Nano System

Nano System
Episode 124 Perang Bag VI


__ADS_3

Rei pun menyerahkan pertarungan kepada Kitsune untuk menghadapi Prof Gema, sedang dia sendiri memutuskan pergi untuk melampiaskan kekesalannya kepada Riyan. Rei berjalan ditengah kekacauan dengan mata yang tidak bisa diam mencari sosok hitam yang ingin dia habisi.


Sedangkan ditempat yang ditinggalkannya, dalam sekejap Kitsune sudah bergerak kehadapan Prof Gema dan melakukan tebasan dengan pedangnya. Serangan Kitsune kali ini lebih lambat sehingga dapat ditahan oleh prof Gema menggunakan pergelangan tangannya.


Suara dentingan atas bertemunya pedang Kitsune dan pergelangan tangan prof Gema yang telah menjadi besi terdengar cukup keras.


"Siapa kau?" ucap Kitsune


Tanpa menjawab pertanyaan Kitsune, prof Gema mencoba memukul jatuh Kitsune dengan menggunakan tangan kirinya.


"Teeng"


Tinju besi prof Gema tertahan oleh katana pendek di tangan kiri yang baru saja dikeluarkan oleh Kitsune. Selanjutnya tendangan kuat dari kaki besi prof Gema membuat mereka berdua terpisah.


Kitsune menghilang dari hadapan prof Gema dan muncul dibelakangnya, bersamaan dengan itu Kitsune menebas punggung besi prof Gema. Percikan api sedikit muncul di punggung prof Gema akibat gesekan yang terjadi. Serangan Kitsune membuat prog Gema yang bertubuh besi terdorong sebanyak dua langkah.


"Setidaknya jawab dulu pertanyaanku" ucap Kitsune


"Untuk apa?" balas Prof Gema sambil berbalik dan menyerang kitsune dengan tinjunya.


****


Dalam pertarungan lain, Sapri yang menghadapi Miura mengalami kesulitan.


"Bruuk" tubuh Sapri terhempas menghantam pintu mobil bagian depan yang tersusun di dalam ruangan itu.


"Masih mau lagi?" ucap Miura sambil berjalan perlahan mendekati Sapri yang memegang tubuhnya menahan sakit.


Dengan nafas yang tersengal-sengal, Sapri berusahan berdiri tegak dan memberikan isyarat dengan tangannya kepada Miura untuk maju menghadapinya.


Miura mempercepat langkahnya kemudian melompat dan melakukan tendangan, dengan tubuh terbang 30 cm diatas permukaan tanah mengincar tubuh Sapri.


Melihat tendangan yang datang kearahnya, Sapri pun menghindar ke samping. Kaki Miura yang gagal mengenai tubuh Sapri akhirnya hanya memecahkan pintu kaca depan mobil dan membuat kakinya tersangkut.


Sapri tidak menyiakan kesempatan itu, dia melayangkan tinju keras dari tangan kanan dan kirinya kewajah Miura berulang kali. Miura mencoba membalas pukulan Sapri, namun dengan kondisi kaki tersangkut membuat batasan terhadap gerakannya.


Sapri dengan mudah menangkis pukulan Miura, kemudian terus memukulinya. Kedua tinju Sapri membuat Wajah blesteran jepang itu memar, dan Sapri mengakhiri serangannya dengan melompat untuk melakukan tendangan dua kaki hingga membuat Miura terjatuh.


Miura yang mendapatkan luka lebam dan darah di wajah, merasa sangat marah dan segera bangun. Dia mengeluarkan wechas miliknya kemudian menekan tombol yang ada disana. Sebuah tombak sepanjang 2,5 meter muncul ditangan Miura.


"Eeee..bukankah pertarungan ini jadi tidak adil?" ucap Sapri


Miura memutar-mutar tombaknya kemudian menyerang Sapri dengan tusukan dan ayunan senjata panjang itu. Setelah beberapa kali menghindari serangan itu, Sapri kemudian berlari mundur.


Merasa sudah diatas angin, Miura dengan membawa tombaknya mengejar Sapri yang kabur.


Disisi lain Cindy yang sedang melawan Harada, berhasil melakukan sedikit serangan tipuan. Ketika Cindy melompat, Harada mengira Cindy akan melakukan tendangan menyamping kearah kepalanya.


Harada pun menundukkan badannya untuk menghindari tendangan itu, namun kaki Cindy berhenti tepat 30 cm diatas kepala Harada dan berganti arah menuju bawah. Dengan kuat Cindy mendaratkan kakinya keatas kepala pengawal elit milik Rei itu.


"Buuuk" tendangan itu membuat Harada tersungkur seketika dan tubuhnya tidak bergerak.


"Satu beres" gumam Cindy


Tepat saat itu juga, terlihat Fita hampir terjatuh tidak jauh dari Cindy. Untungnya tubuh Fita masih sempat ditangkap oleh Cindy sehingga tidak sampai jatuh ke lantai penuh debu itu.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Cindy

__ADS_1


"Ya, terima kasih" sahut Fita


Cindy membantu Fita untuk berdiri, kedua gadis itu kemudian menatap kearah Aldo yang berada tiga meter dihadapan mereka.


Cindy dan Fita mengambil posisi siap bertarung melawan Aldo yang sedang memainkan belati ditangan kanannya.


"Kalian ingin menyerangku berdua?" ucap Aldo


"Tentu saja" sahut Cindy


"Maaf, tapi bukankah lawanmu itu dia" balas Aldo menunjuk ke arah belakang Cindy dan Fita


Saat itu Cindy berpaling dan melihat Harada yang baru bangkit sambil memegang kepalanya.


"Sialan, itu sakit sekali" gumam Harada


Wajah Cindy terlihat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Meski Harada telah terkena serangan petir langit miliknya, orang itu masih bisa bertahan dan tidak jatuh.


Itu menandakan bahwa Harada adalah seorang petarung yang kemampuannya diatas rata-rata ahli beladiri. Bagaimana tidak, Harada bisa bertahan dari serangan jurus petir langit Cindy yang seharusnya bisa menjatuhkan lawan ketika tendangannya terkena telak di kepala.


"Aku terlalu meremehkannya, seharusnya tadi ku tambahkan tenaga listrik" gumam Cindy


Begitu Harada sudah mantap berdiri dan melepaskan pegangan pada kepalanya, dengan wajah yang terlihat kesal dia menekan tombol kecil di sarung tangannya. Kedua sarung tangan itu pun berubah warna yang semula hitam menjadi berwarna perak.


"Itu mirip dengan sarung tangan orang asing tempo hari" pikir Cindy yang teringat sarung tangan yang dikenakan Steve kala itu.


Harada kemudian berlari dan menyerang Cindy dan Fita dengan cepat. Berbeda dengan Cindy yang menghindari tinju Harada, Fita mencoba menankisnya dengan tangan kanan.


"Aaaarg"


"Terima kasih" ucap Aldo kepada Harada


Aldo kemudian hendak menusukkan belati miliknya untuk mengakhiri nyawa Fita, namun saat itu Cindy terlebih dahulu menyerang Aldo dengan tendangan berputar silih berganti.


"tak...tak..tak"


Meski tendangan itu bisa dihalau Aldo, serangan Cindy berhasil membuat Aldo menjauh dari tempat Fita berada. Sekarang jarak mereka terpisah sejauh 3 meter.


"Kau mengganggu sekali" gumam Aldo


Dengan menambahkan kecepatannya, Cindy mendekat kearah Aldo. Begitu Cindy ingin menyerang Aldo kembali, tiba-tiba serangan kejutan dari Harada muncul menghadangnya.


Sebuah tinju besar datang dari arah samping, untungnya saat itu Cindy berhasil menghentikan gerakannya dan menghindari serangan itu. Ketika tinjunya meleset, Harada memutar tubuh dan melakukan tendangan.


"Taak"


Cindy menyilang kan tangannya menahan tendangan Harada. Meski tidak sekuat tinjunya, namun rasa sakit tetap terasa di pergelangan tangan Cindy akibat tendangan itu.


Harada kembali mengejar Cindy dan melakukan serangan bertubi seolah tidak mau melepaskannya. Semua serangan


Kala itu Aldo ingin menuntaskan pekerjaannya untuk menghabisi salah satu lawannya yaitu Fita. Aldo berjalan santai diantara orang-orang yang bertarung di belakangnya.


Fita yang mencoba menahan rasa sakit ditangan kanannya, mencoba untuk bangun dan berjuang dengan satu tangan. Cindy yang ingin membantunya saat ini sedang disibukkan oleh Harada.


Aldo dengan lincah menyerang Fita yang hanya bisa bertahan dengan satu tangan. Tentu saja hal itu sangat sulit dilakukan, Fita akhirnya harus mendapatkan luka sayatan di lengan dan punggungnya.


Luka yang diakibatkan belati Aldo itu tidak membuat Fita jatuh, akhirnya sekali lagi Aldo menyerang Fita dengan berbagai kombinasi. Kala itu Fita sudah mencapai batasnya dan tidak bisa lagi menghalau serangan Aldo.

__ADS_1


Melihat rekannya sedang terdesak membuat Cindy tidak bisa fokus menghadapi serangan Harada. Sebuah tendangan kuat pun akhirnya diterima Cindy. Meski mampu ditahan dengan kedua tangannya, tendangan Harada membuat tubuh Cindy bergeser mundur.


Disaat yang sama tendangan beruntun Aldo membuat Fita terjatuh dan benar-benar kehilangan tenaga. Dengan Belati di tangan kanannya, Aldo melakukan tusukan lurus kearah tubuh Fita yang sudah kelelahan.


Ketika belati Aldo melesat didepan leher Fita dan hampir mengenainya, wanita itu sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya dan memejamkan mata.


"Hei, kau tidak boleh tidur saat bertarung?"


Suara familiar terdengar di telinga Fita, itu adalah suara rekan sekaligus pelatihnya yaitu Markus. Fita membuka matanya dan ternyata memang benar, tangan Aldo ditahan oleh Markus sehingga belati tajam itu tidak sampai menyentuh Fita.


"Kau, bukannya kau terluka parah?" ucap Aldo yang pergelangan tangannya masih dipegang oleh Markus.


"Kau tanyakan saja kepada wanita yang memberiku ramuan aneh " sahut Markus


"Huh,,Jadi gadis itu ya" pikir Aldo melihat Lisa yang sedang bertarung dengan Adiyana.


Aldo pun melepaskan belatinya yang kemudian disambut oleh tangan kiri yang langsung melakukan gerakan seolah hendak merobek perut Markus.


"Wuush"


Markus melepaskan genggamannya dan belati itu melintas di depan perut Markus ketika dia memundurkan tubuhnya.


"Buuk" tendangan lurus dari Markus menghantam perut Aldo dan membuat Aldo melangkah mundur sebanyak 5 langkah. Aldo menyapuh pakaiannya dan kembali memindahkan belati itu ke tangan kanannya.


"Lumayan" ucap Aldo


Markus kemudian membuka pintu mobil milik Kurassha yang sebelumnya dijadikan pagar. Dia meminta Fita untuk masuk kedalam mobil itu dan memulihkan dirinya ditengah pertempuran yang ada disekitarnya.


Saat itu perkelahian disana sangat sengit, beberapa dari mereka sering bertukar lawan. Siapa pun lawan yang ada didekat akan langsung disikat. Cindy yang melihat ada orang yang membantu Fita, menjadi lega dan menjadi lebih fokus melawan Harada.


"Syukurlah" gumam Cindy


"Hei! Lihat kemana kau gadis kecil" ucap Harada


"Tidak ada, sekarang kita bisa mulai lagi pak tua!" balas Cindy


Cindy pun akhirnya memutuskan menggunakan kemampuan listriknya kembali untuk menghadapi Harada. Energi Listrik yang dihasilkan tubuh Cindy kali ini bahkan lebih besar dari sebelumnya.


Harada berlari kearah Cindy dan menyerang terlebih dahulu. Pukulan Harada terlihat melambat di mata Cindy yang sudah mengaktifkan kemampuannya.


Hal itu membuat Cindy bisa dengan mudah menghindari pukulan Harada. Perasaan Harada mulai khawatir dengan perubahan kemampuan Cindy dimana dia sama sekali tidak bisa menyentuh gadis itu sekarang.


"anak ini, kenapa jadi makin cepat" pikir Harada


Setelah beberapa kali menghindar, akhirnya Cindy melancarkan serangan balasan. Dengan energi listrik yang dialirkan ke tangannya, Cindy melakukan pukulan keras beberapa kali yang membuat tubuh Harada merasakan hantaman dan sengatan listrik sekaligus.


"Bruuk"


Tubuh Harada terlempar jauh hingga menghantam mobil Kurassha yang sebelumnya menjadi pagar kurungan kelompok AII. Tubuh Harada kemudian jatuh karena tidak dapat menahan efek pukulan berlapis sengatan listrik dengan voltase tinggi, tinju Cindy berdampak sentakan menyakitkan dan hilangnya kontrol otot tubuh Harada hingga akhirnya tewas.


"Apa aku terlalu tinggi mengeluarkan listrik?sudahlah yang penting kali ini sudah benar-benar selesai" gumam Cindy


Jatuhnya pengawal elit Rei itu membuat Cindy menjadi perhatian Rei yang baru saja meninggalkan lawannya kepada Kitsune. Rei pun berjalan dengan wajah tersenyum memancarkan semangat mendekati Cindy. Pedang katana panjang pun sudah terhunus ditangannya siap untuk di tebaskan.


Ditengah pertarungan yang sudah banyak menimbulkan korban, Miura terus mengejar Sapri dengan tombaknya. Bahkan dengan pertarungan tangan kosong, Sapri berfikir dia masih kesulitan menghadapi Miura.


Sapri sedikit melambat sehingga Miura berada dekat dibelakangnya. Kesal terus berlari mengejar Sapri, Miura akhirnya melemparkan tombak kearah Sapri yang ada didepannya. Tombak Miura melesat menuju punggung Sapri yang tengah berlari.

__ADS_1


__ADS_2