My Second Life Became The Weakest Hero In Another World

My Second Life Became The Weakest Hero In Another World
Chapter 6 ~ Akademi Sihir Mervest


__ADS_3

Disaat perjalanan, aku dan juga Clara banyak menghabiskan untuk bercakap-cakap agar lebih mengenal satu sama lain. Mulai dari hobi, makanan favorit, minuman favorit, hal yang disukai dan tidak disukai, Nama ayah dan ibu, eh bukan. Maksudku adalah tentang cita-cita yang akan diraih di masa depan nanti.


Kami berdua juga sering bercanda untuk melepas penat perjalanan yang bisa dibilang cukup melelahkan untuk berjalan kaki. Yah, andai saja motormu juga ikut bereinkarnasi. Aku tidak akan repot-repot jalan begini. Tetapi karena Dewa hanya membawaku saja, bagaimana lagi kan.


"... Emmm ... Tuan Felix, apa hobimu?"


" Hobiku ya?"


Aku termenung sejenak untuk berpikir. Tunggu, dikehidupanku sebelumnya, hobiku hanya menonton anime dan main game saja untuk mengisi waktu luangku. Karena sekarang aku didunia lain, mungkin aku juga harus menemukan hobi baru selain ngewibu.


"Mungkin hobiku adalah membaca"


Clara terkejut saat mendengar jawabanku. Yah, lagipula saat aku didunia ini, aku banyak menghabiskan waktu didalam Perpustakaan di Mansionku untuk membaca buku tentang sihir. Dan entah kenapa, aku malah keterusan dan membaca buku-buku lainnya juga.


" Ehh ~ aku tidak tahu kalau Tuan Felix mempunyai hobi yang bermanfaat seperti itu"


"Y-ya begitulah, tapi ... bisakah kau tidak menyebutku dengan sebutan Tuan? Jujur saja, jika semua orang memanggilku seperti itu akan sangat mengganggu"


Sebenarnya dari awal saja panggilan seperti itu sudah sangat menggangguku. Tetapi karena Rena, Reni dan paman Kevin terus memaksaku untuk memanggil dengan sebutan Tuan. Aku jadi menyerah dan membiarkan mereka bertindak sesuka hati.


Dilain sisi, Clara sangat terkejut dengan kata-kataku barusan. Bukannya sangat aneh? biasanya seseorang akan sangat senang jika dipanggil seperti itu. Tetapi dia malah terasa terganggu? dasar bangsawan aneh. Begitulah pikirnya.


"Baiklah Tu- ... eh maksudku Felix. hehe"


"Ya, begitu lebih baik"


Kemudian kami berdua meneruskan perjalanan kami dalam diam. Tidak ada yang mengucapkan sepatah kata apapun, termasuk Paman Kevin, Rena, dan Reni yang ada didepanku saat ini.


Ah aku baru ingat kalau Clara adalah wanita yang pertama kali kuajak bicara dengan santainya. Mungkin karena dia dari awalnya sangat terbuka dengan orang, sehingga aku dapat akrab dengan sangat mudah.


'Sial, situasinya sangat canggung sekali. Aku harus segera memecahkan keheningan ini.'

__ADS_1


"C-Clara apa kau se..."


"Ah Kita sudah sampai" Potong Clara sambil menunjuk ke arah depan.


Akupun langsung mengalihkan pandanganku darinya menuju ke depan. Dan alangkah terkejutnya aku ketika melihat bangunan putih besar layaknya sekolah dengan banyak orang yang berkumpul di halaman akademi itu, mungkin saja itu adalah murid baru sepertiku. Tetapi yang berbeda, di sana tertuliskan "Akademi Sihir Mervest" bukan SMA negeri. Lagipula awalnya saja sudah dunia lain. Jadi, mana ada SMA.


Ngomong-ngomong, Akademi Sihir Mervest merupakan satu-satunya sekolah sihir di kerajaan Ernesti. Dan Akademi tersebut dapat menampung setidaknya hanya 500 murid setiap tahun, dan itu membuat seleksi saat masuk kedalam Akademi tersebut sangatlah sulit.


"Tuan muda, kami bertiga akan segera kembali untuk melanjutkan pekerjaan kami. Teruntuk itu kami sangat meminta maaf karena tidak bisa menunggu hingga sekolah Tuan selesai"


Aku tidak mengerti kenapa mereka meminta maaf padaku. Dari awalnya kan mereka hanya bertugas untuk mengantarkanku sampai ke tujuan saja kan? kenapa sekarang harus menunggu sampai pulang sekolah? mereka kira aku ini masih SD apa?


"Baiklah, kalau begitu jaga diri kalian baik-baik"


"Anda juga Tuan muda"


Kemudian Rena beserta ketiga orang lainnya meninggalkanku dan Clara berduaan. Tunggu, ini akan membuat situasi menjadi lebih canggung lagi. Tetapi aku adalah laki-laki. Aku harus menunjukkan kejantananku untuk memulai sebuah pembicaraan.


"Humm ... aku hanya bisa sedikit saja. Dan itupun hanya sihir dasar saja"


Mendengar bahwa dia bisa melakukan sihir aku menjadi sangat bersemangat sekali. Mungkin saja aku dapat belajar dengannya nanti. Sungguh kemujuran mutlak sangat membantu sekali.


"Ngomong-ngomong, kapan kita masuk?"


"... Benar juga, mari kita masuk"


Kemudian kami berdua melangkahkan masuk ke dalam Akademi Sihir. Terlihat banyak sekali siswa yang seumuran denganku, mulai dari bangsawan, rakyat biasa, bahkan dari Ras lainpun ada. Mereka mulai membentuk kelompok masing-masing, karena sudah mengenal satu sama lain.


Sementara untuk aku dan juga Clara hanya bisa bengong karena sama sekali tidak mempunyai kenalan di Akademi ini. Aku bahkan tidak tahu ini sebenarnya Keberuntunganku atau Kesialanku yang masih terus berlanjut.


Di Akademi Sihir Mervest, tidak mengenal adanya perbedaan status atapun sejenisnya. Sama seperti biasanya, jika kau berbakat dalam sihir kau akan mendapat perlakuan khusus dari guru. Jika sebaliknya, kau akan mendapatkan cap buruk dari guru bahkan murid lainnya sekalipun. Sudah kubilangkan, bahwa sihir adalah segalanya didunia ini.

__ADS_1


"Semua murid baru harap diam!!"


Ditengah keramaian ini, ada seorang kakek tua beruban yang melayang di udara sambil berteriak dengan keras. Sehingga para murid langsung diam dan menatap kagum padanya. Begitupin denganku, aku bahkan idak mengira bahwa ada sihir yang dapat digunakan untuk melayang diudara.


"Pertama-tama, perkenalkan namaku adalah Weisten Bertold. Disini aku yang akan menjadi Kepala Akademi kalian. Jadi, aku akan menjelaskan Peraturan-peraturan Akademi ini sebelum kalian melakukan Tes ujian pertama penerimaan..."


Kemudian Weisten menjelaskan panjang lebar tentang peraturan yang harus kami patuhi di Akademi ini. Pertama, tidak boleh menggunakan sihir bila masih di didalam wilayah Akademi. Kedua, Jika ada masalah sesama murid harap diselesaikan dengan damai, tetapi jika tidak bisa. Mereka berhak melakukan Duel dengan persyaratan tertentu. Ketiga, Tidak boleh melakukan kekerasan kepada guru.


"Sampai disini apa kalian sudah mengerti?!"


"Yaa!!"


Seluruh murid baru berteriak, begitupun denganku. Mungkin peraturan kedua itulah yang akan sangat sulit dilakukan oleh para murid disini. Dan dari melihatnya sajapun aku sudah tahu, bahwa mereka semua datang kesini hanya untuk mencari lawan yang kuat. Untung saja aku tidak bisa menggunakan sihir, kali ini keberuntungan sedang berpihak padaku lagi.


"Sebentar lagi, Kalian semua akan segera melaksanakan seleksi pertama ujian ke satu. Dan ujiannya bisa dibilang cukup mudah, kalian hanya akan melakukan duel satu lawan satu di aula Akademi. Bagi pemenang, mereka akan berhak mengikuti ujian selanjutnya. Dan bagi yang kalah, kalian tidak akan diterima dan boleh mencoba saat tahun depan."


Setelah mengetahui seleksi pertama Akademi Mervest yang tidak mudah, beberapa murid saling menatap satu sama lain dengan raut wajah sedih karena nantinya harus bertarung satu sama lain, sementara sisanya terlihat sangat bersemangat saat mendengar kata duel. Meskipun begitu, ini adalah ujian. Jadi mau tidak mau harus tetap melaksanakannya jika mau diterima di Akademi ini.


"Tu- ... maksudku Felix, apa kita nanti akan bertarung satu sama lain?"


"Hmm ~ sepertinya begitu, dan disaat itu tiba. Aku ingin kau mengerahkan seluruh kekuatanmu untuk melawanku"


Mendengar perkataan percaya diriku, Clara menjadi bersemangat kembali. Meski harus kecewa karena salah satu dari kami nanti tidak akan lulus seleksi. Tapi kami berdua sudah membuat janji kelingking untuk tidak bersedih dan mencoba kembali di tahun depan nanti.


"Jika kalian semua sudah paham, mari ikuti aku menuju Aula untuk segera melaksanakan ujiannya"


Kemudian Weisten mendarat ditanah dan menuntun para murid masuk ke dalam gedung Akademi untuk melaksanakan ujian pertama kami. Para murid mengikutinya dari belakang sambil memantapkan hati dan langkah mereka saat melangkahkan kaki ke dalam Akademi Sihir Mervest.


-


To be continue.

__ADS_1


__ADS_2