudah berubah menjadi tampan dan tinggi,"pujinya,"katakan apa rahasiamu?,"
"Hanya 2 macam,"
"Apa itu?,"
Kevin pun melambaikan tangan mengisyaratkan untuk mendekat,Aulina yang penasaran mencoba mendekatkan telinganya.
"Itu pun aku tahu...lupakan beritahu aku dimana ruangan Aldan,".
"Oh ,maksud ka Lina Profesor Aldan,".
"Profesor?,".
"hah!,"kagetnya seraya menutup mulutnya,"kakak tidak tahu?,"
Aulina menggelengkan kepalanya."Ah tentu saja kakak tak tahu,kakak kan bukan siapa-siapanya lagi Prof Aldan,"Celetuknya.
"Aw" teriak Kevin yang esakitan karena kakinya di injak keras oleh Aulina.
__ADS_1
"Jika tak ingin memberitahu,biar aku cari sendiri ruangannya,"tuturnya seraya meninggalkan Kevin yang masih meringis kesakitan.
Aulina merasa lega ketika mengetahui kalau mantan suaminya berhasil mendapat gelar Profesor yang dia idam-idamkan,jika saja keluarga nya tak mendapat masalah,mungkin saja ia menjadi saksi bisu perjalanan mantan suaminya mencapai gelar Prof,tapi takdir berkata lain.
Setelah lelah berkeliling. Akhirnya Aulina menemukan ruangan Aldan, 'bahkan ruangannya saja sudah berubah' batinnya.
'Tunggu?,apa aku harus mengetuknya lebih dulu?,atau haruskah langsung masuk begitu saja?,tunggu?,jika langsung masuk apa dia tidak akan marah?,karena sudah menerobos begitu saja,jika di ingat dari sifatnya sepertinya dia akan marah besar tapi-
"Masuk saja mbak," Kata seorang Office Boy,membuat Aulina terlonjak kaget,ia merasa kalau dirinya seperti seorang maling yang sedang tertangkap basah.
"Beliau berpesan kalau mbak datang. Suruh masuk saja,karena beliau baru saja pergi untuk melakukan operasi,kebetulan
saya tadi berpapasan dengan beliau,kemudian menitip pesan seperti itu,"terangnya lalu pamit pergi tanpa mendengarkan penuturan Aulina.
"Ya ampun si bapak seperti hantu saja datang dan pergi tanpa permisi,"ucapnya.lalu kemudian masuk kedalam ruangan Aldan. Kini ia bertekad akan mempertahan kan Juju sekuat mungkin,atau mungkin ia harus menyarankan kalau setiap malam Juju akan bersamanya namun jika pagi ia akan mengantarkannya.langkahnya kembali terhenti ketika netra nya mendapati anaknya yang sedang serius membaca buku milik ayahnya.
"Apa yang lakukan?,"pekiknya,lalu menghampiri Juju yang kaget melihat Bubunya yang sedang marah padanya.
"Bukan kah Bubu sudah bilang,jangan memperlihatkan kejeniusan mu sembarangan termasuk ayah mu,bagaimana jika dia tahu?,"marahnya.
"Bu-bubu hiks maafkan hiks aku,"
Merasa bersalah,Aulina pun menghampiri anaknya yang kini menangis tersedu-sedu,"maaf kan Bubu,"sesalnya."Apa Bubu terlalu keras memarahi mu...maaf Bubu hanya terlalu takut ,karena akhir-akhir ini ada beberapa hal yang membuat Bubu merasa cemas dan juga takut akan terjadi sesuatu yang berbahaya menghampirimu,"
Juju menggelengkan kepalanya,"tidak Bubu,ini memang salah ku,seharusnya aku tidak tergoda dengan buku-buku ini,maaf sudah membuat mu cemas,"
"Ada apa ini?,"
__ADS_1