My Second Life Became The Weakest Hero In Another World

My Second Life Became The Weakest Hero In Another World
Chapter 27 ~ Komite Akademi


__ADS_3

Setelah mendapatkan buku Konversi Element, aku menjadi sangat senang dan teringin sekali untuk langsung membacanya. Tetapi karena suatu kejadian yang tidak terduga menimpaku, aku harus terpaksa menundanya hingga pelajaran di Akademi selesai.


"Jadi intinya ... aku hanya harus menkorversi dua Cakra secara bersamaan dengan masing-masing berbeda element, dan menyatukannya untuk membentuk Element baru?!"


Saat ini aku berada didalam kamar Asramaku, aku tiduran sambil membaca buku yang sebelumnya kupinjam dari perpustakaan. Sebelum itu aku juga tidak lupa mengunci pintu kamarku agar tidak ada pengganggu yang dapat mengacaukan konsentrasiku, kalian sudah tahu siapa orangnya kan?!


"Baiklah mari kita mencobanya"


Aku bangkit dari ranjang, dan mulai mengalirkan Cakra ke kedua lenganku dan merubahnya menjadi dua Element yang berbeda. Tangan kiri Element air, sementara untuk tangan kanan berupa Element Angin.


Meski kelihatannya sangat mudah ketika membayangkannya, kenyataannya sangat berbanding balik dari yang kupikirkan tadi.


merubah Cakra dengan dua Element sangatlah sulit sekali dan harus menggunakan konsentrasi yang tinggi untuk dapat berhasil.


Beberapa kali aku mengalami kegagalan dan langsung terjatuh lemas karena masih belum dapat mengontrol Cakra dengan baik. Tetapi aku tidak menyerah, setelah istirahat, aku kembali mencobanya sampai berhasil, meski harus mengalami kegagalan yang sangat banyak.


"Gagal lagi!!"


"Sial Gagal Lagi!"


"Gagal!! Gagal!! Gagall!!"


...


Setengah jam sudah berlalu dan aku masih belum dapat menguasai Tingkatan Element lanjut yang harusnya dapat kukuasai dengan mudah. Aku tergeletak di lantai dengan nafas terengah-engah karena telah menggunakan jumlah Cakra yang banyak hanya karena percobaan yang berakhir sia-sia.


"Hah ... hah ... hah, s-sepertinya tidak mungkin untuk melanjutkannya dalam kondisiku yang seperti ini"


Perlahan aku memejamkan mataku, dan kesadaranku mulai menghilang karena sudah terlalu lelah malam ini.


Tidak kusangka-sangka bahwa untuk menguasai Element tingkat lanjut sangatlah sulit, apa sudah ada orang yang dapat melakukannya di dunia ini? Jika ada, kuharap dia adalah orang yang baik.


________________><________________

__ADS_1


"Oi ... Felix, apa kau tahu Tentang Marria Jennita?!"


"Hmm ... sepertinya aku tidak asing dengan nama itu, tapi dimana ya?!"


"Bodoh!! kau lelaki tetapi tidak tahu tentang dia? huff ~ baiklah akan kujelaskan. Dia itu adalah bintang idola bagi kaum pria di Akademi ini, kecantikannya sangat luar biasa. Bukan hanya itu saja, sifatnya yang sangat dingin dan cuek membuat para pria terutama bangsawan menjadi sangat tertarik untuk menjadikan selirnya"


"Apa hubungannya denganku?! aku tidak ingin masuk kedalam masalah merepotkan seperti mengejar cewek cewek atau ikut-ikutan dengan tindakan bodoh para lelaki itu"


"Oi ... setidaknya katakanlah waktu aku tidak ada disini!"


Sekarang aku dan Raphel sedang berada di kantin sambil duduk menikmati roti kering yang sebelumnya pernah aku makan. Meski sangat murah, ternyata rasanya tidak terlalu buruk sehingga membuatku ketagihan. Oleh karena itu, mulai dari detik ini aku menetapkan untuk memakan roti kering waktu istirahat tiba.


"Ngomong-ngomong dimana Steph?!"


"Hmm ~ Entahlah ... kurasa dia ingin bergabung dengan Komite Akademi ini"


"Uhuk!! ... Uhuk!! beneran?!"


Aku tersedak saat mendengar kata-kata dari Raphel. Pasalnya Steph adalah orang yang bisa dibilang tidak berbakat dalam hal sihir. Dan untuk memasuki Komite Akademi, diharuskan memiliki Kapasitas Mana yang besar agar dapat menangani masalah yang terjadi diantara para murid lainnya. Peran Komite Akademi sama seperti halnya dengan Osis di sekolahku dulu, hanya saja ini versi isekainya.


...


Tidak lama kemudian bel masuk telah berbunyi menandakan pelajaran berikutnya akan segera dimulai.


"Kita juga harus kembali agar tidak membuat Guru Hensel marah"


"Ugh ... kau benar, aku tidak ingin dihukum untuk ketiga kalinya" balasku sambil membayangkan hukuman yang diberikan Hensel padaku dulu.


Lalu kami berdua meninggalkan kantin dan segera menuju ke Kelas kami. Begitu melewati lorong-lorong aku melihat seorang pria berambut pirang dengan deker merah di lengannya berjalan sombong sambil ditemani oleh keempat wanita yang juga mengenakan deker yang sama dilengannya.


"Oi ... Pembuat Onar,, siapa mereka?!"


"M-mereka K-komite Akademi!! dan kau tahu apa yang lebih buruk lagi kawan? sekarang kita akan dihukum oleh mereka karena terlambat masuk ke kelas!!"

__ADS_1


Aku tidak mendengarkan perkataan dari Raphel karena masih terlalu fokus melototi orang yang disebut sebagai Komite Akademi itu. Seorang yang ingin membikin harem itu sepertinya adalah salah satu tipe orang yang sangat tidak kusukai. Pasalnya dia terlihat sangat sombong, dan memandang rendah setiap orang yang ditemuinya.


Hingga mereka semua berhenti tepat dihadapan kami, sambil memasang wajah sombongnya.


"Oh ini sungguh Tidak bagus ... kalian seharusnya tahukan jika ada murid yang telat masuk kelas, maka kami akan bertanggung jawab untuk mengurusnya?" Tanya si pria sombong itu


"Ehh!! kurasa aku tidak ingat ada peraturan seperti itu, apakah seorang dari Komite Akademi lupa untuk mengumumkannya pada seluruh murid di akademi ini?! kurasa tidak mungkin ya, atau ... ada maksud lain dari kalian semua?!" Balasku dengan wajah mengejek.


"Oi Felix kau ingin mati ya?! mereka itu Komite Akademi lo" Bisik Raphel padaku, tetapi aku tidak mendengarkannya.


"Hahaha ... kau anak yang cerdas rupanya, tetapi apa yang bisa kau lakukan untuk kami?! sementara kami masih dapat melakukan semau kami kepada kalian semua" Jawabnya dengan angkuh.


"Tentu saja mudah!! jika kalian bertindak semau kalian, aku juga akan meladeni kalian dengan segenap kekuatanku. Lagipula ini juga tidak melanggar aturan kan?! karena tidak ada yang membuatnya. Jadi aku akan terbebas dari hukum dengan mudah juga"


Keempat wanita yang ada dibelakang pria itu mengerutkan dahinya, sepertinya mereka kesal dengan jawabanku yang dapat memukul telak martabat mereka semua. Tetapi dilain sisi aku masih saja bersikap tenang layaknya tidak terjadi apa-apa.


"Ketua kita harus memberi mereka pe-"


"Baiklah untuk sekarang ini aku akan membebaskan kalian berdua, Tetapi jika lain kali kita bertemu lagi, akan kupastikan kau tidak dapat membuka mulut busukmu itu!!" Potong si rambut pirang sombong sebelum salah satu wanita yang ada dibelakangnya menyelesaikan kalimatnya.


"Terimakasih banyak emm-"


"Namaku adalah Marvis Sanches!! dan kuharap suatu hari nanti kau mengingat nama orang yang akan menghancurkanmu"


Lalu mereka berjalan melewatiku dengan tatapan sedingin es Terutama bagi keempat gadis yang ada dibelakangnya, mereka menatapku dengan menusuk sementara aku menjulurkan lidahku untuk meledek mereka.


"Huff ~ yang tadi itu bahaya sekali kawan, apa kau sudah gila?! meskipun kau sudah dapat menguasai sihir dengan sempurna. Tetapi tetap saja kau tidak harus mencari masalah dengan orang lain"


"Aku mengerti itu ... lagipula kita sudah lolos dari hukuman kan? selain itu kita juga harus memperingatkan Steph untuk tidak masuk ke dalam Komite Akademi"


"Ya ya ya ... aku senang kalau kita dapat lolos dari masalah ini. Tetapi kau tidak melupakan Guru Hensel kan?!"


"Sialan!! aku baru ingat"

__ADS_1


_


To be continue


__ADS_2