My Second Life Became The Weakest Hero In Another World

My Second Life Became The Weakest Hero In Another World
Chapter 45 ~ Sampai di Artemia


__ADS_3

Aku beserta dengan murid serta Guru lainnya sudah kembali berkumpul di tempat yang sebelumnya. Yang tadi itu hampir saja, karena aku dan juga Viona dikejar lebih banyak Flame Bird dari biasanya. Untung saja keberuntunganku tidaklah buruk, dengan adanya Embun air yang ada di awan aku berhasil menciptakan hujan meski harus kehilangan setengah dari Cakraku. Namun, keselamatan tetaplah yang nomor satu.


Hujan masih mengguyur, lalu tidak lama kemudian hujan tersebut berhenti. Mungkin karena embun air di dalam awan diatas sana sudah habis, dan awan gelap pun menghilang digantikan oleh sinar mentari yang menghangatkan tubuh.


"Apakah kalian baik baik saja? Kuharap tidak ada yang terluka karena kejadian tadi" Weisten mengamati satu per satu dari kami. Apakah ada yang tertinggal atau tidak? Namun setelah memeriksa dan hasilnya lengkap. Dia menghela nafas lega.


"Hahaha!! Itu tadi masih belum seberapa bagi diriku yang sempurna ini! Burung burung kecil sebelumnya sama sekali tidak dapat menyentuhku dengan sihirku" Marvis berkata dengan wajah sombongnya.


Meski dia bersikap seperti itu, namun nyatanya kemampuannya juga tidak kalah hebat dari Daniel. Mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa dia dipilih menjadi Ketua Komite tahun ini. Baiklah kesampingkan dulu hal itu, semua anggota dari Kelas A baik baik saja, tetapi bagaimana dengan Anggota kelas B? Maksudku adalah Raphel dan Steph, mereka masih belum terlalu mahir dalam sihir meski belakangan ini sudah banyak berkembang.


Saat aku melihat, aku menghela nafas lega. Mereka sepertinya tidak apa apa, dan aku sepetinya harus sedikit percaya dengan kemampuan mereka. Daripada mereka berdua akulah yang terlemah diantaranya, ya tentu itu disebabkan karena aku adalah seorang dengan sebutan 'Tanpa Mana' sementara Raphel dan juga Steph masih dapat berkembang di masa depan nanti.


"Jika tidak ada yang terluka, mari kita lanjutkan perjalanannya!!"


"Baik!! Master!!"


Setelah itu kami semua melanjutkan perjalanan dengan rasa waspada yang tinggi. Sebisa mungkin kami menghindari pertarungan di langit karena akan sangat merepotkan jika terjatuh. Jika para guru yang bertarung mungkin tidak akan menjadi masalah, namun lain lagi jika kami para murid bersamanya. Mereka harus memecah konsentrasi menjadi dua antara bertarung dan melindungi.


***


Selang beberapa hari kemudian, akhirnya kami sudah dapat melihat sebuah Pulau yang melayang jauh dari posisi kami saat ini. Pulau itu sangat besar dengan sebuah istana yang berdiri dengan kokoh diatasnya. Jadi itu adalah Artemia? Tempat lahir dan besar dari Steph?


"Apa!?"


"Bukan apa-apa"


Ketika aku melihat ke arah Steph dia langsung menjawab dengan dingin, sepertinya aku lah yang terlalu khawatir padanya. Kami semakin dekat dan mendekat dengan pulau, dan semakin dekat pulau itu lebih menakjubkan dan indah menurut pendapatku sendiri.

__ADS_1


Ngomong-ngomong, ini adalah pertama kaliku dalam berpergian jauh, biasanya di kehidupan sebelumnya aku hanya akan berdiam diri di rumah atau lebih tepatnya mengisolasikan diri sambil menonton anime kesukaan. Dan sekarang ini bisa dibilang perubahan yang cukup bagus untuk penyendiri sepertiku.


Tidak jauh dari Pulau melayang tersebut terdapat dua Knight Elf yang berjaga dengan tombak serta Armor besi ditubuhnya. Mereka tidak menggunakan sapu terbang seperti halnya kami para Manusia, melainkan mereka menggunakan kedua sayap yang ada di kedua punggungnya. Meski aku heran kenapa Steph tidak memiliki sayap seperti halnya Elf lainnya. Aku tidak akan menanyainya lebih lanjut.


Sampai di depan mereka, Weisten memperlihatkan Sertifikasi Akademi Sihir Mervest kepada kedua penjaga tersebut. Dan mereka pun memperbolehkan kami lewat setelah itu. Turnamen sihir ini biasa disebut dengan Grand Magic Akademi, dan tentu saja keamaannya harus tahu tingkat tinggi karena akan banyak murid dari Akademi Sihir Kerajaan lainnya yang akan berpartisipasi dalam Turnamen.


***


Pada akhirnya, Kami semua mendarat di tepi pulau. Di depan kami sudah terdapat sebuah tembok beton Tua yang memanjang lebar hingga ke tepi pulau dari sisi kiri dan juga kanan. Di tengah beton tersebut terdapat dua penjaga seperti sebelumnya yang menjaga pintu masuk ke Kerajaan Artemia, itu adalah hal yang wajar jika Pengamanan sangat ketat.


Di samping tembok besar tersebut juga terdapat meja seperti resepsionis, disamping meja tersebut juga terdapat seorang Maid Elf yang selalu tersenyum ramah kepada setiap orang yang masuk. Terlihat beberapa orang mengantri disana untuk mengisi data di sebuah Kertas, sepertinya kami perlu kesana terlebih dahulu.


"Mulai dari sini serahkan padaku, kalian amati saja di dari kejauhan sana!!" Kata Guru Hensel.


Para murid mengangguk mengerti, lalu Guru Hensel segera mengantri disana. Dan kami menunggu sambil melihat dari kejauhan sebelum mendapat instruksi lebih lanjut dari guru Hensel.


"Oh ya... Apakah itu adalah Master Weisten!?"


Selain itu mereka memiliki telinga seperti hewan, tidak salah lagi jika mereka adalah Akademi dari kerajaan Beast-man atau biasa lebih dikenal dengan sebutan, Demi-Human.


"Apa maumu Master Lucas?" Sebaiknya. Weisten memandang tidak suka pada pria yang disebut sebagai Lucas tersebut.


"Bukan apa apa Master Weisten, aku hanya sedang bertukar sapa dengan Akademi dengan peringkat terendah di tahun sebelumnya" Katanya dengan senyum seringainya.


Memang benar katanya, karena Ras Manusia adalah Ras yang sama sekali tidak memiliki kelebihan apapun. Tidak heran jika Akademi Mervest akan menempati posisi Akhir dalam Grand Magic Turnamen sebelumnya. Tidak seperti Ras Elf yang memiliki keunggulan dalam bidang Mana dan bakat dalam hal sihir. Tidak seperti Ras Dwarf yang memiliki keunggulan dalam hal fisik, tidak seperti Ras Beast-Man yang memiliki keunggulan dalam hal kecepatan. Ras manusia adalah ras rata- rata.


"Kuharap lulusan kali ini tidak akan mengecewakan Master Weisten, namun melihat wajah lugu mereka semua. Sepertinya Akademi Mervest sekali lagi akan menempati posisi terakhir di Grand Magic Tahun ini, Hahahaha!!"

__ADS_1


Aku mengernyitkan dahi, orang itu lebih banyak bicara daripada Raphel sahabatnya. Terlebih lagi dia itu berisik dan sangat merusak telinga. Aku sempat melirik ke arah Viona, namun dia tidak terlihat terlalu peduli dan membaca sebuah buku dalam diam seperti biasa.


"Kali ini... Kami pasti akan meraih posisi pertama" Weisten menjawab dengan keraguan dalam hatinya.


"Aku menantikannya, Master Weisten" Setelah mengatakan itu Lucas segera beranjak pergi beserta dengan para murid yang mengikutinya dari belakang.


Samar samar Aku melihat seorang murid yang terlihat seperti mengamatiku dari tadi, dia adalah seorang pria dengan telinga kucing runcing, serta rambut abu abu yang sedikit gelap. Ras serigala? Sepertinya. Akan merepotkan jika dia akan menjadi musuh di ajang Turnamen nanti.


"Master. Siapa orang orang tadi?" Daniel bertanya dengan sedikit kerutan di dahinya, sepertinya dia menahan emosi sedari tadi. Baiklah kerja bagus.


"Mereka adalah Ras Beast-Man dari Kerajaan Lacita. Di tahun sebelumnya, mereka menduduki peringkat kedua dalam di Grand Magic Akademi Turnamen. Sedangkan kita di posisi terakhir yaitu kelima" Kata Weisten.


"Lalu siapa yang menempati posisi pertama, ketiga, dan keempat!?" Kali ini yang bertanya adalah Raphel.


"Tentu saja. Posisi pertama di tempati oleh Ras Elf yaitu Kerajaan Artemia sendiri, sedangkan posisi Ketiga diisi oleh Ras Lizardman dari Kerajaan Hosten, dengan kemampuan mereka mengeraskan tubuh. Hampir tidak mungkin untuk dapat menembusnya menggunakan senjata biasa. Sedangkan di posisi Keempat, di isi oleh Ras Dwarf dari Kerajaan Paralist. Senjata yang mereka buat memiliki kualitas bagus dibanding dengan Kelima Kerajaan, sehingga mereka juga memiliki keunggulannya sendiri"


Kami hanya mengangguk mengerti ketika mendengar penjelasan dari pak tua Weisten, sepertinya aku tidak boleh setengah setengah dalam Turnamen sihir kali ini. Ketika mengingat kemampuan dari Akademi Ras lainnya yang jelas lebih unggul melampaui Akademi kami para manusia.


Tidak lama kemudian, Guru Hensel datang bersamaan dan memberitahukan kami hasil dari apa yang dilakukannya sebelumnya, yah meski aku tidak tahu apa itu. Tapi sepertinya itu merepotkan.


"Aku sudah selesai dengan urusanku, sekarang kita sudah diperbolehkan masuk ke dalam Kerajaan Artemia. Mereka juga sudah mempersiapkan Asrama khusus untuk Akademi kita" Kata Hensel kepada Master Weisten.


Memang sudah sewajarnya jika Tuan rumah harus menyiapkan apa yang harus di butuhkan oleh tamunya, dan aku juga cukup penasaran dengan pemandangan di Kerajaan Artemia. Apakah itu lebih bagus dan indah dari Kerajaan Ernesti? Entahlah, siapa yang tahu.


"Baiklah, mari kita masuk dan menangkan Grand Magic Akademi Turnamen tersebut!!"


"Ya!!!"

__ADS_1


--


To be continued.


__ADS_2