
Blar!! Blar!! Blar!!
Raphel masih terlihat bertahan dengan sihir perisai yang dibuatnya tadi, sementara dilain sisi Leon terus-menerus menyerang dengan peluru bola api yang ditembakkan dengan cepat.
"Hahaha ... mari kita lihat seberapa lama kau dapat bertahan"
"Sialan"
Blar!! Blar!! Blar!!
Mana milik Raphel hampir terkuras habis karena sudah mempertahankan perisainya hingga 4 menit lamanya. Dilain sisi Leon masih terlihat bugar dan tidak kelihatan kecapekan sama sekali.
Kenapa? karena atribut utama dan sampingan sangat berbeda dalam penggunaan Mananya.
Atribut sampingan lebih banyak menguras mana karena tidak mennggunakan atribut sihir milik mereka sendiri. Sehingga tidak memiliki kecocokan sama sekali. Berbeda dengan Atribut utama yang menggunakan Atribut sihir, dan karena kecocokan itulah penggunaan dalam Atribut utama hanya membutuhkan sedikit Mana saja.
"Apa?! apa kau sudah menyerah disini saja?!" Leon masih terus mengejek Raphel tanpa henti.
Disamping itu perisai milik Raphel mulai redup dan seakan-akan segera menghilang jika Mana miliknya kering ataupun habis. Tetapi Leon tidak peduli dengan hal itu, yang dia pikirkan hanyalah harga diri dan kemenangannya sendiri.
Swush!! Bomm!!
"Arg!!"
Serangan bola api terakhir dari Leon berhasil menembus Perisai yang dibuat oleh Raphel. Alhasil dia terpental ke belakan karena ledakan dari serangannya tadi. Selain itu tangan kanannya juga mengalami luka bakar serius sehingga tidak dapat mengambil Grimoire miliknya yang tidak jauh dengannya.
"Hahahaha ... bahkan kau kalah dengan sihir tingkat dasar seperti ini? seberapa lemah dirimu itu." Lalu Leon kembali membuat rentetan bola api yang melayang di sekitarnya.
Dia berjalan pelan mendekat ke arah Raphel yang masih tengkurap dilantai dan berusaha untuk mencapai Grimoire miliknya. Terlihat juga wajah puasnya saat menindas orang yang lebih lemah darinya, dan jujur saja aku sangat mual dengan sifat seseroang yang seperti itu.
"S-sedikit lagi ... argggg!!"
Saat tangan Raphel ingin menggapai Grimoire miliknya, Leon menginjak tangannya itu sampai membuatnya berteriak kesakitan. Tetapi yang membuatku lebih marah lagi adalah para murid lain yang hanya bisa melihatnya dan tidak ada seorang pun yang menolongnya. Mungkin saja mereka tidak ingin terlibat dengan keluarga bangsawan, sungguh pemikiran yang bodoh sekali.
"Berhenti ... kurasa perbuatanmu itu sudah terlalu berlebihan!!"
__ADS_1
Leon yang seperti mendengar suara seseorang langsung menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang berani berteriak padanya. Dan ternyata orang itu adalah Steph, dia sudah berdiri sambil membawa Grimoire disalah satu tangannya.
Bahkan aku dari tadi bersamanya tidak menyadari kapan dia pergi.
"Ohh ... kau Elf yang cantik. Apa kau mau menjadi selirku? aku akan memberikan apapun padamu"
"Aku tidak ingin menjadi selir manusia menjijikkan padamu"
Mendengar ejekan menusuk dari Steph. Leon mengerutkan dahinya, baru kali ini ada seorang yang menghinanya sangat parah sampai mengatainya menjijikkan. Yah, meski aku sudah terbiasa dengan ucapan menusuk dari Steph. Mungkin Leon akan terbiasa juga nantinya hahaha.
"Aku tarik ucapanku kembali, aku tidak akan menjadikanmu selirku. Melainkan aku akan segera melenyapkanmu disini"
Bwush!!!
Api yang ada disekitar Leon mulai membesar, menandakan bahwa dirinya sedang melakukan peningkatan sihirnya ke tingkat lanjut.
Dilain sisi, Steph juga sudah membuka Grimoirenya dan mulai merapalkan sihir pertamanya.
"Omuto de Amivilos"
Beberapa gelembung air berukuran kecil mulai muncul disekitar Steph. Karena kapasitas Mana miliknya sangat rendah, Steph jadi tidak bisa menggunakan sihir Tingkat lanjut karena terlalu banyak menguras Mana.
Leon yang melihatnya mulai menyadari sesuatu tentang Steph dan alasannya dimasukkan ke Kelas-B dan bukannya A. Ya, dan itu adalah kapasitas Mana miliknya yang rendah, Leon menyadarinya ketika Steph hnya membuat sihir tingkat dasar untuk melawan sihir tingkat lanjutan miliknya.
"Aku tahu sekarang ... kau juga sama tidak berbakat dalam sihir ya. Hahahaha ... aku baru tahu kalau ada Elf yang tidak berbakat dalam bidang sihir. Atau jangan-jangan kau telah diusir dari negerimu karena kejanggalanmu itu? hahaha!!"
Seluruh murid termasuk aku terkejut saat Leon mengatakan hal itu. Memang benar bahwa saat ini dia sedang menggunakan sihir tibgkat Rendah untuk melawan sihir tingkat lanjutan milik Leon.
Kupikir sebelumnya dia mempunyai suatu rencana tersendiri, tetapi ternyata dugaanku salah. Dan dari sinilah aku yakin seratus persen jika Steph juga memiliki status Abnormal sepertiku.
"Berisik!! Berisik!! Berisik!! ... Amivilos hope!!"
Lalu Gelembung air yang ada di sekitar Steph menjadi lebig besar dan semakin besar saja. Sepertinya dia sudah kehilangan kesabarannya karena ucapan Leon sebelumnya. Sehingga dia tidak dapat mengontrol pikirannya dengan baik, tetapi jujur saja aku juga merasa bahwa mulut anak yang bernama Leon itu memang setajam silet.
Swussh!! Swussh!! Swussh!!
__ADS_1
Rentetan gelembung besar ditembakkan Steph menuju ke arah Leon yang saat ini masih berdiri santai.
"Masih terlalu lemah!"
Dua bola apinya kemudian maju dan menabrak Gelembung air milik Steph hingga menguap. Dan semua itu sudah ia ketahui dari awal, karena atribut sihir mereka berdua awalnya saja sudah bertolak belakang.
Akibat kecerobohannya sendiri karena tidak dapat menahan emosi. Steph langsung terduduk lemas karena Mana miliknya sudah kering, dia sempat meneteskan air mata karena masih terlihat lemah sampai sekarang.
'Kenapa aku masih saja lemah?'
Pertanyaan itu selalu saja menghantuinya pagi hingga malam sehingga Steph menjadi sangat putus asa dengan dirinya saat ini. Kenapa aku harus dilahirkan didunia ini? apa aku dilahirkan hanya untuk menderita?
"Baiklah, sudah cukup main-mainnya. Aku akan menghabisi kalian berdua disini dan menunjukkan ke mereka semua bahwa akulah yang terkuat disini ... dan untuk itu aku akan memulainya darimu dulu"
Kemudian Leon berjalan mendekat ke arah Steph yang saat ini masih terlihat putus asa di lantai. Sementara untuk Raphel dia sudah pingsan dari tadi karena kekeringan Mana.
"Oi ... bukannya kau terlalu kasar untuk Gadis secantik dia!!"
Mendengar kata dari seseorang, Leon langsung berbalik dan menatap marah orang tersebut. Orang itu adalah aku, karena sudah terlalu muak dengan perilakunya yang semena-mena. Sepertinya aku harus memberinya beberapa pukulan telak diwajahnya nanti. Tetapi mungkin tidak akan semudah yang kubayangkan.
"Lagi-lagi aku diganggu oleh orang lemah ... apa kau juga mau bernasib sama seperti mereka?!"
Leon mulai berjalan mendekat ke arahku dengan sombongnya dan masih saja diikuti oleh bola api yang melayang di sekitarnya. Meski begitu, aku harus tetap memberinya pelajaran padanya untuk tidak meremehkan orang lemah. Karena jika mereka berusaha dengan sangat keras, dewa pun akan dapat mereka kalahkan.
Buag!!
"Ugh!!"
Saat Leon sudah berada di jarak serangku, aku langsung melayangkan pukulan terkerasku untuk permulaan. Hidungnya berdarah dan dia semakin kesal denganku,itu bisa dilihat dari sorotan matanya yang semakin tajam.
"Eh ... apa pukulanku tadi kurang keras ya?!" ucapku dengan tatapan meledek ke arahnya.
"Kubunuh kau!!"
-
__ADS_1
To be continue