
"Sayang,"
"Hemm,"
"Kau mau kan mengandung anakku? Aku ingin putri yang cantik sepertimu."
"Diamlah, jangan mengajakku bicara." ucap Alea mencoba menutupi debaran di jantungnya yang datang tiba-tiba karena ucapan Bayu.
Bayu terdiam sejenak lalu berkata,
"Kenapa? Apa kau benar-benar tidak mau memiliki anak denganku?" tanya Bayu dengan suara parau.
Tidak juga mendapat jawaban dari Alea, Bayu pun menghela nafasnya kasar dan beranjak pergi keluar dari cottage mereka.
Alea terpaku sedih memandang punggung Bayu yang menghilang di balik pintu.
"Aku bukannya tidak mau, aku hanya malu. Kenapa kau tidak mengerti?" gumam Alea sedih.
Bayu berjalan-jalan di sekitar Villa, ia duduk di sebuah bangku taman yang kosong dan merenung disana.
"Aku harusnya paham, tidak akan mudah membuat Alea mencintaiku." gumam Bayu.
Hingga sore hari, Bayu tak juga kembali ke cottage mereka. Alea cemas karena pria itu juga tidak membawa handphonenya.
Alea duduk di atas ranjang memeluk lututnya, ia menangis seakan takut jika Bayu meninggalkannya. Ia merasa bodoh karena terlalu besar gengsi untuk mengakui perasaannya. Ia juga terlalu angkuh untuk menerima kenyataan jika ia juga menginginkan Bayu di sisinya.
"Bagaimana jika dia menyerah padaku, lalu pergi?" gumam Alea di sela isak tangisnya.
Tiba-tiba suara pintu terbuka, Alea menghapus air matanya dan menunggu pemilik suara langkah kaki itu mendekat.
__ADS_1
"Wah, aku tidak sadar tertidur di taman sampai sesore ini." gumam Bayu pelan.
Bayu berjalan masuk ke kamar, dan betapa terkejutnya ia melihat Alea yang tampak kacau dengan mata sembab dan hidung yang memerah.
"Sayang, kau kenapa? Apakah ada yang sakit? Kenapa menangis?" tanya Bayu bertubi-tubi dengan perasaan cemas.
Tak menjawab pertanyaan sang suami, Alea justru memeluk Bayu dengan sangat erat dan kembali menumpahkan tangisannya membuat Bayu semakin bingung.
"Maaf," ucap Alea.
"Maaf kenapa?" tanya Bayu pelan.
"Tolong jangan pergi seperti itu lagi, jangan tinggalkan aku."
"Sayang, kau tidak salah. Aku yang salah karena membuatmu tak nyaman. Maafkan aku, ya. Berhentilah menangis, karena kau terlihat sangat jelek saat menangis." kata Bayu berusaha menghibur Alea.
Bayu yang sesaat terdiam seperti patung, akhirnya mulai kembali sadar. Ia peluk pinggang sang istri agar lebih dekat dengan tubuhnya. Dan mulai membalas ciuman Alea.
Keduanya bercumbu begitu lama, suara decapan peraduan kedua bibir itu memenuhi seisi kamar. Lidah mereka saling memanjakan satu sama lain, saling membelit dan saling beradu.
Hingga nafas mereka mulai tersengal dan ciuman itu pun berhenti. Bayu mengecup kening Alea lalu menangkup pipi sang istri dengan kedua tangannya yang besar, memaks untuk menatapnya.
"I love you, percayalah aku tidak akan pernah meninggalkanmu." ucap Bayu membuat Alea terharu dan tersenyum bahagia.
Alea merasakan sesuatu yang menonjol di antara kedua paha Bayu, ia sedikit menggesek duduknya dan menatap apa yang menonjol itu. Mengikuti arah pandang Alea, Bayu menjadi malu dan berdiri seketika.
"A aku akan menuntaskannya di kamar mandi." kata Bayu sambil berusaha menutupi miliknya yang sudah menegang di balik celananya.
Ia hendak berbalik namun tangan kecil Alea mencegahnya.
__ADS_1
"Kenapa dituntaskan sendiri? kan ada aku," kata Alea pelan sambil menunduk malu karena perkataannya sendiri.
"Sayang, kau serius?" tanya Bayu memastikan dan Alea hanya mengangguk.
Bayu tersenyum senang dan langsung menyerang Alea di atas ranjang. Di lumatnya bibir Alea yang sudah sedikit bengkak karena ciuman sebelumnya. Tangan Bayu mulai menjamah tubuh Alea, melepaskan satu persatu kain yang menutupi tubuh sang istri.
Tangan Alea mengalung indah di leher Bayu, memaksanya untuk memperdalam ciuman panas itu. Dan Bayu menyambutnya dengan senang hati.
Entah sejak kapan baju keduanya terlepas sepenuhnya, namun permainan panas mereka masih berada di tahap awal. Bayu menurunkan ciumannya ke leher, semakin ke bawah menuju dua gundukan sang istri yang kini menjadi favoritnya. Ia kulum puncaknya dengan lembut sedangkan satu tangannya memainkan puncak yang satunya.
Alea mengerang nikmat manakala Bayu dengan nakal terus mempermainkan bagian-bagian sensitif sang istri. Setelah di rasa cukup, tangan Bayu meraba ke tempat paling sensitif milik Alea. Basah, itulah yang ia dapatkan di tangannya sebagai tanda bahwa Alea sudah siap untuk di masuki.
Bayu mulai memposisikan miliknya di depan surga Alea, dan pelan tapi pasti milik Bayu pun melesak masuk ke dalam mencari kenikmatan.
"Milikmu sempit sekali, sayang. Kau membuatku menggila, aku suka." ucap Bayu dengan sensual tepat di telingan Alea.
Bayu mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo pelan namun tajam. Membuat Alea mendesah merasakan kenikmatan yang dahsyat melebihi pergumulan mereka yang semalam.
"Aaaaahhh," Alea tak lagi malu mengeluarkan desahannya membuat Bayu semakin bersemangat.
"Sebut namaku, sayang."
"Baayy uu, aaahhhh."
Mendengar Alea mendesahkan namanya, Bayu menjadi semakin bersemangat. Ia mempercepat ritme permainannya, mengoyak milik Alea yang berkedut memijit miliknya dengan manja. Alea kembali mengerang merasakan nikmat, ia bahkan tak ragu untuk menggerakkan pinggulnya menyeimbangi permainan sang suami.
Hingga akhirnya puncak kenikmatan menghampiri keduanya secara bersamaan dan Bayu memuntahkan semua cairannya di dalam rahim sang istri sembari berharap jika benihnya akan mampu membuahi dan berkembang menjadi janin di rahim Alea.
"Terima kasih, sayang. I love you." ucap Bayu sebel menjatuhkan diri di samping sang istri.
__ADS_1