My Second Life Became The Weakest Hero In Another World

My Second Life Became The Weakest Hero In Another World
Chapter 11 ~ Seorang Non Grimoire


__ADS_3

Beberapa menit sudah berlalu semenjak Daniel mennggemparkan semua orang karena mendapatkan Grimoire langka yang bernama Zero. Banyak para murid dan para Guru yang terkejut melihatnya, begitupun denganku.


Tetapi anehnya Daniel tidak memperlihatkan senangnya, dan malah seperti orang cuek yang tidak peduli dengan sekitarnya.


Setelah itu, Ujian kembali dilaksanakan. Daniel sudah kembali di tempatnya, para murid laki dan perempuan dipanggil secara bergiliran sesuai dengan daftar nama mereka yang ada di kertas Absen.


Yah, mungkin sudah menjadi takdirku untuk menjadi orang yang selalu terakhir. Tetapi itu tidak begitu buruk, dengan ini aku dapat mengamati beberapa Murid yang akan mendapatkan sebuah Grimoire nantinya.


"Berikutnya adalah Stephanie Wesline..."


Setelah Wilhelm mengatakannya, seorang wanita berambut pirang dengan busur dipunggungnya berjalan menuju ke arah Cawan sebelumnya. Tunggu kalau dilihat-lihat dia adalah wanita yang disampingku tadi. Jadi namanya adalah Stephanie Wesline ya, kalau tidak salah dia juga masuk ke Kelas-B sama sepertiku.


Saat Stephanie sudah berada didepan Cawan. Dia mengkikat rambut pirangnya ke belakang dan membuat kami semua terkejut begitupun dengan para Guru.


"Elf"


Itulah kata yang tidak sengaja keluar dari mulutku. Ternyata Stephanie adalah seorang Elf, kenapa aku bisa mengetahuinya? itu karena Telinga runcingnya yang sangat mirip dengan Ras Elf, Tidak. Tetapi dia memang dari Ras Elf.


Karena sebelumnya rambutnya menutupi Telinganya, kami mengira bahwa dia itu salah satu dari kami. Ternyata salah, dia adalah seorang Elf dengan paras wajah yang sangat cantik.


Tetapi ada yang aneh, jika dia dari Ras Elf yang merupakan Ras dengan kapasitas Mana terbesar didunia. Lantas kenapa dia masuk ke Kelas-B? apa dia memang sengaja tidak ingin terlihat menonjol sepertiku. Sepertinya bukan, pasti ada maksud tersembunyi darinya.


"Mulailah"


Mendengar aba-aba dari Wilhelm, Stephanie menyayat jempolnya dengan pisau yang sebelumnya ia selipkan di pinggangnya. Setelah itu ia membiarkan darah menetes jatuh ke dalam Cawan untuk membuat Kontrak dengan Grimoire.


"Grimoire La Alvaro"


Sring!!


Cawan bercahaya, dan satu Grimoire keluar dari Raknya lalu langsung menuju ke arah Stephanie. Berbeda dengan Daniel yang dikelilingi oleh banyak Grimoire karena Kapaitas Mana miliknya yang banyak. Stephanie hanya mendapat satu Grimoire dengan warna hijau dan bergambar daun di sampulnya.

__ADS_1


'Ini sudah terlalu jelas ... pasti dia memiliki Mana Abnormal sepertiku'


Aku berpikir bahwa mungkin Stephanie memiliki kapasitas Mana yang rendah sepertiku. Untuk seorang dari Ras Elf, Mana adalah segalanya bagi mereka. Jika seorang Elf terlahir dengan sedikit Mana, mungkin mereka akan menganggapnya sebagai cacat atau Aneh. Yah, itu juga berlaku padaku sih.


Selepas Stephanie mengambil Grimoire tersebut. Dia segera menempelkan jempolnya yang berdarah disampulnya untuk langkah terakhir pembuatan Kontrak. Sesudahnya dia langsung kembali ke tempatnya tanpa berkata-kata apapun. Sepertinya dia sangat cocok dengan tipeku hahaha.


Ujian kembali dilanjutkan. Meski kebanyakan mata murid tertuju ke arah Stephanie karena dia dari Ras Elf, yang merupakan Ras terkenal dengan wajah Tampan dan Cantik mereka. Meskipun begitu Stephanie sama sekali tidak terlihat peduli, dia hanya sibuk membolak balikan Grimoirenya dan menatapnya dengan tatapan senang.


Baiklah kembali fokus, aku mengamati kembali beberapa murid saat melakukan kontrak dengan Grimoire. Meski tidak ada yang dapat membuat banyak Grimoire tertarik seperti Daniel. Tetap saja mereka sangat beruntung karena masih ada Grimoire yang merasa tertarik dengan mereka.


Apakah nanti aku juga mendapatkan sebuah Grimoire seperti mereka? mungkin aku sudah tahu jawabannya. Tetapi aku tetap ingin berharap bahwa aku juga ingin mendapatkan sebuah Grimoire untuk diriku sendiri.


Selang beberapa menit kemudian, para murid telah mendapatkan seluruh Grimoire kecuali aku. Karena namaku berada di urutan terakhir, hanya aku saja yang belum memilikinya.


"Selanjutnya adalah Felix von Edgard"


Setelah Wilhelm memanggil namaku, aku langsung melangkahkan kakiku untuk menuju ke Cawan tersebut. Para murid menatapku dengan aneh, tetapi aku berusaha untuk mencuekinya.


Disaat aku sudah sampai didepan Cawan, aku segera menarik pedangku dari sarungnya. Aku langsung menyayat daging jari jempolku dan membiarkan darah menetes jatuh ke dalam Cawan.


Meski sedikit sayatan saja, ternyata rasanya sangat sakit dan aku ingin sekali berteriak. Untung saja aku dapat menahannya. Jika tidak, reputasiku sebagai kepala Keluarga Edgard akan semakin jatuh.


"Grimoire La Alvaro"


"Eh?!"


Saat darahku telah menetes ke dalam Cawan itu. Anehnya tidak ada reaksi sama sekali seperti para murid sebelumnya. Dimana cahaya terang itu? apa jangan-jangan kejadian abnornal terulang lagi? sepertinya begitu jika dilihat dari posisiku sekarang ini.


Sementara itu, para murid dan Guru lainnya lagi-lagi menatapku dengan tatapan aneh. Apa jangan-jangan aku memang tidak memiliki Mana sama sekali? Lantas cahaya redup yang muncul di Bola Kristal itu apa?


Aku mencoba lebih lama lagi dan ternyata Cawan itu memang tidak bereaksi sama sekali pada darahku. Jadi aku itu anak yang tidak terlahir dengan Mana ya, sialan kau Zeus. Bukannya ke dunia lain itu seharusnya aku menjadi sangat kuat. Terlebih lagi aku ini seorang pahlawan, meski sementara sih.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? seharusnya Cawan bereaksi dengan Mana miliknya?" Gumam Wilhelm karena tidak percaya dengan apa yang dilihat didepannya saat ini.


Seseorang Tanpa Mana? ini merupakan kejadian langka yang baru terjadi di dunia ini. Seluruh orang ataupun Ras didunia ini harusnya memiliki Mana meskipun sedikit.


Tetapi hal itu tidak berlaku bagiku, aku sama sekali tidak memiliki Mana sedikitpun. Apa ini sebuah kesialan atau keberuntungan aku tidak mengetahuinya.


"Ehm ... Untuk kejadian ini, aku akan menyelidikinya bersama dengan para Guru. Dan satu lagi ... Besok hari kalian sudah bisa memulai pengajaran di kelas masing-masing.


Untuk para murid baru yang sudah berhasil lolos seleksi, sekali lagi aku ucapkan selamat datang di Akademi Sihir Mervest. Berjuanglah untuk menjadi yang terbaik di Akademi ini. Karena kalian adalah bibit unggul yang akan menjadi penopang kerajaan Ernesti kelak di masa depan nanti"


Setelah Weisten menyelesaikan penyambutan singkatnya. Para murid langsung berteriak "Horee!!" dengan sangat keras. Dilain itu, aku masih berdiri didepan Cawan dan bingung harus melakukan apa.


Meski para murid melupakan aku karena masih terlalu senang dengan diterimanya mereka. Elf yang bernama Stephanie masih terlihat biasa saja, dan sekarang ini dia sedang melototiku.


'Apa maunya'


Setelah itu Weisten menyuruh para murid untuk pulang dan kembali pada esok pagi sekali untuk memulai pelajaran pertama mereka. Meski begitu, aku masih merasa sedikit kecewa karena tidak dapat memiliki sebuah Grimoire milikku sendiri.


...


Setelah seluruh murid pulang, di perpustakaan hanya ada Weisten beserta dengan dua guru cantik dan juga Wilhelm. Mereka ingin berdiskusi perihal Anak yang tidak memiliki Mana sama sekali tadi. Wajar-wajar saja sih, karena kejadian seperti ini hanya pertana kali didunia.


"Felix von Edgard ya ... Sebenarnya siapa anak itu? tidak memiliki Mana adalah hal yang mustahil didunia ini. Dan lagi, sebelumnya dia pernah melakukan suatu serangan yang bukan bertipe sihir" ucap Weisten.


"Aku juga tidak tahu Master ... meski aku memiliki pengetahuan yang sangat luas dari membaca seluruh buku di perpustakaan ini. Aku baru kali ini juga mengetahui ada anak terlahir tanpa Mana seperti itu" Jawab Wilhelm


"Kalau begitu, aku akan menyerahkan penyelidikan tentang anak itu kepada kalian berdua. Jena dan Jeni" Kemudian Weisten melirik ke arah kedua guru cantik tersebut.


""Baik Master""


-

__ADS_1


To be continue


__ADS_2