My Little Hero

My Little Hero
36


__ADS_3

" Baiklah kalau kamu tidak percaya, aku bisa bersumpah pada langit, jika aku mengkhianati mu maka aku Lingga akan menerima akibatnya. " ucapnya seraya membusungkan dadanya ke depan, mengangkat tangan nya ke atas.


Meski Lingga sudah mengatakan semuanya bahkan bersumpah di depan mata Juju. Namun, seakan menjadi bisu, juju menutup mulutnya rapat-rapat, masih enggan untuk membuka suaranya, membuat Lingga menyadari bahwa temannya itu masih belum mempercayainya sepenuh hati, tak seperti dirinya yang sudah memberikan kepercayaan, lagi pula siapa yang akan percaya pada seorang yang sudah membongkar aib temannya sendiri? jika itu dirinya, ia juga akan bersikap seperti Juju.


" Kamu masih tidak ingin bilang? " tanyanya untuk sekedar memastikan.


Juju pun kembali menjadi bisu.


Sadar akan hal itu, Lingga menghela nafas. " Baiklah terserah padamu aku tak akan memaksamu. " sambungnya kembali menatap layar komputer di depannya seraya memainkan keyboard di bawah jarinya.


Juju sedikit tertegun, alisnya mengerut, " begitu saja? "


" Memangnya kamu ingin aku berbuat apa lagi? bersujud seraya memohon? "


" Tidak, itu terlalu berlebihan, aku hanya tidak berpikir bahwa kamu akan menyerah begitu saja. "


Lingga kembali menghela nafas, " Jika aku terus memaksamu, apa kamu akan mengatakannya? " Juju kembali terdiam. " Lihat, kamu bahkan tidak bisa mengeluarkan suara mu, seperti yang kamu lakukan tadi padaku, aku juga tak akan memaksa mu untuk mengatakannya jika memang kamu tidak menginginkannya. "


Mereka saling terdiam, suasana menjadi hening, hanya terdengar bunyi keyboard yang di tekan dengan cepat, hingga sebuah dering dari ponsel memecah keheningan.


Sadar bahwa itu berasal dari ponselnya, Juju pun merogoh ponselnya, lalu menatap layar, sebuah panggilan masuk dari ayahnya, ibu jarinya di menggeser ikon hijau.


" Iya, halo. ayah, ada apa? "


" Ayah sudah berada di depan rumah temanmu, bisakah kita pulang sekarang? ayah takut kalau bubu mu pasti sangat kesepian menunggu kita di rumah . "


Aulina yang berada di rumah, tengah tertawa terbahak-bahak menikmati sebuah drama, dengan snack ringan di pangkuannya.


" Ah baiklah, tunggulah di sana sebentar lagi aku akan segera ke meluncur ke sana. "


" Baiklah, ingat! jangan berlarian. Ayah akan sabar menunggu, jadi kamu tak perlu tergesa-gesa. "


" mmm, baiklah. " ia pun menutup panggilan tersebut, melirik Lingga yang masih menatap layar komputer, " Lingga!, " panggilnya.


Lingga menoleh, " mmm pergilah, tapi maaf, aku tak bisa mengantarmu, aku harus mengurus para tikus-tikus busuk ini terlebih dahulu, mereka pikir siapa mereka? dasar tak tahu malu beraninya menyerang perangkat ku, " ucapnya kesal, jari jemarinya semakin cepat bergerak.


" Tentu, tak apa-apa. " timpalnya seraya merapihkan kembali artikel di tangannya.


Sesekali Lingga curi-curi pandang pada temannya itu. " Kamu masih ingat kan jalan yang tadi? "


" Tentu saja, kenapa? "


" Ah aku hanya takut, jika kamu tersesat. " godanya.


Dahinya mengerut. " Maaf, tapi memori ku masih bagus, jadi tak mungkin aku bisa tersesat dengan begitu mudah. "

__ADS_1


Lingga terkekeh, matanya tak berpaling sedikit pun dari layar komputer, yang menunjukan banyak-banyak angka pada layar tersebut.


Juju terdiam kembali, melirik sekilas pada temannya yang tengah larut dengan dunianya sendiri, kakinya pun membawanya melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, namun langkahnya terhenti, kembali melirik ke belakang. " Lingga! " panggilnya lagi.


" Iya, ada apa? "


" Terima kasih. " ucap Juju tiba-tiba


Jari jemari Lingga terhenti sesaat, " Untuk apa? "


" Untuk semuanya, terima kasih karena sudah mau terbuka padaku serta membantuku menemukan artikel ini. "


" Itu bukanlah hal yang sulit, jadi kamu tak perlu berterima kasih padaku. "


" Tetap saja, aku sungguh berterima kasih padamu, dan juga . . maaf. "


" Apa kamu melakukan kesalahan? " tanyanya heran.


" Iya, maaf aku belum bisa terbuka dengan mu. " gumamnya.


" Kamu tak perlu khawatir, aku tak memasukannya kedalam hati. "


" Bisakah kamu menunggu ku? "


" Bukan itu yang aku maksud. "


" Lalu? "


" Bukan apa-apa, kalau begitu aku pergi. "


" mmm, pergilah jangan buat ayah mu menunggu lebih lama lagi. "


Langkah kakinya kembali membawanya keluar.


" Seperti yang kamu lakukan tadi, berilah aku waktu untuk menenangkan diri dan mengumpulkan keberanian ku, dan juga terima kasih telah terbuka dengan ku." ucapnya tiba-tiba, " Sampai jumpa di sekolah besok. " Sambungnya , meninggalkan Lingga yang tertegun, tanpa sadar air matanya mengalir, ia pun terisak, pertama kalinya dalam hidupnya ia mendapat ungkapan yang tulus dari orang lain selain dari orang tuanya.


*


"Apa ayah sudah lama menunggu? " ucapnya yang baru masuk kedalam mobil


Sang ayah tersenyum simpul. " lumayan, "


" Maaf. " cicitnya


" Kenapa kamu meminta maaf? lagi pula, ayah juga bersalah karena memberi kabar secara mendadak. Jadi kamu tak perlu menyalahkan dirimu sendiri. "

__ADS_1


" Mmm. "


" Hari ini kamu mau makan apa? ayah akan membuatkannya untuk mu. "


Juju berpikir sejenak. " Karena bubu sedang sakit, bagaimana kalau menu makan malam kita adalah makanan kesukaan nya? "


Kepala sang ayah mangut-mangut menyetujui saran dari putranya " Baiklah. "


" Oh iya ayah, kenapa ayah tak mengambil cuti? bukankah ayah bilang akan merawat bubu? "


" Awalnya, ayah memang sudah mengambil cuti, tapi tiba-tiba ada pasien ayah ada yang harus mendapat perawatan darurat, jadi ayah pergi sebentar, " terangnya, sang ayah tiba-tiba tertegun sejenak, " bagaimana kamu bisa tahu ayah tadi pergi ke rumah sakit? "


" Ah, aku mencium bau obat rumah sakit dari tubuh ayah, jadi aku bisa mengetahuinya. " bohongnya.


Aldan terkekeh. " Anak ayah memang pintar, kalau begitu kita pergi ke supermaket terlebih dahulu. "


Mendengar perkataan dari sang ayah Juju pun mengacungkan jempolnya pada sang ayah.


*


Akibat perbuatan suaminya. Aldan semalam, membuat pinggangnya terasa remuk, ia bahkan kesulitan untuk berjalan.


Meski semalaman ia sangat beringas memperlakukannya, namun perlakuan manisnya di pagi hari, membuatnya terharu nan tersentuh.


Suaminya, Aldan memperlakukannya bak seorang ratu, semua keinginannya di turuti oleh sang suami, bahkan menyuapi makanan sarapan pagi, di dalam kamar, namun hal indah tersebut rusak oleh sebuah dering dari ponsel suaminya.


" Ada apa? " Aulina bertanya penuh penasaran.


Sang suami menoleh, sorot matanya menjadi sedih. " Maaf sepertinya aku harus kembali ke rumah sakit. "


" Memangnya kenapa? "


" Salah satu pasien ku mengalami kondisi kritis, dan aku harus segera menanganinya. "


" Kalau begitu, pergilah. "


" Apa kamu tidak keberatan? "


" Tentu saja tidak, bukankah pasien mu lebih penting sekarang ? "


" Bukankah disini juga ada satu? " ucapnya seraya mendekatkan tubuhnya pada Aulina, tangannya nakalnya mulai menggerayangi punggungnya.


" la-lagi pula aku sudah sembuh kok, jadi kamu tak perlu khawatir. " timpalnya seraya menjauhkan diri dari sang suami yang mulai nakal


" Benarkah? kalau begitu, mari kita pastikan. Apa kamu sudah sembuh atau tidak? "

__ADS_1


__ADS_2