MY UGLY HUSBAND

MY UGLY HUSBAND
Canggung


__ADS_3

Setelah meletakkan nampan di dapur, Bayu kembali ke kamar untuk mengajak Alea menemui kakek. Belum sampai Bayu memegang ganggang pintu, pintu tersebut terbuka. Tampak Alea yang sudah cantik dan rapi dengan dress rumahan selutut dan polesan make up tipis.


"Kakek dimana?"


"Ada di kamarnya. Ayo,"


Alea mengekor di belakang Bayu sembari menunduk lesu. Sedangkan Bayu sesekali menengok ke belakang melihat sang istri. Sesampainya di depan pintu kamar kakek, Bayu menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap Alea.


"Kenapa?"


"Tersenyum dan pasang wajah yang ceria. Hari ini adalah awal baru untukmu. Jadi lupakan rasa sakitmu dan bangkitlah. Jangan biarkan kakek melihat wajah jelekmu ini."


Dada Alea terasa sesak mendengar kata demi kata yang diucapkan Bayu. Wajahnya sedikit memerah, rasa grogi tiba-tiba menyelimutinya.


"K kau itu yang jelek." Alea mengabaikan Bayu kemudian membuka pintu kamar di depannya.


"Kakek?"


"Alea?"


"Kakek kenapa sakit lagi? Kakek pasti susah makan lagi. Hah, dasar kakek ini sudah tua bukan anak kecil lagi. Kenapa susah sekali menurut."


"Kau sudah kembali, cucu tersayang kakek sudah baik-baik saja?"


"Apa yang kakek katakan? Aku selalu baik-baik saja, karena Bayu menjagaku."

__ADS_1


deg


Jantung Bayu seketika berdetak lebih cepat begitu mendengar namanya disebut oleh Alea. Bayu yang sedari tadi hanya diam menonton menjadi salah tingkah secara tiba-tiba. Kakek yang menangkap gelagat aneh Bayu pun menginterupsinya.


"Bayu?"


"Y ya kakek?" Bayu mendekat ke ranjang.


"Terima kasih sudah menjaga Alea."


"Jangan berterima kasih, kek. Karena itu memang sudah tugasku."


Kakek tersenyum dan dalam hatinya mengucap syukur berulang kali karena pilihannya tidaklah salah untuk menjadikan Bayu sebagai suami Alea.


"Ini hari minggu, kalian keluarlah jalan-jalan jangan hanya menghabiskan waktu di dalam rumah."


"Disini sudah banyak yang menemani kakek, kau pergilah berjalan-jalan atau berbelanja. Agar wajahmu yang masih sedikit pucat ini menjadi segar kembali."


"Bayu, ajaklah Alea pergi sekarang."


"Baik, kek."


"Alea, ayo."


"Kakek, Alea pergi dulu. Kakek jangan lupa untuk makan dan meminum obat ya."

__ADS_1


"Yayaya, sudah sana pergi."


Alea keluar dari kamar kakek lebih dulu dan di ekori oleh Bayu.


Memasuki kamar, Sena lalu bergegas ke walk in closetnya mengambil tas kecil untuk dia pakai. Setelah memoles kembali wajahnya dengan sentuhan make up yang masih terlihat natural ia pun bergegas keluar.


"Ayo," Sena membuyarkan lamunan Bayu.


"K kita mau kemana?"


"Ke taman saja, bagaimana?"


"Boleh," Bayu menjawab dengan gugup. Karena sikap Alea yang melunak kepadanya. Harusnya ini adalah hal bagus, tapi ntah mengapa Bayu menjadi canggung karena tidak terbiasa.


Bayu dan Alea memilih untuk pergi sendiri tanpa diantar oleh supir. Sepanjang perjalanan tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua. Mereka berdua lebih asyik dengan pikiran masing-masing.


Bayu memarkirkan mobilnya di tempat yang tak jauh dari taman. Sehingga nantinya mereka tak perlu berjalan jauh.


Bayu dan Alea berjalan beiringan di taman tanpa obrolan atau apapun. Kecanggungan itu benar-benar dirasakan oleh Bayu. Sampai ketika ia melihat kedai ice cream kecil yang ada di tengah taman.


"Kau mau ice cream?" Bayu menawarkan pada Alea.


"Boleh,"


"Tunggulah di bangku itu, biar aku yang membelinya. Kau mau rasa apa?"

__ADS_1


"Coklat vanila," jawab Alea cepat.


"Oke, kalau begitu aku kesana dulu."


__ADS_2