My Second Life Became The Weakest Hero In Another World

My Second Life Became The Weakest Hero In Another World
Chapter 43 ~ Persiapan Berangkat


__ADS_3

Aku mengeluarkan beberapa keping koin dari Cincin ruangku dan memberikannya kepada Tuan Wabel sebagai bayaran untuk membeli Runel Necklase, tentu saja Wabel yang melihatnya terlihat terkejut dengan cincin ruang yang kumiliki, akan tetapi dia tidak menanyakannya padaku karena mungkin itu seharusnya hal yang tidak perlu untuk diselidiki.


Aku menyimpan Runel Necklase di cincin ruang milikku, dilain sisi Steph dan Raphel juga tidak ingin kembali dengan tangan kosong, mereka membeli masing-masing Staff karena merasa itu perlu.


Kami segera keluar dari toko dan berlanjut untuk nelihat lihat apa yang akan kubeli lagi setelah ini, meski hari semakin gelap masih banyak orang yang berkeliaran di kota ini, seperti yang diharapkan dari ibukota Kerajaan, selalu rame setiap waktu.


"Bukankah dia itu Viona dari kelas kita?" Raphel menunjuk ke salah satu toko di seberang jalan, terdapat Viona yang memasuki toko tersebut sambil membaca buku.


Sebenarnya aku penasaran dengan apa yang dia lakukan di tempat ini, namun saat berpikir bahwa Viona sebenarnya juga Orang yang dipilih sama sepertiku, mungkin dia sedang melakukan hal yang sama sepertiku, yaitu berbelanja, jadi aku tidak terlalu memikirkannya lebih jauh lagi.


"Apa yang dia lakukan bukan urusan kita, seharusnya kita harus segera kembali ke asrama karena akan memasuki jam malam..." mengatakan itu. Raphel dan juga Steph mengangguk setuju, dan saat kami kembali ke Asrama, aku diam diam keluar untuk berbicara dengan Master Weisten di Akademi.


***


Di pagi harinya, dimana keberangkatan kami ke Kerajaan Artemia akan dimulai, Akademi diliburkan untuk sementara waktu dan murid lainnya yang tidak terkibat diperbolehkan untuk pulang ke rumah masing-masing dari mereka.


Semua Guru dan Master Weisten sudah berkumpul di halaman Akademi, tentu saja dengan beberapa murid yang akan ikut dalam Turnamen antar Akademi sihir.


"Baiklah, untuk pertama tama terimalah ini..."


Guru Hensel membawa beberapa jubah hitam yang lalu di berikannya kepada kami semua, aku langsung memakainya dan mendapati bahwa jubah ini bukan jubah biasa, terdapat sihir penguat yang sudah di tanam di dalamnya.


Lalu guru Fraust datang menggantikan Hensel, dan dia memberikan masing-masing kami sapu terbang, saat Fraust membagikan padaku, dia terlihat tersenyum sinis, tapi aku tidak terlalu memikirkannya.


Aku menatap dengan teliti sapu terbang ini, namun lagi lagi sebuah panel mirip game muncul di hadapanku.


[ Sapu Terbang


Alat Transportasi yang menggunakan Mana sebagai bahan bakarnya. ]


Aku tersenyum kecut saat melihat Detail tentang sapu terbang tersebut, Mana adalah bahan bakarnya, sedangkan diriku ini adalah seorang 'Tanpa Mana' aku ragu jika Cakra yang merupakan kebalikan dari Mana akan mampu membuat sapu itu terbang.


"Anu... Kenapa kami diberi Sapu Terbang?" (Viona)


"Ehm ~ Biar kujelaskan, Kerajaan Artemia tempat para Ras Elf berada, bertempat di sebuah pulau yang melayang diudara, oleh karena itulah Kita akan mengendarai Sapu terbang, kalia pasti sudah diajari oleh orang tua kalian menggunakan sapu terbang saat masih kecil bukan?" (Weisten)


Aku sedikit sakit saat mendengarnya, aku dibesarkan tanpa orang tua jadi aku tidak memiliki pengalaman saat menggunakan Sapu Terbang, bahkan aku ragi jika aku dapat mengendalikannya dengan baik.

__ADS_1


"Pulau yang melayang? Menarik... Tapi aku ragu jika orang Tanpa Mana disana dapat menggunakan Sapu Terbang" (Marvis)


Marvis melirikku sambil memasang senyum sinis, yah bukan berarti aku mau diledek begitu saja, akan tetapi memang begitulah kenyataannya, aku tidak bisa menggunakan Sapu terbang.


"Ah... Untuk Tuan Muda Felix, aku ingin dia berboncengan dengan Nona muda Viona"(Weisten)


Mendengarnya, aku sudah dapat menebak apa yang akan dikatakan oleh Viona setelah ini.


"Tunggu Master Weisten, kenapa harus aku? Bukankah lebih baik jika dia bersama dengan laki-laki?" (Viona)


"Aku juga menginginkan seperti itu... Tapi pastinya mereka semua tidak mau bukan? Dan Nona muda Viona, Tuan muda Felix adalah pasanganmu di Battle Team Ronde, akan menyusahkanmu juga jika dia tertinggal bukan?" (Weisten)


"Terima saja gadis kacamata! Lagipula kau berasal dari kelas rendahan seperti dia bukan?" (Marvis)


Marvis masih saja mencari masalah, padahal seharusnya dia menjadi contoh yang baik karena dia adalah seorang Ketua dari Komite Akademi. Disisi lain, Viona menatapku dengan tajam, dan aku hanya bisa kebingungan sambil menggaruk pipiku yang tidak gatal.


"Tch! Aku tidak akan menolongmu jika kau jatuh" (Viona)


"Terimakasih!! Aku akan mencoba untuk tidak menghambatmu" (Felix)


"Baiklah... Karena masalah sudah beres, aku memilki dua murid yang akan ikut dengan kita, karena Albert masih belum memiliki pasangan dalam Battle Team Ronde nanti, satu orang dari mereka akan menjadi pasanganmu, sedangkan yang satunya akan menjadi peran pengganti jika ada salah satu dari kalian yang cedera..." (Weisten)


***


Kemarin malam waktu di ruangan Kepala Akademi.


Aku dan pak tua Weisten saling berhadapan satu sama lain karena aku memiliki sesuatu yang harus kubicarakan padanya, aku berdiri sementara Weisten duduk ditempatnya, meski terlihat antara percakapan guru dan murid biasa, namun suasananya terasa serius.


"Apakah kau ada perlu denganku, Felix von Edgard?" (Weisten)


"Aku ingin anda membiarkan kedua temanku, Steph serta Raphel ikut dalam perjalanan ke Turnamen sihir antar Akademi Di Kerajaan Artemia..." (Felix)


Tentu saja Weisten terkejut dengan apa yang kukatakan, meski terdengar egois tapi aku tidak akan ikut serta jika kedua temanku itu tidak diperbolehkan ikut, aku juga menyadari bahwa pak tua Weisten ini sedang mengamatiku dari pertama kali kami bertemu, sejak itu aku tidak pernah mempercayainya sama sekali.


"Alasannya?" (Weisten)


"Sangat sederhana, Tanpa kedua temanku itu aku tidak akan mampu mengeluarkan kemampuan penuhku saat di pertandingan nanti, bagaimana pun juga dukungan mereka sangat berarti bagiku..." (Felix)

__ADS_1


Dukungan seorang teman sangat kuperlukan, selain itu aku merasa bahwa Steph juga harus ikut dalam perjalanan kali ini karena Artemia adalah tempat tinggalnya dulu, dimana masa masa diskriminisasi dia dimulai, aku ingin orang yang merendahkannya dulu melihat kemampuan Steph yang seksrang dan mau untuk mengakuinya.


Bukannya. aku ingin berniat baik, tapi sedari dulu aku sangat membenci diskriminisasi, jika aku yang mengalaminya tidak masalah, tapi jika itu menyangkut teman yang tidak pernah kudapatkan di kehidupan sebelumnya lain lagi ceritanya.


"Aku akan mencoba mempertimbangkan nya..." (Weisten)


"Terimakasih Master"


***


Setelah merasa persiapan sudah beres, Master Weisten beserta dengan guru yang lain melayang tanpa menggunakan Sapu Terbang, aku tentunya hanya tersenyum kecut karena para petinggi akademi memiliki sihir untuk terbang, Jika tidak salah para saat pertama kali aku masuk ke Akademi, Master Weisten juga menyambut dengan sihirnya itu.


"Cepatlah... Kita harus segera sampai sebelum terlambat!!" (Weisten)


Semua murid sudah duduk di Sapu Terbangnya dan bersiap untuk melayang, begitupun dengan Steph dan juga Raphel, kelihatannya Sapu Terbang tidak memerlukan banyak mana sehingga orang dengan sedikit Mana pun dapat menggunakannya, terkecuali aku yang merupakan sosok Tanpa Mana.


Aku duduk dibelakang Viona dengan canggung, inginnya aku berpegangan pada pinggulnya namun itu akan terlihat seperti perlakuan tidak sopan padanya, oleh karena itu jika aku hampir jatuh nanti maka aku hanya harus mengendalikan angin disekitar untuk menyeimbangkan tubuhku kembali, terkadang memiliki Cakra juga sangat berguna sekali.


"Aku ingin kau tetap diam dan tidak mencoba yang aneh aneh di belakang sana" (Viona)


Meski dia tidak bilang sekalipun aku tidak akan melakukannya.


"Baiklah, tenang saja aku tidak akan padamu Viona-sama" (Felix)


Aku menggunakan istilah jepang untuk menyebutnya, Viona jelas bingung dengan perkataanku barusan, akan tetapi dia tidak mencoba untuk mempermasalahkannya.


Aku juga merasa Steph masih menatapku dengan tajam, namun lebih tajam daripada sebelumnya, aku bisa merasakan niat membunuh bocor dari tubuhnya. Tetapi aku masih berpura pura untuk tidak mengetahuinya.


Dengan begini, Perjalanan kami ke kerajaan Artemia dimulai...


-


To be continue


Message :


Hai kalian pembaca The Great Hero Reborn, kalian dapat membelikan author secangkir kopi untuk agar dapat semakin semangat saat update, 'Bagaimana caranya, Thor?' caranya mudah, cukup kunjungi link disini Karya karsa.com/Felix dan kasih saya sumbangan 5.000 untuk secangkir kopi panas saat menulis.

__ADS_1


Hilangkan spasi!!!


Ingin melihat aksi menarik dari Felix dan dkk bukan? Terus ikuti TGHR ya!!! Minna ~ san


__ADS_2