My Little Hero

My Little Hero
25


__ADS_3

Beberapa hari ini Juju sibuk melakukan penelitian untuk mengalahkan Lingga sesuai janjinya hari itu, setiap hari melatih tubuhnya seperti melakukan lari pagi secara rutin, sesekali bermain game lalu belajar. Membuat kedua orang tuanya tercengang melihat perubahan yang drastis pada dirinya.


Dia juga kembali pergi belajar bersama paman dokternya yang baru-baru ini di nyatakan sehat, satu minggu beliau di rawat dirumah sakit, mengkonsumsi terlalu banyak makanan berlemak membuat kolestrol dalam tubuhnya naik dan di haruskan untuk rawat inap selama beberapa hari.


" Bagaimana kabarmu? apa kamu merindukan paman dokter? " tanyanya.


Juju tersenyum, " aku baik-baik saja, bagaimana dengan paman sendiri? apa sudah merasa baik? "


Paman dokter terkekeh, tangannya mengelus puncak kepalanya. " Berkat saran darimu, tubuh paman dokter sudah merasa baik dari sebelumnya. "


" Bukankah aku sudah sering mengingatkan untuk tidak memakan sup babat? kenapa paman begitu nakal? Padahal sendirinya dokter. "


" Dokter juga seorang manusia, bisa melakukan kesalahan. Seorang dokter juga bisa sakit bahkan meninggal, karena apa? karena mereka juga manusia, siapa bilang seorang dokter tak boleh sakit? jika penyakit sudah datang siapa yang tahu? "


" Iya iya, aku tahu jadi kumohon berhentilah. "


paman dokter tergelak. " kamu ini anak yang sangat lucu, kamu tahu? setiap hari paman dokter selalu merindukanmu, tapi kamu terlalu sibuk dengan ayah baptis mu, apa kamu tak merindukan paman dokter? "


" Aku hanya tak ingin mengganggu istirahat paman dokter. "


" Kamu ini pandai sekali berbicara. "


Juju terkekeh, " oh iya paman dokter, bolehkah aku bertanya? "


" Tentu saja, apa yang ingin kamu tanyakan? apa tentang lever? jantung? ginjal? "


Juju mengibaskan tangan. " Ini bukan tentang organ tubuh, " tubuhnya mendekat seraya berbisik. " Ini tentang ayahku. "


" Kenapa dengan ayahmu? " paman dokter ikut berbisik.


" Aku penasaran, dengan kisah percintaannya sebelum menikah dengan Bubu. "


Paman dokter kembali tergelak. " kamu tak perlu khawatir, ayah mu itu sejak lahir tak pernah berpacaran, bahkan saat masuk ke rumah sakit dia sudah mendapat julukan, kulkas berjalan. "


Juju mengerutkan dahi, " kulkas berjalan? "


" Kamu tak tahu? ayah mu ini sangat dingin pada siapa pun, tak peduli dia perempuan atau laki-laki. "

__ADS_1


" Lalu bagaimana ayah bisa menikah dengan Bubu? "


" Kenapa? apa ayah mu tak memberi tahu mu?


Juju menggeleng.


" Baiklah kalau begitu, akan paman ceritakan padamu. Aldan ayah mu itu memiliki sifat yang dingin dan sedikit sombong, meski begitu dia sangat populer di kalangan para pasien, kamu tahu kenapa? "


Juju kembali menggeleng.


" Tentu saja karena wajahnya yang tampan, bahkan ada beberapa wanita yang sehat datang ke sini hanya untuk melihatnya, salah satunya bubu mu, "


Juju tercengang. " Bubu ku? kenapa dengan bubu ku? "


" Bubu mu, Aulina sangat gigih mengejar cinta ayahmu, meski cintanya selalu di tolak oleh ayahmu, tapi dia tak pernah patah semangat, setiap hari bubu mu selalu datang berkunjung kerumah sakit dengan berbagai alasan tak lupa dia juga selalu membawa barang -barang mewah untuk ayahmu, tentunya ayah mu menolak mentah-mentah, terkadang dia juga berdonasi dalam jumlah yang tidak sedikit, tapi ayah mu ini berhati batu, tak sedikit pun tergerak. "


" Berapa banyak donasi yang di berikan nya? "


Paman dokter terdiam sesaat. " Mungkin sekitar satu miliar. "


Mata Juju terbeliak. " Satu miliar? apa paman dokter sedang membicarakan bubu ku? kenapa aku merasa kalau kita sedang membicarakan dua orang yang berbeda? bubu ku ini miskin, meski terkadang dia benar-benar tak tahu malu " gumamnya.


" Lalu kenapa di menjadi miskin seperti sekarang? bahkan untuk uang jajan ku saja dia harus berpikir lama, "


" Kalau untuk mengenai hal itu paman dokter juga tak tahu, yang paman dokter tahu hanya, keluarga bubu mu bangkrut dan meninggalkan hutang, perusahaan nya di ambil alih oleh CEO yang sekarang. "


" Memangnya, apa nama perusahaan itu? " tanya nya semakin penasaran.


Hening, paman dokter mencoba mengingat. " Kalau tidak salah nama perusahannya C company, yang sekarang sudah menjadi perusahaan terbesar se-Asia "


' C company? ' gumamnya, ' pantas saja, kemarin om Zaki mengabaikan pertanyaan ku tapi kenapa? sepertinya harapan ku hanyalah paman dokter ini. ' pikirnya


" Sudahlah jangan membahas masa lalu, yang penting sekarang adalah kedua orang tua mu sudah kembali lagi seperti dulu. "


Kepala Juju mangut-mangut meski sebenarnya masih ada banyak pertanyaan dalam benaknya, tapi sepertinya mereka sengaja menutupi sesuatu, " Paman dokter benar, oh iya, apa paman dokter tahu kalau aku akan segera mendapat dua adik sekaligus? "


Di waktu yang sama di tempat berbeda.

__ADS_1


' Hatchim ' secara bersamaan Aldan dan Aulina bersin.


" Benarkah? kalau begitu paman dokter ucapkan selamat, sudah berapa bulan usia kandungan ibu mu. "


Juju menggeleng membuat paman dokter heran.


" Apa bubu mu belum memeriksanya? "


" Entahlah, yang jelas aku akan punya dua adik. "


Paman dokter lagi-lagi tergelak mendengar perkataan Juju. " Kamu ini, jadi, jenis kelamin apa yang kamu inginkan untuk calon adik-adikmu? "


Juju terdiam sesaat, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dagunya. " Aku belum memikirkannya, apa paman dokter ada saran? "


" Kalau paman memilih dua duanya, satu laki-laki satu perempuan. "


" Kenapa? "


" Tentu saja agar lengkap, satu keluarga akan sangat lengkap jika di penuhi oleh anak perempuan dan laki-laki. "


Juju terdiam membenarkan perkataan paman dokter.


" Sekarang giliran paman dokter yang bertanya. "


Juju menoleh.


" Kenapa kamu sangat menginginkan seorang adik? "


Kepala nya tertunduk lemas. " Tapi sebelum itu berjanjilah satu hal padaku, jangan beritahu ayah dan bubu ku, jangan pernah, janji? " mengulurkan jari kelingking, paman dokter tersenyum seraya mengaitkan jari kelingkingnya. " Paman dokter janji, jadi . . "


Juju menghela nafas. " Sejujurnya karena aku sangat kesepian. Sejak lahir, aku selalu kesepian meski ayah baptis selalu menemaniku tapi aku tetaplah anak yang merindukan kasih sayang kedua orang tua, aku pun tak memiliki teman karena kelebihan yang aku miliki ini. Bubu selalu sibuk dengan pekerjaannya dari dulu begitu pula sekarang. Awalnya aku berpikir mungkin bubu sibuk karena menjadi tulang punggung keluarga, maka dari itu aku berpikir jika aku menemukan ayah ku, mungkin bubu tak akan menjadi tulang punggung untuk memenuhi segala kebutuhan ku. Tapi nyatanya tidak, dia masih sibuk dengan bisnis yang sedang di jalankannya, sedangkan ayah pun sama sibuk dengan profesinya, aku tak menyalahkan keadaan mereka, tapi paman, apa aku salah jika aku menginginkan adik untuk menemani kesepian ku? "


Paman dokter tersenyum , merengkuh tubuhnya kedalam pelukannya, tangannya mengelus puncak kepalanya seraya berkata. " Tentu saja tidak, jika bisa minta pada kedua orang tua mu untuk memberi mu sepuluh adik, bagaimana? "


Juju tergelak. " Paman dokter bisa saja. "


Keduanya tergelak bersama-sama.

__ADS_1


Dari balik pintu Aldan mendengar semua yang di katakan anaknya seraya mengepal erat kedua tangannya.


__ADS_2