
Setelah kemenangan Daniel dalam duel babak pertama. Ujian berlanjut ke babak kedua. Satu persatu murid dipanggil dan disuruh untuk melakukan duel seperti tadi. Dan seperti dengan peraturan yang ditetapkan, yang kalah tidak akan diterima di Akademi Sihir Mervest dan mencoba lagi di Tahun depan nanti.
"Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku"
Saat Clara sudah sadar, dia langsung berlari untuk menemuiku. Dia langsung menundukkan kepala dan mengatakan kata maaf sangat banyak sehingga membuatku bingung. Lagipula kekalahannya tadi bukanlah kesalahannya, hanya saja musuh yang dia hadapi terlalu kuat dengan levelnya saat ini. Yah, meskipun awalnya aku senang karena tidak ingin berhadapan dengannya, tetapi aku juga sedih atas kekalahannya.
"Sudah kubilang kan, kau tidak perlu memikirkannya. ... Lagipula lawanmu itu terlalu kuat untukmu saat ini"
Clara tidak meresponku, dari tadi dia hanya menunduk diam karena merasa tidak bisa menepati kata-katanya tadi. Aku yang melihatnya juga merasa bersalah, karena telah mengatakan kata-kata itu. Jujur saja, pengalamanku dengan seorang wanita sangat sedikit. Sehingga aku bingung harus melakukan apa sekarang ini.
'Mungkin saat ini aku harus menjadi dirimku sendiri'
"Kalau begitu ... di masa depan nanti, kau boleh menantangku bertarung semaumu. Tentu saja aku akan menerimanya, tetapi dengan satu syarat."
Mendengar Kata-kataku, Clara sedikit mengangkat kepalanya. Mungkin caraku ini sedikit berbahaya untuk diriku di masa depan. Tetapi hanya ini satu-satunya agar gadis didepanku ini tidak menangis. Pria macam apa yang membuat seorang gadis menangis dengan kesalahannya sendiri, hanya pria sampah lah yang seperti itu.
"Syarat? syarat apa?"
"Disaat kita bertemu kembali, aku ingin kau bertambah kuat dan melawanku dengan segenap kekuatanmu. Tapi kau harus tahu, jangan sampai membunuhku"
Kata-kata terakhirku membuat Clara tertawa terbahak-bahak hingga seluruh murid disini memandangi kami berdua. Begitupun dengan Daniel, dia memandangi kami dari kejauhan dengan tatapan kesal. Dan dari situlah aku mengetahui bahwa dia akan menjadi orang yang akan merepotkan bagiku.
"Hahahaha ... maafkan aku, aku terlalu terbawa suasana. Baiklah, kali ini aku akan menepati kata-kataku. Sebelum itu aku ingin membuat janji denganmu"
"Janji apa?"
"Bahwa kita akan bertemu lagi di masa yang akan datang"
Kemudian Clara mengulurkan jari kelingkingnya padaku. Entah kenapa hatiku seperti ada gejolak ombak besar yang menerpaku. Tetapi aku tidak tahu nama perasaan apa yang sedang kualami ini, apa ini senang? sedih? takut? aku tidak mengetahuinya.
"Baiklah, Tunggu saja aku"
Kemudian aku menjabat kelingkingnya dengan kelingkingku. Dan janjipun terbuat di antara kami berdua. Mungkin saja sih, kami akan bertemu kembali, tetapi sebenarnya hati kecilku berteriak keras untuk menolaknya, karena jika bertemu kembali sudah dipastikan aku akan babak belur.
"Baguslah, kalau begitu sampai jumpa ... Felix"
Clara berlari keluar Aula bersama dengan murid lainnya yang gagal lolos ujian pertama. Aku hanya melambaikan tangan sebagai perpisahan terakhir kami. Kemudian, aku terjatuh lemas dilantai sambil mengeluarkan air mata yang terus menerus mengalir.
__ADS_1
'Untuk diriku dimasa depan ... Tolong berhati-hatilah'
...
Sekarang pertandingan Duel masih berlanjut. Karena sudah banyak murid yang telah kalah dari duel tersebut. Kini hana tersisa 750 murid dari 1.500 murid yang mendaftar di Akademi ini.
Seperti biasa, Daniel lagi-lagi mengalahkan lawannya dengan mudah dengan kekuatannya yang absrud itu. Tetapi bukan itu saja yang menarik perhatianku, selain Daniel ada juga seorang anak berambut merah yang memiliki Sihir beratribut Angin yang sangat kuat. hanya dengan sekali hempasan saja, lawan sudah ingin menyerah dibuatnya.
'Aku berharap tidak akan berhadapan dengan anak itu.'
Kemudian duel berlangsung sengit setelah melewati beberapa babak pemyisihan. Semakin banyak sekali murid yang gugur karena kedua murid yang berbakat dalam bidang sihir itu. Aku pun jika melawannya sangat tidak yakin kalau menang, meski sekarang keburuntunganku sangatlah tinggi.
Selang beberapa menit, akhirnya semakin sedikit. Dan sepertinya giliranku akan segera tiba setelah ini.
"Baiklah, hanya ada satu murid yang belum melakukan Duel. Felix von Edgard dimohon untuk maju"
'Baiklah, waktuku untuk bersinar telah datang ... aku mengandalkanmu lo wahai keberuntunganku'
Lalu aku langsung bangkit dan maju dengan gagahnya. Meski sebenarnya aku sangat gugup sih, tapi apa salahnya bersikap keren untuk terakhir kalinya.
"Kalau begitu, lawanmu adalah Albert Jericho ... Silahkan maju kedepan"
"Apa kalian sudah mengerti Peraturannya?"
Kami berdua hanya menanggapinya dengan anggukan dan bersiap mengambil ancang-ancang dengan senjata masing-masing. Aku menatap wajah Albert dengan serius seolah sedang membaca pikirannya. Tetapi sia-sia, wajahnya sangat datar dan tidak menunjukkan ekspresi apapun sehingga aku tidak dapat memprediksi isi kepalanya.
"Kalau begitu ...."
Klik!!
Setelah Weisten menjentikkan jarinya, duelpun dimulai. Albert segera mengayunkan pedangnya kesana dan kemari sambil merapalkan sebuah mantra yang sepertinya akan merepotkan nanti, dilain sisi aku sudah bersiap dengan segala hal yang akan terjadi nanti.
"Wind O Balance de Noeli"
Swush!!.
Sebuah tebasan angin dengan kecepatan tinggi mengarah kepadaku. Aku berpikir dengan cepat dan langsung menghindarinya dengan cara melompat ke samping. Meski tidak berhasil melukaiku, tetapi tebasan tadi masih dapat merobek lengan kanan bajuku. Sebenarnya seberapa jauh jarak serangnya.
__ADS_1
Tida berhenti disitu saja, dia terus saja melayangkan serangan yang sama seperti tadi, dan aku hanya bisa menghindarinya berulang kali. Murid yang melihatku cuma menghindar, mulai merasa penasaran denganku. Kenapa orang itu tidak menyerang balik? apa dia sedang merencanakan sesuatu. Begitulah pikir mereka.
Tetapi kenyataannya tidak, aku terus menghindar karena tidak dapat menggunakan sihir untuk menyerang balik. Dan itu membuatku sangat frustasi.
'Ah ... sialan, aku baru ingat dengan skill Passive yang kumiliki'
Aku baru tersadar dengan skill Passive yang kumiliki saat ini. Yaitu Wind slash, meski Elemennya sama dengan milik Albert. Tetapi itu mungkin cukup untuk mengehentikan serangannya.
'Tunggu ... bagaimana cara menggunakannya?'
Pertanyaan sial yang selalu muncul dikepalaku itu sangat membuatku kesal. Disaat Albert sudah berhenti melayangkan serangan bar-barnya tadi. Tanpa berpikir panjang lagi aku langsung mengayunkan pedangku dan berharap kalau skill itu bisa kugunakan.
"Tebasan Angin ... Hiyat!!"
Swush!!
'Eh apa?'
Tidak terjadi apa-apa saat aku mengayunkan pedangku secara vertikal. Seluruh murid yang melihatku menahan tawanya termasuk Daniel. Sementara itu, Albert sudah bersiap untuk menyerang lagi.
'Oh Tamatlah sudah aku'
Disaat saat Albert ingin melakukan Tebasan lagi. Dengan tiba-tiba bajunya sobek, seperti terkena sebuah tebasan angin. Mulutnya mengeluarkan darah dan kemudian terjatuh pingsan dilantai. Tunggu, apa ini karena ulahku? tapikan tadi skillku tidak muncul, kenapa harus muncul sekarang.
Sementara itu para murid lain menatap terkejut ke arahku. Yang benar saja, tebasan tidak terlihat? skill macam apa yang kumiliki ini. Begitupun denganku yang terkejut dengan skill baruku itu.
Mungkin karena memanfaatkan tekanan udara dengan tebasan pedang akan dapat membuat tebasan angin yang sangat cepat, bahkan mata seseorang tidak dapat mengikutinya. Begitulah kesimpulanku saat ini.
"Ehm ... Pemenangnya adalah Felix von Edgard"
Saat Weisten mengumumkan pemenangnya, seluruh murid masih diam karena terkejut sekaligus tidak percaya dengan seranganku tadi. Di benak mereka mulai muncul berbagai pertanyaan, apakah serangan tadi itu termasuk sihir? begitulah.
'Aku ralat kembali ... sepertinya keberuntungan masih berpihak kepadaku'
Aku tersenyum puas karena telah menyelesaikan ujian pertama, meski dengan cara yang tidak terduga sih. Tetapi itu hanya sesaat karena setelah ini Kepala Akademi Weisten mengumumkan Ujian selanjutnya.
-
__ADS_1
To be continue.
Tolong kasih pendapat kalian Tentang Novel ini ya:)