
Didalam Akademi Sihir Mervest, terdiri dari Lorong-lorong dan kelas yang saling berjejeran dikanan dan kiri. Akademi ini juga memiliki Tiga lantai. dan masing-masing tingkat memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Di Akademi Sihir Mervest juga masih mengenakan sistem yang terkuat dialah yang memimpin. Jadi ada beberapa kelas yang ditujukan oleh murid terpilih atau bisa dibilang berbakat dalam bidang sihir dengan persyaratan tertentu. Kelas tersebut dinamakan Kelas-A. Dan kelas itu berjumlah empat buah di Akademi ini, dengan masing-masing murid disetiap kelas berjumlah 50.
Sedangkan untuk murid yang Tidak memiliki bakat dalam sihir akan masuk ke dalam Kelas-B. Kelas tersebut berjumlah enam buah dan kondisi beserta fasilitasnya lebih buruk daripada Kelas-A. Tentu sajakan, dimana ada madu yang berkualitas maka dialah yang akan dipanen. Sedangkan yang buruk akan dibuang begitu saja.
...
Aula, Akademi Sihir Mervest.
Saat ini para murid baru sedang berkumpul dan berbaris didalam aula bersama dengan Weisten yang merupakan kepala Akademi ini. Aula di Akademi ini hanya sebuah tempat yang luas tanpa adanya benda apapun diruangan ini. Yah, lagipula sedari awal aula ini memang digunakan untuk pelatihan. Jadi wajar saja jika tidak ada apapun alat atau benda diruangan ini.
"Baiklah, karena kita sudah berada disini. Aku akan menjelaskan peraturan yang tidak boleh kalian langgar. Satu, tidak boleh menggunakan sihir berskala besar yang dapat melukai murid lainnya.
Dua, jika lawan menyerah maka pertandingan akan dihentikan. Dan jika pemenang tetap meneruskan pertarungannya, dia akan didiskualifikasi dan dinyatakan tidak lolos.
Ketiga, Kalian boleh menggunakan senjata apapun yang kalian kuasai. Tetapi tetaplah ingat peraturan kedua. Apa kalian sudah mengerti?"
""Ya!!""
Setelah Weisten menjelaskan panjang lebar tentang peraturan duel. Para murid langsung berteriak tegas untuk menanggapinya, sementara aku masih merasa gugup karena tidak bisa menggunakan sihir sama sekali.
Aku beberapa kali menoleh ke arah Clara yang tidak berada jauh dariku. Sepertinya dia juga sama semangatnya dengan murid lain. Apakah hanya aku saja yang merasa gugup disini? ah mungkin hanya perasaanku saja.
"Jika kalian sudah paham, aku akan memanggil nama yang akan pertama kali maju untuk berduel" Kemudian Weisten mengeluarkan secarik kertas yang sepertinya berisikan daftar nama seluruh murid baru.
"Clara Rosewei dan Daniel von Kreiss, silahkan maju kedepan"
Aku terkejut saat mendengar nama Clara yang dipanggil pertama kali. Sepertinya aku sudah menularkan kesialanku padanya haha...
__ADS_1
Kemudian kedua peserta berdiri saling berhadapan dengan membawa senjatanya masing-masing. Clara sebuah Tongkat sihir yang biasanya disebut dengan Staff sedangkan Daniel menggunakan Pedang katana yang sama seperti milikkku.
Tunggu, jika dilihat dari muka Daniel sepertinya aku pernah melihatnya, tapi aku lupa kapan dan dimana saat-saat kami bertemu. Setelah beberapa detik termenung dan berpikir, akhirnya aku teringat dengan wajah anak itu. Ya, anak itu adalah anak songong yang tadinya aku temui dijalan. Aku tidak menyangka kalau dia juga mendaftar di Akademi ini, sungguh sial nasibmu Clara.
"Kau kan wanita yang tadi ya, Kalau kau mendaftar di Akademi ini. Pasti orang yang saat itu juga berada disini"
Kemudian Daniel melihat ke arah murid-murid yang ada dibelakangnya untuk mencariku. Tetapi tetap saja tidak menemukannya, kenapa? karena untuk hal seperti petak umpet akulah ahlinya.
Sebelumnya aku mempunyai firasat bahwa Daniel akan mencariku nanti, dan oleh karena itu aku bersembunyi dibalik murid yang memiliki badan besar dibanding denganku. Sungguh pemikiran yang cerdas kan.
"Setelah aku menjentikkan jariku. Duel akan segera dimulai, dan kalian boleh menyerang satu sama lain. Apakah kalian sudah siap!!"
Clara dan Daniel hanya mengangguk dan memasang posisi bertarung untuk bersiap-siap. Setelah merasa waktu telah tiba Weisten menjetikkan jarinya dan duelpun dimulai.
Clara membuat beberapa gumpalan tanah yang muncul di ujung Tongkatnya. Dan kemudian ia tembakkan dengan kecepatan tinggi ke arah Daniel.
Trang!! Trang!! Trang!!
"Flame de bonuro"
Bwushh!!
Dengan tiba-tiba pedang milik Daniel telah diselimuti oleh api yang besar. Dan bila dilihat dari jumlah Mananya sepertinya juga sangat besar. Aku benci mengakuinya, tetapi dia memang sangat berbakat dalam bidang sihir.
"Eagle Claw Slash!!"
Daniel menamgayunkan pedangnya dan menciptakan sebuah burung besar yang melesat ke arah Clara. Jujur saja, para murid lain yang melihay sihir yang besar itu hanya bisa melongo tidak percaya, karena anak seumurnya diberkahi oleh banyak Mana. Begitupun denganku, aku juga ikut terkejut karena tekanan luar biasa dari serangannya itu.
Dilain sisi, aku melihat Clara yang juga sedang merapalkan sebuah mantra. Apakah itu sebuah serangan atau sihir pertahanan aku tidak tahu. Yang pasti aku melihat Clara sangat serius saat merapalnya.
__ADS_1
"Sparra Magila be Mirrale"
Sebuah batu berukuran besar mulai terkumpul dari Tongkat sihirnya. Dan saat melihat burung api dari serangan Daniel tadi sudah berjarak dekat. Clara dengan segera melesatkan batu tersebut.
Blar!!
Terjadi ledakan besar antar dua serangan yang berbentrokan itu. Debu-debu mulai terkumpul dan menutupi pandangan murid lain sehingga tidak ada yang tahu apa yang terjadi disana. Begitupun denganku, meskipun tadi Clara mengatakan padaku hanya bisa menggunakan sihir dasar. Tetapi yang kulihat tadi adalah sihir Tingkat Lanjutan, meski belum sempurna sih.
Ngomong-ngomong soal sihir, sihir juga memiliki Tingkatannya masing-masing. Yaitu Dasar, Lanjut, Tinggi, Sempurna.
Sihir dasar biasanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mencipatakan air untuk mandi, dan merebus air dengan menggunakan api kecil. Sedangkan untuk Tingkat Lanjutan, itu merupakan sihir dasar yang disempurnakan lagi. Contohnya seperti memperbesar bentuknya dengan mengalirkan lebih banyak Mana lagi. Begitupun untuk sihir Tingkat Tinggi dan Sempurna.
"Oi ... apa kau bisa melihat siapa yang menang?"
"Aku tidak tahu ... hanya debu saja yang kulihat"
Semua orang saling bertanya dan bertaruh untuk siapa yang muncul menjadi pemenangnya. Tentu saja kebanyakan memilih Daniel karena memiliki bakat sihir yang luar biasa, tetapi itu tidak menutup kemungkinan kalau dia juga bisa kalah.
Selang satu menit, akhirnya kepulan Debu mulai mereda. Tetapi hal yang tidak kuharapkan pun terjadi. Setelah Debu hilang sepenuhnya, terlihat bahwa Clara terbaring lemas dilantai sedangkan Daniel masih berdiri tegak dengan memegang pedang katananya.
Aku sedih karena tidak bisa bertarung dengannya nantinya. Yah, tapi itu bisa dicoba lain kali saat aku sudah sedikit bertambah kuat. Lagipula dengan sihirnya itu, sudah dipastikan bahwa aku akan kalah telak jika melawannya.
Untuk memastikan kondisi Clara, Weisten memeriksa denyut nadinya untuk merasakan jumlah Mananya yang tersisa. Dan sesuai dugaannya, Clara telah pingsan karena Mana miliknya hampir habis setelah menggunakan Sihir lanjutan tadi. Tetapi tidak usah khawatir, karena Mana milik Clara sudah berangsur-angsur pulih kembali.
"Dengan ini kunyatakan bahwa pemenangnya adalah Daniel von Kreiss"
Seluruh murid yang menang taruhan berteriak dengan keras. Tetapi tidak denganku, karena sedari awal aku tidak tertarik dengan Taruhan seperti itu.
"Kalau begitu, mari kita mulai babak selanjutnya"
__ADS_1
-
To be continue.