
" Arjuna! kalau begitu, bisakah kamu menggambar ku? kamu tahu? dia ini sangat tak pandai melukis, bagaimana bisa dia menggambar ku seperti ini. " ungkap Diandra seraya memperlihatkan gambar hasil Lingga pada Juju. Juju pun menatap gambar itu, yang terlihat layaknya gambar anak SD seharusnya, kedua bola matanya yang di buat asal tak ada ungkapan yang tersirat di dalamnya, berbeda dengan gambar anak lainnya yang terbilang seperti gambar yang di lukis oleh orang dewasa, seperti miliknya.
" Lihat! bagaimana bisa dia menggambar ku seperti ini? apa ini layak di sebut lukisan? "
' Menurutku Untuk seukuran anak SD, gambar milik Lingga adalah satu-satu gambar yang di bilang layak untuk anak usia mereka pada umumnya, ' batin Juju
Tak ingin terus terpojok, Lingga pun membela dirinya, kedua tangan ia lipat di dada seraya berkata. " Kamu seharusnya bersyukur, karena aku telah melukis mu dengan baik dan benar. Kamu tahu sendiri, melukis bukanlah keahlian ku, "
" Kamu! "
" Sudah lah kalian berdua, kalian tahu? kalian terlihat layaknya pasangan suami istri." ucap Juju berusaha melerai keduanya.
" Apa?! " Keduanya sontak berteriak secara bersamaan, membuat Juju sedikit kaget.
" Aku dan dia, pasangan suami istri? " ucap Lingga seraya mengernyitkan alisnya tak terima, begitu pula dengan Diandra.
" Tak mungkin dan tak akan pernah terjadi. " secara tak sadar mereka mengucapkannya secara bersamaan lagi
Sontak membuat mereka saling bertukar mata melotot.
" Lihat, kalian bahkan mengucapkan kata yang sama secara bersamaan Dua kali. " ucap Juju dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.
Diandra pun menghentakkan kakinya kesal di atas lantai. "Sudahlah, lebih baik aku pergi saja." ucapnya lalu pergi meninggalkan ruang seni menyisakan Lingga dan Juju.
Sadar tengah di tatap intens, Juju pun menoleh. " Kenapa kamu menatapku seperti itu? "
" Bagaimana bisa kamu mengatakan hal mengerikan seperti itu? "
Seakan tak merasa berdosa, dia malah balik bertanya. " Seperti apa? "
" Sudah lah lupakan saja, hari kita jadi kan main ke rumah ku? "
Juju pun mengangguk, senyum Lingga pun mengembang tangan nya merangkul leher Juju lalu menyeretnya berjalan keluar " Ayo kota meluncur ke rumah ku! "
sesampainya dirumah Lingga.
Bang bang, terdengar suara tembakan, dengan tangan yang kini sudah lihai, hanya dengan hitungan detik, Juju berhasil menumbangkan banyak lawan dalam video game tersebut membuat Lingga terkejut dengan perkembangan pesat dari sahabat kutu bukanya itu.
" Uuuh aku tidak menyangka, ternyata hanya butuh satu minggu untuk mu agar bisa lihai memainkan game ini. "
Juju hanya diam namun bibirnya menyungging puas.
__ADS_1
" Bukankah kamu hanya kutu buku? "
" Menjadi kutu buku bukan berarti tak bisa memainkan game seperti ini. "
" Katakan padaku? siapa yang mengajarimu? dia pasti orang hebat, karena sudah menjadikan mu pintar seperti ini. "
Seminggu yang lalu.
ting tong ~ bel pintu berbunyi, namun pintu di depannya masih tertutup rapat dan tak ada tanda-tanda untuk terbuka, dia pun menekan kembali jari nya pada bel itu.
Ting tong ~
Masih tak ada jawaban.
Kesal, dia pun terus menekan bel itu tanpa henti
ting *tong ting ting tong ting ting~
cklek*, pintu pun akhirnya terbuka, menampakan sosok Andri yang baru saja bangun dari tidurnya. " Ada apa? bukankah ini weekend? " tanyanya dengan suara khas bangun tidur.
" Aku tahu. "
" Sayang nya mereka terlalu sibuk dengan pekerjaaan mereka, dan aku sangat kesepian. Bisakah paman membiarkan ku masuk? " Ucapnya bohong seraya memasang wajah memelas yang belum pernah dia lakukan sebelumnya, padahal sejujurnya kedua orang tuanya sudah mengajak bahkan sedikit memaksanya untuk pergi piknik namun dia menolak dan memberi alasan bahwa dirinya ingin segera mempunyai adik, jadi, dia pun memutuskan untuk tidak mengganggu waktu kebersamaan mereka, dan memutuskan pergi kerumah Andri sendirian karena jaraknya yang tak jauh dari rumahnya.
Melihat wajah memelas seperti itu membuat hati Andri terenyuh dia pun membuka pintu rumahnya lebar-lebar, membiarkan nya masuk.
" Bisakah kamu menunggu paman lima menit untuk bersiap-siap? "
" Memangnya paman mau kemana? " tanya nya heran.
Andri pun di buat sedikit tertegun. " Loh bukannya kamu kesini untuk pergi jalan-jalan bersama paman? " Juju diam memperhatikannya, " atau kita kembali pergi menguntit pria itu lagi? "
" Aku tak pernah bilang ingin pergi jalan-jalan atau pun menguntit seseorang, paman tahu? menguntit itu tidak baik, lagi pula itu sangat melelahkan. "
" Lalu apa yang akan kita lakukan? "
" Ajari aku main game. "
" Hah!!! "
*
__ADS_1
" R.A.H.A.S.I.A, yang jelas aku sudah membuktikan bahwa aku sudah bisa mengalahkan mu sesuai dengan janjiku. "
Mendengar jawaban tersebut membuat Lingga memutar bola matanya malas, " iya iya, kamu memang pantas di juluki anak genius. "
" Bukankah kamu juga genius? "
Lingga tak menjawab namun senyumnya mengembang.
" Kau tahu? saat pertama kali melihatmu di kelas membuatku sangat terkejut, aku tak tahu kalau kamu termasuk golongan anak genius. kupikir kamu hanya lah anak maniak game. "
Senyumnya seketika luntur.
" Aku juga tak menyangka ternyata ada banyak anak seperti ku, termasuk dirimu. "
Lingga pun menjeda permainan mereka sejenak, menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan, " Wah aku juga tidak menyangka, di balik muka cuek mu ternyata kamu bisa bawel juga seperti ini. "
Mendengar hal tersebut, membuat Juju sedikit heran.
" Dan bisakah kamu berhenti untuk menatapku seperti itu? "
" Seperti apa? "
" Lupakan, ayo ikut aku, akan kuberi tahu kemampuan ku yang sebenarnya. "
Meski tak mengerti apa yang di bicarakan oleh Lingga. Juju pun menurut dan mengikutinya dari belakang, Meski ini adalah kunjungan yang ke dua kalinya, namun ia tak bisa berhenti menatap kagum rumah sahabatnya yang sangat besar dan mewah itu.
Butuh sekitar lima belas menit untuk sampai ke tempat tujuan yang di bicarakan oleh Lingga, kini mereka sedang menatap sebuah pintu ruangan.
Kriet ~ ketika pintu ruangan itu di buka, terdapat ruangan biasa, hingga Lingga mendekatkan wajahnya kesebuah patung kucing yang berada di dekat rak buku, tiba-tiba rak buku itu bergeser memperlihatkan ruangan lain dari ruangan tersebut. Lingga pun kembali menuntunnya menuruni tangga, sedikit berbelok hingga mereka sampai kesebuah pintu rahasia.
Ketika pintu itu di buka seketika membuat mata Juju terbeliak tak percaya dengan apa yang dilihatnya, kedua matanya menatap kagum serta sedikit iri, ada begitu banyak jenis perangkat komputer yang terpasang di sana.
Beberapa layar menampilkan beberapa rekaman CCTV rumahnya, serta ada rekaman CCTV di sekolah yang Juju ketahui bahwa itu adalah kamera pribadi milik Lingga.
" Apa kamu penguntit? " tanya nya penuh selidik.
" Bagaimana bisa kamu mengatakan hal sekejam itu? meski aku sadar kalau aku ini menyebalkan bukan berarti aku adalah anak nakal, dan juga di lihat dari segi manapun aku tidak terlihat seperti penguntit. "
Juju masih memicingkan matanya.
" Aish, baiklah, perhatikan dan lihat dengan baik-baik kemampuan ku ini. "
__ADS_1