
Setelah terbongkarnya aku yang mampu memakai sihir pada Daniel, entah kenapa aku merasa sering diawasi olehnya, padahal aku sudah meminimalisir informasi mengenai kemampuanku dengan memakai Wind Slash saat melawan para cecunguk cecunguk itu sebelumnya, akan tetapi entah kenapa Wind Slash yang kugunakan waktu itu sangat berbeda dari apa yang ku pernah gunakan dulu.
Daya serangnya menjadi lebih kuat daripada sebelumnya, dan konsumsi Cakranya juga sangat besar, aku bahkan langsung roboh dalam satu pakai, aku berpikir, mungkin saat itu aku tidak dapat memgontrol Cakra dengan baik sehinggga skill yang kuhasilkan terlalu kuat, aku harus berhati-hati mulai sekarang ini.
Disaat yang bersamaan aku sadar, bahwa waktu Ujian Pertama masuk Akademi Mervest, secara tidak sadar aku menggunakan Wind Slash dengan sempurna, akan tetapi itupun juga tidak kusengaja karena aku masih belum mengerti tentang prinsip kerja Cakra maupun Mana. Dengan kata lain, aku bergerak sesuai insting belaka.
Setelah kami berhasil menyelamatkan Steph, kami menginformasikan kepada Tim B bahwa misi telah selesai dengan sihir Telepati milik Nona Elena, dia memberitahu rekannya Ryan Plounder untuk segera kembali ke Akademi Mervest untuk melaporkannya, dan begitulah kami juga langsung menuju ke sana setelah memberitahu mereka.
"Kerja bagus untuk kalian berdua, Nona Elena Blaze dan juga Tuan Ryan Plounder, kami sangat terbantu dengan bantuan tangan kalian..."
Sekarang kami berada di ruangan dimana Kepala Sekolah Akademi berada, di dalam ruangan sudah terdapat Tim B yang diisi oleh Raphel dan si gadis es sekaligus idola Akademi Marria Jenita, tentu saja aku dan Daniel beserta dengan Steph juga ada disana.
"Tidak masalah Ketua Weisten, sudah tugas kami untuk menolong orang yang kesusahan, selain itu ada beberapa informasi yang harus kami laporkan kepada para atasan kami di Organisasi White Witch, aku takut kami tidak dapat berlama lama disini, maafkan aku"
Ryan Plounder berkata dengan nada serius sambil mengajukan permintaan maafnya kepada Kepala sekolah kami, sepertinya saat kami menjalankan misi untuk penyelamatan Steph, ada suatu kejadian yang tidak aku ketahui pada Tim Raphel dan juga Jenita.
"Fumu ~ Aku mengerti, pasti itu adalah sesuatu yang sangat penting, aku tidak terlalu mempersalahkannya..."
"Kalau begitu, kami ijin mengundurkan diri..."
Mengatakan itu, Ryan Plounder beseta dengan Elena Blaze membungkuk dan kemudian segera pergi meninggalkan ruangan, namun sebelum itu Nona Elena sempat berhenti di tempat aku berada, dan mengatakan "Jika kalian mau, kalian dapat bergabung dalam organisasi kami, lo" lalu melanjutkan langkahnya kembali dan segera keluar dari dalam ruangan.
Aku memang memiliki ketertarikan pada Organisasi mereka, akan tetapi sebagai seorang yang dipilih sebagai 'Pahlawan Sementara' aku tidak dapat bergabung dengan mereka, yang artinya aku harus begerak sendiri dengan jalanku, dan disaat para Pahlawan yang asli dipanggil, aku akan terbebas dari tugasku dan hidup layaknya orang normal.
***
Di dalam ruangan hanya tersisa kami yang hanyalah seorang murid, tatapan Kepala akademi Weisten sekarang sedang menatap tajam pada kami semua, selain itu Guru Hensel dan juga Pengawas Kreill juga ada disini, mungkin mereka memiliki otoritas penting di Akademi ini.
"Ehem ~ Raphel Sandiego, Daniel von Kreiss, Marria Jenita, Felix von Edgard atas pencapaian kalian dalam misi kali ini, dengan otoritasku sebagai Kepala Akademi aku akan memberi masing-masing dari kalian sebuah item Magic sebagai apresiasi"
Mendengar kata dari pak tua Weisten, aku menjadi bersemangat, apakah itu perisai Anti-Magic seperti yang digunakan oleh cecunguk baj1ingan sebelumnya itu, atau item yang membuat dirimu menjadi transparan? Ataukah sebuah pedang legendaris dengan berbagai abillity di dalamnya? Memikirkannya saja, aku sudah sangat tidak sabar untuk melihatnya.
"Guru Hensel, bisakah kau berikan pada mereka?"
"Baiklah"
Menjawab perintah, Guru Hensel datang kepada kami dengan sebuah koper hitam di tangannya, lalu dia membukanya, dan terlihat ada beberapa cincin kecil bewarna perak yang mengkilap disana, apakah ini item yang dimaksud? Jika dilihat benda itu tampaknya sangat biasa-biasa saja dan sama sekali tidak memiliki keistimewaan didalamnya
"ini adalah cincin ruang, kalian dapat menyimpan barang bawaan kalian di dalam cincin ini tanpa masalah, selain itu cincin ini memiliki ruang tidak terbatas, jadi kalian dapat membawa banyak benda sesuka kalian di dalam Cincin ini" Guru Hensel menjelaskan.
Tampaknya itu semacam Invetory layaknya di game
"Kalian semua, ambilah cincin tersebut.." Pinta Weisten.
Lalu kami mengambil masing-masing cincin di dalam koper yang dipegang oleh Guru Hensel, aku memakainya, dan nampaknya memang terdapat Mana dalam cincin ini, apakah cincin ini dapat membawa seseorang juga? Kalau begitu bukankah item ini dapat digunakan untuk penculikan?
__ADS_1
"Biar kujelaskan, cincin itu tidak dapat membawa apapun selain barang, tentu saja manusia juga tidak, cincin itu senilai dengan Harta Negara, jadi tolong jaga baik-baik cincin itu" Tambahan dari Weisten.
Sepertinya tadi dia membaca pikiranku, aku harus lebih hati-hati pada pak tua yang satu ini, tetapi mendapatkan bahwa cincin ruang yang sekilas seperti Invetory dalam gane tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Mungkin dengan ini aku tidak perlu bersusah payah membawa tas jika aku memiliki item ini, itu sangat memudahkanku.
***
Setelah itu percakapan kami dengan Ketua Weisten telah berakhir, dan kini hari sudah malam, kami kembali di kamar masing-masing Asrama untuk beristirahat karena lelahnya misi kali ini, sebelumnya aku juga mendapat ucapan terimakasih oleh Steph, meski aku tidak tahu kenapa dia malu malu saat mengatakannya, yah lagipula dengan adanya misi ini aku mendapat pengalaman yang banyak pula.
Aku berbaring di kasurku sambil merentangkan kedua tanganku, aku berpikir kenapa aku tidak dapat mengontrol Cakra dengan baik pada waktu itu? Seharusnya mudah bagiku untuk dapat melakukannya, apakah ada sesuatu yang kulewatkan sebelumnya?
Memikirkan hal tersebut, aku menoleh kesamping, di sekitar kasurku terdapat sebuah meja yang diatasnya ada segelas air putih murni, aku mengulurkan tanganku dan mencoba mengalirkan Cakra di dalamya, semoga saja ini akan baik-baik saja.
Aku mencoba menggabungkan antara elemen angun dan air disaat bersamaan, dan berniat untuk membuat beku air dalam gelas tersebut, akan tetapi...
Pyar!!!
Bukannya beku, gelas yang menampung air tersebut malah pecah, aku segera bangkit dari ranjang dan berpikir apa yang telah kulewatkan sekarang ini, sementara otakku berputar, jendela kamarku berbunyi "Tok Tok Tok" beberapa kali, itu mengangguku, jadi aku membukanya untuk melihat siapa yang iseng malam malam begini.
Namun, Seseorang tiba tiba melompat masuk ke dalam kamarku melalui jendela tersebut, aku yang terkejut langsung terjatuh di lantai dan membuat pantatku sakit.
"Hehe Tuan muda.. Lama tidak bertemu"
"R-Reni? Sedang apa kau disini?"
"Yah... Belakangan ini Tuan muda jarang pulang ke rumah, jadi aku menyelinap saja masuk ke dalam Asrama Tuan muda... Hehehe" Reni menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil melakukan gaya melet kucing.
Tunggu, bukan itu masalahnya, kenapa dia dapat mengetahui dimana letak kamarku sekarang ini? Terlebih kagi jika ketahuan oleh Pengawas Kreill, aku akan dibunuhnya, sialan dia memberiku masalah.
"Tuan muda... Kau kelihatan lesu, apakah kau memiliki masalah? Atau kau kurang istirahat disini karena tidak ada aku yang manis ini?"
Sepertinya Reni dapat membaca ekspresiku, yah aku sudah lama tinggak bersamanya jadi itu wajar wajar saja, dan mumpung dia ada disini, sesama pengguna Cakra seharusnya dia dapat membantuku dengan masalah yang menimpaku sekarang ini.
"Reni... Apakah kau pernah mengalami kejadian dimana dirimu tidak dapat mengontrol Cakra dengan baik?" Aku bertanya dengan wajah serius.
"Hmm... Tidak dapat mengontrol ya, kurasa aku pernah mengalaminya, waktu itu aku juga bingung karena tiba tiba Cakraku susah untuk dikendalikan"
"Ya, seperti itulah keadaanku sekarang ini"
Aku menjelaskan kepada Reni secara tidak langsung agar dia cepat memahaminya.
"Apa kau mengetahui sesuatu tentang ini?" Lanjutku bertanya.
Reni yang mendengar pertanyaanku tersenyum dengan seringai, entah kenapa aku memiliki firasat buruk tentang hal ini, "Fu.. Fu.. Fu.. Jika Tuan muda ingin tahu, aku akan memberikan sebuah Syarat, dan itu tergantung Tuan muda apakah mau menerimanya atau tidak?"
Sudah kuduga.
__ADS_1
"Jadi syarat apa itu?"
"Ijinkan aku memelukmu sebentar"
"Ha!?"
Aku cukup bingung dengan perkataan barusan, memeluk? Apakah aku ini masih terlihat seperti anak kecil dimatanya? Apakah tidak ada permintaan lain selain itu? Itulah yang ingin kutanyakan, akan tetapi saat melihat bola matanya yang berbinar binar, sepertinya dia serius akan hal ini.
"Jadi bagaimana Tuan muda? Apakah kau mau menerima persyaratannya?"
Aku termenung sejenak, "B-baiklah baiklah, sekarang cepat"
Aku tidak memiliki apapun untuk nengeles jadi kubiarkan saja untuk hari ini, lalu Reni memelukku dengan sangat erat sambil mengelus-elus kepalaku seolah masih seorang bayi kecil yang baru menetas, eh maksudku lahir. Tunggu, sejak kapan dia akan memelukku seperti ini? Dengan segera aku mendorong bahu Reni dan mengatakan tentang permintaanku tadi.
"Jadi, bagaimana dengan itu?"
"Hmm... Itu sangat sederhana Tuan muda, Cakra diartikan seperti Energi kehidupan, jadi kondisi tubuhmu akan sangat berpengaruh dalam mengontrol cakra, coba Tuan muda ingat... Pada saat kejadian tersebut, apakah Tuan muda merasa tidak enak badan?"
Aku termenung sejenak untuk mengingatnya, akan tetapi aku tidak merasa tidak enak bada waktu itu, jadi aku hanya menggelengkan kepalaku sebagai tanggapan pada perkataan Reni.
"Kalau begitu Penyebab Tuan muda tidak dapat memgontrol Cakra dengan baik, mungkin dipicu oleh emosi Tuan muda sendiri"
"Emosi?" aku memiringkan kepalaku.
"Ya, emosi juga berpengaruh saat pembentukan Element, jika emosi Tuan muda tidak stabil, Konsentrasi juga akan terganggu, mungkin itulah faktor utama penyebab Tuan muda tidak dapat mengontrol cakra dengan baik"
Memang benar waktu itu aku meraskaan rasa takut dan cemas disaat yang bersamaan, mungkin karena itulah aku mengeluarkan cakra yang berlebihan hingga tidak dapat kukendalikan dengan baik, akibatnya daya serang dari skill yang kugunakan juga semakin kuat, aku mendapatkan pengetahuan baru. Jadi, untuk mengontrol cakra dengan baik aku harus tetap tenang dalam segala situasi agar konsentrasiku tidak goyah.
Tapi, itu sulit. Mungkin mulai dari sekarang aku akan mulai berlatih untuk tetap tenang di segala kondisi dan situasi menegangkan.
"Daripada memikirkan itu, bagaimana kalau kita melakukan pelukan sekali lagi?"
"Pulanglah!!!"
-
To be continue
Message :
Hai kalian pembaca The Great Hero Reborn, kalian dapat membelikan author secangkir kopi untuk agar dapat semakin semangat saat update, 'Bagaimana caranya, Thor?' caranya mudah, cukup kunjungi link disini Karya karsa.com/Felix dan kasih saya sumbangan 5.000 untuk secangkir kopi panas saat menulis.
Hikangkan spasi!!
Ingin melihat aksi menarik dari Felix dan dkk bukan? Terus ikuti TGHR ya!!! Minna ~ san
__ADS_1