
Dua jam sebelumnya ditempat lain, tepatnya pada sebuah aula hotel bintang lima di kota padang, pertemuan yang diadakan pak Rudy berjalan dengan lancar. Presentasi yang dilakukan oleh ilmuwan yang dipekerjakan pak Rudy membuat pihak lain yang hadir sangat tertarik untuk bekerja sama.
Bagaimana tidak, pertunjukkan sebuah formula yang bisa menyembuhkan luka dalam hitungan menit tanpa meninggalkan bekas, siapa yang tidak menginginkan hal seperti itu.
Para undangan pertemuan bahkan terkagum dan ingin segera memulai kerjasama mereka. Penyebaran obat yang mereka buat dari antelop unik pun diperkirakan akan lancar keseluruh perusahaan farmasi yang ada di berbagai wilayah di Indonesia.
Usai pertemuan, mereka semua ngobrol dan ramah tamah sambil menikmati hidangan yang telah disediakan. Sayangnya ada satu hal yang luput dari pengawasan pak Rudy, yaitu diantara salah satu perusahaan farmasi yang dia undang merupakan anggota dari Kelompok Kurassha.
Dengan sorotan mata tajam, salah satu anggota Kurassha itu berniat untuk merampas semuanya. Orang itu berencana menggunakan kekuasaan Kurassha untuk menekan pak Rudy dan rekannya nanti.
Pak Surya yang juga ada di sana mendekati ayah Cindy yang memang diketahui dari kota Muriya.
Keduanya berjabat tangan dengan satu tangan lain memegang gelas minuman.
"Jadi anda tertarik dengan tawaran kerjasama pak Rudy?" tanya pak Surya
"tentu saja, siapa yang akan menolak mendapatkan kerjasama seperti itu. Tapi kenapa anda disini?apa anda juga membuka akan perusahaan farmasi" jawab ayah Cindy
"Tidak, aku sudah cukup puas dengan restoran kecil milikku" ucap pak Surya
"Itu karena dia yang membantuku mendapatkan bahannya dari Amerika saat aku sibuk disini" ucap pak Rudy menghampiri mereka.
"Pak Rudy" ayah Cindy menyodorkan tangannya
"Pak Ardhi" balas pak Rudy memanggil nama ayah Cindy
"Jadi pak Surya ini semacam tangan kanan anda?" ucap ayah Cindy
"Lebih dekat dari itu" balas pak Rudy
Mereka bertiga mengobrol dan sesekali tertawa dengan lepas sambil menikmati suasana. Perbincangan terus berlanjut hingga tanpa disadari pak Rudy menyebut nama Riyan merupakan anak yang turut membantu dalam proyek obat penyembuh baru yang mereka lakukan.
"Sayangnya dia tidak bisa kesini, padahal sudah kami ajak" ucap pak Rudy
Ayah Cindy sedikit terkejut dengan nama Riyan, untuk memastikannya beliau pun bertanya kepada pak Surya karena ingat Riyan mengatakan pernah bekerjasama dengan pak Surya untuk restorannya.
__ADS_1
"Apa itu anak yang sama dengan orang yang bekerjasama dengan restoran anda?" Tanya Ayah Cindy kepada pak Surya untuk memastikan
"Benar, saya yang memperkenalkannya dengan pak Rudy. Anda kenal dengan Riyan?" Jawab pak Surya
"Kebetulan dia adalah teman sekolah anak saya dan saat ini mereka berada di pulau pagai selatan" sahut ayah Cindy
Mendengar hal itu, pak Surya dan Rudy ingin ikut pergi ke sana bersama ayah Cindy untuk menemui Riyan seusai pertemuan sekaligus melihat pertarungan Silat sejagat. Ayah Cindy sama sekali tidak menyangka seorang anak SMA bisa melakukan semua itu.
*Arena pertandingan saat ini*
Posisi siap menyerang dengan menggunakan jurus pamungkas kedua belah pihak antara Elang Cahaya dan Naga petir membuat para penonton cukup tegang menunggu pergerakan kedua peserta.
Awal gerakan pun muncul dari Zulman dengan sedikit melompat kemudian memutarkan tubuhnya dengan cepat diakhiri dengan sebuah tinju seperti patuk burung yang mengincar bagian pelipis dalam paman cindy.
Tinju dari Zulman dapat ditangkap oleh cakar naga yang digunakan paman Cindy, bahkan paman Cindy sempat melancarkan dua kali serangan kebagian tubuh Zulman namun juga dapat ditangkis olehnya.
"Tak..tak..tak"
Benturan dari gerakan keduanya terjadi begitu cepat, tanpa ada satu orangpun yang mendapatkan serangan fatal.
Disela kelelahan keduanya, Paman Cindy pun terpaksa menaikkan tingkatan jurus hukuman naga petir miliknya ke tingkat II, gaya menyerangnya menjadi lebih cepat dan intens.
Akhirnya Zulman terpaksa harus jatuh keluar arena akibat tidak kuat menahan serangan kombinasi beruntun sebanyak tiga kali dari cakar, siku yang kemudian diakhiri dengan dorongan kuat dari bahu paman Cindy.
Pertandingan selama 15 menit itu dirasakan sangat lama bagi para peserta, namun sebentar untuk dinikmati penonton. Nama paman Cindy pun masih terpampang di atas panggung dan diumumkan sebagai pemenang pertandingan keenam hari ini .
Paman Cindy kemudian turun kebawah panggung dan membantu Zulman yang tengah mengeluarkan darah dari mulutnya untuk berdiri. Keduanya tersenyum dan berjabat tangan, tidak terlihat adanya dendam diantara keduanya. Zulman mengagumi dan menghormati lawannya itu, begitu juga dengan paman Cindy.
"Hebat pamaaan" teriak Cindy yang berdiri dan bertepuk tangan dengan keras
Pertandingan pun dilanjutkan saat panggung sudah dibersihkan, peserta berikutnya dipanggil untuk naik keatas panggung untuk pertandingan ketujuh.
"Eh, tujuh pertandingan?bukannya nanti akan ada 7 pemenang?selanjutnya bagaimana?" Gumam Riyan
Memang benar hasil akhir akan menyisakan tujuh jawara, Riyan kemudian teringat perkataan paman Cindy bahwa hari ini masih menyisakan dua putaran lagi.
__ADS_1
Karena keterlambatan datang, Riyan tidak mengetahui kalau pada putaran keempat nanti di ronde pertama, pemenang pertandingan pertama sampai keempat akan bertarung untuk bertahan di arena yang sama. Pada ronde kedua, pemenang pertandingan kelima sampai ketujuh yang akan bertanding mengingat waktu istirahat mereka yang lebih sedikit daripada peserta sebelumnya.
Dan pada putaran terakhir atau kelima, merupakan pertarungan final antara kedua pemenang di putaran keempat.
Pertandingan ketujuh pun dimulai, kedua peserta saling memberi hormat sebelum bertanding sama seperti sebelumnya. Disaat riuh penonton menyoraki peserta di arena, Riyan merasa kejanggalan atas hilangnya Kenjo.
Riyan kemudian meminta Alpha untuk mencari keberadaan Kenjo. Begitu pencarian selesai, Kenjo berada di sebuah bangunan kecil tidak jauh dari bangunan pertandingan.
"Apa yang dilakukannya disana" gumam Riyan
Beberapa saat kemudian Riyan pamit kepada Cindy untuk pergi sebentar.
****
Saat itu didalam bangunan lain yang merupakan tempat tetua yang terbunuh dimana pasukan Kurassha berkumpul, kenjo memperhatikan kegiatan yang dilakukan bawahannya didepan banyaknya layar komputer.
Salah satu layar dalam ruangan tersebut menampilkan pertarungan yang tengah berlangsung, dan layar lainnya merekam gerakan pesilat dan menyalinnya dalam bentuk rentetan data.
Rekam gerakan semua petarung hari ini akan dimuat didalam sebuah software, dan saat ini program komputer tersebut masih menjalankan proses terhadap peserta pertarungan ketujuh.
"Bagaimana?" tanya kenjo
"Dua orang ini yang terakhir bos, apa perlu kita bergerak setelah ini?" tanya bawahan kenjo
"Tidak perlu, tetap lakukan perekaman hingga pertandingan final berakhir! Kita harus mendapatkan hasil maksimal" perintah Kenjo
"Baik" sahut anak buahnya yang kemudian terus merekam gerakan silat para peserta.
Lima belas menit kemudian pertandingan ketujuh selesai dan akan berlanjut menuju putaran keempat dimana pemenang pertarungan pertama hingga keempat akan bertarung.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar suara ribut diluar tempat tetua dimana pasukan kurassha melakukan perekaman gerakan para pesilat. Kenjo yang juga berada disana, bergegas keluar menuju asal keributan yang didengarnya diikuti dengan empat orang dibelakangnya.
Tiba didepan bangunan tetua, Kenjo mendapati tiga penjaga yang ada disana telah terjatuh di atas tanah dan mendapati seorang pria yang membelakanginya.
"kenapa kau melakukan ini? " ucap Kenjo
__ADS_1