My Little Hero

My Little Hero
18


__ADS_3

" satu hal lagi yang ingin aku bicarakan pada mu ,"


" Apa itu?"


Aldan menatapnya dengan serius.


" Tentang. . .


Aldan terdiam menggantungkan kata-katanya. Beberapa kali menghembuskan nafasnya. Sesekali melirik Aulina yang berada depannya.


" Ayah! " seru Juju.


Aldan hanya menoleh lalu kembali memainkan jarinya. Gugup.


Aulina berdecak kesal melihat tingkah Aldan yang menurutnya sangat menguji kesabaran, kedua tangannya ia lipat di dada, dahinya mengernyit. " kalian kenapa jadi kompakan kayak gini?, bicara atau aku akan memaksa kalian untuk berbicara. "


Aldan tak menanggapinya. otaknya sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.


Kesal, Juju menghampiri ayahnya, ia mendudukkan pantatnya di samping Bubunya. Netra nya menatap wajah Bubunya dengan serius.


Aulina menaikkan alis matanya sebelah, penasaran


" Ayah mau minta rujuk lagi pada Bubu ," celetuknya.Keduanya tercengang mendengar penuturannya.


" tapi, ayah yang merasa bertanggung jawab atas koma yang Bubu alami. Ayah jadi ragu, tentu saja aku sudah bilang pada ayah, bahwa selama ini Bubu juga tak bisa melupakan ayah, bahkan aku juga bilang bahwa Bubu selalu melihat foto ayah mmmm,". Dengan cepat tangan Aulina membungkam mulutnya


Keduanya saling bertukar pandang. Canggung. Tak ada niatan untuk membuka percakapan.


Makin kesal, Juju menggigit tangan Bubunya dengan keras, hingga Aulina meringis kesakitan dan melepaskan tangannya dari mulut Juju.


" Apa kalian tidak dengar?! " teriaknya ," apa kalian tidak malu dengan umur kalian, kalian sudah dewasa bukan anak kecil lagi. Sampai kapan kalian akan terus berdiam diri seperti ini ? " sambungnya


Keduanya kembali tercengang melihat sikap anak mereka yang berbeda dari sebelumnya.


" Juju, ini tak semudah . . . "

__ADS_1


" Baiklah, kita rujuk ," sela Aulina, ia menatap intens pada Aldan.


Aldan yang masih tercengang, hanya bisa menatapnya tak percaya, " A-a-apa kamu bilang ?"


Aulina berdecak kesal, " Aku bilang kita sudah rujuk, besok kita pergi kekantor untuk mengurus surat-surat rujukan kita "


Hening, Aldan mencoba mencerna perkataan yang keluar dari mulut Aulina.


" Kenapa?, apa kamu menyesal ? karena sudah mengajak ku untuk kembali rujuk ? maaf, tapi kamu sudah tak bisa menarik kembali perkataan mu lagi ,"


Aldan menggelengkan kepalanya. " Tentu saja aku tak menyesal, dan aku tak akan pernah menarik perkataan ku, hanya saja. . . "


Aulina kembali berdecak kesal, " Bukankah kamu sudah mendapat jawaban yang inginkan ?, tapi kenapa kamu tidak terlihat bahagia?,"


Aldan menoleh, ia bukannya tak bahagia, hanya saja ini terlalu mendadak, membuatnya sulit untuk memahami dengan apa yang terjadi.


" Berhentilah menyalahkan diri sendiri," kata Aulina tiba-tiba, Aldan menatapnya. " kamu tahu? semuanya bukan kesalahan mu? sejujurnya seminggu setelah aku sampai kesini, tiba-tiba ada orang yang mengirim pesan padaku. Awalnya aku mengira bahwa itu dari kamu, tapi setelah aku membuka isi pesan tersebut, ternyata bukan dari kamu," ungkapnya, Aulina menyerahkan ponsel nya pada Aldan.


Aldan mengambil benda itu, matanya menatap layar ponsel dengan serius, detik berikutnya matanya terbeliak, tangannya meremas ponsel itu.


" Sekarang kamu mengertikan, kenapa aku bersikap seperti itu? aku takut jika terjadi apa-apa pada anak kita satu-satunya. "


" Karena awalnya aku berpikir mungkin orang itu hanya iseng, tapi ketika orang itu kembali mengirimi ku sebuah video yang berisikan tentang Juju yang memberimu arahan saat melakukan pertolongan pertama, awalnya tak ada yang aneh dengan vidio itu namun tak lama kemudian pria itu kembali mengirim pesan yang berisikan ' aku semakin menginginkan anakmu ', sejak saat itu perasan ku menjadi tak karuan, dan setelah nya kamu tahu sendiri apa yang terjadi selanjutnya. " ungkap nya.


" Maafkan aku Lina, aku memang tak pantas untuk berada di sisi kalian? "


"Kalau begitu buatlah dirimu menjadi pantas untuk berada di samping kami dengan menjadi kepala keluarga yang baik, iya kan Juju?, "


Juju mengganggukan kepalanya. Kedua tangannya memberi tanda jempol pada Bubunya.


" Apa kamu serius? ,"


" Apa aku terlihat sedang bercanda? kamu mau atau tidak? kalau tidak ya sudah . . ."


" Tentu saja aku mau, tapi kenapa tiba -tiba ?"

__ADS_1


" kamu mau atau tidak? "


" Baiklah aku tak akan bertanya lagi, aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik bagi kalian ,"


" Baik akan ku pegang kata-kata mu, jika kamu melanggar ,aku tak segan-segan melarikan diri lagi dari sisimu dan tak akan pernah berniat kembali "


" Jika itu terjadi, maka aku akan menangkap dan mengikatmu dan tak akan membiarkan mu meninggalkan ku lagi," tuturnya.


Aulina terdiam, " Kamu serius? akan melakukan itu padaku, bukan kah itu melanggar hukum ?,"


" Menurutmu? tak peduli jika aku harus melanggar hukum jika itu bisa mengikatmu aku siap melanggarnya untukmu ,"


' Ah, tiba-tiba aku merasa menyesali keputusan ku sendiri ' gumamnya.


"Ayah !" seru Juju.


Aldan menoleh, Juju melambaikan tangan padanya untuk mendekat kearahnya.


Tangan Juju terulur padanya, Aldan mengangkat alisnya sebelah, heran. Namun tiba-tiba Juju menarik tubuhnya dan memintanya untuk saling berpelukan.


" Bukan kah kita harus saling berpelukan? "Keduanya tergelak mendengar penuturan Juju. " Kalian tahu? ini adalah hari terbaik yang pernah aku alami seumur hidup ," ungkapnya.


Keduanya terdiam lalu saling bertukar pandang, mereka tersenyum bahagia melihat anaknya bahagia.


" Ayo kita tidur bareng-bareng," ajak Juju.


Aldan dan Aulina mengangguk kompak.


Untuk pertama kali dalam hidupnya, Juju baru merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga yang lengkap di samping kanan nya ada Bubunya dan di sebelah kiri ada ayahnya yang tengah memeluknya. Ia tak akan melupakan momen indah ini.


*


Matahari bersinar cerah seperti perasaan yang tengah Juju rasakan, bersatunya kedua orang tuanya, membuat hidup nya terasa lebih hangat dan bermakna dari sebelumnya, bahkan sudah seminggu mereka melakukan kegiatan bersama-sama, seperti sarapan pagi lalu berangkat kerja kemudian pulang kerja hingga tidur mereka lakukan bersama. Namun suatu malam, Juju yang tiba-tiba terbangun menyadari bahwa kedua orang tuanya sudah tak ada disisinya.


Haus, ia berjalan kearah dapur untuk mengambil air minum. tapi, langkahnya terhenti sebentar, matanya melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat mengingat umurnya baru 6 tahun . matanya tak sengaja menangkap pemandangan kedua orang tuanya sedang bercumbu di dapur, tanpa menghiraukan aktivitas yang sedang mereka lakukan, kakinya terus melangkah membawanya ke kulkas.

__ADS_1


Aldan dan Aulina menjeda aktivitas mereka, menyadari bahwa ada yang membuka pintu kulkas. keduanya terbeliak melihat kehadiran Juju.


" Sebaiknya kalian lakukan di dalam kamar. . . malam ini dan seterusnya aku akan pindah ke kamar sebelah, kalian lanjutkan lah," Dengan santainya Juju berjalan kembali ke kamar, namun ia tak kembali ke kamar sebelumnya, melainkan kamar yang terletak di seberangnya dan melanjutkan acara tidurnya. Namun sebelum pintu kamar tertutup , Juju kembali menoleh kearah mereka yang terlihat malu . " Aku ingin adik perempuan ," ungkap nya, lalu menutup pintu.


__ADS_2