
Kembali saat Felix berlari meninggalkan Raphel dan Steph. Saat itu mereka berdua tengah memandang satu sama lain dengan raut muka yang masih terkejut dengan fakta yang dimiliki oleh Felix.
Mereka bahkan tidak dapat percaya, pasalnya saat ini Element yang diciptakan oleh Felix sudah memasuki tahap sempurna, atau pengendalian sepenuhnya.
Biasanya saja seseorang harus belajara hingga bertahun-tahun untuk dapat memasuki tahap sempurna. Tetapi Felix diumurnya yang terbilang masih anak-anak sudah dapat mengendalikan penuh Element yang dibuatnya.
Sebenarnya mereka berdua belum mengetahui juga, bahwa Felix dapat membuat berbagai Element tanpa terikat dengan atribut sihir, dan jika saja mereka mengetahuinya. Mungkin akan langsung pingsan dibuatnya.
Saat mereka tersadar karena telah membuang kesempatan yang diberikan oleh Felix, mereka langsung berlari menuju ke jalur ke luar hutan yang sebelumnya mereka lewati.
"Apa kau pikir Felix dapat mengalahkan Gorila tadi?" Raphel bertanya sambil berlari secepat mungkin.
"Meski dia sudah masuk ke tahap sempurna, sepertinya pengalamannya dengan monster masihlah sedikit. Jadi kemungkinan menangnya hanyalah 1% saja"
"Kalau benar begitu, kita harus lebih cepat lagi untuk segera meminta bantuan dan menolongnya"
Lalu mereka berdua menambah kecepatan lari hingga maksimal, mereka ingin segera membantu Felix dan berharap tidak terjadi apa-apa baginya. Disaat sebuah cahaya mulai muncul didepan mereka, Raphel dan Steph tahu bahwa itu adalah jalan keluar hutan ini. Mereka langsung saja keluar dan mendapati seorang pria kekar yang sudah menunggu didepan hutan.
"Pengawas Kreill?!"
Kreill menatap tajam ke arah mereka berdua, dan menyadari bahwa salah satu dari mereka tidak ada disini.
"Dimana Tuan Felix?"
"Sebenarnya..."
Lalu Raphel dan Steph menceritakan seluruh kisah dari awal. Mulai saat mereka memasuki hutan, dan merasakan hal janggal disekitarnya. Dan kemudian ada seekor Apes yang muncul di hutan ini hingga membuat mereka bertiga terpisah.
"Baiklah, kalian tunggulah disini. Aku akan segera membawa kembali Teman kalian ... "
________________><_________________
"Apa kalian sudah mengerti apa hukuman yang pantas bagi murid nakal seperti kalian ini?!"
"Y-ya,, Pengawas Kreill tapi ini semua ini adalah ide dari Pembuat Onar. Seharusnya aku tidak akan menerima hukuman juga kan?"
"Haa!! kenapa semua jadi salahku? bukankah kau juga ikut ambil bagian dari semua ini!!"
"Kalian semua Diamlah!!"
Saat ini aku dan Raphel sedang berada didalam ruangan Kreill dan diceramahi habis-habisan olehnya. Sedangkan Steph pasti sekarang juga sama seperti kami, yaitu diceramahi oleh Miss Yuna yang merupakan Pengawas Asrama Putri.
Kami berdua sedang duduk dilantai, dan dihadapan kami sekarang terdapat guru super killer yang kalau memberikan hukuman sangat tidak dapat diremehkan. Ya itu adalah Guru Hensel, Pengawas Kreill sengaja memanggil Hensel untuk menjelaskan tentang kelakuan ketiga muridnya tersebut.
__ADS_1
"Jadi, hukuman apa yang pantas untuk kalian ya!!"
Glek!!
Kami berdua hanya bisa menelan ludah saat mendengar kata menakutkan dari Guru Hensel. Karena dulu setelah aku mendapatkan hukuman darinya, aku langsung babak belur dan seluruh tubuhku merasakan nyeri selama seminggu.
"Untuk saat ini kalian tidurlah terlebih dahulu, Hensel dan Aku akan menjatuhkan hukumannya pada esok hari" ujar pengawas Kriell
"Benarkah Pengawas?!"
"Cepatlah, atau aku akan berubah pikiran"
Kami berdua sangat senang dan lega ketika mendengar kata tersebut, dengan segera kami keluar ruangan dan berlari menuju kamar masing-masing dan berharap bahwa kedua Guru itu akan lupa dengan kejadian ini setelah tidur nanti.
Sementara itu, didalam ruangan ini hanya menyisakan Hensel dan juga Kreill. Mereka saling duduk berseberangan dan masing-masing melakukan kegiatan tersendiri. Kreill membaca buku, sementara Hensel menatapi Kreill dengan heran.
"Jadi, apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan padaku?!"
Kreill menutup bukunya, dan kemudian dia meletakkannya di atas meja yang berada didepannya.
"Ini soal masalah tadi, saat aku berusaha menyelamatkan Felix dari serangan Apes di hutan Mallow..."
"Ada apa? apa kau merasa janggal karena adanya Apes di hutan itu?!"
"Bukan, tapi sebaliknya. Aku merasa janggal saat melihat Apes sudah penuh dengan luka-luka waktu menyelamatkannya, apa kau tidak merasa aneh? bocah yang tidak dapat melakukan sihir dapat melukai monster kuat dengan sangat parah seperti itu?"
"Begitulah, meski aku tidak tertarik dengan hal seperti ini. Tetapi tetap saja sangat membuat penasaran. Apa kau yang merupakan wali kelasnya juga merasakannya?"
"Sejujurnya iya, saat pertama kali melihatnya. Aku sudah merasakan pancaran energi yang kuat darinya, hanya saja aku tidak mengetahui energi apa itu"
_______________><_______________
Beberapa bulan telah berlalu semenjak kejadian Apes di hutan Mallow. Sebelumnya kami juga sudah mendapatkan hukuman dari Hensel yang berupa lari mengelilingi Akademi hingga 10 putaran tanpa henti.
Dan itu membuat kami berdua hampir mati karena kelelahan dan juga malu dipandang murid lainnya. Teruntuk Steph, dia hanya mendapatkan teguran dan membuat seratus permintaan maaf ke Miss Yuna.
Sekarang kami sedang berada didalam kelas dan mendengarkan tentang sesuatu yang akan dijelaskan oleh Hensel kepada kami semuanya.
"Baiklah aku akan segera mengumumkannya, satu bulan ke depan. Akademi kita akan ikut kedalam Turnamen sihir yang akan diadakan di Artemia oleh kelima kerajaan besar sekaligus, hal ini juga membuka kesempatan kalian untuk mengeluarkan seluruh potensi dan bakat setelah lima bulan berlatih didepan para lima pemimpin negara. Untuk itu berjuang keraslah dan jangan malas-malasan dasar bodoh!!"
Mendengar pengumuman dari Hensel, para murid saling bertatap satu sama lainnnya dan kemudian bersorak sekeras mungkin karena Turnament sihir telah tiba.
Karena diadakan satu tahun sekali, membuat acara ini sangat istemewa di seluruh murid Akademi manapun.
__ADS_1
Masing-masing akademi akan dipilih setidaknya lima murid yang berbakat dalam bidang sihir untuk menunjukkan potensi mereka di kelima raja besar pemimpin negara.
Selain itu, jika mereka diakui langsung oleh sang raja. Sudah dipastikan dimasa depan nanti hidupnya akan terjamin, dan akan mendapatkan perlakuan khusus oleh orang-orang lainnya. Yah, meskipun aku tidak mungkin dipilih untuk mengikuti turnamen itu sih hahaha.
Hingga bel istirahat berbunyi, dan murid dikelasku mulai berhamburan untuk segera kekantin demi berebut makanan.
"Yo kawan, apa kau mau ke kantin?!" Raphel menghampiriku bersama dengan Steph.
"Untuk hari ini tidak, aku mempunyai sedikit urusan di perpustakaan"
"Urusan apa?!" Steph memasang muka herannya.
"Hmm ... Tidak terlalu penting!!"
________________><_________________
Aku berjalan di lorong-lorong untuk menuju ke perpustakaan, aku mengacuhkan semua oramg yang berlalu lalang denganku sambil menatapku dengan rendah. Tidak masalah sih, lagipula aku sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu.
"Hey,, apa kau tahu tentang Maria Jennita?!"
"Maksudmu Idola di akademi kita ya?! kalau tidak salah dia berasal dari Kelas-B nomor 1"
"Kau tepat sekali, banyak kalangan pria di Akademi ini yang menembaknya tetapi semuanya ditolak mentah-mentah. Karena parasnya yang cantik pula, ada kabar bahwa di akademi ini terdapat fans clubnya sendiri"
"Benarkah?!"
"Itu benar, kalau tidak salah namanya adalah Maria-J fansclub"
Begitulah perkataan seluruh murid yang berlalu lalang denganku, meski aku tidak terlalu mendengarkannya. Tetapi aku tahu bahwa mereka sedang membicarakan orang lain, dan itu adalah sifat kedua yang paling aku benci. Mereka tidak memikirkan perasaan orang lain, dan main mencibir begitu saja. Jujur saja aku ingin muntah disaat ada orang yang seperti itu didekatku.
Hingga tidak lama kemudian aku telah sampai didepan pintu perpustakaan, dan saat aku ingin membuka pintu perpustakaan. Secara tidak sengaja tanganku bersentuhan dengan orang lain.
'Eh'
Aku melihat kesampingku, dan terdapat seorang wanita berambut putih yang sangat cantik sekali hingga membuatku tidak berkedip sama sekali. Sepertinya gadis itu terlihat familiar bagiku, tetapi siapa ya? apa sebelumnya aku pernah bertemu dengannya?
"Ah maaf silahkan duluan" Aku mempersilahkannya masuk terlebih dahulu
Gadis itu hanya mengangguk, dan kemudian masuk kedalam perpustakaan tanpa berkata sedikitpun. Yah, lagipula aku juga tidak terlalu membawa perasaan. Mengetahui bahwa aku adalah orang tersial di kehidupanku sebelumnya.
'Sial aku hampir lupa'
Aku kemudian langsung masuk ke dalam perpustakaan karena jam istirahat hanya tersisa 15 menit saja. Dan dari sisa waktu itu, aku harus menemukan informasi yang kucari.
__ADS_1
-
To be continue.