
Persiapan telah selesai, para Guru beserta murid segera menggunakan sapu terbangnya untuk melayang di udara. Tentu saja awanyabaku sedikit terkejut karena sapu ini benar-benar dapat melayang, namun di dunia lain ini terdapat sihir. Jadi aku sudah tidak heran lagi dengan itu.
"Tunggu!! Sudah kubilang bukan? Jangan sentuh aku sembarangan!!" (Viona)
"M-maaf, aku tidak sengaja" (Felix)
Secara reflek aku sebelumnya berpegangan kepada pinggang Viona. Itu hal yang wajar bagi orang yang baru saja naik sapu terbang sepertiku. Hanya saja dilain sisi aku juga salah karena memegang pinggang seorang perempuan begitu saja.
"Baiklah... Mari berangkat" (Weisten)
Ketinggian kami sudah mencapai 100 meter dari atas tanah, dan sesegera mungkin para Guru menuntun kami para murid untuk menuju ke Negeri Elf, Artemia. Aku bisa melihat pemandangan ibukota dengan sangat jelas dari atas sini, sangat besar. Begitupun dengan istana Kerajaan, istana tersebut sangat tinggi dan besar serta terlihat sangat kokoh sekali.
Aku berpikir apakah aku di masa depan nanti akan dapat datang kesana? Mungkin akan sulit.
***
Sudah tiga puluh menit sejak kami terbang menggunakan sapu terbang, aku bisa melihat hewan seperti burung yang berlalu lalang dengan kami semua, meski terlihat seperti burung. Namun sepertinya itu bukanlah burung, karena wujudnya yang lebih dominan ke setengah kelelawar.
Ngomong-ngomong aku dan Viona berada di barisan paling belakang diantara para murid, dan baris terdepan adalah Daniel beserta dengan Marvis. Untuk para guru, mereka sudah mendahului kami sebagai penunjuk arah.
Aku cukup menikmati transportasi udara ini, bagaimanapun juga di kehidupan sebelumnya aku belum memiliki pengalaman dengan pesawat, meski sudah pernah naik pesawat pun mungkin sensasinya akan sangat berbeda dengan menaiki sapu terbang.
Aku melihat Steph yang perlahan mulai menurunkan kecepatannya, dan dia terbang di sekitar sapu terbang yang kunaiki bersama dengan Viona. Aku penasaran kenapa dia menempel kepada kami, apa dia merasa kesepian?
"Aku penasaran, kenapa kau menempel kepadaku? Apa langit kurang luas untukmu?" Viona yang merasa tidak nyaman. Mengatakan perasaannya secara terbuka.
"Tidak juga... Aku hanya ingin di barisan belakang saja" Steph menjawab dengan nada acuh dan tak acuh. Setelah itu dia melirikku lagi dengan tatapan tajamnya, aku hanya menggaruk pipiku yang tidak gatal karena bingung harus bersikap apa.
Viona yang melihat Steph melihat ke arahku beberapa kali, entah kenapa dia sepertinya dapat menyimpulkan sesuatu. Dia memasang wajah puas seolah olah mengatakan 'Begitu ya' meskipun secara tidak langsung.
__ADS_1
"Para Murid!! Bersiap!! Ada sekelompok Flame Bird yang akan menyerang kita!!!"
Mendengar suara guru Hensel dengan lantangnya, pandangan semua murid mengarah ke depan. Disana terdapat sekelompok burung dengan bulu bewarna merah menyala sedang menuju ke arah rombongan kami, dan disaat yang bersamaan pula. Sebuah panel kembali muncul di hadapanku.
[Flame Bird
Level : 10
Hp : 500/500
MP : 500/500
Sebuah monster Tipe unggas yang biasanya menyerang para pengembara yang melewati jalur udara. ]
Aku hanya tersenyum kecut saat melihat detail dari statistik Flame Bird tersebut, meski level mereka lebih rendah dari Ape's yang pernah kulawan sebelumnya, akan tetapi mereka hidup secara berkelompok sekaligus mereka sangat ahli dalam penyerangan di udara. Bisa dibilang situasi kami sangat tidak diuntungkan.
Sesuai dengan perintah Master Weisten, seluruh murid langsung berpencar ke penjuru arah dan tidak menentu. Flame Bird juga ikut membagi kelompoknya dan mengejar masing-masing murid yang berpencar, dan yang paling buruk adalah aku dan Viona dikejar lebih banyak Flame Bird daripada yang lainnya.
"Sialan kenapa yang mengejarku lebih banyak daripada yang lainnya? Aku tidak tahu apapun tapi aku harap kau dapat berguna kali ini" Viona mengeluarkan kata kata jahat padaku.
"Apakah kau berharap kepada seorang yang dijuluki 'Tanpa Mana' oleh semua murid di Akademi?"
"Aku tidak berharap, setidaknya kau dapat membantuku kali ini"
Meskipun dia berkata seperti itu, tetapi aku tidak dapat berbuat banyak jika masih di udara. Kau tahu? Pergerakan ku sangat terbatas disini, lain lagi jika di daratan mungkin aku dapat menghabisi beberapa dari mereka dan segera kabur untuk meloloskan diri. Lagipula aku masih bervelel 5 sekarang ini, yang artinya aku masihlah sangat lemah dibandingkan burung burung tersebut.
"Domino Vouz"
Swuss!! Bam!!!
__ADS_1
Viona menggunakan tingkat sihirnya untuk menggunakan sihirnya, aku terkejut saat melihatnya melakukan sihir berelemen petir. Itu adalah Elemen yang paling sulit ku pelajari sekarang ini, seperti yang diharapkan dari genius kutu buku, meski aku masih kagum, aku masih tidak boleh lengah di situasi seperti ini.
Kyak!!
Bwuss!!
Flame Bird menyemburkan nafas apinya kepada kami, dan Viona menerbangkannya dengan baik untuk menghindari nafas api tersebut. Sangat menyedihkan bahwa aku tidak dapat menggunakan kemampuanku disini, tapi aku harus menghemat Cakra demi Turnamen sihir nantinya.
Viona terus menerus melakukan sihir dan mengenai beberapa dari Flame Bird disana, namun jumlah mereka masih terbilang banyak sekarang ini. Viona juga k sulutan karena melakukan sihir sambil berusaha menghindari serangan dengan menggunakan sapu terbang.
Nafasnya terengah engah, sepertinya dia akan mencapai batasnya sebentar lagi. Itu tidak baik, aku harus turun tangan untuk kali ini saja.
Aku memanipulasi embun embun air dari awan dan mengumpulkannya di satu titik diatas Flame Bird yang mengejar kami, sihir ini akan menguras setengah persen dari cakraku. Dan mungkin aku tidak akan bertahan lama di Turnamen sihir nanti, karena situasi sekarang lebih gentin, tidak ada cara lain selain membantu Viona dari balik layar.
Kumpulan awan hitam mulai terkumpul di atas kami, dan kemudian hujan mulai turun dan membuat pakaian kami semua basah. Flame Bird yang mengejar kami perlahan mundur untuk berteduh menghindari hujan, kami semua tidak mengejar mereka.
"Hah... Hujan ini menyelamatkanku, aku mengira bahwa hidupku akan berakhir disini" Viona menghela nafas lega. Cukup butuh banyak Cakra untuk membuat hujan tersebut, jadi aku juga merasakan kelelahan.
"Kau... Setidaknya kau harus membantuku tadi, dimana kemampuanmu yang katanya pernah mengalahkan Daniel Von Kreiss dan Albert Jericho dari kelas A" Viona berkata dengan jengkel.
"Aku tidak sekuat itu kau tahu? Aku hanya beruntung"
Ya, aku hanya beruntung. Semua itu karena statistik LUC milikku yang terlalu tinggi. Pada waktu itu aku dapat menang dari Daniel karena dia tersandung batu, dan aku dapat menang dari Albert karena skill ku aktif dengan sendirinya. Sedangkan sekarang ini, aku beruntung karena masih ada embun air di awan. Semua itu bukan karena kekuatanku atau semacamnya.
Artinya, aku hanya memanfaatkan kondisi sekitarku menjadi berpihak kepadaku.
-
To be continued
__ADS_1