My Second Life Became The Weakest Hero In Another World

My Second Life Became The Weakest Hero In Another World
Chapter 18 ~ Praktek Penguasaan Sihir


__ADS_3

Setelah kekalahanku dengan Hensel Gabriel aku tidak sadarkan diri dalam kurun waktu 2 jam lamanya. Dan saat tersadar, aku sudah tergeletak di lantai dan mulai melihat samar-samar gadis berambut pirang dengan telinga runcing miliknya.


Kenapa disaat seperti ini keberuntunganku baru muncul sih? ah sudahlah yang penting aku harus segera bangun untuk melihat apa yang sudah kulewatkan. Tetapi saat aku mencoba menggerakkan badanku, aku merasakan sakit luar biasa pada seluruh tubuhku. Ya, itu mungkin karena memar yang disebabkan oleh wali kelas Lucknut tadi.


"Jangan bergerak dulu,, sihir penyembuhanku memerlukan waktu untuk meredakan rasa sakitmu" Ujar Steph yang berada disampingku saat ini.


Sihir penyembuhan termasuk ke dalam atribut sampingan. Selain Elemen yang merupakan faktor utama dalam penggunaan sihir terdapat juga atribut sampingan yang merupakan sihir untuk melengkapi kekurangan atribut Elemen.


Sihir sampingan berupa sihir penyembuhan, sihir telekinesis, telepati, dan lain-lainnya lagi. Ambil saja contohnya seperti sihir Gravitasi yang pernah digunakan oleh Hensel.


Jika Atribut Elemen biasanya digunakan dalam penyerang, atribut sampingan malah sebaliknya. Yaitu membantu mengatasi kekuarangan dalam penyerangan, yaitu adalah pertahanan dan penguasaan.


"Bisakah kau membantuku duduk, pantatku mulai sakit" pintaku pada Steph.


Kemudian Steph membantuku duduk. Didepan mataku saat ini aku sudah melihat banyak murid yang tersebar secara acak untuk melakukan penguasaan pada sihir. Dan salah satunya adalah penciptaan Elemen.


Mereka saat ini sedang memfokuskan aliran Mana mereka dan menkorvesinya menjadi sebuah Energi untuk menghasilkan Elemen sesuai dengan atribut masing-masing.


Karena Kelas-B berisi oleh orang-orang yang tidak berbakat dalam hal sihir. Mereka harus dapat menguasai terlebih dahulu hal dasar dalam menggunakan sihir, yaitu pekonversian Mana menjadi sebuah Energi atau bisa disebut dengan penciptaan Elemen. Berbeda dengan anak dari Kelas-A yang sudah diberkati oleh bakat dalam bidang sihir.


Saat ini perhatianku terfokus dengan salah satu murid berambut hitam yang pernah membuat onar dikelas sebelumnya yaitu Raphel Sandiego.


Dia terlihat sangat kesulitan dalam memusatkan Mana miliknya. Dan disaat elemen angin sudah terkumpul ditangannnya, malah langsung meledak karena terjadi ketidakseimbangan aliran Mana miliknya.


"Sial Gagal lagi" Gumam Raphel.


Sementara itu murid lainnya sudah dapat membuat Elemen dengan mudah, dan untuk Raphel dia dikecualikan.


"Oi ... lihat bocah itu, dari tadi dia tidak dapat memfokuskan Mana miliknya ke satu titik"


"Bahkan dibandingkan dengan bocah tanpa Grimoire disana dia terlihat lebih lemah hahaha"

__ADS_1


Seluruh murid menertawakannya tetapi Raphel tidak terlalu memperhatikannya karena sedang fokus oleh pembentukan Elemen yang dilakukannya.


Aku yang sedari tadi memperhatikan celotehan murid lainnya hanya bisa mengerutkan kening. Karena mereka hanya bisa mengejek, tanpa mengetahui seberapa keras dia sudah berusaha.


Secara tidak sadar pula aku mengalirkan seluruh Cakra milikku ke seluruh tubuh sehingga proses pemulihan sihir dari Steph menjadi sangat cepat. Dan dia terkejut dengan perkembangan pesat itu.


Steph mengetahui bahwa perkembangan sihirnya bukan berasal darinya, tetapi karena ada sebuah energi besar yang mengalir dalam tubuhku. Sehingga dia menjadi sangat curiga padaku.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya.


Aku yang sedari tadi terlarut dalam emosiku kemudian tersadar karena suara dari Steph.


"Ah .... Tentu saja,, kurasa ini berkat sihirmu. Tapi ngomong-ngomong, kenapa kau tidak ikut praktek sihir?"


"Itu karena wali kelas kita menyuruhku untuk menggunakan Mana milikku ... untuk menyembuhkanmu. Jadi aku terpaksa harus menunda praktekku minggu depan karenamu" Jawabnya dengan Tatapan dingin dan juga menusuk.


Aku yang melihatnya hanya bisa tersenyum masam. " Maaf,, lain kali aku akan mencoba untuk tidak merepotkanmu lagi"


"Baguslah kalau begitu, lagipula aku tidak ingin terus menerus berurusan dengan orang yang sangat lemah sepertimu"


"Baiklah,, kalian lanjutkan sendiri latihannya. Karena Master Weisten memanggilku untuk melakukan sesuatu yang penting. Aku akan meninggalkan kalian sebentar dan akan kembali secepatnya!!"


Setelah mengatakan itu Hensel segera berjalan ruangan untuk menuju ke lantai ketiga Akademi ini, yaitu dimana Ruangan Kepala Akademi berada.


Setelah kepergiannya suasana tiba-tiba menjadi sangat panas. Dan murid-murid yang tadinya mengejek Raphel mulai mendekatinya. Sepertinya aku mulai mengetahui motif mereka, yaitu ingin menindas Raphel dan itu sudah tidak salah lagi.


"Hei pembuat onar,, apa kau tidak lelah dengan usahamu yang sia-sia itu?!"


Murid yang berkata tadi adalah Leon, dia merupakan bangsawan dengan satu Tingkatan yang lebih tinggi dariku yaitu Viscount. Dia memiliki ciri-ciri rambut biru yang disisir kekanan. Dia juga ditemani oleh kedua bawahannya yang setia yaitu Vino dan Rezi.


Mendengar perkataan kasar dari Leon, Raphel memperhentikan kegiatannya.

__ADS_1


Dia terlihat sangat marah sekali ketika mendengar perkataan Leon sebelumnya. Itu bisa dilihat dari tangan Raphel yang mengepal dan urat yang muncul di keningnya.


"Tarik ucapanmu tadi, atau kau ingin aku berbuat kasar padamu" Ucap Raphel dengan nada yang sedikit berat.


" Ohh menarik,, kalau begitu apa kita harus melakukan duel disini!!" Leon berkata dengan sangat keras sehingga seluruh orang yang ada di aula dapat mendengarnya.


Kini perhatian seluruh orang didalam aula tertuju kepada Leon beserta Geng miliknya. Sementara Raphel masih merasa sangat kesal dengan ejekan dari Leon tadi.


"Baiklah aku terima, jika kau kalah aku ingin kau menarik ucapanmu tadi" Ujar Raphel yang masih menahan emosinya.


"Sepakat"


Lalu keduanya mengambil jarak sekitar 10 meter dengan Grimoire yang mereka pegang salah satu tangan mereka. Murid lainnya saat ini sedang mengelilingi mereka layaknya sebuah lingkaran dan bertaruh untuk siapa yang nantinya akan menjadi pemenangnya.


Setelah itu salah satu murid memberi aba-aba untuk mereka berdua untuk memulai duelnya. Dan duelpun terjadi.


Dengan cepat Leon membuka Grimoire miliknya dan merapalkan salah satu sihirnya untuk menyerang Raphel.


"Pruso de Fabert"


Beberapa bola api muncul disekitarnya dan langsug meluncur dengan cepat ke arah Raphel.


Raphel yang melihatnya segera membuka Grimoire miliknya untuk menangkis serangan itu. Dia membolak-balikkan halaman Grimoire miliknya untuk menemukan sihir tipe bertahan yang cocok.


"Ini dia ... Hormino Valiance"


Kemudian sebuah perisai bewarna hijau muncul dihadapan Raphel dan menangkis seluruh serangan bola api dari Leon.


Blar!! Blar!! Blar!!


Karena Raphel belum bisa menguasai penguasaan sihir elemen. Jadinya saat ini dia belum dapat melakukan serangan balik dan hanya bisa bertahan saja menggunakan sihir sampingan. Aku tidak tahu sampai kapan dia akan terus bertahan, tetapi jika Mananya habis maka tamatlah sudah riwayatnya.

__ADS_1


-


To be continue.


__ADS_2