
Sudah hampir seminggu Alea mengurung diri di dalam kamar semenjak peristiwa memilukan itu terjadi. Tak ada teriakan, kata-kata kasar nun menyakitkan dan penolakan keluar dari mulut Alea. Alea menjadi sosok yang berbeda, banyak diam tak bergerak bagai punya tubuh tak bertulang.
Bayu menghela nafasnya dalam, lagi-lagi ia melihat Alea (nya) duduk di sisi ranjang dengan pandangan entah terfokus kemana. Bayu mendekati sang istri dengan nampan berisi makanan dan segelas air untuk istrinya. Inilah salah satu rutinitas baru yang dikerjakan oleh seorang Bayu Anggara.
Bayu duduk di samping Alea yang berjarak sekitar 30 cm dari tempat duduknya. "Lea, aku bawakan sarapan untukmu. Ayo makan."
Tidak mendapatkan balasan, Bayu tak menyerah begitu saja. Ia letakkan nampan yang dipegangnya ke atas nakas yang berada tak jauh tempat duduknya. Bayu berjongkok mengambil posisi di depan sang istri.
"Alea? Dengarkan aku, sampai kapan kamu akan seperti ini? Kembalilah seperti dulu, menjadi Alea cantik yang ceria. Yang suka memarahiku dan berkata kasar padaku. Ah, tidak. Bukan seperti itu maksudku. Kau harus kembali ceria, jangan hanya karena seorang lelaki brengsek kau menyakiti dirimu sendiri dan juga orang yang menyayangimu. Kau tahu, kakek sangat sedih melihat keadaanmu seperti ini. Kau boleh bersedih, tapi setidaknya pikirkanlah kakek. Kakek sangat mengkhawatirkanmu sampai-sampai ia pun ikut tak nafsu makan bahkan enggan meminum obatnya." Bayu menunduk mengingat bahwa beberapa hari ini kesehatan kakek memburuk karena terlalu khawatir pada Alea.
Tak disangka, Alea merespon begitu mendengar kata kakek yang keluar dari mulut Bayu.
"Kakek?"
__ADS_1
"Iya, kakek sedang tidak sehat."
"Aku ingin melihat kakek."
"Nanti, ya. Kau harus makan dulu. Kemudian mandi dan mengganti baju tidur ini dengan dress yang cantik. Agar kakek bahagia melihatmu ceria lagi. Sekarang makan dulu, ya." Bayu berdiri kemudian mengambil nampan berisi makanan yang dibawanya tadi dari atas nakas. Dengan telaten Bayu menyuapi Alea. Dan ajaibnya, tidak ada penolakan dari Alea.
"Sudah,"
"Sedikit lagi, ya."
"Sedikit lagi, sampai separuhnya saja." Bayu tak menyerah untuk membuat Alea makan lebih banyak.
Alea pun menurut dan menerima suapan demi suapan yang diberikan Bayu kepadanya lagi. Setelah beberapa suapan, Alea melirik ke piring di tangan Bayu.
__ADS_1
"Sudah," kata Alea merasa telah menghabiskan setidaknya setengah nasi di piring.
"Emm, oke. Sekarang mandilah, nanti kita menemui kakek bersama."
Alea berdiri meninggalkan Bayu yang masih duduk di samping ranjang menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Alea menatap wajahnya di cermin. Wajah kusam, mata cekung, bahkan pipi chubbynya pun hampir hilang. Alea pun berbalik tak tahan lagi menatap wajahnya sendiri di cermin. Saat tangannya hendak melepas baju tidur yang dipakainya, ia pun teringat bila belum membawa pakaian ganti. Meski dalam keadaan yang masih kacau, setidaknya ia masih ingat dengan kebiasaan barunya setelah menikah. Yaitu membawa baju ganti ke dalam kamar mandi.
Bayu menatap sekilas nasi yang tersisa di piring yang ia pegang. Tanpa risih ia memakannya dengan lahap. Baginya, menyisakan makanan adalah hal yang sangat mubadzir. Mengingat bagaimana masa kecil hingga remajanya, makanan menjadi sesuatu yang cukup mewah baginya dan beberapa anak panti lainnya. Dan lagi pula ini sisa makanan istrinya, jadi tak salah bila ia yang menghabiskannya. Begitulah yang Bayu fikirkan.
Alea keluar dari kamar mandi dan melihat apa yang sedang dilakukan suaminya di tempat ia duduk saat menyuapinya tadi. Ada yang menggelitik relung dadanya. Alea pun hanya bisa terdiam.
Setelah menyelesaikan makannya, Bayu pun berdiri hendak membawa kembali nampan beserta piring dan gelas kosong bekas makannya dan Alea.
__ADS_1
"Kenapa belum mandi juga?" Bayu bertanya begitu melihat Alea hanya berdiri mematung di depan kamar mandi.
"A aku mau mengambil baju ganti." Alea berlari kecil menuju walk in closet. Sedangkan Bayu melanjutkan tujuannya tadi, yaitu membawa kembali nampan beserta isinya ke dapur.