MY UGLY HUSBAND

MY UGLY HUSBAND
AWAL TERBENTUKNYA RINDU


__ADS_3

WAH, LAMA BANGET TERNYATA AUTHOR HIATUSNYA. 😄


SORRY, KARENA BARU BISA MELANJUTKAN NOVEL INI. NOVEL BDMIN SUDAH TAMAT DAN TINGGAL BEBERAPA EPISODE EXTRA PART. JADI NOVEL MY UGLY HUSBAND SUDAH BISA MULAI AUTHOR LANJUTKAN.


TERIMA KASIH UNTUK KALIAN YANG MASIH SETIA MENUNGGU KELANJUTAN NOVEL INI.


BORAHAE 💜💜💜


HAPPY READING, ALL.


___________________________


Bayu menyantap sarapan yang di bawakan oleh Collins sembari mendengarkan paparan jadwal kegiatannya.


"..................... Jadi setelah semua kegiatan kantor selesai, pada pukul lima sore anda harus menghadiri pelatihan fisik di XX Gym Club dengan seorang instruktur profesional." kata Collins menjelaskan.


"Collins?" panggil Bayu dengan ekspresi wajah yang tidak terbaca.


"Ya, sir?"


"Apakah semua jadwal tak masuk akal itu benar-benar di rancang oleh kakek?"


"Benar, sir. Beliau sendiri yang merancangnya dengan seorang ahli dan meminta saya untuk memastikan semua jadwal terlaksanakan dengan baik." jawab Collins.


"Aku dikirim kesini kan untuk bekerja. Tapi kenapa jadwal kerjaku bahkan lebih sedikit ketimbang jadwal-jadwal aneh itu? Bukankah di perusahaan sedang ada masalah?" tanya Bayu bingung.


"Semuanya aman terkendali, sir. Tidak ada masalah di perusahaan." jawab Collins apa adanya.


"Apa?" tanya Bayu yang menjadi sangat kaget karena jawaban Collins.


Bayu berusaha berfikir positif, karena hanya itulah yang bisa ia lakukan sekarang.


"Jadi berapa lama aku harus tinggal disini?"

__ADS_1


"Tiga bulan, sir."


Jawaban yang diberikan Collins kali ini bahkan lebih membuatnya bingung. Tiga bulan ia harus berada di Australia untuk menjalani program tak masuk akal dari sang kakek. Dan larangan baginya untuk melakukan komunikasi apapun karena handphonenya saja sudah di ambil tanpa sepengetahuannya. Belum lagi dengan Alea, bagaimana bisa ia menghilang tanpa kabar begitu saja bahkan sampai 3 bulan? Bukankah itu bisa berbahaya untuk rumah tangganya? pikir Bayu saat ini.


"Oh, Tuhan."


Karena tidak ada pilihan lain, maka Bayu pun hanya mengikuti kemauan Tn. Abraham dengan pasrah.


***


Alea berguling-guling tak jelas di atas ranjang. Sudah dua hari ini ia merasa sangat bosan di rumah.


"Kenapa dia tidak menghubungiku, ya? Kupikir sejak kemarin itu hubungan kami sudah semakin dekat layaknya teman. Tapi kenapa dia malah seperti menghilang tanpa kabar?" gumam Alea yang sudah mengecek handphonenya berkali-kali.


"Sepertinya aku harus keluar dan berjalan-jalan agar tidak mati kebosanan." kata Alea pada dirinya sendiri.


Alea beranjak dari ranjang menuju walk in closet nya. Ia pun bersiap untuk pergi berjalan-jalan keluar rumah.


Setelah selesai bersiap, Alea bergegas keluar dari kamarnya sambil berlari kecil.


"Alea mau keluar mencari kesibukan, kek. Rasanya sangat bosan berada di rumah seharian." jawab Alea menghampiri Tn. Abraham.


"Kemana?" tanya Tn. Abraham lagi.


"Belum tahu,"


"Duduklah dulu sebentar. Ada yang perlu kakek katakan padamu."


"Baiklah, kakek bilang sebentar ya. Jadi tidak boleh lama-lama." kata Alea memperingatkan.


Alea duduk di samping sang kakek dan bergelayut manja di lengannya.


"Kau ini sudah dewasa masih saja manja." kata Tn Abraham.

__ADS_1


"Apa yang mau kakek bicarakan padaku?" tanya Alea to the point.


"Bantu kakek untuk mengurus perusahaan," jawab Tn. Abraham sungguh-sungguh.


"Hah? Aku mana bisa?" seketika Alea menegakkan tubuhnya kaget.


"Oleh karena itu belajarlah, Saat ini Bayu sedang kakek tugaskan untuk mengurus perusahaan yang ada di Australia. Jadi kakek meminta bantuanmu untuk belajar mengurus perusahaan kita yang ada disini." kata Tn. Abraham menjelaskan.


"Tapi kan aku,"


"Kau itu lulusan Management Bisnis, dasar pekerjaan kau pasti sudah mempelajarinya. Walau terlambat, cobalah untuk lebih perhatian dengan perusahaan kita." pinta Tn. Abraham lagi.


"Bagaimana kalau nanti aku malah membuat kacau perusahaan?" tanya Alea mencoba merubah pikiran sang kakek.


"Tenang saja, kakek sudah mencarikanmu asisten yang bisa di andalkan. Jadi mulailah bekerja besok."


"Tapi kakek?"


"Kakek mohon, Alea."


"Baiklah," jawab Alea lemas. Ia hanya menunduk begitu mengiyakan perintah sang kakek seolah pikirannya sudah mulai berlari kemana-mana.


"Kau tidak jadi pergi?"


"Hah? Oh, iya. Aku pergi, bye kakek." pamit Alea mencium pipi Tn. Abraham.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2