
*Rusia*
Sebagaimana layaknya kota besar, ada sudut-sudut Kota di negara Rusia yaitu Kota Moskwa yang tidak pernah tidur sepanjang malam.
Night Nebesa, tulisan itu terang benderang bersinar warna warni di bagian atas sebuah gedung. Itu adalah sebuah bangunan club malam milik mafia Rusia bernama Mocost Dolgo yang dipimpin oleh Paulo Ivankov .
Mafia Rusia itu sekarang memiliki anggota sudah lebih dari 700 ribu orang. Kejahatan yang mereka lakukan sudah lintas negara, meliputi Amerika Serikat, Spanyol, Kanada, Inggris dan masih banyak lagi.
Dari luar bangunan, sejumlah lelaki berbadan besar dan tegap dengan setelan jas hitam berdiri sangar di depan pintu masuk club malam itu. Memeriksa siapapun yang masuk untuk tidak membawa senjata api maupun senjata tajam.
Suasana remang dengan kilatan cahaya lampu serta gadis di dalam sangkar seperti seekor burung, dengan pose vulgar yang meliuk-liukkan tubuhnya seolah menyambut kedatangan para tamu.
Di sebelah kanan terdapat bar dengan bentuk memanjang ke dalam. Ratusan botol minuman di dalam rak berdinding cermin tersusun rapi.
Di sekitar bar, belasan gadis rusia tampak hilir mudik dengan pakaian yang bisa dikatakan terbuka. Beberapa dari mereka terlihat asik berbincang dengan pria-pria bule yang kebanyakan mengenakan setelan jas lengkap.
Sementara sebagian lainnya hanya berdiri dan mengobrol, sambil sesekali mencuri pandang ke arah sekelompok lelaki yang baru masuk ke klub.
Pada lantai tiga club malam Night Nebesa malam itu, terdapat sebuah tempat dimana biasanya orang dari dunia hitam melakukan transaksi kejahatan dengan Paulo.
Ruangan berukuran 7 x 8 meter dilengkapi sofa hitam panjang tepat di tengah ruangan dengan posisi saling berhadapan. Ukuran ruangan yang tidak terlalu besar untuk kelompok mafia kelas dunia.
Di sisi lain ruangan dekat jendela kaca besar, satu set meja direktur mewah berada di lantai yang sedikit lebih tinggi dari sofa menambah furniture ruangan itu.
Bersama dengan dua orang yang mengenakan jaket kulit hitam dan dikawal 3 orang dengan setelah hitam, seorang wanita cantik berambut pendek ingin memasuki ruangan itu untuk bertemu dengan pimpinan mereka.
Mereka berjalan melewati keramaian club malam yang bising dengan suara musik yang keras dan lampu kelap kelip hingga tiba di depan pintu ruangan yang ingin mereka tuju. Disana dua orang penjaga berbadan besar menghentikan langkah mereka, salah satu pengawal yang mengantar wanita itu mendekati penjaga dan berbincang untuk sesaat.
Penjaga berbadan besar itu kemudian mengetukkan pintu dibelakangnya. Setelah perintah masuk dari bos mereka terdengar dari dalam, barulah penjaga membukakan pintu.
Begitu pintu terbuka, di sana terlihat seorang pria berambut putih diperkirakan berumur sekitar 50 tahun tengah duduk di meja direktur sedang menyalakan sebuah cerutu di mulutnya.
"Orang-orang ini ingin bertemu bos, mereka bilang dari NOZ " ucap penjaga
Saat mendengar NOZ, pria itu berdiri dan menyuruh para tamu untuk duduk di sofa yang berada di tengah ruangan. Dengan gaun merah yang memiliki belahan tinggi, wanita itu duduk di sofa panjang hitam. Sedang dua orang berjaket kulit hitam berdiri tepat dibelakang sofa yang diduduki wanita yang dikawal mereka.
Pria tua itu mendekat dan menyodorkan tangannya kepada wanita cantik didepannya dan mengenalkan nama sebagai Paulo Ivankov pemimpin sekaligus pemilik beberapa club di Rusia.
"Siapa kau?Apa yang membuat NOZ datang kemari? " ucap Paulo setelah duduk dan menghembuskan asap cerutunya.
"Namaku Uno Flux, Wilayah kalian saat ini semakin luas. Itu sebabnya para petinggi ingin Mocost Dolgo bergabung dengan kami" balas wanita itu
"Flux? jadi dia salah satu dari Flux bersaudara? kenapa orang berbahaya seperti mereka bisa bergabung dengan NOZ " pikir Paulo
Meski dengan pikiran seperti itu, Paulo bukan orang yang mudah untuk diajak bergabung dengan suatu kelompok. Dia hanya menjalin hubungan kerjasama, bukan bergabung.
__ADS_1
"Untuk apa aku bergabung dengan kalian ? " tanya Paulo
"Seharusnya kau tahu kalau kami memiliki teknologi yang bisa mengacaukan dunia ? kau tidak perlu menanyakan itu " lanjut Uno
Paulo dengan santai memangku satu kaki di atas lututnya. Sambil menghisap cerutu, dengan wajah seakan menginginkan sebuah tantangan.
"Meski menjanjikan, tapi aku tidak melihat adanya keuntungan bagi Mocost. Sepertinya kami hanya akan jadi bawahan kalian. Bagaimana jika aku menolak ? " ucap Paulo
Seketika tiga penjaga yang berada di dekat pintu bergerak seakan menunggu perintah untuk menyerang. Sedangkan pengawal Uno yang mengenakan jaket kulit hitam hanya berdiam di tempat dan memperhatikan para pengawal diruangan itu.
"Sederhana, kalian akan menjadi musuh kami " ucap Uno
"Menjadi musuh NOZ, apa yang membuat kau berfikir aku takut melakukannya? " balas Paulo sambil menurunkan kakinya dan menatap tajam kearah Uno.
"Jadi begitu ya, kelompok besarmu ini membuatmu sangat percaya diri dan berani " ucap Uno
Wanita bergaun merah itu kemudian berdiri dari tempat duduknya. Sebelum berpaling, dia melemparkan sebuah senyuman kepada Paulo.
"Pikirkan baik-baik, putuskan dalam tiga hari " ucap Uno
"Kenapa kau ingin cepat-cepat pergi, kita bahkan belum bersenang-senang " ucap Paulo sedikit kencang.
Tidak lama setelah Paulo selesai bicara, pintu terbuka dan anak buah paulo berdatangan. Sekitar 10 orang berpakaian hitam yang masuk kesana mengelilingi Uno dan dua orang pengawalnya.
Semua penjaga yang masuk memegang pistol dan mengarahkan kepada tiga orang di depan mereka.
"Aku mendengar rumor mengenai kehebatan NOZ, hanya ingin memastikan apa itu benar " ucap Paulo yang masih menghisap cerutunya.
"Dor..dor..dor " pistol di tangan para penjaga menembakkan peluru secara bersamaan.
Disaat yang sama, Uno dan salah satu pengawalnya menunduk dengan cepat untuk menghindari tembakan itu. Sedang pengawal satu lagi melompat dengan sangat tinggi.
"Klik..klik "
Masih pada posisi jongkok, Uno menekan tombol kecil yang ada pada cincin warna emas yang terpasang pada jari tengah kedua tangannya. Cincin itu berubah menjadi sebuah senjata pistol otomatis di kedua tangannya.
"Dor..dor..dor " Uno menembaki para penjaga di sebelah kanan mereka menggunakan pistol otomatisnya.
Sedang seorang pengawalnya yang ikut menunduk, merubah cincinnya menjadi dua buah pedang seperti bulan sabit.
"Sreet...sreet...sreet" dalam sekejap tiga orang yang ada di sebelah kiri mereka tewas akibat tebasan gerakan beladiri yang cepat dari pengawal itu.
Dalam hitungan detik, seluruh penjaga milik Paulo yang berada di dalam ruang itu telah tewas. Pengawal Uno yang melompat dan masih berada di udara, sepatunya tiba-tiba mengeluarkan tenaga api sebagai pendorong seperti sebuah roket kecil.
Dengan sepatu itu, dia melesat dari udara kearah Paulo yang sedang tertegun melihat anak buahnya dihabisi dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Stop ! " teriak Uno saat salah seorang pengawalnya itu hampir melakukan tendangan menggunakan sepatu dengan daya dorong kuat itu.
Panas dari api pendorong pada sepatu pengawal itu hampir mengenai telinga Paulo, panas yang dia rasakan tiba-tiba menghilang saat sepatu itu berhenti mengeluarkan api pendorongnya.
Pengawal itu kembali kesamping Uno dengan melompat mengaktifkan sepatunya untuk terbang sejenak.
"Tiga hari, itu batas waktumu " ucap Uno kemudian meninggalkan ruangan itu bersama dua pengawalnya.
Mereka keluar dari club malam dan melewati para tamu yang sedang bersenang-senang dengan santai seperti tidak terjadi apa-apa.
Ketika berada didalam mobil, sebuah panggilan masuk kepada Uno. Wanita itu diperintahkan untuk datang ke Amerika dan menyerahkan masalah mafia bernama Paulo kepada adiknya.
"Baiklah, lagipula sepertinya Paulo tidak ingin mencari masalah dengan kita " ucap Uno melalui telphonenya
Kemudian mobil mereka melaju cepat meninggalkan club malam Night Nebesa.
"Kita akan ke Amerika ? " tanya pengawal Uno
"Ya, sepertinya tanggalnya sudah ditentukan. Hubungi Dr. Ebrof, percepat percobaannya kepada orang asia itu ! " ucap Uno
Disaat yang sama Paulo hanya terdiam diatas sofa hitamnya, keringat dingin mengalir dari kepalanya. Ketakutan yang dia rasakan seperti hampir bersentuhan dengan kematian.
Tidak berapa lama, beberapa penjaga datang keruangan itu dan menanyakan yang terjadi. Beberapa dari mereka mengusulkan perlawanan dan perang kepada organisasi NOZ. Namun Paulo memiliki pandangan lain terhadap organisasi NOZ.
"Bermusuhan dengan organisi NOZ secara langsung ? meski Mocost Dolgo besar, kurasa itu sama sekali tidak baik bagi kita. Menyusup dan menjadi bagian dari mereka. Kemudian mencuri teknologi mereka lalu menghancurkan organisasi itu dari dalam adalah pilihan terbaik" gumamnya melihat mayat para penjaganya berserakan diruangan itu.
*Amerika Serikat*
Sementara itu di Markas bagian Nevada, di dalam sebuah ruangan dimana terdapat meja biliar ditengah, Seorang pria ditemani dua wanita seksi tengah bermain biliar.
"Apa dia bersedia kemari ? " tanya seorang pria dengan kaos santai dan celana pendek sedang membidik bola di meja biliar dengan stiknya.
"Karena aku menyebut namamu, tentu saja dia mau " balas Thomas yang saat itu duduk di sofa.
Beberapa bola biliar memantul dan masuk kedalam lubang, pria itu berdiri tegap dan meletakkan stik diatas meja biliar. Dia menjatuhkan tubuhnya duduk di sofa tepat didepan Thomas.
"Memangnya kenapa sampai diadakan pertemuan seperti ini ? aku bahkan tidak jadi mengirimkan orangku ke Indonesia untuk menyelidiki kematian Brian " ucap Thomas
Pria itu hanya diam dan mengambil botol minuman dan menuangkannya kedalam gelas kaca. Setelah meminum air dari gelas tersebut, barulah dia menjawab pertanyaan Thomas.
"Mau bagaimana lagi, para petinggi sepertinya ingin memulai gerakan. Itulah kenapa semuanya di kumpulkan " balas pria itu
"Kapan kita berangkat ? " tanya Thomas
"Besok " sahut pria itu
__ADS_1
NOZ sudah memulai gerakannya untuk mengambil alih para pemimpin negara. Para petinggi mengumpulkan anggota elit mereka untuk melakukan sebuah pertemuan besar membahas rencana besar mereka.