MY UGLY HUSBAND

MY UGLY HUSBAND
Pergi


__ADS_3

Alea mengerjapkan matanya ketika sinar mata hari tampak masuk melalui celah-celah jendela yang tidak tertutup korden dengan sempurna. Dengan malas ia mendudukkan tubuhnya dan melirik ke sofa dimana Bayu biasa tidur tiga bulan ini.


Sofa tampak kosong, bantal dan selimut pun sudah tersimpan rapi di tempat biasanya. Alea melihat jam, dan ternyata sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.


"Dia pasti sudah di meja makan sekarang. Hoooaaamm" gumam Alea sembari menguap karena masih dilanda kantuk.


Dengan malas Alea beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya kemudian mengganti pakaian yang belum sempat ia ganti semalam dengan pakaian rumahan yang sederhana.


Alea menuruni tangga dengan sedikit buru-buru kemudian segera menuju ke ruang makan.


"Selamat pagi," sapa Alea yang hanya di balas oleh sang kakek.


Alea celingukan mencari sosok Bayu yang tak tampak di meja makan. Kemudian dia pun memperhatikan meja yang hanya memiliki dua piring di atasnya. Miliknya dan milik kakek.


"Mungkin dia sudah berangkat," kata Alea dalam hati.


Alea memulai sarapannya tanpa ada niat bertanya dengan Abraham tentang keberadaan suaminya.


Setelah menghabiskan sarapannya, Abraham pun membuka suara.


"Kakek mengirim Bayu ke Australia untuk mengurus perusahaan disana." kata Abraham, membuat Alea tersedak.


Alea segera mengambil gelas berisikan air putih di depannya dan menegaknya habis sekaligus.


"Kenapa mendadak sekali?"


"Karena perusahaan sedang dalam masalah."


"Oh. Jadi, jam berapa dia akan berangkat?"


"Satu jam yang lalu."


"Hah, kenapa dia tidak mengabariku?"


"Kakek yang memintanya untuk tidak usah mengabarimu. Lagi pula, kakek kira kau tidak akan peduli."

__ADS_1


"Terserah. Aku sudah selesai sarapan, sekarang aku mau kembali ke kamar."


Abraham menatap aneh sang cucu sesaat, kemudian mengembangkan senyumnya.


"Mungkin keputusanku mengirim Bayu pergi benar-benar tepat." kata Abraham dalam hati.


***


Waktu menunjukkan pukul 12 siang waktu Australia saat Bayu tiba di bandara. Disana sudah ada seorang pria yang menunggu kedatangannya. Pria itu bernama Collins dan dia pula yang akan menjadi asisten Bayu selama bekerja di Australia.


"Apakah perjalanan anda menyenangkan, sir?"


"Yah, itu biasa saja." jawab Bayu ramah kemudian berusaha mencari handphonenya di dalam tas kecil yang ia bawa.


"Apakah ada sesuatu yang hilang, sir?"


"Handphoneku tidak ada. Padahal aku yakin sudah memasukkannya ke dalam tas."


"Soal itu, Sir Abraham berpesan pada saya untuk menyampaikan jika Handphone anda di sita olehnya. Dan anda tidak diperkenankan untuk melakukan komunikasi apapun secara pribadi. Jika ada yang ingin di sampaikan atau di diskusikan silakan melalui saya. Itu kata Sir Abaraham."


"Hah, apa maksudnya ini? Oh, tunggu bolehkah aku menelpon kakek dan bertanya langsung?" pinta Bayu dengan raut memohon.


"Baiklah,"


"Sir, jadwal anda hari ini belum dimulai. Jadi saya akan mengantar anda ke apartemen tempat tinggal anda selama disini."


"Terima kasih."


Setelah penjelasan tak masuk akal itu, Bayu pun menurut dan mengikuti semua perkataan Collins.


***


Di kediaman Abraham, Alea sedang mondar mandir di kamarnya. Ia merasa gelisah karena tak juga mendapat motif pesan atau telepon dari orang yang ia tunggu kabarnya.


"Tunggu, kenapa aku berharap dia menghubungiku? Ah, ini tidak benar. Pasti ini semua gara-gara beberapa hari kemarin dia sangat baik padaku. Jadi, Alea berhentilah. Jangan menunggu kabarnya lagi karena dia tidak penting untukmu." kata Alea pada dirinya sendiri.

__ADS_1


***


Australia keesokan paginya,


Ting tong


Ting tong


Ting tong


"Siapa yang berkunjung pagi-pagi begini?" gumam Bayu seraya berjalan untuk membukakan pintu.


ceklek,


"Selamat pagi, sir."


"Collins? Ah, maaf aku baru saja membuat sarapan dan belum bersiap. Oh iya, kau sudah sarapan? Mari sarapan bersama."


"Sir, saya kemari untuk membawakan anda sarapan dan juga menjelaskan jadwal anda hari ini. Anda tidak diijinkan untuk memakan makanan lain selain yang sudah saya siapkan." kata Collins menunjukkan sekotak makanan yang ia bawa.


"Apakah itu juga perintah kakek?" tanya Bayu sedikit ragu-ragu.


"Benar, sir."


"Ya Tuhan, sebenarnya apa yang kakek rencanakan." kata Bayu dalam hati.


"Ya sudah kalau begitu kau bisa menjelaskan jadwalku hari ini sembari aku memakan sarapanku. Setelah itu, aku akan bersiap dan tolonh kau makan sarapan yang sudah terlanjur ku siapkan sebelum kau kesini. Aku tidak suka membuang-buang makanan."


Bayu terheran-heran melihat menu sarapan yang di siapkan oleh Collins. Ia melirik Collins dengan raut penuh tanda tanya.


Collins menangkap hal itu, kemudian ia pun menjelaskan.


"Ini adalah menu diet anda, sir."


"Aku sudah kurus, kenapa harus diet? Apakah kakek ingin aku mati kekeringan?" tanya Bayu dengan nada bercanda.

__ADS_1


"Mohon maaf, sir. Sedikit menjelaskan, jika diet tidak hanya diperuntukkan untuk orang gemuk saja. Ini adalah jumlah kalori yang sudah dihitung oleh seorang ahli gizi sesuai kebutuhan anda."


"Baiklah, sekarang jelaskan apa saja jadwalku hari ini."


__ADS_2