
Swussh!! Blar!! Swuss!! Blar!!
Leon terus menerus menyerangku dengan bola apinya itu. Tetapi aku berhasil menghindarinya dengan mudah. Tentu saja ini berkat kemampuan bela diri yang diajari oleh paman kevin, sehingga aku dapat menutupi kekuranganku dalam bidang sihir.
"Apa kau cuma bisa melempar api doang?! payah sekali" Ledekku sambil melompat kesana kesini menghindari serangan Leon.
"Berisik!! Orang Tanpa Grimoire sepertimu tidak seharusnya berkata sombong seperti itu ... Domino de vanire!!"
Bwussh!!
Sebuah bola api berukuran raksasa melesat dengan cepat ke arahku. Tentu saja jika aku menghindarinya aku akan tetap terkena karena ukurannya yang terlalu besar itu. Mau tidak mau aku harus menangkisnya, atau akan menerima dampak yang lebih fatal lagi.
"Sialan!"
Aku menarik katana millikku dan mencoba menahan bola api besar itu, sebelumnya aku juga sempat mengaliri pedangku dengan Cakra sehingga tidak akan cepat melebur dengan panas apinya.
Jika kalian bingung kenapa aku tidak menggunakan Cakra untuk membuat Elemen? karena jika aku melakukan hal itu, mereka semua pasti akan mencurigaiku bahkan para guru nantinya juga tidak akan diam saat melihatnya.
Kau tahukan? aku adalah seorang yang Tanpa Mana. Jadi jika aku menciptakan sebuah Element dengan Cakra. Maka akan menimbulkan kehebohan di seluruh Akademi ini. Dan bagi orang yang tidak ingin terlibat masalah sepertiku, aku sangat tidak menginginkan hal seperti itu
Swushh!!
Bola Api dari Leon menghilang saat aku menambah jumlah Cakra dalam pedangku. Yah, meskipun tanganku mengalami luka bakar sih. Tetapi karena Cakra sangat bertolak belakang dengan Mana. Jadi aku dapat melenyapkan sihir apapun selama itu masih berasal dari Mana. Sungguh kemampuan yang sangat membantu sama sekali.
"T-tidak mungkin, sihir Tingkat lanjutanku lenyap begitu saja?!"
Seluru orang termasuk Leon dan Steph terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini. Bagaimana mungkin Sihir tingkat lanjut lenyap begitu saja tanpa ada perlawanan apapun darinya? terlebih lagi dia tidak dapat menggunakan sihir kan.
Lalu kenapa dia bisa melenyapkannya begitu mudahnya?
"Ada apa? wajahmu pucat sekali, apa Mana milikmu sudah hampir habis karena serangan tadi?"
Aku berjalan mendekat ke arah Leon sambil membawa sebilah katana milikku yang tajam. Saat ini wajah Leon sangatlah pucat, sepertinya sebentar lagi dia sudah mencapai batasnya karena sudah terlalu banyak menggunakan Mana saat bertarung dengan Raphel dan Steph sebelumnya.
"Jangan Mendekat !! ... Domino de Vanire!!"
Bwussh!!
Sebuah bola api besar kembali melesat ke arahku, tetapi kali ini aku sudah melapisi pedangku dengan banyak sekali Cakra. Lalu saat aku mengayunkan pedangku, bola api besar sebelumnya seketika langsung lenyap, dan itu membuat para murid lainnya lagi-lagi tidak percaya dengan hal yang kulakukan. Kemampuan melenyapkan sihir? apa ada seseorang yang dapat melakukan hal seperti itu. Hanya ada satu dipikiran mereka saat ini, Mustahil!!
Brukk!!
__ADS_1
Leon terjatuh lemas setelah mengerahkan seluruh Mananya di serangan tadi. Kini dia bahkan tidak dapat meraih Grimoire yang berada didekatnya. Tubuhnya tidak dapat bergerak sama sekali layaknya orang yang sedang mengalami kelumpuhan.
Disaat aku sudah didekatnya, aku menatap wajahnya dari atas dengan senyum mengejekku.
"Apa ini saja kekuatanmu?! dasar lemah, dimana sikap sombongmu tadi? bahkan untuk melawan anak Tanpa Grimoire sepertiku kau mengerahkan seluruh Manamu hahahaaha!!"
"I-ini masih belum berakhir, k-kau sudah salah karena berurusan denganku"
Setelah mengatakan itu, Leon pingsan karena sudah kekeringan Mana. Sudah dua orang yang pingsan di aula ini, yaitu Raphel dan juga Leon. Sementara Steph hanya terduduk lemas karena masih memiliki sedikit Mana didalam tubuhnya.
Begitupun denganku, karena lukaku yang disebabkan oleh Hensel belum pulih sepenuhnya. Aku langsung terjatuh ke lantai karena lemas dan lelah. Tentu saja kan, sebelumnya aku sudah melawan Hensel dan sekarang harus meladeni sikap sombong dari Leon. Sepertinya kedepannya nanti badanku akan segera hancur karena terlalu memaksakan diri.
Aku mulai menutup mata dan kehilangan kesadaranku karena saking lelahnya. Sementara itu, didepan Aula terdapat Hensel yang dengan santainya bersandar di pintu Aula.
"Anak itu, sungguh menarik"
______________><______________
"Aduduh ... pelan-pelan dong, apa begini caramu merawat orang sakit?!"
"Berisik!! kau saja yang terlalu banyak bergerak bodoh!!"
Saat ini aku berada di UKS akademi sambil ditemani oleh perempuan Elf yang sangat cantik tapi mempunyai mulut setajam silet. Ya, dia adalah Steph.
Sepuluh menit sebelumnya saat kami semua masih berada di aula dalam kondisi pingsan. Hensel datang dan menyuruh Steph untuk merawatku beserta dengan Raphel dan juga Leon.
Karena dokter di Akademi masih menjalankan sebuah misi khusus yang diberikan oleh sang Raja. Mau tidak mau, Steph harus menerima permintaan dari Hensel.
"Ngomong-ngomong dimana bocah pembuat onar dan orang idiot sebelumnya?!"
"Mereka berdua sudah sadar terlebih dahulu dibandingkan dirimu, mungkin mereka langsung keluar saat sudah sembuh"
Suasana menjadi sangat hening dan canggung. Bahkan diriku ini tidak dapat menemukan topik pembicaraan yang tepat untuk para gadis. Kenapa keberuntunganku ini malah membuatku sengsara sih.
"A-ah ... ngomong-ngomong, apa itu benar jika kau terlahir dengan memiliki kapasitas Mana yang sedikit dibandingkan dengan Elf lainnya?!" Tanyaku dengan sedikit canggung.
Saat aku melemparkan pertanyaan seperti itu, raut wajah Steph langsung menjadi sangat murung. Sial, apa aku seharusnya menanyakan apa yang seharusnya tidak boleh ditanyakan.
"Kalau kau tidak mau kau boleh un..."
"Benar, aku memang terlahir dengan sedikit Mana dibandingkan dengan ras Elf lainnya. Kau pasti akan tertawa kan? bagaimana mungkin ras Elf yang diberkahi dengan kapasitas Mana yang tinggi, malah menjadi cacat sepertiku."
__ADS_1
Raut wajah Steph menjadi lebih murung lagi, terlihat juga beberapa tetesan mata terjatuh dan hanya meninggalkan kesedihan belaka.
"Maaf sepertinya aku..."
"Aku tidak akan tertawa,, karena setiap makhluk hidup pasti memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing kan? contohnya saja seperti aku yang terlahir tanpa Mana. Aku masih mencoba bertambah kuat dengan cara lainnya.
Meski orang lain beberapa kali mengejekmu, jangan pedulikan mereka. Jadilah dirimu sendiri, dan kelak suatu hari nanti buktikan pada mereka bahwa kau lebih kuat daripada mereka" Kemudian aku mengusap air mata yang menetes diwajahnya dengan jariku.
"Jadi, janganlah menangis dan tersenyumlah"
Kata-kata terakhir dariku membuat wajah Steph sangat memerah. Bahkan saking merahnya melebihi buah delima yang dipetik saat musim panen. Aku yang melihatnya langsung merasa lega karena dia sudah tidak murung seperti yang sebelumnya.
Disaat yang bersamaan, pintu UKS terbuka. dan menampilkan sosok pria dewasa dengan rambut yang acak-acakan beserta dengan anak berambut hitam pembuat onar disampingnya. Ya, mereka adalah Hensel dan juga Raphel.
"Apa kau yang bernama Felix?! perkenalkan namaku adalah Raphel Sandiego. Sebelumnya terimakasih karena sudah menolongku dan tolong terimalah hadiah dariku ini" ucap Raphel sambil memberiku sebuah kalung dengan motif pedang.
"Apa ini?" Tanyaku dengan heran.
"Itu adalah kalung persahabatan dan sekarang kita adalah seorang sahabat ... hehehe"
"Tapi yang membantumu adalah ... Kyaa!!"
Sebelum aku menyelesaikan kalimatku Steph langsung menginjak kakiku dengan sangat keras hingga aku berteriak layaknya perempuan
"Apa kau mau mengatakan sesuatu?"
"A-ah tidak, memang aku yang sudah menolongmu ... hahaha"
"Ehm ... maafkan aku telah mengganggu persahabatan baru yang kalian dapatkan. Tetapi aku ingin mengumumkan sesuatu kepada kalian bertiga ... tetapi sebelum itu ikuti aku untuk pergi ke halaman belakang Akademi"
Setelah mengatakan itu, Hensel keluar dari UKS dan menyuruh kami bertiga untuk mengikutinya. Awalnya kami hanya menatap satu sama lain dengan heran, dan kemudian kami meumutuskan untuk mengikutinya.
...
Selang beberapa menit akhirnya telah sampai di halaman belakang akademi. disini juga sudah banyak siswa-siswi dari kelasku dan kelas lain yang sudah berkumpul sambil memandangi dua bangunan didepan mereka, sepertinya kedua bangunan itu mirip sebuah penginapan yang saling berseberangan.
"Jangan-jangan..."
"Ya itu benar, mulai sekarang kalian tidak diijinkan untuk pulang dan harus tinggal di Asrama ini hingga kalian semua lulus"
"Ehhhhh!!!" Teriak seluruh murid akademi.
__ADS_1
-
To be continue.