My Little Hero

My Little Hero
20


__ADS_3

Hari ini Juju dan Andri kembali menguntit pria itu, namun kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Hari ini pria itu terlalu sulit untuk di ikuti, bahkan beberapa kali mereka berdua kehilangan jejaknya. untungnya Juju memasang pelacak pada mobil yang sering di gunakan nya tanpa di ketahui.


Juju terdiam seraya memandang es krimnya yang mulai mencair, sedangkan Andri hanya memperhatikan tanpa berani mengganggunya. Hari ini mereka kembali kehilangan jejaknya bahkan pelacak yang ia pasang pun sudah tak berfungsi lagi.


" Sepertinya dia sudah menyadari keberadaan kita. "


" Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya? "


Juju terdiam sesaat. " Sepertinya kita harus menemuinya secara langsung. " katanya.


Andri mengerutkan dahinya. " Apa tidak apa-apa menghampirinya? apa kamu tidak takut bahwa ini adalah jebakan? "


" Jebakan atau bukan, lambat laun kita pasti akan bersitatap, lebih baik menghampirinya lebih dulu dari pada dia yang menghampirinya. "


Andri masih terdiam, ia tak mengerti bagaimana seorang anak kecil bisa berfikiran layaknya seorang dewasa.


" Kenapa paman diam? "


" Hah? oh okeh, jadi kita akan menghampirinya ke kantornya atau kerumahnya? "


Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dagunya. " Kita pergi ke kantornya saja. " Putusnya, " dan jangan lupakan untuk membawa buah tangan. " sambungnya.


Mereka berdua pun bergegas pergi meninggalkan kafe menuju salah satu perusahaan terbesar ke dua di dunia.


Di waktu yang sama Aulina tengah meminum cuka terlalu banyak. Awalnya ia berniat untuk mengajak suaminya untuk makan siang bersama namun secara tak sengaja ia melihat suaminya tengah berbincang dengan seorang wanita, yang Aulina tahu dia adalah Nadira Amira, cinta pertama dari suaminya saat berada di bangku SMA.


Dulu mereka sangat terkenal bahkan satu sekolah menjodohkan mereka untuk menjadi pasangan, namun karena alasan yang tak di ungkapkan mereka memilih untuk tak bersama dan menjalani kehidupan masing-masing.


Aulina akui bahwa Nadira memang cantik dengan warna kulitnya yang putih halus serta dengan tinggi badannya yang semampai , sangat cocok jika bersanding dengan Aldan, suaminya.


Sangat jauh berbeda dengannya yang berbadan pendek, serta kulitnya yang tak sehalus dulu. Diapun mengingat-ngingat bagaimana caranya dia bisa mendapatkan Aldan?


Dia pertama kali bertemu dengannya saat salah satu temannya tengah mengalami kecelakaan, yang secara kebetulan dirawat oleh Aldan, untuk pertama kalinya jantung Aulina berdebar kencang, bukan karena ia habis berlari atau pun karena gagal jantung, tapi ia terkesima dengan penampilan, sikap dan keterampilan yang dimiliki oleh Aldan.


Saat ia menyatakan cinta untuk pertama kalinya dalam pertemuan kedua kalinya dengan Aldan, namun Aldan langsung menolaknya mentah-mentah, merasa tertantang. Aulina pun dengan gencar mengejarnya, ia bahkan menguntitnya setiap hari, sekaligus menugaskan sekretarisnya untuk memasang CCTV di daerah tempat tinggal Aldan berada. Geram, Aldan pun memarahinya habis-habisan namun telinga Aulina lebih tebal dari yang Aldan bayangkan.


" Apa kamu sudah gila?! kenapa kamu memasang CCTV di daerah tempat tinggal ku? Apa kamu segitu bosannya?"

__ADS_1


" Tentu saja. " timpalnya, kedua tangan nya memangku dagu seraya memandang wajah Aldan yang sangat tampan jika sedang marah.


Aldan mengerutkan dahinya. " Apa kamu tak tahu yang namanya malu? "


Aulina menulikan pendengarannya. " Ayo pergi berkencan? "


Aldan terperangah. " Maaf, tapi aku sudah punya kekasih. " timpalnya, kedua tangannya ia lipat didada.


" Okeh Sabtu depan, aku jemput kamu di rumah sakit. " katanya. lalu pergi meninggalkan Aldan yang tertegun.


Setelah Aulina menjauh, barulah Aldan sadar. " HEY, AKU BILANG AKU SUDAH PUNYA KEKASIH. " teriak Aldan, namun Aulina mengabaikan teriakannya dengan terus berjalan meninggalkannya seraya melambaikan tangan.


Aldan mendengus frustasi tak tahu harus berkata apa? agar Aulina bisa menyerah mengejarnya.


Hari Sabtu. Aulina datang lebih awal dengan kendaraan mobil keluaran terbaru. Ia juga membawa sebuket besar bunga mawar biru, kenapa ia membawa mawar biru? dan bukannya mawar merah?. Saat pertemuan mereka untuk pertama kalinya, Aldan mengatakan bahwa mereka tak cocok sama sekali, bahkan tak mungkin bisa bersatu.


Arti mawar biru sendiri adalah tak ada yang mustahil.


Maka dari itu dari pada membawa mawar merah ia memilih mawar biru untuk mematahkan perkataan Aldan.


" Aldan!!. " serunya.


Aldan menulikan pendengarannya, seperti yang dilakukan olehnya sebelumnya. Mengabaikan teriakan yang terus di lontarkan nya. Tapi bukan Aulina namanya jika harus menyerah sebelum berperang.


Melihat Aldan yang mengabaikannya, ia pun mengejar nya susah payah dengan kaki pendeknya. Tak hanya mengejar ia pun memanggil Aldan dengan beberapa panggilan.


" Sayang! "


Aldan terus berjalan.


" Honey! "


masih berjalan.


" Sweetie! "


berpura-pura tuli, mempercepat langkahnya, hingga Aulina melepas kedua sepatunya untuk mengejarnya.

__ADS_1


" Suami ku! " teriaknya lagi.


' Briuk ' Aldan tiba-tiba menghentikan langkahnya. Hingga bunga yang di bawa oleh Aulina berhamburan, layaknya sebuah drama kedua mata mereka saling bertemu diiringi kelopak bunga yang berjatuhan dari atas kepala mereka.


Aldan mengerutkan dahinya. " Kamu panggil aku apa tadi? "


" Kamu ingin aku panggil apa? " tanyanya balik.


Tangan Aldan mengepal, ia menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. Tanpa sadar Aulina berjalan mundur ke belakang bersamaan dengan langkah Aldan yang melangkah kedepannya.


' dug ' Punggungnya mencium tembok dibelakangnya. Dia mencoba lari namun kedua tangan Aldan sudah menghalangi jalan keluarnya dan masih menatapnya penuh intimidasi.


' Glek ' Aulina menelan salivanya. ia tertawa canggung.


" Apa ibu mu tak pernah mengajari sopan santun padamu? "


Seketika senyuman di wajahnya luntur, kepalanya tertunduk, kedua tangannya mengepal serta giginya yang mengigit bibirnya.


" Kenapa? ibu mu pasti malu memiliki anak sepertimu yang hanya tahu cara menghamburkan uang. "


Aulina mendongkak, ia memasang senyum palsu. " Kamu benar, ibuku tak pernah mengajariku sopan santun, " Aulina menghela nafas, menatap keatas. " Dia pasti malu pernah melahirkan putri seperti ku. " katanya. ia merogoh kedalam tasnya mengambil dua tiket film.


' Srek Srek ' merobek kedua tiket menjadi dua bagian di hadapannya.


Aldan tertegun melihatnya menyobek kedua tiket itu.


" Film ini terlalu jelek untuk di tonton, lain kali aku akan mencarikan film yang lebih seru lagi. "


Hening.


Aulina berjalan menunduk keluar dari kekangan nya seraya pergi meninggalkannya yang masih terdiam.


" Ah, aku ingin memberitahu mu sesuatu. "


Aldan menoleh.


" Mulai besok mungkin kamu akan merindukan ku, karena aku mungkin tak akan muncul untuk beberapa hari kedepan. akan akan melakukan perjalanan bisnis, awalnya aku berniat untuk mengajakmu nonton sebelum aku pergi, tapi sayangnya aku salah memilih film ---- lain kali aku akan mencarikan film yang terbaik untukmu, " ungkapnya. " Sampai jumpa. " pamitnya pergi.

__ADS_1


__ADS_2