My Second Life Became The Weakest Hero In Another World

My Second Life Became The Weakest Hero In Another World
Chapter 5 ~ Keberuntungan dipihakku


__ADS_3

Sebelum berangkat, aku mempersiapkan barang bawaan yang akan kubawa nantinya. Mulai dari buku untuk mencatat, pensil, dan masih banyak lagi lainnya. Setelah selesai memasukkan semua ke dalam Tas milikku. Aku berlanjut menemui Rena dan juga paman Kevin yang sudah menungguku didepan gerbang Mansion. Dan saat aku sampai, aku merasa terkejut saat melihat ada tiga orang disana...


"Reni ... kenapa kau ada disini?"


"A-ah ... Sebenarnya aku dari tadi mendengar percakapan kalian saat membersihkan kebun, j-jadi aku ingin ikut. Apa tidak boleh Tuan muda?"


Reni melihatku dengan muka memelas sehingga aku tidak tega untuk menolaknya. Sebenarnya aku bisa saja untuk pergi sendiri, tetapi karena aku masih belum banyak mengetahui jalan di sekitar sini. Aku memutuskan untuk menyuruh mereka mengantarku agar tidak tersesat nantinya.


"Kalau begitu, ayo kita berangkat"


Kemudian Rena memimpin jalan diikuti oleh Paman Kevin dan juga Reni. Sementara aku memutuskan untuk berada dibelakang sendiri karena tidak ingin menjadi terlalu mencolok. Sebelumnya aku membawa sebilah katana yang aku selipkan di pinggangku, bukan karena alasan lain. Hal ini hanya kulakukan untuk melindungi diriku sendiri saja.


...


Selang beberapa menit, akhirnya kami sampai di ibukota Kerajaan Ernesti. Ibukota ini bernama Greenland, kota terbesar yang merupakan pusat perdagangan di Kerajaan ini. Banyak sekali orang yang berlalu lalang denganku, mulai dari rakyat biasa, pedagang, atau Ras-Ras lain selain manusia.


Tentu saja aku kagum saat melihat mereka, karena ini adalah kedua kalinya aku melihat Ras lain selain Rena dan Reni yang merupakan seorang Demi-Human.


Tetapi ada yang membuatku sangat terganggu. Yaitu, tatapan semua orang yang menatap tajam ke arahku saat aku melewati kota ini. Entah kenapa aku merasa ada suatu kebencian didalam Tatapan mereka.


"Ssst ~ Paman Kevin, kenapa semua orang dikota ini menatap kita seperti itu?"


Paman Kevin yang mendengar bisikanku langsung menoleh ke arahku, " Itu dikarenakan Kita adalah bangsawan Tuan muda. Sudah sewajarnya jika mereka menatap kita seperti itu, karena kebanyakan bangsawan di Kerajaan ini sangat suka mendiskriminisasi orang"


Mendengar jawaban dari Paman Kevin, aku hanya bisa terdiam dan berusaha menahan emosiku. Kenapa aku sangat marah? karena di kehidupanku sebelumnya. Aku sering kali bertemu dengan orang yang mendiskriminisasi orang lain di sekolahku, karena aku sudah muak dengan pemandangan seperti itu. Secara Reflek aku pernah menghajar orang itu hingga aku di-skors satu minggu penuh.


Bicara soal bangsawan, Bangsawan memiliki Tingkatan kekuasaan yang berbeda-beda. Mulai dari Baron Viscount, Earl, dan yang Terakhir adalah Duke.


Duke memiliki kedudukan tertinggi dari Tingkatan lainnya. Sedangkan untuk Baron, itu merupakan Tingkatan yang paling rendah bagi bangsawan.


Konon, Bangsawan setingkat Duke sangat berperang penting dalam suatu Kerajaan. Karena biasanya mereka memegang seperempat atau bahkan setengah saham dari Kerajaan. Dan tentunya, orang lain sangat tidak ingin terlibat masalah dengan keluarga bangsawan setingkat Duke.


Keluarga Edgard sendiri hanya Setingkat Baron. Jadi, aku hanya bisa memegang bisnis kecil-kecilan seperti menjual beberapa produk.


Disaat kami semua berjalan, aku melihat ada seorang anak seumuranku yang sepertinya bangsawan sedang menindas seseorang. Kenapa aku bisa mengetahuinya? karena dia memakai baju yang sama sepertiku dan membawa beberapa Pengawal dan Pelayan.


"Orang rendah sepertimu ... berani menghalangi jalanku, sepertinya kau ingin mati ya"


"M-maafkan aku, aku tidak sengaja"

__ADS_1


Aku berhenti untuk melihat sekilas kejadian itu. Paman Kevin, Rena, dan Reni juga berhenti saat aku berhenti. Mereka melihat telapak tanganku yang mulai mengeluarkan darah karena terlalu rapat menggenggam, sehingga kuku jariku yang tajam menembus daging.


"Tuan Muda, apa anda baik-baik saja? tangan anda berdarah lo"


Reni bertanya dengan dengan sangat khawatir karena melihatku yang sepertinya sangat marah. Tetapi aku tidak mendengar suara Reni, aku berjalan mendekati bangsawan yang sepertinya seumuran denganku itu.


Kalau dilihat-lihat, gelagatnya seperti anak nakal jika ditambah dengan rambut pirang dan tampang sombongnya itu. Tapi tak apa, justru itu menambah niatku untuk menghajarnya. Tetapi saat aku hampir sampai dengan anak itu, Rena menarik tanganku.


"Tuan muda, tenangkan dirimu dulu ... sepertinya anak itu adalah keturunan dari Duke. Jika kita mencari masalah dengannya nanti maka..."


"Tenang saja Rena, aku percaya kepada keberuntunganku"


Kemudian aku melepaskan tangan Rena dan melanjutkan jalanku ke arah anak songong itu.


"Oi ... Bisakah kau tidak menindas orang lain, apa orang tuamu tidak pernah mendidikmu dengan benar?"


Mendengar suaraku, seluruh orang termasuk anak yang songong tadi melihat ke arahku. Yah, aku tidak terlalu peduli sih dengan mereka. Terserah mereka melihat aku sebagai bangsawan atau apa, yang pasti aku akan menjadi diriku sendiri.


"Apa kau yang berani berbicara padaku tadi?"


Lalu anak songong itu berjalan mendekat ke arahku dan berdiri tepat didepanku. Hingga muka kami saling bertatapan secara langsung.


Tetapi aku mencuekinya dan berjalan mendekat ke arah Anak wanita seumuran sepertiku yang dia tindas tadi. Aku membantunya berdiri dan menyakan kondisinya.


"Apa kau tidak apa-apa Nona?"


Wanita itu hanya mengangguk untuk menanggapi pertanyaanku. Dilain sisi, anak bangsawan tadi merasa sangat marah saat aku mencuekinya. Tetapi maaf, keburuntunganku yang sekarang sangat tinggi. Sekeras apapun usahamu untuk menjatuhkanku. Keberuntungan akan selalu berpihak padaku.


"Kenapa kau melihatku seperti itu, apa kau marah? sini maju kalau bisa" Aku mengatakan seolah-olah ingin menyulut emosi anak bangsawan itu.


Dan hasilnya sesuai dengan yang kuharapkan. Dia merasa sangat marah dan urat-urat mulai terlihat di keningnya. Lalu dia berjalan mendekat padaku sambil mengeluarkan sebilah pedang yang ia selipkan di pinggulnya sama sepertiku. Pelayanku yang melihatnya ingin sekali menghentikannya, tetapi para pengawal yang anak itu bawa segera menghadangnya.


"Tuan muda!!"


Begitulah Teriak Rena. Sementara wanita yang kutolong tadi sedang berlindung ketakutan di belakangku.


"Sepertinya kau ingin mati muda ya"


Bagi bangsawan Setingkat Duke. Jika mereka melakukan suatu pembunuhan, mereka hanya akan mendapatkan denda saja. Sedangkan rakyat biasa dan bangsawan setingkat bawahnya akan dijatuhi hukuman lebih berat lagi atau bahkan hukuman mati. Sepertinya hukum didunia ini masih rusak ya.

__ADS_1


Disaat anak songong itu berjalan ke arahku sambil memegang sebilah pedang. Sebenarnya aku sangat takut hingga ingin sekali mengompol, tetapi aku tidak memperlihatkannya karena nantinya akan sangat tidak keren sama sekali. Bayangkan saja, jika dihadapan banyak orang seorang bangsawan mengompol. Bagaimana bisa dia hidup lagi?


"Apa ada kata-kata terakhir?" Anak itu masih terus berjalan mendekat ke arahku.


"Hanya satu hal, ada batu didepanmu" ucapku sambil menunjuk batu besar yang ada didepan anak itu.


Anak songong yang tidak menyadari batu itupun langsung tersandung. Semua orang tertawa melihatnya termasuk wanita yang ada dibelakangku ini.


Melihat kesempatan, aku menarik pedangku dan mengarahkannya pada muka anak itu. Yah, menang dengan cara konyol dan hoki ini memanglah tidak keren. Tetapi ini lebih baik daripada mencari keributan besar.


"Baiklah, siapa yang akan mati disini?"


Aku menatap senang, sedangkan anak songong itu menatapku dengan jengkel. Dilain sisi para pengawalnya hanya bisa melongo tidak percaya bahwa Tuan muda mereka yang sangat berbakat dalam hal Fisik maupun sihir akan kalah dengan keberuntungan dari anak itu.


"S-sialan, aku akan berjanji akan membunuhmu suatu saat nanti"


Kemudian anak itu segera bangkit dan mengajak pengawalnya untuk pergi. Mungkin dia malu setelah tersandung tadi, ah bukan urusanku juga. Paman Kevin, Rena, dan Reni langsung menghampiriku untuk menanyakan kondisiku. Dan aku hanya menggelengkan kepala untuk menanggapinya.


"Ma-maafkan aku, karena aku ... kau jadi terlibat dengan bangsawan Duke. Tunggu, kau juga bangsawan ya?"


Wanita yang ada dibelakangku sebelumnya langsung bertanya kepadaku sambil melihat-lihat pakaianku dari atas dan bawah. Sorot matanya sangat terlihat serius seperti sedang menganalisa seseorang.


"Sekali lagi maafkan aku Tuan, karena aku. Kau jadi..."


"Ah ... ya ya kesampingkan hal itu dulu, yang penting siapa namamu? dan kau akan pergi kemana?" Potongku sebelum wanita itu menyelesaikan kalimatnya.


"Namaku? ah ... Maafkan aku karena telat memperkenalkan diri. Namaku adalah Clara, tadinya aku ingin pergi ke akademi sihir. Tetapi malah nyasar ... hehe" ucapnya sambil menggaruk-nggaruk kepalanya.


'Hehe dengkulmu'


Entah kenapa wanita itu sangat sering mengucapkan kata maaf pada orang lain. Ah sudahlah, lagipula setiap orang memiliki rahasia yang tidak ingin diceritakan.


"Kalau begitu sekarang giliranku, namaku adalah Felix. Aku juga memiliki tujuan yang sama denganmu, apa kau ingin ikut bersama kami?"


Clara awalnya terlihat ragu. Tetapi saat melihat para pelayan yang ada dibelakangku tersenyum ke arahnya. Dia menerima tawaranku, mungkin karena dia menilaiku sebagai bangsawan yang berbeda dengan lainnya. Kemudian kami pergi bersama untuk menuju ke akademi sihir.


-


To be continue.

__ADS_1


__ADS_2