
Sama seperti sebelumnya aku berangkat melalui jalan yang pernah dilalui oleh Rena dan Reni kepadaku. Meski harus beberapa kali lupa harus memilih jalur saaat di persimpangan kota. Tetapi para warga kota yang baik selalu membantuku untuk menunjukkan arah jalan yang benar.
Entah kenapa saat kejadian dengan Daniel dan Clara dulu. Warga kota menjadi sangat baik padaku, Tidak. Tetapi menjadi terlalu baik padaku.
Mereka selalu tersenyum dan menyapaku saat aku berjalan melewati kota saat berbelanja maupun berangkat menuju ke Akademi sihir.
Sepertinya aku sudah merubah pandangan mereka semua ya hahaha.
Apakah dengan ini aku sudah seperti tokoh utama di anime-anime isekai yang dulu pernah kutonton?
Sepertinya tidak, karena aku hanyalah seorang yang sial dan tidak sengaja terpilih karena Gacha dari para dewa. Meskipun begitu, aku masih berusaha keras untuk menikmati kehidupan keduaku ini. Bahkan aku sangat berterimakasih kepada Dewa karena masih memberi kesempatan padaku untuk hidup lagi. Meskipun didunia lain sih.
Saat ini aku sudah berada tepat di depan Akademi Sihir Mervest yang merupakan satu-satunya sekolah sihir di Kerajaan ini. Aku menatap dengan bangga bangunan berwarna putih didepanku itu, bukan karena alasan lain hanya saja aku merasa lebih keren seperti tokoh utama di anime isekai.
Banyak murid yang berlalu lalang denganku sambil memandang aneh diriku. Tetapi aku menghiraukan mereka semua, dan masih tetap memandang bangga diriku sampai beberapa menit kedepan.
Sampai menit-menit terakhir hingga sedikit lagi bel masuk Akademi masuk, aku baru memasuki bangunan itu dan berjalan menelusuri lorong untuk mencari Nama kelasku.
Bicara soal kelas, kelasku adalah Kelas-B Nomor 6. Di akademi ini semua kelas dibagi menjadi beberapa Nomor.
Kelas-B dibagi menjadi 6 Nomor sedangkan Kelas-A hanya mendapat 4 Nomor saja. Dan secara kebetulan aku masuk ke Kelas tersebut karena memang awalnya aku adalah orang yang terlemah diantara yang terlemah. Semakin rendah nomor kelas yang didapat, semakin tinggi pula kapasitas Mana para murid.
'Yah, lagipula aku adalah yang terlemah sehingga aku mendapat Kelas dengan nomor terakhir.'
Sistem tersebut menimbulkan diskriminisasi di Akademi ini. Dan jika ada murid dari kelas bernomor lebih tinggi dapat berkembang, maka dia berhak untuk pindah ke kelas yang memiliki Nomor lebih Rendah.
...
Selang beberapa menit aku sudah sampai didepan Kelas yang diatasnya terdapat plat Tulisan Kelas-B No.6
__ADS_1
Aku menahan nafas dalam-dalam dan kemudian mengeluarkannya kembali agar aku tidak merasa gugup. Setelah itu aku memantapkan Tekad dan Langkahku untuk membuka pintu kelasku ini.
"Ini adalah awal dimana aku akan menjadi sebuah legenda ... hahaha"
Kemudian aku membuka pintu Kelas dengan senyuman merekah diwajahku. Aku berharap bahwa Teman-teman baruku akan menyambutku dengan bangga seperti layaknya di anime yang kutonton.
"Yo, aku sudah datang ... dimana orang yang pertama kali menyambutku?"
Tetapi ekspetasiku ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya. Semua orang menatapku layaknya orang aneh. Dan lagi, sepertinya seluruh murid di kelas ini menjaga jarak satu sama lain. Sehingga akan sangat sulit untuk berakraban dengan mereka.
Aku yang sedari tadi masih berdiri didepan kelas dengan senyum merekah diwajahku langsung kembali seperti biasanya. Tidak ada ekspresi sama sekali, hal ini kulakukan untuk menutupi rasa maluku. Yah, meski kejadian ini sudah terukir jelas di ingatan mereka sih.
Lalu aku mulai melangkahkan masuk kedalam kelas untuk mencari sebuah Tempat duduk. Inginnya sih aku ingin duduk di bangku paling belakang didekat jendela seperti anime-anime gitu. Tetapi karena sudah ada yang menempati aku memutuskan untuk mencari bangku lainnya.
Sialnya seluruh bangku sudah ada yang menempati, dan hanya ada satu bangku yang tersisa yaitu bangku yang ada didepan sendiri dan berhadapan langsung dengan Meja guru. Terlebih lagi disamping bangku itu adalah seorang Gadis Elf yang sebelumnya pernah menghinaku. Kalau tidak salah namanya adalah Stephanie Wesline.
Aku hanya memasang senyum kecut saat dia menatapku dengan tajam.
Aku segera duduk dibangku tersebut dan meletakkan Tas beserta Katana milikku disamping meja. Tunggu, sepertinya ada yang aneh dengan kelas ini. Bukannya sebelumnya bel sudah berbunyi saat aku masuk ke kelas? tetapi dimana Wali kelasnya? jangan bilang kalau dia akan terlambat.
Kami semua hanya menunggu dalam diam. Semua murid yang ada dikelas ini tidak ada yang mengeluarkan sepatah apapun. Apakah didunia ini menganut tinggi sistem gengsi? sepertinya bukan.
Hingga seorang pria berambut acak-acakan dan memakai jubah hitam dengan beberapa buku yang dibawanya memasuki ruangan ini. Biar kutebak, jangan bilang kalau wali kelasnya adalah dia?
Dengan penampilan acak-acakan seperti orang yang baru bangun tidur, dan mengenakan syal di lehernya. Apa benar pak Weisten memperkejakannya menjadi Guru di Akademi ini? yah, meskipun begitu aku tetap tidak boleh menilai orang dari luarnya. Soalnya dia adalah guruku, Jadi bisa dibilang pengalaman dan pengetahuannya leih banyak dia dibandingkan denganku.
...
Lalu seseorang itu berdiri tepat di depan seluruh murid dan meletakkan bukunya di meja Guru yang berada disampingnya.
__ADS_1
"Pertama-tama perkenalkan, namaku adalah Hensel Gabriel. Aku yang akan menjadi Wali Kelas bagi sampah seperti kalian ini. Untuk pertemuan pertama ini aku akan menjelaskan tentang..."
Gubrak!!
Sebelum Hensel menyelesaikan kalimatnya. Seorang murid langsung berdiri dengan mendobrak meja dengan sangat keras. Perhatian kami semua langsung tertuju ke murid tersebut. Sepertinya aku pernah melihat wajahnya saat di Ujian pertama. Hanya saja aku lupa dengan namanya.
"Sampah? sampah katamu!!" Murid berambut hitam yang bernama Raphel sandiego menatap Hensel dengan tatapan tajam nan menusuk.
"Benar, apa ada masalah dengan itu anak muda?! kalian itu hanyalah para sampah yang tidak berguna. Oleh karena itu aku disini untuk menjadikan kalian sedikit berguna bahkan jika itu untuk hidup kalian sendiri"
Mendengar jawaban santai dari Hensel. Raphel menjadi semakin naik pitan. Sementara murid lainnya hanya memperhatikannya seperti orang bodoh, tetapi menurutku tindakannya itu memanglah benar.
Kami tahu bahwa kami ini sampah, oleh karena itu kami tidak ingin dipanggil sampah oleh orang lain. Ingatlah jika sampah didaur ulang, mereka dapat menjadi barang yang lebih berkualitas lagi begitulah menurutnya.
Karena tak bisa menahan emosinya lagi, Raphel beranjak dari bangkunya dan berlari ke arah Hensel dengan tangan yang bersiap untuk memukulnya. Tetapi sebelum itu...
"Temonela un Yamuno"
Brak!!
Sebelum mencapai Hensel, Raphel tiba-tiba terjatuh dan tidak dapat bangkit lagi. Mungkin itu disebabkan oleh sihir yang barusan dirapalkan oleh Hensel. Aku tidak tahu sihir apa itu, tetapi sepertinya Raphel terkena semacam tarikan Gravitasi yang tinggi.
"S-sialan!" Gumam Raphel.
"Ini adalah hukuman bagi pelanggar Etika di Akademi ini. Aku harap kalian dapat belajar dari tindakan anak ini untuk menjaga sikap di dalam Kelas. Ingatlah, saat ini kalian bukan apa-apa selain seonggok sampah. Tetapi bukan berarti kalian tidak bisa berkembang, dengan bantuan diriku. Aku akan menuntun kalian menjadi lebih kuat lagi"
Seketika seluruh murid dan juga Raphel terkejut dengan kata-kata barusan. Sepertinya mereka sudah salah paham dengan maksud dari kata Guru Hensel sebelumnya, dan main serang begitu saja. Yah, namanya juga bocah yang baru 10 tahun. Meskipun aku juga sih.
"Baiklah, mari kita mulai pelajarannya"
__ADS_1
-
To be continue.