
Bayu kembali dengan dengan 2 con ice cream di tangannya. Segera ia berikan pada Alea satu ice cream kemudian duduk di bangku yang sama dan menikmati ice creamnya sendiri.
Alea menikmati ice creamnya dengan tidak berselera. Kemudian secara tidak sengaja matanya menangkap sosok Bayu yang tengah menikmati ice creamnya dengan tenang tanpa bicara sedikitpun. Alea memperhatikan suaminya itu secara intens. Perlakuan Bayu padanya beberapa hari ini membuat Alea sedikit membuka fikirannya tentang Bayu.
"Kalau dilihat-lihat sebenarnya dia tidak terlalu jelek. Hidungnya mancung, pantas saja kaca jadul itu tidak pernah melorot. Alisnya juga tebal. What, apa itu? Kenapa bulu matanya lentik sekali? cantik seperti milik wanita. Bahkan buku mataku mungkin tak selentik dan selebat itu." gerutu Alea dalam hati hingga tanpa sadar cemberut.
Alea begitu teliti melihat setiap lekukan wajah Bayu. Ia kembali berkhayal, andai badan Bayu berorot dan tidak kerempeng seperti sekarang serta mengganti kaca mata jadulnya pasti sudah banyak wanita yang melirik bahkan mengantri untuknya. Membayangkan saja membuatnya sebal, apa-apaan soal wanita lain melirik bahkan mengantri untuk suaminya.
"Aaaiiishhh," geram Alea karena sadar telah memikirkan yang bukan-bukan. Dan apa lagi itu tadi? Suaminya? Mungkin sekarang dia sedang tidak normal karena mengakui Bayu sebagai suaminya.
"Alea? Kenapa?"
"Haa? Oh, tidak apa-apa."
"Kenapa ice creamnya tidak di makan. Lihat, malah mencair dan mengotori tangan dan dressmu."
Bayu mengambil sisa ice cream con yang sudah mencair dari tangan Alea kemudian membuangnya ke tempat sampah. Setelah itu Bayu merogoh saku mengambil sapu tangannya. Tanpa berfikir panjang, Bayu meraih tangan Alea dan mengelapnya dengan lembut. Mendapat perlakuan seperti itu membuat Alea tampak salah tingkah.
"Sudah,"
"Oh, i iya. Terima kasih."
"Apakah mau pulang saja? Dressmu kotor terkena ice cream yang mencair."
Alea memperhatikan dressnya. Benar-benar kotor.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo pulang." Alea berjalan terlebih dahulu meninggalkan Bayu yang tengah melipat kembali sapu tangannya.
Waktu sudah menunjukkan sore hari, Bayu dan kakek sibuk mengobrol di teras belakang dan mengabaikan keberadaan Alea di sekitar mereka. Sesekali Alea berusaha mencari perhatian. Dari mulai menghela nafasnya dengan keras, atau bahkan pura-pura menjatuhkan cemilannya. Karena sebal, Alea pun beranjak meninggalkan Bayu dan kakek dengan menghentakkan kakinya keras-keras.
"Pppffffttt," kakek menahan tawa melihat kelakuan Alea.
"Kakek kenapa?"
"Lihat itu kelakuan istrimu. Ngambek seperti anak kecil."
"Ngambek kenapa?"
"Ya Tuhan, ternyata cucu menantuku pria yang juga tidak peka."
"Maksud kakek?"
"Haruskah? Kalau Alea tidak mau bagaimana?"
"Ajak saja dulu."
"Baiklah, aku masuk ke dalam dulu kalau begitu."
"Ya, pergilah."
Bayu sudah mencari Alea di ruang keluarga maupun dapur namun tak mendapati keberadaan istrinya tersebut. Hingga akhirnya Bayu melangkahkan kakinya menuju kamar mereka.
__ADS_1
ceklek,
"Alea?"
"Apa?" jawab Alea dengan nada tak bersahabat.
"Ternyata kau disini."
"Memangnya ada apa? Kau mencari ku?"
"Iya, aku ingin mengajakmu pergi. Itupun kalau kau mau."
"Kemana?"
"Nonton bioskop atau makan malam seperti itu."
Alea diam tampak memikirkan ajakan Bayu.
"Bagaimana?"
"Baiklah, aku mau juga karena bosan ada di rumah."
"Oke, kalau begitu bersiap-siaplah. Aku tunggu di bawah."
Setelah Bayu keluar dari kamar, Alea bergegas menuju walk in closet. Mencari-cari baju yang kira-kira cocok untuk ia pakai dalam kencan sore ini. Saat di tengah kesibukan itu tiba-tiba Alea menghentikan aktifitasnya.
__ADS_1
"Tunggu dulu, KENCAN?"