My Second Life Became The Weakest Hero In Another World

My Second Life Became The Weakest Hero In Another World
Chapter 25 ~ Konversi Element Book


__ADS_3

"Master Weisten, apa anda memanggilku?"


"Benar, apa kau dapat memberitahu perkembangan dari bocah yang bernama Felix itu?"


"Untuk saat ini belum ada Master, tetapi...."


Lalu hensel menjelaskan tentang perubahan drastis yang dialami oleh Felix. Yaitu selain menjadi lebih kuat dengan cepat, dia juga menjadi murid yang sangat pandai di kelas. Hanya saja, untuk saat ini Hensel masih belum dapat mengukur seberapa kuatnya Felix karena belum melihat langsung kekuatannya.


"Begitulah" Kalimat terakhir Hensel menyelesaikan ceritanya.


"Begitu ya, tetap awasi dia dan berikan laporan padaku jika ada hal yang menarik"


"Baik,, Tetapi Master apakah anda sudah memilih siapa yang akan menjadi perwakilan akademi kita nantinya untuk mengikuti Turnamen sihir yang diadakan di Negeri Artemia??"


"Tenang saja, aku sudah mempersiapkan semuanya"


Kemudian Weisten memberikan secarik kertas kepada Hensel dan menyuruhmya untuk membaca isinya. Disaat Hensel membacanya, dia menjadi sangat terkejut, pasalnya kelima anak yang akan diikut sertakan Turnamen sepertinya sangat bertolak belakang, dan Hensel ragu jika mereka tidak dapat bekerja sama dengan baik.


"I-ini?! apa anda yakin dengan keputusan ini?!..."


"Ya. Lagipula aku sudah memikirkannya matang-matang"


________________><_________________


"Kerajaan Artemia ya, sepertinya akan sulit untuk Steph"


Saat ini aku sedang berada di dalam perpustakaan sambil mencari buku yang berjudul "Konversi Element". Kenapa aku mencari buku itu? karena aku penasaran dengan penciptaan Element didunia ini.


Apakah didunia ini Penciptaan Element hanya sebatas imajinasi belaka? apakah tidak ada Element lain selain keempat Element dasar? Apakah aku dapat membuat Element yang berupa Es ataukah petir dan semacamnya?


Saat aku memikirkan hal itu, rasa penasaranku semakin tinggi. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke perpusakaan untuk mencari tentang buku yang dapat menghilangkan rasa penasaranku tersebut.


Aku sudah mencari di rak-rak buku di seluruh perpustakaan ini, tetapi tidak menemukan satupun buku yang dapat memecahkan rasa penasaranku tersebut. Apa didunia ini pengetahuan tentang sains sangatlah minim? kuharap pak hartono ikut bereinkarnasi juga untuk membantuku saat ini.


"Oh nak Felix ... apa kau membutuhkan sesuatu?!"


Seorang pria tampan berjas berjalan ke arahku. Ya dia adalah Wilhelm Smith, penjaga perpustakaan yang sebelumnya pernah menuntun seluruh murid akademi untuk mendapatkan kontrak dengan Grimoire milik mereka. Karena akhir-akhir ini aku sering ke perpustakaan, entah kenapa hubungan kami semakin dekat karena sering bertemu dan mengobrol.


"Professor, apa kau tidak memiliki buku tentang Konversi Element?"


"Konversi Element?!... Kurasa sedang dibaca oleh perempuan cantik disana"

__ADS_1


Wilhelm menunjuk ke salah satu bangku yang terletak tidak jauh dariku. Dan dibangku tersebut, ada seorang siswi yang sangat cantik dengan rambut putihnya yang panjang.


Terlebih lagi, dia sedang membawa buku yang selama ini kucari yaitu Konversi Element.


Aku heran, apa dia juga memiliki rasa penasaran yang sama denganku? ah sudahlah yang penting aku sudah tahu bahwa buku itu ada.


Lalu aku duduk di kursi yang berada diseberangnya untuk menunggunya selesai membaca buku tersebut. Aku menunggu dalam diam, sambil menatapi raut wajah gadis itu yang cantik, bukannya terpesona.


Tetapi aku merasa ada yang aneh dengan wajahnya itu, seperti dengan Albert. Wajahnya tidak memiliki ekspresi sedikitpun. Apa mereka bersaudara? sepertinya bukan karena sama sekali tidak ada kemiripan diantara mereka.


"Apa kau punya masalah denganku?!" Gadis itu berceletuk, dan menatapku dengan dingin seperti es.


"Ah ... Tidak, hanya saja aku penasaran kenapa kau membaca buku itu?!"


"Bukan urusanmu!!"


Aku mengerutkan dahiku ketika mendengar jawaban ketusnya, yah memang bukan urusanku juga sih. Lagipula aku hanya ingin meminjam buku itu setelah dia membacanya.


________________><_________________


Beberapa menit akhirnya telah berlalu, gadis es itu menutup buku lalu menyodorkannya ke arahku. Jadi dia tahu bahwa aku juga menunggu untuk membacanya ya. Diam-diam dia gadis yang baik juga.


Aku mengambil buku itu, tetapi saat aku mencoba menariknya dengan tiba-tiba gadis es itu menghentikan tanganku.


"Bisa saja, tetapi kau harus menjelaskan untuk apa kau membacanya"


"Ini bukan urusanmu nona"


"Ooh ... kalau begitu aku tidak akan melepaskannya"


'Perempuan sialan'


Aku menghela nafasku dan memutuskan untuk mengalah karena jam istirahat masih tersisa sedikit lagi. Kemudian aku menatap gadis es itu dengan serius seolah olah menandakan 'Jangan ceritakan ke siapapun'.


"Jika aku menceritakannya, apa kau juga mau menceritakan alasanmu membaca buku ini?"


"Baiklah, asal kau janji tidak akan tertawa"


Aku hanya mengangguk dan kemudian gadis es itu mulai melepaskan tanganku. Disaat itulah aku mulai menjelaskan padanya alasanku ingin membaca buku ini. Yaitu ingin bereksperimen tentang Element ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Gadis es itu terkejut, tetapi aku masih saja menjelaskan alasanku secara ringkas dan mencangkup semuanya dalam waktu satu menit.


"Begitulah..."

__ADS_1


"H-hahahahahah ... meningkatkan Element ke Tingkat lebih tinggi lagi, apa ada orang yang dapat melakukannya? hahahaha"


"Baiklah-baiklah terserah saja padamu nona, jadi bisakah kau menceritakannya padaku alasanmu?"


Gadis es itu menunduk dan terlihat ragu untuk menceritakannya, tetapi bukannya aku tidak peduli dengan itu. Masalahnya aku sangat penasaran dengan alasan gadis ini.


Setelah menunggu cukup lama, gadis itu mulai merapalkan semacam mantra dan muncullah segumpal tangan ditangannya.


"Kecil sekali ... hahahaha" Tawaku karena melihat gumpalan tanah kecil di tangannya.


"Bukankah aku sudah pernah bilang untuk tidak tertawa" Balas gadis itu dengan rona merah diwajahya.


"Maaf-maaf, dari melihatnya saja aku sudah tahu masalahmu. Kau tidak dapat mengendalikan Manamu dengan baik kan?!"


"Be-begitulah" Gadis itu menundukkan kepalanya untuk menutupi rasa malunya.


...


Bel sekolah mulai berbunyi dan menandakan bahwa pelajaran berikunya akan dimulai sebentar lagi. Gadis itu segera berdiri dan ingin beranjak keluar dari perpustakaan ini.


"Sekarang kita impas, dan semoga kita tidak bertemu lagi"


"Tunggu, coba kau alirkan manamu ke satu titik yaitu telapak tanganmu dan saat melakukannya cobalah untuk menutup mata dan membayangkan bagaimana Mana itu mengalir"


Gadis itu berhenti sebelum mencapai pintu keluar perpustakaan. Dilain sisi aku menatapnya dengan ekspresi mengejek karena puas dapat meledeknya tadi. Meski sangat menyenangkan tapi dia tetap wanita sih.


Diam-diam Gadis es itu melakukan apa yang seperti aku suruh, dia menutup mata dan membayangkan bagaimana Mana miliknya mengalir ke satu titik. Dan saat dirinya membuka mata...


"B-bagaimana bisa?!" Gadis es itu terkejut ketika gumpalan tanah di tangannya bertambah sedikit besar.


Lalu dia menatapku yang masih tersenyum meledek dengan tatapan sedingin esnya.


"Siapa namamu?"


"Felix von Edgard, dari kelas-B nomor 6"


"Akan kuingat itu, namaku adalah Marria Jennita dari Kelas-B nomor 1"


Setelah mengatakan itu, Gadis itu keluar dari perpustakaan dan meninggalkanku sendirian didalam perpustakaan ini. Aku hanya bisa menghela nafas dan tidak ingin bertemu dengan gadis sepertinya lagi, setelah kupikir-pikir gadis Animelah yang terbaik. Karena mereka dapat memeberikanku kebahagiaan yang sesungguhnya.


"Baiklah waktunya mem- Tunggu bukankah ini sudah waktunya masuk? ... Sialan!! ini semua gara-gara gadis brengsek itu"

__ADS_1


-


To be continue.


__ADS_2