MY UGLY HUSBAND

MY UGLY HUSBAND
LIBURAN 1


__ADS_3

Hari yang di tunggu pun tiba, semua persiapan untuk liburan pertama mereka sudah selesai dan saat ini mereka bersiap menuju bandara.


"Tidak ada yang ketinggalan?" tanya Bayu pada Alea memastikan.


"Tidak ada," jawab Alea sambil menggelengkan kepalanya.


"Oke, ayo kita berangkat."


Mereka berangkat ke bandara dengan di antar oleh supir, agar tidak perlu meninggalkan mobil di parkiran bandara. Syukurnya, jalanan pagi itu cenderung lancar, tidak macet seperti biasanya. Sepertinya keberuntungan memang sedang berpihak pada mereka.


"Apa kakek sudah tahu kalau kita pergi berlibur?" tanya Alea.


"Sudah, aku memberitahu kakek kemarin. Kau tahu, kakek minta oleh-oleh katanya."


"Oleh-oleh apa?" tanya Alea penasaran.


"Emmm, tidak apa-apa. Kau tak perlu tahu. Lagi pula kita juga tidak akan bisa memberikannya." jawab Bayu mengurungkan niatnya untuk memberitahu Alea.


"Memangnya kakek minta oleh-oleh apa sampai kita tidak bisa memberikannya? Apakah sesuatu yang sangat langka? Kalau mahal, tidak mungkin jadi alasannya kan. Kita ada uang." kata Alea yang semakin penasaran dengan oleh-oleh yang diminta oleh kakeknya.


"Eiiii, sudahlah. Tidak usah bertanya lagi. Kau membuat hatiku kesusahan." kata Bayu kesal pada dirinya sendiri.


"Kenapa aku?" gumam Alea.


Alea merasa bingung sekaligus kesal dengan ketidak jelasan yang di tunjukkan oleh Bayu. Ia pun memalingkan muka dan memilih untuk menatap jalanan dari jendela. Sementara itu Bayu melirik Alea sekilas sambil mendesah pelan.


Flashback on


Bayu meraih handphonenya dan mencari salah satu kontak seseorang disana kemudian melakukan panggilan.


"Halo?" kata sapaan terdengar dari pria tua di seberang telepon.

__ADS_1


"Halo, kakek. Bagaimana kabar kakek?"


"Kakek sangat sehat, udara disini sangat baik. Kalian datanglah berkunjung kesini."


"Tentu, kek. Kapan-kapan kami akan mengunjungi kakek."


"Bagaimana, apakah sudah ada perkembangan?"


"Emm, sedikit. Tapi ada sesuatu yang perlu Bayu sampaikan pada kakek."


"Apa itu?"


"4 hari ke depan Bayu dan Alea akan pergi berlibur ke Lombok. Apakah kakek ingin dibawakan sesuatu?"


"Bagus sekali. Gunakan kesempatan ini untuk kalian honeymoon. Aku tidak butuh apa-apa lagi di usiaku sekarang. Yang ku mau hanya seorang cicit."


"Ha, a apa kek?"


"Cicit, Bayu. Apa telingamu sudah bermasalah?"


"Kau ini, apalagi yang kau tunggu. Terkam saja, toh kau suami sahnya Alea."


"Kakek? Tolong hentikan. Biarkan Bayu memikirkannya, oke. Kakek bantu do'a saja."


"Aku sudah berdo'a, tapi kalian tidak bertindak. Do'aku jadi sia-sia. Pokoknya kakek hanya ingin cicit sebagai oleh-oleh. Apa kau ingin aku mati sebelum bisa menggendong cicitku?"


"Tentu saja, tidak."


"Jadi berjanjilah kau akan memberiku cicit sebagai oleh-oleh."


"Tapi kek.........."

__ADS_1


"BERJANJILAH,"


"Oke-oke, Bayu janji."


"Pria itu yang di pegang janjinya. Ingat itu. Tutup teleponnya, aku jadi kalah bermain catur karena kau menggangguku." Setelah mengakatan hal itu, Tuan Abraham pun mematikan teleponnya membuat Bayu kebingungan setengah mati.


Lain halnya dengan Tn. Abraham yang tertawa terbahak-bahak bersama sahabatnya karena berhasil mengerjai Bayu. Kedua orangtua itu sangat senang bisa bersikap jahil pada seseorang yang lebih muda dari mereka. (Tua-tua keladi emang si kakek. Makin tua makin jadi 😝)


Flashback off


Ucapan Tn. Abraham terus terngiang-ngiang di kepala Bayu sampai ia tak sadar jika sudah sampai di bandara. Bahkan Alea sampai harus menepuk pundaknya beberapa kali untuk menyadarkan suaminya itu.


"Kau itu sebenarnya kenapa?" tanya Alea begitu mereka berjalan masuk ke dalam bandara.


"Tidak apa-apa." jawab Bayu dengan senyum yang dipaksakan.


.


.


.


.


.


.


TN. ABRAHAM MINTA CICIT OOOYYY.


GASSKEUN LAH.

__ADS_1


😝😝😝


NEXT 👉🏻


__ADS_2