My Second Life Became The Weakest Hero In Another World

My Second Life Became The Weakest Hero In Another World
Chapter 12 ~ Tanpa Mana


__ADS_3

Setelah dinyatakan lulu dari Akademi Sihir Mervest. Para murid baru dibolehkan untuk pulang terlebih dahulu untuk bersiap menghadapi pengajaran pertama besok pagi. Mereka akan ke kelas yang sudah dibagikan, dan akan dipertemukan oleh wali kelas nantinya. Aku berharap kalau wali kelasnya adalah Guru cantik pirang sebelumnya sih.


Sekarang aku sudah berada di perpustakaan Mansion milikku sambil membaca sebuah buku yang bernama "Kebangkitan Mana". Meski tidak sebesar perpustakaan di Akademi Mervest. Tetapi buku yang ada di Mansion milikku juga tidak kalah banyak, dan sepertinya kedua orang tuaku dulu sangat senang dengan membaca.


Aku penasaran dengan diriku yang Terlahir tanpa Mana, jadi aku memutuskan untuk mencari informasi tentang asal muasal Mana didunia ini. Aku terus membolak-balikkan halaman buku tersebut untuk menemukan sebuah informasi yang dapat membangkitkan Mana didalam diriku. Tetapi tidak menemukan petunjuk apapun.


Di buku itu hanya dijelaskan tentang asal usul Mana di dunia ini.


Yaitu berawal dari seorang Kakek pertapa yang menemukan buah Lack di sebuah pohon suci di bukit Quirk. Karena kakek itu merasa sangat lapar dia nekat memanjat pohon yang tinggi tersebut untuk memakan buahnya, disaat dia sudah menghabiskannya. Dia merasakan ada sebuah energi kehidupan yang mengalir didalam tubuhnya.


Oleh karena itu kakek itu mulai sihir dan semacamnya. Dan kemudian ia berniat untuk meneruskannya kepada orang lain diseluruh dunia ini, dia mencari beberapa murid dan menyuruhnya memakan buah Lack tersebut.


Awalnya mereka juga terkejut saat mengalami hal yang sama dengan sang kakek pertapa. Dan dari situlah Kakek itu mewariskan ilmunya yang bernama "Sihir" pada murid-muridnya dan berlangsung hingga sekarang.


"Sungguh cerita yang menarik ... Tetapi bukan ini yang kucari"


Kemudian aku menghela nafas panjang dan menutup buku itu. Aku memasukkan kembali buku tersebut ke dalam Rak dan segera keluar dari perpustakaan.


Karena letak perpustakaanku berada di lantai satu, aku berpikir akan langsung masuk ke kamarku yang berada di kamarku untuk istirahat sejenak. Dan saat aku ingin menaiki tangga, Reni memanggilku dari belakang. Sehingga aku memberhentikan langkahku.


"Ada apa Reni?" Tanyaku dengan nada lesu.


"Bagaimana dengan perkembangan anda di seleksi Akademi sihir Tuan muda?" Tanya Reni dengan antusias.


"Tidak begitu buruk, setidaknya aku diterima disana. Hanya saja ... Aku sama sekali tidak memiliki Mana. Jadi mungkin aku tidak akan pernah bisa menggunakan sihir sama sekali" Aku kembali menjawabnya dengan lesu, dan berniat untuk melanjutkan langkahku menaiki tangga. Tetapi lagi-lagi suara Reni membuatku berhenti.

__ADS_1


"Tuan muda, akan kuberi satu rahasia tentangku"


Mendengar perkataan Reni aku menjadi sangat penasaran dan memasang wajah sangat serius. Mungkin karena aku berpikir bahwa rahasianya itu sangatlah penting baginya, dan aku ingin menghormatinya.


"Pertama tama, aku juga dilahirkan Tanpa Mana..."


Sontak aku terkejut dengan hal itu. Bukannya terlahir Tanpa Mana hanya pernah terjadi satu kali didunia ini. Dan aku berpikir bahwa akulah orangnya, ternyata bukan. Melainkan orang itu adalah Reni. Lantas bagaimana caranya dia menggunakan sihir saat itu?


"Kedua, aku yakin bahwa anda sangat kebingungan saat aku menggunakan sihir pada hari itu. Jadi aku akan menjelaskannya, aku tidak memiliki Mana tetapi menggunakan Cakra. Cakra juga sama seperti halnya dengan Mana. Tetapi energi yang ditimbulkan lebih kuat lagi karena berasal dari Alam.


Dan perlu anda ketahui, mengenai Cakra ini hanya saya dan kakek saya seorang saja yang mengetahuinya, jadi berjanjilah agar tidak menyebarkannya ke orang lain" Reni menatapku dengan tatapan serius.


Melihat tatapannya itu aku hanya bisa menelan ludah saja dan berusaha untuk mencerna semua penjelasannya tadi.


"Baiklah aku berjanji, bisa kau teruskan?"


"Hanya saja?"


"Anda memiliki Kapasitas Cakra yang besar dibandingkan denganku"


Lagi-lagi aku terkekut dibuatnya, apakah ini salah satu keberuntunganku? atau sebuah kesialan bagiku? aku tidak mengetahui hal tersebut. Yang pasti, aku saat ini masih dapat menggunakan sihir seperti yang lainnya dengan menggunakan Cakra dan bukan Mana.


Karena Cakra memiliki kualitas yang lebih bagus dibandingkan dengan Mana. Mungkin saja sihirku menjadi lebih kuat dibandingkan yang lainnya. Sungguh keberuntungan mutlak yang sesungguhnya.


"Tetapi Tuan muda, anda harus tahu ini ... Cakra merupakan kebalikan dari Mana. yang Artinya mereka itu saling menolak satu sama lain. Jadi intinya anda tetap tidak akan dapat menggunakan sihir sama sekali"

__ADS_1


Mendengar kata-kata lanjutan dari Reni, wajahku yang tadinya sudah sangat senang langsung berubah drastis menjadi sangat murung. Jadi sampai kapanpun aku akan tetap tidak bisa menguasai sihir ya, sungguh menyebalkan. Tidak ada kerennya sama sekali.


"Jadi bagaimana caraku untuk melindungi diri sendiri jika tidak bisa menggunakan Sihir? apa harus mengandalkan kemampuan bela diriku? sepertinya kurang efektif jika digunakan dalam melawan penyihir"


Reni hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku itu. Kemudian ia mengeluarkan sebuah bola air di telapak tangannya. Meski ini sudah kedua kalinya aku melihatnya. Tetap saja aku tidak bisa berhenti dibuat kagum oleh Sihir itu. Tunggu, kalau itu bukan sihir terus apa?


"Aku tahu yang anda pikirkan Tuan muda, ini adalah Bola air yang kuciptakan dengan memanfaatkan alam. Kita sebagai pengguna Cakra tidak dapat menciptakan suatu Elemen seperti layaknya sihir. Tetapi kita dapat memanipulasi Elemen yang ada disekitar kita.


Contohnya adalah Bola air ini, aku menciptakannya dengan cara mengumpulkan seluruh air yang ada disekitar kita. mulai dari air yang ada ditanah halaman, maupun yang ada di halaman Mansion ini"


Aku menjadi semangat kembali setelah mendengarkan lanjutan penjelasan dari Reni. Mungkin saja kan aku bisa menguasai cara yang seperti itu selain sihir. Dengan Cakra yang besar didalam diriku ini, aku akan mencoba menutupi kekuranganku dalam bidang sihir.


Terlebih lagi, aku tidak perlua khawatir jika kehabisan Cakra. Karena Cakra tersebar secara luas di Alam, dan jumlahnya tidak terbatas. Jadi jika cakraku habis, aku masih bisa mengambil Cakra dari alam. Sungguh praktis sekali hahaha.


Karena penasaran, aku kembali bertanya kepada Reni. "Apakah aku bisa menjadi sepertimu Reni?"


Melihatku yang sangat antusias, Reni melenyapkan bola air yang ada ditangannya dan kemudian mengelus kepalaku.


"Tentu saja Tuan mudaku yang manis, untuk itu aku akan memberimu ini..."


Lalu Reni mengeluarkan suatu buku dibalik gaun Maid miliknya dan memberikannya kepadaku. Aku pun menerimanya, dan membaca judul buku tersebut.


'Element Drive'


Ya, buku itu berjudul Element Drive. Aku tidak tahu artinya akan tetapi namanya sangatlah keren. Mungkin aku akan membacanya nanti.

__ADS_1


-


To be continue


__ADS_2