
HAPPY READING,
___________________
Suara alarm memaksa Bayu untuk bangun dari tidur nyenyaknya. Dengan satu tangannya ia berusaha meraih jam digital yang berada di nakas sebelah ranjang.
Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang mulai menyeruak dari celah-celah jendela.
Setelahnya ia menoleh ke sebelah tangannya yang terasa berat, yang ternyata tangannya tertindih kepala Alea yang memang ia pergunakan sebagai bantal.
"Sejak kapan dia membuat tanganku jadi bantal?" gumam Bayu.
Bayu menikmati moment dimana ia bisa dengan leluasa memandangi wajah cantik Alea. Ia mengelus dengan pelan pipi halus milik istrinya itu dengan jari telunjuknya.
"Hei, bangun. Sudah siang, aku harus ke kantor." kata Bayu lembut dengan masih terus memainkan jarinya di wajah Alea.
"Alea, istriku. Bangunlah, atau nanti tanganku akan mati rasa." kata Bayu lagi dengan diselingi dengan candaan.
Alea menggeliat dan merubah posisinya menjadi memunggungi Bayu.
"Engggghhh, apakah sudah pagi? Jam berapa sekarang?" tanya Alea yang masih enggan membuka matanya.
"Hampir setengah tujuh, ayo bangun." jawab Bayu.
"Biarkan aku tidur lima menit lagi," pinta Alea.
"Baiklah, tapi bisakah kau bergeser sedikit agar tanganku terbebas? Aku harus segera mandi."
Alea membuka matanya dengan terpaksa dan mendapati tangan Bayu yang menjadi tumpuan kepalanya. Dan refleks, ia pun terduduk seketika.
Bayu mengibas-kibaskan tangannya yang sedikit terasa kebas.
"Ah, akhirnya. Aku duluan yang mandi, ya."
"Emmm," jawab Alea singkat tanpa menatap Bayu.
Begitu Bayu menghilang di balik pintu kamar mandi, Alea langsung merutuki dirinya sendiri yang sudah dengan nyaman tidur di tangan Bayu.
"Aaaarrrrggg, aku pasti sudah gila."
Setelah selesai bersiap, Bayu segera turun ke ruang makan untuk sarapan. Meninggalkan Alea yang masih di dalam kamar mandi. Bayu tampak bahagia pagi ini, karena melihat semburat merah di pipi sang istri. Walau memang tidak begitu jelas.
"Pagi, kek."
"Pagi, dimana Alea?"
"Sedang bersiap-siap."
__ADS_1
"Dia mau berangkat ke kantor?"
"Sepertinya iya, kek. Memangnya ada apa, kek?"
"Hahaha, jadi beberapa Minggu sebelum kepulanganmu. Alea merengek pada kakek untuk membawamu kembali karena dia lelah dengan pekerjaan kantor. Nah, sekarang kau sudah kembali tapi anak nakal itu masih mau berangkat ke kantor. Bukankah itu bagus, kau jadi bisa lebih banyak kesempatan untuk lebih dekat dengan Alea."
"Dekat denganku? Memangnya siapa yang mau mendekatiku?" tanya Alea yang tiba-tiba sudah berjalan mendekati meja makan.
"Kau sudah bersiap, ayo sarapan. Nanti kita berangkat bersama saja." ajak Bayu sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Tidak mau, aku bawa mobil sendiri."
"Kalian kan satu kantor. Kenapa bawa mobil sendiri-sendiri? Itu pemborosan Alea."
"Tapi, kan....."
"Kita berangkat bersama, ya. Biar hemat." kata Bayu memberikan tatapan yang mengintimidasi Alea. Hingga mau tidak mau Alea pun mengangguk patuh.
"Sip, sekarang ayo kita sarapan." ajak Bayu yang langsung menyiapkan mengambil sepotong sandwich dan meletakkannya di piring Alea.
Alea memakan sarapannya tanpa banyak bicara, dan tidak menyadari jika Bayu dan Tn. Abraham tengah berkontak mata sambil memberi tumbs up satu sama lain.
Seusai sarapan, Bayu mengajak Alea untuk segera berangkat. Setelah berpamitan dengan Tn. Abaraham mereka pun segera memasuki mobil dan meninggalkan mansion.
Di jalan, Bayu dan Alea sama-sama diam. Rasa canggung justru mengitari mereka. Hingga akhirnya Bayu berinisiatif untuk menyalakan radio untuk membunuh keheningan.
"Ini saja, aku suka lagu ini."
"Oke,"
Alea bersenandung mengikuti lagu yang tengah di putar di radio, lagu yang sangat disukainya akhir-akhir ini. BTS - Dynamite.
Sesekali Bayu melirik Alea yang terlihat sangat asyik dan ia pun tersenyum.
"Alea?"
"Hmm?"
"Apa kau betah kerja di perusahaan?"
"Kenapa memangnya?"
"Kalau kau lelah, kau boleh berhenti kapan pun kau mau. Tapi akan lebih baik kalau kau tetap berada di perusahaan. Karena bagaimanapun, perusahaan ini kelak akan berada di atas namamu."
"Lihat saja nanti." jawab Alea singkat.
Sesampainya di perusahaan, mereka berjalan beriringan. Sehingga banyak karyawan wanita yang mulai bergosip tentang keduanya.
__ADS_1
"Wah, lihat. Ini baru pertama kali aku lihat Nona Alea berjalan bersama Pak Bayu." kata salah satu karyawan wanita memulai.
"Memangnya aneh? Kan mereka suami istri."
"Bukankah sekarang mereka tampak serasi?" puji karyawan lain yang juga ikut nimbrung.
"Iya, benar. Pak Bayu tiga bulan pergi, eh saat kembali malah jadi setampan itu."
"Kalau Pak Bayu belum menikah, aku maulah jadi istrinya." kata karyawan wanita yang terkenal genit.
"Mimpi saja, kau!" kata dua orang karyawan lain secara bersamaan.
Di dalam lift,
"Apa-apaan para karyawan wanita itu. Beraninya bergosip." gerutu Alea dalam hati.
"Nanti siang makan bersama, ya." ajak Bayu tiba-tiba.
"Ha? Apa?" Alea tidak begitu fokus sehingga tak mendengar perkataan Bayu.
"Kau melamun, ya? Apa ada masalah?" tanya Bayu menaikkan sebelah alisnya.
Alea tampak terpana melihat mata Bayu dari dekat, dan saat sadar ia segera mengalihkan pandangannya.
"Tidak ada apa-apa."
"Nanti siang, kita makan bersama ya." ajak Bayu lagi.
"Emm, lihat saja nanti." jawab Alea tepat pintu lift terbuka dan ia pun segera berjalan cepat meninggalkan Bayu.
.
.
.
.
.
.
.
KAUM GOOD LOOKING MEMANG SELALU DI DEPAN.
SI ALEA, MULAI JADI BUCIN. 🤣🤣🤣
__ADS_1