
Andri dan Juju menghabiskan sisa pagi itu sambil mengawasi seorang pria yang Juju temui beberapali di rumah sakit, setelah melakukan riset ternyata pria itu bernama Thedy Arga putra berusia sekitar 27 tahun, tak hanya tampan dia juga sangat kaya raya karena dia adalah seorang CEO dari C company. Perusahaan yang berbasis di dunia fashion dan entertainment, tak hanya itu dia juga pemilik saham terbesar di rumah sakit tempat ayahnya bekerja, pantas saja pria itu tahu semua tentangnya.
" Sampai kapan kita mengikuti pria itu? hoaam ," tanyanya seraya menguap lebar.
" Jika paman bosan, paman boleh pulang, aku akan menyelesaikan misi ku sendiri ," kata Juju, tanpa menoleh sedikitpun.
" Jika paman membiarkanmu sendiri, paman pasti akan berakhir mengenaskan di tangan Bubu mu." ungkapnya, " lagi pula kita sudah mengikutinya dari pagi, dan tak ada hal yang mencurigakan darinya, bahkan sedikit pun tak ada."
" Tunggulah sebentar lagi. " Juju berkata.
Andri menghela nafas, jika saja dia tahu bahwa pergi bermain yang Juju maksud adalah membututi seseorang , sudah pasti ia tolak sejak awal.
Pagi tadi
Kriiiing Kriiing sudah ke berapa kali ponsel nya terus berdering tanpa henti, sejak Juju sibuk menghabiskan waktu dengan ayah kandungnya dan melupakan keberadaannya. Sejak saat itu hidup Andri terasa hampa, bahkan kesehariannya hanya di isi dengan agenda tidur, tidur dan tidur. Tak bisa di pungkiri Andri sangat merindukan wajahnya yang lucu meski sikapnya persis seperti ibunya, lidah tajam dan menyebalkan.
" Halo." kata Andri dengan suara khas bangun tidur.
" Ayah, ini Juju. " sahutnya.
Andri mengernyitkan alis nya, sejak kapan Juju memanggilnya dengan sebutan ayah. " Tumben. "
" Kenapa? apa salah jika aku memanggil ayah baptis ku dengan Ayah? "
" Tidak! hanya saja terasa aneh, bukankah kamu selalu memanggil ku dengan Paman? kenapa tiba-tiba sekarang memanggil ku ayah? "
Juju terkekeh di sebrang sana. " Bukankah paman selalu bilang jika ingin aku panggil ayah? "
" iya, tapi setelah mendengarnya, terasa aneh. Panggil paman lagi saja. "
" Paman plin-plan. "
" Iya terserah kamu, jadi ada apa kamu memanggil paman? "
" Jika aku bilang, aku rindu pada paman. Apa paman akan percaya? "
" Seratus persen tidak."
Juju kembali terkekeh. " Aku serius, aku merindukan paman. Ayo pergi bermain. "
" Kenapa tidak minta pada ayah kandung mu saja? "
" Apa paman masih marah? aku tak bermaksud mengabaikan paman, hanya saja paman tahu kan? kemarin-kemarin Bubu sempat sakit, dan aku harus menemaninya. Jangan lah marah, jika paman seperti ini siapa lagi yang menemaniku? Ayah dan Bubu sibuk. "
" Bagaimana dengan paman dokter? "
" Paman dokter sedang sakit. "
" Oh jadi aku hanya pelampiasan. "
__ADS_1
" Bukan seperti itu, Apa paman tak merindukan ku? "
Hening sesaat.
" Baiklah jika paman tak mau pergi, aku minta om Zaki saja. Kalau begitu. . .
" Tunggu. " selanya, " siapa bilang paman tak merindukan mu? kamu tahu? setiap hari paman selalu memikirkan mu? beri paman lima belas menit oke ," katanya, menutup telpon secara sepihak. Dengan tergesa-gesa Andri mengganti pakaian nya . Namun nyatanya ekspektasi tak sesuai realita. Awalnya Andri berpikir mereka akan berjalan-jalan mengelilingi kota, mengunjungi kebun binatang lalu pergi ke taman hiburan. Nyata nya ia justru terdampar di sebuah kafe seraya menguntit seseorang.
Andri hanya bisa menikmati kue yang dipesannya, sedangkan Juju terus mengawasi seorang pria , namun menit berikutnya Juju kehilangan jejak.
" Tuh kan. Aku jadi kehilangannya gara-gara paman," kesalnya.
Andri terdiam, tangannya menghentikan aktivitas nya yang tengah memakan kue, " Kenapa jadi salah paman? "
" Karena paman terlalu berisik. "
" Paman kan hanya bertanya."
" Sudahlah , lupakan saja. Ayo kita pulang. "
" Kenapa? "
" Karena sudah waktunya untuk kita pulang. Apa paman lupa pesan dari Bubu? "
Andri terdiam.
Hening sesaat. " Ya ampun paman lupa!, kenapa kamu tidak bilang?! "
Juju memutar bola matanya malas. " Bukankah barusan aku sudah bilang. "
Andri mengabaikan Juju dengan menyantap sisa kue dengan cepat. " Ayo pulang. "
Sesampainya di rumah.
" Aku pulang. " ucap Juju. Seraya berjalan masuk kedalam rumah.
" Selamat datang. " sahut Aldan yang tengah menonton televisi dengan istrinya. menoleh, senyumannya menjadi asam ketika melihat sosok Andri.
Canggung, berjalan masuk. " Halo kak Aldan! kak Lina ! " sapanya.
" Halo Juga. " jawabnya dingin.
" Juju! kamu pergi kemana saja hari ini? " tanya Aulina
" Aku hanya pergi jalan-jalan, benarkan paman? "
Andri hanya mengangguk.
" Kamu tidak melakukan hal-hal yang aneh kan? " selidiknya.
__ADS_1
" Aku hanya pergi jalan-jalan mengelilingi kota, lalu pergi menyantap kue di kafe. Jika Bubu tak percaya, tanyakan saja pada paman. "
" Apa itu benar? "
Andri mengangguk.
" Ada apa dengan mu? Apa kamu sakit? "
Aulina berjalan mendekatinya, tangan nya menyentuh dahinya.
" Ekhemmm. " Aldan berdeham.
Aulina menoleh. " Kenapa? apa ada yang salah dengan tenggorokan mu?"
" Sepertinya begitu. "
" Kalau begitu aku pergi mengambil air." Aulina berjalan kearah dapur sedangkan Juju pergi berganti baju, meninggalkan Aldan dan Andri diruang tamu yang saling duduk berhadapan.
Aldan menatapnya tajam hingga Andri hanya bisa tertunduk menghitung debu
" Minumlah." kata Aulina seraya memberikan segelas air putih pada Aldan.
" Kak aku pulang." katanya tiba-tiba.
" Kenapa? apa kamu tak ingin makan malam terlebih dahulu?."
" Sepertinya tidak untuk hari ini, " melirik kearah Aldan yang masih menatapnya tajam. " Mungkin juga untuk selamanya. " Gumamnya.
" Padahal aku sengaja memasak makanan kesukaan mu ."
Tengkuknya terasa dingin, merasakan hawa membunuh dari arah sebrang.
" Maaf kak Lina, aku masih mencintai nyawaku, " buru- buru bangkit dari kursi.
" Paman sudah mau pulang? kenapa tidak sekalian makan malam disini saja?, Bubu bahkan memasak masakan kesukaan paman. " kata Juju yang baru keluar dari dalam kamar.
Andri menghampiri Juju, ia berjongkok menyamakan tingginya seraya berkata. " Maaf kan paman, hidup hanya sekali dan paman tak ingin menyia-nyia kan hidup, apalagi paman masih muda dan belum menikah. Tolong mengerti lah paman untuk kali ini. "
Juju menaikkan alisnya sebelah. " Apa yang paman bicarakan? aku tidak mengerti sama sekali. "
Andri tersenyum, " Setelah dewasa kamu pasti akan mengerti. "
Juju menggaruk kepalanya yang tak gatal, " Semakin paman berbicara, semakin aku tidak mengerti. "
" Sudahlah, besok paman akan menjemputmu kembali. " katanya lalu pergi. Meninggalkan Juju yang masih kebingungan dengan perkataannya.
Andir menghela nafas lega. Ia tak menyangka kalau Aldan masih menaruh dendam terhadapnya, tangan nya merogoh ponsel dalam saku celana, jarinya menekan sebuah no.
" Aku mengirim foto seseorang, tolong selidiki sampai ke akar-akarnya " Andri menutup panggilan secara sepihak. Tangannya meremas stir dengan kuat " Tak akan kubiarkan siapapun mengganggu anak kesayanganku. "
__ADS_1