My Second Life Became The Weakest Hero In Another World

My Second Life Became The Weakest Hero In Another World
Chapter 28 ~ Siapa yang menjadi Ketua Kelasnya?


__ADS_3

"Baiklah karena hingga saat ini kelas belum mendapat seorang Ketua kelas, maka kita akan memilihnya hari ini. Apa ada yang ingin mengajukan diri?!"


Saat ini didalam kelas suasana menjadi sangat panas dan menusuk. Bukan karena ada konflik atau semacamnya, tetapi karena semua murid melihat Felix dan Raphel dijadikan kursi duduk oleh Hensel sebagai hukuman karena keterlambatan mereka


Posisi mereka berdua seperti orang merangkak dan diatasnya terdapat Hensel yang mendudukinya. Terlebih lagi hukuman itu akan terus berlangsung hingga jam pelajaran habis. Dan jika ada yang roboh atau jatuh sebelum jam pelajaran habis, maka mereka akan mengulanginya lagi besok.


"S-sial!! ini semua karena ulahmu!! kenapa kau tadi harus mencari masalah dengan Komite Akademi!!"


"Mau bagaimana lagi!! apa kau mau menerima dua hukuman sekaligus?! bertahanlah sebentar lagi!!"


Kami berdua terus dipertontonkan dibanyak orang dengan cara yang memalukan. Dan orang yang sangat senang melihat kami menderita seperti ini adalah Leon dan juga kedua bawahannya. Entah kenapa waktu aku melihat mukanya, aku jadi ingin menghajarnya.


Sementara itu dilain sisi Steph terlihat memandangku dengan senyum mengejek, seakan-akan dia berkata 'Apakah kau sudah menjadi masokis?!'.


"Karena tidak ada yang menjawabnya, aku akan mengambil cara voting untuk memilih Ketua kelasnya. untuk itu harus maju satu persatu dan menuliskan nama kandidat yang kalian pikir cocok menjadi Ketua kelas.


Nama yang terbanyak akan menjadi pemenangnya, dan nama yang terbanyak kedua akan menjadi wakil ketua kelas. Apakah dari sini kalian sudah paham?!"


"Guru Hensel! bagaimana cara anda bisa tahu yang terbanyak, jika ada banyak sekali nama acak yang tertulis di papan?!" Steph mengangkat tangannya.


"Itu sangat mudah, aku akan menggunakan Calculation Eye's milikku untuk menghitungnya dengan cepat. Apakah ada pertanyaan lain?!"


Semua murid hanya terdiam dan saling menatap satu sama lain, dan kemudian mereka semua menggelengkan kepala secara bersamaan.


Ngomong-ngomong, Calculation Eye's bukanlah sebuah sihir rapalan. Calculation Eye's juga bukan berupa atribut sihir utama ataupun sampingan. Melainkan berkah pemberian dari dewa, seperti halnya dengan keberuntungan mutlak milikku. Dan hanya orang-orang terpilih saja yang terlahir dengan berkah dewa seperti itu.


Fungsi Calculation Eye's juga sangat berguna bagi penggunanya. Yaitu dapat menganalisa kemampuan lawan dengan cepat dan menghitung jumlah benda dengan cepat dan akurat pula, selain itu mata tersebut juga dapat melihat kapasitas Mana milik orang lain dengan sangat detail sehingga Hensel dapat membedakan orang yang berbakat dalam hal sihir ataupun bukan.


Tentu saja dia pernah mencobanya padaku, tetapi hasilnya tidak sesuai yang dia harapkan. Saat dia menerawang kapasitas Manaku, hasilnya tetaplah nihil. Begitupun dengan kemampuanku, dia hanya menilainya biasa-biasa saja dan tidak ada keanehan sama sekali.


Tetapi yang membuatnya heran adalah perkataan Pengawas Kreill yang mengatakan bahwa sebenarnya Felix menyembunyikan sesuatu dari kami semua. Dan itu membuatnya bimbang karena matanya tidak melihat kekuatan yang hebat atau aneh dari Felix.

__ADS_1


"Jika tidak, mari kita mulai votingnya. Dan yang akan menjadi pertama untuk memilih adalah bangku paling depan sendiri yaitu Steph dan begitupun seterusnya hingga ke belakang nantinya. Steph bisa kau mulai?!"


"Baik Guru"


Kemudian Steph bangkit dan menuliskan sebuah nama di papan tulis dan kemudian duduk kembali ke tempatnya. Karena aku tidak dapat melihat papan tulis karena sedang melaksanakan hukuman, aku hanya pasrah dan menunggu hasil akhir untuk dapat memgetahui siapa yang nantinya akan menjadi seorang ketua kelas.


Satu persatu murid mulai maju dan melakukan hal yang sama seperti Steph. Hingga beberapa menit kemudian berlalu, dan semua murid sudah melakukan pemilihan suara.


"Hmm ... kalau begitu, yang akan menjadi ketua kelas adalah Felix von Edgard. Dan yang akan menjadi wakil ketuanya adalah Viona von Celena" Hensel melihat papan dengan Calculation Eye's miliknya.


"APA!!! Tunggu Guru Hensel, bagaimana dengan hak suara kami berdua?!" ujarku karena terkejut saat namaku disebutkan.


"Itu tidak perlu, apapun yang kalian berdua pilih tidak akan mengubah hasilnya. Karena sudah jelas bahwa kau mendapat suara terbanyak bersama dengan Viona von Celena"


"Ugh!!"


Aku tidak dapat menyangkalnya lagi, lagipula semuanya sudah mengambil suara dan memilihku sebagai ketua mereka. Apa mereka sengaja ingin membuangku dengan cara menjadikanku Ketua kelas mereka? meski itu benar, aku juga tidak dapat berbuat apa-apa.


"Untuk sekarang,, hanya sampai disini dulu. Aku mempunyai urusan dengan Master Weisten. Dan untuk Ketua kelas dan wakilnya, aku harap kalian dapat berkerja sama dengan baik"


"Ohh apa kau mau mengatakan bahwa Calculation Eye's milikku ini berbohong?!" Jawab Hensel dengan tatapan tajam nan menusuk.


Leon yang merasakan tekanan kuat dari tatapan tajam Hensel langsung membungkam mulutnya.


"T-tidak Guru Hensel!!"


"Baguslah"


_______________><_______________


Setelah Hensel meningalkan ruang Kelas. Kelas menjadi hening karena merasakan tekanan kuat dari tatapan menusuk Hensel tadi. Aku dan juga Raphel sudah kembali ke bangku masing-masing dengan punggung yang terasa sangat sakit sekali.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu Tuan muda Felix" Tanya Steph dengan senyum merekah diwajahnya.


"Aku tahu ini semua adalah rencanamu Nona Elf! Tapi bukanlah menghasut semua murid di kelas ini dengan menggunakan sihir ilusi sedikit berlebihan?"


"Heh!! aku sama sekali tidak menggunakan sihirku lo. Hasil voting ini murni karena keinginan seluruh murid di kelas ini"


"Aku meragukannya, yang pasti kau tidak membongkar tentang rahasiaku yang dapat menggunakan sihir kan?"


"Hmm ... Mungkin" Jawabnya sambil menempelkan telunjuknya di dagu.


...


Tidak lama kemudian ada seorang gadis yang sangat cantik masuk kedalam Kelas kami. Dia memiliki rambut putih seputih salju, dan mata biru layaknya kristal es. Siapa lagi jika bukan Marria Jennita, semua murid di kelas ini terkejut dengan kedatangannya ke kelas rendahan seperti ini. Apa dia punya perlu dengan seseorang? kalau benar, orang itu pasti sangat beruntung. Begitulah pikir semua orang.


Hingga gadis itu berhenti tepat didepan bangkuku dan menatap sedingin es. Steph yang ada disampingku pun tentunya juga terkejut. Apa dia memiliki sesuatu hubungan tertentu dengan Felix? begitulah pikirnya.


"Apa sekarang kau luang, aku ingin kau membantuku"


Aku yang sebelumnya tertidur membuka mata dan terkejut melihat gadis cantik ada didepanku sekarang ini. Apakah dia malaikat mimpi? sepertinya bukan. Karena itu hanya ada didunia fantasi, tetapi setelah kupikir lagi dunia ini memang dunia fantasi sih.


"Ohh kau wanita yang ada di perpustakaan sebelumnya ya!! maaf saja sekarang ini punggungku sedang sakit, kalau bisa lain kali saja ya" ucapku sambil menggosok kedua mataku yang masih mengantuk.


Jauh dari bangkuku, terdapat seorang anak berambut hitam yang menggertakkan giginya sambil memegang mejanya kuat-kuat. Tidak lain lagi anak itu adalah Raphel, entah kenapa dia terlihat sangat kesal.


'Bodoh!! dia itu Marria Jennita, kenapa kau membuang kesempatan sekali dalam seumur hidupmu' pikirnya


"hmm ... karena besok adalah hari libur akademi, apakah kau bisa?"


Aku termenung sejenak untuk berpikir dan kemudian menjawab. "Sepertinya bisa"


"Terimakasih banyak, Kalau begitu sampai jumpa besok" Kemudian gadis itu meninggalkan kelas dengan anggunnya dan membuat para lelaki masih tidak percaya dengan yang dilihatnya saat ini. Sesosok Marria Jennita yang sangat sulit dijangkau mengajak seseorang untuk berkencan bersamanya? Tentunya ini akan menjadi berita heboh di seluruh akademi.

__ADS_1


-


To be continue.


__ADS_2