Nano System

Nano System
Episode 102 Tinju Besi


__ADS_3

Sementara itu di dalam gedung arena, pertandingan masih tetap diteruskan. Meski dua dari tetua mendapatkan informasi kalau dua orang yang duduk bersama mereka adalah orang yang menyamar, mereka tidak mau mengambil resiko terjadinya kekacauan apabila pertandingan dibatalkan karena kabar terjadi pembunuhan tetua.


Banyaknya penonton membuat mereka mengambil keputusan berat untuk tetap terus menjalankan turnamen. Ketiga peserta yang tengah bertarung masih terus menunjukkan kebolehannya.


Diwaktu yang sama, beberapa orang yang menjadi panitia pergi untuk membantu para guru yang juga tengah bertarung di tempat tetua. Kakek Cindy yang melihat beberapa panitia gelisah, memutuskan untuk mengikuti mereka menuju tempat tetua.


Gemuruh teriakan penonton masih terus terdengar seiring dengan pertarungan para peserta diatas panggung yang semakin sengit. Melihat Cindy dan ibunya fokus terhadap pertarungan paman, Riyan kembali meninggalkan tempat duduknya.


*Di dalam tempat tetua*


Separuh dari anggota Kurassha yang ada disana telah terkapar di lantai dengan tubuh memar bahkan luka, kemampuan mereka bukan tandingan para guru. Meski begitu, mereka telah berhasil menjauhkan para guru dari komputer.


Namun satu dari lima guru juga telah tumbang dihadapan Steve. Tubuhnya terbaring dilantai dengan wajah penuh darah dan tangan yang terlihat hancur.


" Kemampuan yang lumayan buat pemanasan " ucap Steve


Mata para guru tercengang melihat rekannya yang telah dikalahkan oleh Steve, dua dari para guru seketika langsung menyerang Steve yang masih berdiri di sana.


"Hiaaat"


"Tak...tak"


Kedua guru melayangkan serangan kombinasi kepada Steve, namun pukulan dan tendangan kedua guru silat itu mampu ditangkis oleh Steve. Sedangkan dua orang lainnya terus mencoba menggagalkan penyalinan data pesilat yang ada di sebelah ruangan itu, namun terus dihalangi Kenjo dan anak buahnya yang tersisa.


Beberapa saat kemudian akhirnya Steve dan Kenjo berhasil terpukul mundur kedepan pintu ruangan komputer yang terbuka.


" Sebaiknya cepat kita habisi mereka dan pergi dari sini sebelum yang lain datang " ucap Kenjo


" Baiklah, padahal aku baru saja sedikit bersenang-senang " balas Steve


Steve mengadukan gelang yang terpasang pada dua pergelangan tangannya. Sama seperti armor Riyan, seketika gelang tersebut menyebar membungkus tangan Steve menjadi sarung tangan.


Kenjo pun ikut mengaktifkan senjata wechas miliknya untuk menghadapi para guru silat didepan mereka. Namun tangan Steve menghalangi Kenjo ketika ingin melangkah maju.


"Aku sendiri saja sudah cukup " ucap Steve melangkah maju


" Kau yakin? " tanya Kenjo


" Kau duduk saja dan lihat " sahut Steve dengan santainya.


Ke empat guru memasang kuda-kuda mereka bersiap menghadapi serangan Steve yang berlari cepat kearah mereka.


Seperti kilat, sebuah tinju lurus biasa dilancarkan Steve dengan sangat cepat. Seorang guru yang menjadi target Steve, berusaha menahan tinju itu dengan menyilangkan kedua tangannya.


"Hiaaat" teriak Steve

__ADS_1


Tubuh guru silat tersebut seketika terpental keras menembus pintu luar bangunan hingga membuatnya sekarang terbaring dibawah sebuah pohon diluar bangunan. Salah satu guru yang bernama Arga berlari keluar untuk memeriksa kondisi temannya itu.


Meski terlihat baik, namun tangan yang digunakan untuk menahan pukulan dari Steve mengalami patah tulang.


"Kau istirahatlah disini! biar kami menangkap orang asing itu" ucap Arga


"Tinju orang asing itu keras sekali, berhati-hatilah!mungkin lebih keras dari tinju pemecah karang milikmu" pintanya kepada Arga.


"Itu masih belum pasti" balasnya yang kemudian berjalan kembali masuk kedalam bangunan tetua.


Di dalam tempat tetua tersebut, Steve terus menyerang dua orang guru yang berada disana tanpa jeda. Namun tidak seperti yang Steve perkirakan, tinjunya sama sekali tidak mengenai mereka. Tinjunya hanya dihindari ataupun ditepis kearah lain.


Salah seorang guru menggunakan gerakan yang terlihat seperti jurus ular, gerakan yang lentur membuat tinju dari steve selalu dapat ditepis. Sedang yang seorang lagi menggunakan jurus tarian rembulan yang sangat sulit untuk dikenai oleh tinju Steve.


"Bule bodoh, memangnya kau pikir kami akan menahan tinjumu setelah melihat kejadian barusan" ucap salah seorang guru.


Meski tidak mengerti perkataan guru tersebut, Steve berinisiatif untuk memperlambat gerakannya hingga para guru berfikir kalau Steve telah kelelahan.


Kedua guru yang sejak tadi telah menunggu kesempatan untuk menyerang itupun termakan taktik dari Steve, mereka yang semula hanya menghindar dan menepis sekarang berubah menyerang Steve.


"tak...tak"


Meski dapat menahan beberapa serangan dari dua guru tersebut, Steve menerima lebih banyak pukulan masuk ketubuhnya.


" perlu bantuan? " ucap Kenjo yang masih berdiri di depan pintu ruang perekaman dengan sedikit nada meledek.


"heh, sudah terdesak masih bisa bicara seperti itu" gumam Kenjo


Meski terkena banyak pukulan, Steve masih tidak tampak seperti kesakitan ataupun lelah. Saat itu Steve berhasil menangkap tangan salah seorang guru dan melancarkan pukulan cepat yang hampir mengenai wajah lawannya.


Tinju Steve itu digagalkan oleh tendangan dari guru lainnya hingga pukulannya melejit melewati kepala. Namun serangan itu mampu membuat mereka bertiga tercerai.


"orang ini tidak normal" ucap salah satu guru


"kau benar"


Steve kemudian menundukkan badan dan menekan tombol yang ada di sepatunya, suara besi yang menumpuk perlahan terdengar setelahnya. Setelah bunyi selesai, warna sepatunya berubah sama dengan warna sarung tangannya.


Dengan posisi tubuh masih rendah, Steve menatap dua orang didepannya sambil mengeluarkan senyum menakutkan. Tatapan dan senyuman seorang pembunuh yang siap memangsa itu mengeluarkan aura yang membuat dua orang guru menjadi cemas.


Mereka mampu merasakan kengerian yang akan mereka hadapi. Seketika Steve muncul dihadapan mereka dengan kecepatan yang tidak normal bagi manusia.


"Tak..buuk"


Sebuah tendangan sapu membuat kedua guru hilang keseimbangan dan hampir terjatuh, hanya dalam sekejap tubuh para guru yang melayang disambut hantaman tinju Steve.

__ADS_1


"Bruuk"


Tidak sempat merespon gerakan cepat Steve, kedua guru silat itu terpental hingga membuat meja dan kursi yang ada di ruangan hancur. Beberapa tulang mereka patah akibat serangan bule itu.


Serangan cepat Steve datang untuk kedua kalinya kearah mereka yang masih berada diatas potongan meja yang hancur. Tanpa bisa berbuat apa-apa, mereka hanya menyilangkan kedua tangan untuk berlindung.


Tiba-tiba seorang guru yang datang dari luar, melompat diantara mereka. Tinju keras dari Steve beradu dengan kepalan tinju sang guru yang baru tiba. Tubuh Steve melesat mundur 3 meter, sedang sang guru menarik nafas dalam sambil menggerakkan kedua tinjunya.


"Arga" ucap kedua guru


Arga berpaling dan membungkuk sejenak melihat kondisi kedua rekannya, keadaan mereka lebih parah dari salah satu guru yang baru terlempar keluar.


"Hati-hati Arga, kami hanya terkena satu serangannya tapi mendapat luka seperti ini"


"Benar, selain kuat, gerakannya juga sangat cepat"


Arga hanya mengangguk kecil kemudian tersenyum seolah memberikan pernyataan "serahkan padaku"


Diapun berdiri kembali untuk berhadapan dengan Steve. Disaat itu suara derap langkah terdengar jelas mengarah kepada mereka.


"Sebaiknya kita pergi sekarang ! sudah tidak ada waktu " ucap Kenjo


"Baiklah, padahal aku baru menemukan kesenangan. Jarang sekali ada yang bisa menahan tinjuku yang telah mengenakan sarung tinju ini " ucap Steve


Kenjo menuju ruang komputer, kemudian mengajak dua anak buahnya yang sedang mengerjakan penyalinan data untuk segera mengambil hasil rekaman gerakan silat para peserta turnamen dan mengikutinya. Dengan sebuah bom kecil, Kenjo menjebol dinding yang ada didepannya untuk melarikan diri dari tempat itu.


"Steve ayo pergi! " teriak Kenjo


Mendengar teriakan Kenjo, Steve melangkah mundur menuju ruang komputer yang sudah ada jalan untuk kabur. Arga tidak mau membiarkan mereka untuk kabur, terutama Steve yabg telah melukai teman-temannya. Rasa marah yang masih belum terlampiaskan membuatnya berlari menyerang Steve.


Arga mengepalkan tinjunya dengan kuat untuk melumpuhkan Steve. Melihat Arga yang berlari begitu dekat untuk menyerangnya, Steve bersiap menyambutnya dengan senang hati. Tangannya yang masih berlapis sarung tangan kembali mengepal.


"buuuk"


Tinju kanan keduanya bertemu, wajah Steve yang semula penuh senyum percaya diri sekarang sedikit tercengang. Keduanya tidak ada yang bergeming, kekuatan tinju yang sama-sama kuat bertemu.


"menarik " ucap Steve


Disaat keduanya tidak bergerak, Sabit rantai milik Kenjo tiba-tiba melayang dari arah belakang Steve menuju kepala Arga. Serangan dari sabit Kenjo memisahkan kedua orang itu, Arga pun mundur untuk menghindari serangan Kenjo.


"cepat mundur ! atau pekerjaan kita akan sia-sia disini " ucap Kenjo memegang dan menarik baju Steve


Kenjo melemparkan bom asap hingga menutupi pandangan Arga. Mereka pun pergi meninggalkan Arga yang tengah terdiam disana.


"Seimbang dengan tinju besi ku, siapa dia" gumam Arga

__ADS_1


Selang tiga detik saat Kenjo dan Steve melarikan diri, para panitia berdatangan termasuk kakek Cindy. Mereka mendapati dua guru terluka dan Arga terdiam disana, sekitar sepuluh panitia pergi mengejar Kenjo dan Steve melewati lubang besar yang dibuat Kenjo.


__ADS_2