
Aku secara reflek berteriak saat namaku di sebutkan oleh Guru Hensel, dan sekarang pandangan semua orang tertuju padaku, aku hanya bisa tersenyum kecut akan hal tersebut, baiklah kesampingkan sebentar hal itu, daripada diriku sendiri, aku lebih tertarik dengan Viona von Celena, dia adalah wakil ketua kelas, dan aku sama sekali belum pernah berbicara dengannya sekalipun.
Meskipun kami sering berpergian bersama untuk mengurus beberapa dokumen kelas karena disuruh oleh guru Hensel, namun pembicaraan kami hanya sebatas basa basi saja, tidak lebih dan tidak kurang. Tempatnya duduk berada di kursi paling depan dan paling kanan, artinya dia berseberangan denganku, karena tempat dudukku adalah kursi paling depan dan paling kiri.
Di dalam kelas, wanita yang bernama Viona von Celena adalah seorang wanita yang paling tidak mencolok, dia memiliki rambut merah dan memakai kacamata, Viona selalu membaca buku dimanapun dia berada, entah itu di dalam kelas, istirahat makan siang di kantin, bahkan saat latih tanding.
Jujur saja aku belum pernah melihat bahwa Viona pernah mengajak orang lain berbicara selain denganku, tetapi berbicara denganku itu juga tidak dapat dihitung karena hanya sekedar basa basi ringan saja. Bukankah dia terlalu menyendiri?
"Tunggu Guru Hensel!!! Kenapa aku tidak terpilih dan malah si pecundang itu yang terpilih?"
Leon bangkit dari posisinya dan menggertak dengan keras, terlihat ada beberapa kerutan di dahinya, yah sebenarnya aku juga tidak menduga bahwa Leon tidak menjadi orang yang terpiih, dia adalah orang yang paling berbakat di antara kami semua.
Untuk Viona, aku belum penah melihat sihirnya, jika dia dipilih oleh Guru Hensel dia pasti juga berbakat dalam sihir atau bisa jadi bahkan lebih berbakat dibanding Leon, tetapi yang menjadi masalah adalah, kenapa aku juga harus terpilih?
"Semua ini adalah keputusan dari Master Weisten, dan aku hanya menyampaikan kepada kalian semua, dan ketiga orang lainnya yang terpilih adalah, Daniel von Kreiss dari kelas A-1, Marvis Sanches dari kelas A-2, dan Albert Jericho dari kelas A-3"
Begitulah penjelasan dari Guru Hensel, ketiga orang lainnya merupakan murid yang memiliki bakat yang besar dalam sihir dan bertempat di kelas A, selain itu aku tidak asing dengan nama Marvis Sanches, jika tidak salah dia adalah seorang Komite Akademi yang ingin membuat harem di lingkungannya, ya itu pasti dia.
Dilain sisi juga ada Albert Jericho, seseorang yang pernah kulawan saat Ujian masuk pertama Akademi Mervest, karena keberuntunganku, aku dapat menang darinya, namun Albert tidak di keluarkan dari Akademi karena memiliki bakat yang baik dalam sihir.
Tapi yang aneh, kenapa kami yang berasal dari kelas bawah terpilih? Bukankah masih ada banyak murid berbakat lainnya? Misalkan saja Maria Jenita, dia jauh lebih baik dariku yang merupakan seorang 'Tanpa Mana'
"Aku masih tidak menerima ini!!! Seharusnya murid yang paling berbakat di kelas ini adalah aku kan? Kenapa malah dua orang pecundang itu yang dipilih!?"
Leon menegaskannya dengan kesal, meski aku tahu perasaannya, tapi bukankah mengolok ngolokku itu terlalu berlebihan?
__ADS_1
"Kau yang besar mulut saja akan dikalahkan dalam sekejap mata, meski kau paling berbakat di kelas ini, tapi pemikiranmu itu dangkal, kau mudah tersulut emosi dan termakan omongan orang lain, menurutku, orang seperti itulah yang rendah dari yang paling rendah"
Seketika semua pandangan semua orang tertuju pada asal suara yang berani membalas perkataan Leon tersebut, di bangku paling depan pojok kanan, seorang gadis berkacamata yang membaca buku, dan satu satunya orang yang tidak pernah terlibat dalam pembicaraan kelas, Viona von Celena, tiba-tiba mengangkat suaranya.
"K-kau... Gadis sialan!!!"
Tersulut oleh emosinya, Leon bergegas menuju ke bangku Viona dengan marah, namun Viona masih dengan tenangnya membolak balikkan halaman buku dan menganggap perkataannya sebelumnya itu sepintas angin yang lewat saja. Bahkan aku kagum atas keberaniannya itu.
"Asylp"
Guru Hensel mengatakannya, dan sebuah tali tambang yang muncul entah dari mana mengikat tubuh Leon dengan kuat, alhasil sebelum menacapi Viona, Leon terjatuh dan bergeliat di lantai seperti seekor cacing yang tidak berdaya.
"Di dalam kelas dilarang ada kekerasan..."
Guru Hensel melotot dengan dingin ke arah Leon, dan Leon yang melihatnya langsung bergidik ngeri dan memutuskan untuk diam, tidak jauh dari sana aku dapat melihat senyum puas dari Viona, untuk memecahkan situasi menegangkan ini, aku mengangkat satu tanganku, ada suatu pertanyaan yang ingin kutanyakan kepada Guru Hensel.
Guru Hensel menunjuk ke arah Leon yang masih bergeliat di lantai.
"T-Tidak Guru Hensel, aku ingin bertanya, apakah aku dapat menolak diriku sendiri dan memilih orang lain sebagai gantinya?"
"Sudah kubilang bukan, Master Weisten lah yang memilih kalian, aku disini hanya bertujuan untuk menyampaikan informasi ini kepada kalian..."
Jadi tidak ada jalan keluar ya? Mau tidak mau aku harus menerima keadaanku sekarang ini, aku menurunkan tanganku dan mengucapkan Terimakasih kepada Guru Hensel karena telah menjawab pertanyaanku, aku menghela nafas dalam dalam, aku bingung dengan apa yang dipikirkan oleh pak tua Weisten hingga memilih orang tidak kompeten seperti diriku ini.
Aku yakin seratus persen bahwa pak tua Weisten menyembunyikan sesuatu padaku, namun aku mengesampingkan itu dan melirik ke arah Steph, dan ternyata Steph juga melirik dengan tajam ke arahku, merasakan niat membunuh, aku langsung membuang mukaku darinya.
__ADS_1
***
Setelah jam sekolah berakhir, Guru Hensel segera keluar dari ruang kelas dan berjalan ke lorong untuk menuju ke ruang kepala Akademi, Weisten. Akan tetapi, saat dia berjalan Hensel di pertemukan oleh seorang Guru yang baru keluar dari ruang kelas sama sepertinya, dan akhirnya mereka berdua pun berpas-pasan.
"Ah... Guru Hensel ya, bagaimana kabarmu? Mengajar di kelas rendahan pasti sulit untukmu bukan? Aku turut berduka cita"
Guru tersebut menepuk pundak Guru Hensel dan memasang raut wajah mengejek, penampilan pria tersebut juga tidak jauh berbeda seperti Guru Hensel, dia memakai Jas hitam rapi dan memakai kacamata yang kelihatannya sangat mahal.
"Menyingkirlah Guru Fraust, aku sedang dalam mood buruk kali ini"
"Hahaha jadi begitu!! Pasti sulit untuk menjadi wali kelas di kelas rendahan, apalagi jika murid di dalam kelasmu, ada seorang bocah yang sama sekali tidak dapat menggunakan sihir, dan aku terkejut saat Master Weisten mengatakan bahwa dia akan mengikutsertakan dia dalam Turnamen sihir, kurasa reputasi Akademi Mervest sebentar lagi akan memburuk"
"Asalkan kau tahu, aku berani memasang taruhan jika bocah itulah yang akan memenangkan Turnamen kali ini..." Jawab Hensel santai, dan Fraust yang mendengarnya langsung terbahak bahak.
"Pftt!!! Hahahha!! Jangan berlebihan oke! Aku hanya bercanda, semoga harimu menyenangkan Guru Hensel"
Setelah mengatakan itu Fraust pergi ke arah yang berlawanan dari Guru Hensel, nerasa gangguan telah menjauh darinya, Hensel memutuskan untuk melanjutkan langkahnya untuk menuju ke ruangan Master Weisten.
-
To be continue
Message :
Hai kalian pembaca The Great Hero Reborn, kalian dapat membelikan author secangkir kopi untuk agar dapat semakin semangat saat update, 'Bagaimana caranya, Thor?' caranya mudah, cukup kunjungi link disini Karya karsa.com/Felix dan kasih saya sumbangan 5.000 untuk secangkir kopi panas saat menulis.
__ADS_1
Hilangkan spasi!!!
Ingin melihat aksi menarik dari Felix dan dkk bukan? Terus ikuti TGHR ya!!! Minna ~ san