
Satu setengah jam kemudian kapal tiba di Pagai selatan, para penumpang turun dan memilih angkutan berikutnya menuju tempat tujuan wisata alam masing-masing sesuai keinginan.
Terdapat 7 orang lain selain Riyan, Cindy dan ibunya yang berjalan kearah angkutan menuju desa Makopassus. Mereka adalah David dan Kenzo bersama tiga anak buahnya, serta dua orang pasangan laki-laki dan perempuan yang tampak seperti reporter.
"Hai, kita bertemu lagi" sapa David kepada Cindy ketika kelompok mereka bertemu kembali dekat dengan mobil angkutan.
"Halo tuan" balas Cindy
Riyan yang melihat orang asing itu bersama dengan kelompok Kenzo, merasa ada yang tidak beres. David juga menyapa Riyan dan ibu Cindy dengan ramah. Meski menggunakan bahasa inggris, itu tidak menjadi hambatan komunikasi mereka.
"Anda mau kemana tuan?" tanya Riyan mencoba menggali informasi
"Ah, aku hanya mengikuti orang-orang ini jadi tidak tau nama tempatnya" sahut David
"Oleh begitu, jadi kalian mau kemana tuan?" tambah Riyan kepada Kenjo
Meski mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Riyan, Kenjo hanya mempercepat langkahnya menuju mobil tanpa menghiraukan Riyan.
"Maaf kan temanku, dia memang orang yang seperti itu" ucap David kepada Riyan
"Ah iya, Tidak apa" balas Riyan
Riyan dapat merasakan kalau nanti pasti akan terjadi sesuatu dan dia harus siaga untuk melindungi Cindy dan ibunya. Bahkan hal itu juga dirasakannya terhadap kedua wartawan yang juga menuju desa Makopassus bersama mereka.
Ketujuh orang itu pun menaiki mobil angkutan menuju Desa Makopassus.
*Delhi, India*
Diwaktu yang sama, diruang penelitian di rumah Rahul, Prof Gema dan Rahul bersama dengan timnya tengah melakukan pekerjaan mereka untuk menciptakan alat ekstraksi injeksi yang dirancang prof Gema.
Sebuah alat yang menyerupai gelang dengan panjang 15 cm berada di dalam kotak kaca, didalam alat itu terdapat jarum yang dapat menusuk kulit dan tabung kecil untuk menampung cairan racun atau apapun yang tidak sesuai dengan tubuh.
Alat itu terhubung dengan sebuah komputer melalui kabel konektor dimana Rahul sedang melakukan pemrograman terhadap alat ekstraksi injeksi.
Satu jam kemudian ketiga ilmuwan berpakaian laboratorium putih itu menyaksikan Rahul selesai melakukan pemrograman terakhir untuk alat ciptaan mereka.
"kau tau kan untuk memastikan alat ini berhasil atau tidak, kita harus mengenakannya kepada orang yang memiliki zat asing dalam tubuhnya seperti racun" ucap salah satu dari rekan rahul.
__ADS_1
"tidak perlu racun, konsep alat ini adalah memisahkan dan menarik keluar cairan atau benda asing dari tubuh penggunanya" sahut prof gema yang kemudian membuka kubus kaca dan mengambil alat yang sudah siap itu ke pergelangan tangannya.
"eh apa anda akan menggunakan alat itu?kita tidak tau efeknya terhadap orang normal" balas orang itu
"tidak apa, prof Gema tau yang dia lakukan" sahut Rahul
Mereka semua menyaksikan Prof Gema mengenakan alat itu pada pergelangan tangan kanannya, kemudian beliau menekan tombol berwarna merah yang terletak di bagian bawah pergelangan tangan alat itu. Tiga jarum yang berada dibalik alat itu seketika menusuk kulit prof gema, beliau menahan sedikit sakit akibat sedotan yang berasal dari alat tersebut. Beberapa saat kemudian tabung kecil didalam alat itu terisi cairan.
Setelah jarum terangkat tanda bahwa penyerapan telah berakhir, Prof Gema kemudian memegang sebuah besi dan mencoba menggunakan kemampuan mimik oktopus miliknya namun tidak berhasil.
"bagaimana?" tanya Rahul kepada Prof Gema
prof Gema menyeringai dan tawa pun keluar dari mulutnya sambil mengucapkan "berhasil"
Semua orang di dalam ruangan itu gembira tidak terkira.
"baiklah, sekarang coba tombol hijaunya!" ucap Rahul
Prof Gema mengangguk pelan kemudian menekan tombol hijau yang berada tepat di samping tombol warna merah yang sebelumnya dia tekan. Sekarang jarum kecil kembali menusuk kedalam pergelangan tangan prof Gema dan memasukkan kembali cairan hijau yang ada dalam tabung kecil. Sekarang tabung itu kembali kosong, dan jarum kembali terangkat.
Prof Gema kembali mencoba kemampuan yang dimilikinya, dan sesuai perhitungan mereka ketika itu prof Gema dapat menggunakan kemampuannya kembali dan berhasil merubah tubuhnya menjadi manusia besi.
"Sekarang kita tinggal membuat case untuk alat ini agar tidak terlalu menonjol" ucap Rahul
Prof gema terlihat seakan masih mengagumi karya mereka, bahkan dirinya sampai tertegun memandangi alat itu.
"Ada apa prof?" tanya Rahul
"Tidak apa, hanya saja ini bahkan diluar ekspektasi ku" ucap prof Gema
"Benarkah?" balas Rahul
"Ya, saat pertama kali menggunakan serum oktopus ini, perlu waktu lama sebelum mendapatkan efeknya. Tapi kali ini, hanya dalam hitungan detik aku sudah bisa menggunakan kemampuan ku" jelas Prof Gema
Rahul dan teman-temannya membawa case yang sudah dibuat untuk menyempurnakan alat itu keatas meja. Mereka bersiap untuk melakukan tahap akhir, namun prof Gema menahan niat mereka.
"tunggu!" ucap prof Gema
__ADS_1
Hal itu membuat yang lain menjadi bertanya-tanya, bukankan alat yang mereka ciptakan telah berhasil dan sudah di uji sendiri oleh prof Gema. Akan tetapi kenapa sekarang malah prof Gema menghentikan tahap finishing yang akan dilakukan.
"Ada apa prof?" tanya salah seorang dari mereka
"Ada beberapa yang harus kita perbanyak" sahut prof Gema
"Apa itu prof?" tanya ketiga ilmuwan itu secara serentak
"Tabung penampungan, tambahkan 2 atau 3 lagi sesuai tempat yang mencukupi" jawab prof Gema
"Apa ini seperti yang saya pikirkan?apa anda masih memiliki serum semacam itu?" ucap Rahul
"Benar, aku akan menambahkan beberapa kemampuan lagi" jawab prof Gema
"Itu artinya dengan serum milik anda, seseorang bisa memiliki kemampuan sebanyak tabung yang tersedia di alat ini" jelas Rahul
"Itu bukan hal yang baik untuk diketahui oleh organisasi NOZ" tambah yang lain
"Benar, itu sebabnya kita harus merahasiakan hal ini dan informasi pembuatan alat ini jangan sampai bocor" jelas prof Gema
"Kesampingkan NOZ terlebih dahulu, untuk membuat pemisahan dan pengelompokkan seperti itu diperlukan program analisis DNA sehingga yang ditarik akan masuk sesuai dengan tabung tempatnya. Artinya penyesuaian program dengan DNA yang akan dimasukkan harus jelas" jelas prof Gema
Salah satu dari ilmuwan memberikan pendapat agar memasukkan analisis semua hewan kedalam program yang ada didalam alat itu. Menurut Rahul hal itu tidak dapat dilakukan karena DNA yang dimaksud prof Gema adalah DNA mutasi hasil percampuran serum yang dibuatnya.
"Ada cara gampang, masukkan program instalasi untuk mendeteksi DNA asing" ucap seorang lainnya
"Itu ide yang cemerlang" puji prof Gema
"Huh, memang cemerlang, tapi membuat program instalasi DNA asing yang tidak pernah ditemui sangat sulit, salah sedikit maka alat ini tidak akan berjalan sesuai harapan dan malah akan mencampur aduk DNA asing, kita tidak tau apa efeknya" sahut Rahul
"Apakah kita bisa menggunakan DNA mutasi milik prof Gema yang di ekstraksi sebagai kunci" celetuk ilmuwan lain
Raut wajah Rahul dan prof Gema menjadi ceria dan secara bersamaan mereka mengatakan " itu mungkin bisa"
Prof Gema kembali menekan tombol merah sehingga DNA mutasi mimik oktopus berada di dalam tabung kecil yang ada di alat tersebut.
Rahul dan prof Gema bersama-sama bersiap mengurai dan menganalisis DNA tersebut kedalam sebuah komputer, sedang dua orang lainnya bersiap mengubah fisik alat yang baru saja mereka ciptakan.
__ADS_1
"Mari kita mulai membuat alat yang akan kita beri nama LUXERION"