Nano System

Nano System
Episode 89 Bala Bantuan


__ADS_3

Saat itu di ruang tengah markas utama kelompok Kurassha, Riyan tengah menghabisi seorang penjaga yang tersisa di sana dan mencabut katana yang menembus tubuh lawannya.


Tubuh penjaga itu terjatuh ke lantai, menambah jumlah mayat yang memenuhi ruang tengah yang luas itu. Di saat itu Riyan melihat sejumlah pria setengah baya dengan baju formal bergerombol didepannya.


[Tuan, sepertinya kali ini kita akan beruntung]


"Kenapa?"


[Orang-orang di depan itu, mereka semua memiliki wechas]


"Jadi begitu ya" gumam Riyan dengan senyuman yang tak terlihat dibalik topeng hitamnya.


Melihat di ruangan itu hanya tersisa para pemimpin Kurassha yang tidak bersenjata, Julian dan Maria pun memberanikan diri keluar dan berdiri di samping Riyan yang masih mengenakan Armor hitamnya.


Dihadapan mereka sekarang telah berkumpul semua pimpinan cabang Kurassha yang menghadiri pertemuan di sana. Julian dan Maria masih mengarahkan senjata mereka kepada sekumpulan pemimpin Kurassha itu.


"Tidak disangka kalian berkumpul disini dan mempermudah pekerjaan kami" ucap Julian


"Apa kalian akan menangkap kami?" salah satu pimpinan bertanya


"Tidak, kami bukan polisi. Lagipula, di tempat kami tidak menyediakan penjara" balas Julian


Kemudian diantara sekumpulan pemimpin Kurassha itu, Rei yang baru dari ruang pertemuan muncul ke depan menembus barisan para pemimpin Kurasha. Dia menatap kearah Riyan dengan raut wajah menakutkan.


"Jadi kau yang telah melakukan penyerangan di Xforu dan menghabisi adikku?" ucap Rei


"Kalau adikmu berada disana saat itu, berarti memang benar begitu" balas Riyan


"Katana di tanganmu, itu miliknya. Hari ini akan ku ambil kembali pedang itu dari mayatmu"


Usai perkataan Rei, semua pimpinan seketika mengaktifkan wechas mereka. Sebagian merupakan senjata jarak dekat dan sebagian lagi merupakan senjata api yang sekarang diarahkan kepada Julian, Maria dan Riyan.


Julian dan Maria begitu kaget sekaligus bingung melihat dari mana asal senjata yang tiba-tiba muncul di tangan orang-orang itu. Sikap mereka berdua menjadi lebih siaga, wajah santai seketika berubah menjadi lebih serius.


Suasana di dalam ruangan itu berubah menjadi terasa menegangkan. Tiga orang aggota AII saat berhadapan dengan sekumpulan penjahat yang menguasai dunia bawah Indonesia.


"Sepertinya beberapa dari mereka adalah ahli beladiri" pikir Riyan


"Dor"


Tiba-tiba salah seorang pemimpin Kurassha menembakkan senjata api miliknya ke arah Riyan.


"Klink"


Dengan cepat Riyan mengangkat pedangnya, membuat peluru itu terjatuh ke lantai karena tertahan oleh pedang oriental.


Seketika suara tembakan beruntun kembali memenuhi ruangan itu. Julian dan Maria segera melompat ke belakang kursi sofa yang ada di dekat mereka, sofa yang sudah penuh lubang peluru akibat perang kecil sebelumnya menjadi pilihan terbaik untuk berlindung saat itu.


Ditengah peluru yang menghujaninya, Riyan berlari melangkahi mayat di sana untuk menyerang beberapa pimpinan Kurassha sambil terus menahan peluru dengan pedangnya. Namun saat hampir dekat, serangan Riyan terhalang oleh tebasan vertikal sebuah katana pendek yang datang secara tiba-tiba dari arah sampingnya.


Insting tajam beladiri yang sudah terlatih, membuat Riyan menyadari datangnya serangan itu. Dia pun segera mengubah arah tubuhnya untuk menahan serangan kejutan yang akan mengenainya.


"Klink" tebasan yang berasal dari sebuah katana pendek berbenturan dengan pedang oriental milik Riyan.


Tebasan itu berasal dari seorang pria berambut panjang dengan luka bekas sayatan di wajahnya.

__ADS_1


"Shuuut" serangan berlanjut dengan sebuah tusukan tombak cepat kearah tubuh Riyan dari arah barisan pimpinan Kurassha.


Riyan terpaksa melompat mundur untuk menghindari tusukan itu dan memaksa Riyan kembali pada posisi awal dia berdiri.


Riyan memandang kepada orang yang memegang sebuah katana pendek seperti seorang ninja, dia merupakan salah satu anak buah Rei. Sedang satu orang yang melakukan tusukan ialah salah seorang pemimpin Kurassha wilayah Maluku.


"Aura kedua orang ini berbeda" pikir Riyan


Disisi lain Julian dan Maria masih terpojok dibelakang sofa oleh rentetan tembakan senjata api. Berbeda dengan sebelumnya dimana Riyan bisa menghentikan hujan peluru dengan menghabisi lawannya dengan cepat, sekarang Riyan menghadapi lawan yang cukup merepotkan.


Sesaat kemudian Rei mengangkat tangannya sebagai isyarat kepada para pemimpin Kurassha agar menghentikan tembakannya.


Julian dan Maria ingin memanfaatkan situasi sepi tersebut, kedua agen itu keluar mengintip dari atas sofa secara perlahan dan mengacungkan senjata mereka.


"Kenjo, majulah!" ucap Rei dengan santainya


Seorang lelaki jepang dengan rambut pendek sebahu tersenyum kecil. Dari belakang Rei, Kenjo kemudian tiba-tiba bergerak cepat berlari menginjak pada dinding ruangan itu seolah seperti lantai. Tanpa ragu dia melemparkan beberapa shuriken kearah Maria dan Julian.


Riyan yang bisa melihat arah lemparan shuriken orang itu, segera bergerak cepat hingga berada pada posisi diantara shuriken dan Julian. Dengan tebasan pedangnya, Riyan menghadang serangan shuriken Kenjo.


Shuriken-shuriken itu pun terpental dan menancap pada dinding ruang tengah tersebut. Disaat yang bersamaan, Rei juga melemparkan dua shuriken lagi hingga Riyan tidak sempat untuk berpindah menghalau lemparan itu.


Kedua shuriken tersebut mengenai senjata api milik Julian dan Maria dengan keras. Seketika dua senjata api di tangan Julian dan Maria terlepas dari tangan mereka dan berputar di atas lantai hingga menyentuh dinding.


Tanpa perlu komando selanjutnya, para pimpinan yang mengaktifkan wechas berbentuk senjata jarak dekat segera menyerbu.


"Ini baru menarik" ucap Rei


Julian dan Maria menjadi sedikit gelisah. Bagaimana tidak, mereka harus menghadapi setidaknya 8 orang bersenjata jarak dekat yang datang kearah mereka.


Julian dan Maria berusaha untuk menghadapi serangan dari para pemimpin Kurassha dengan mengeluarkan pisau dari pinggangnya. Keributan pun muncul seketika saat kedua pihak bertemu dan saling mencoba melukai.


Disaat itu hawa membunuh dirasakan Riyan mengarah kepadanya, sebuah pedang katana menusuk kearah lehernya. Riyan mengelak dengan sedikit menggeser kepalanya.


Percikan api terlihat pada bagian leher Riyan akibat gesekan sebuah katana dan armor Riyan. Dengan katana milik Seichi, Riyan membalas tusukan itu.


Namun orang dengan luka di wajah itu memang bukan orang biasa, dia mampu menghindari tusukan dari Riyan dalam jarak yang sangat dekat itu.


"Orang ini merepotkan, dan di sana Julian dan Maria harus menghadapi orang-orang itu. Apa mereka bisa" pikir Riyan


"Sriiiing"


Sebuah rantai besi dengan sabit kecil yang terpasang di ujungnya menyambar Riyan dengan cepat. Itu adalah senjata kusari gama, merupakan senjata ninja untuk menusuk dan menjerat musuh dalam serangannya.


Serangan sabit itu berasal dari wechas milik Kenjo, Riyan menghalangi serangan itu dengan pedangnya. Hingga membuat serangan yang berasal dari salah satu pengawal elit Rei itu berputar dan melilit pedang oriental Riyan.


Tidak berapa lama, pengawal dengan luka di wajah menambahkan serangan kepada Riyan. Dengan katana milik Seichi yang ada di tangan kirinya, Riyan menahan serangan pengawal Rei itu.


Sekarang Riyan menjadi sibuk menghadapi kedua orang itu. Pada tangan kiri Riyan beradu pedang dengan anak buah Rei yang memiliki luka di wajah, sedang pada tangan kanan Riyan beradu tarikan dengan salah satu pengawal elit Rei yang bernama Kenjo.


Di saat yang sama, Maria dan Julian sedang berusaha bertahan dengan bertarung melawan para pemimpin Kurassha. Meski terlihat tidak imbang dan kelelahan, namun Maria dan Julian sebisanya bertahan dari serangan orang-orang itu.


Disisi lain ruangan itu, Rei yang tengah menghisap rokok sedang menikmati pertunjukan perkelahian itu bersama dengan para pimpinan yang memegang senjata api .


Beberapa saat kemudian Julian sudah mendapatkan beberapa luka, begitu juga dengan Maria. Riyan yang masih sibuk menghadapi kedua pengawal Rei tidak bisa membantu rekan-rekannya.

__ADS_1


"Para pemimpin itu bukan orang biasa seperti Tirta. Kalau menggunakan sundang sungai secara penuh, mungkin saja aku akan bisa mengalahkan mereka. Tapi bisa jadi malah menebas Maria dan Julian juga"


"Klink....klink"


Disaat Riyan memikirkan cara menyelamatkan rekannya, serangan Katana dan sabit berantai terus menerus berbenturan dengan kedua pedang milik Riyan masih terus terdengar.


"Trrrrt...trrrrt"


Dari arah jalur masuk ruangan itu, terlihat tiga orang dengan pakaian pelindung anti peluru dilengkapi helm sedang menembaki sebagian besar pimpinan Kurassha yang tengah mengeroyok Julian dan Maria.


Setelah suasana gembira yang dirasakan Rei, perasaan itu berubah menjadi gelisah karena kedatangan ketiga orang tersebut. Seluruh perhatian semua orang tertuju kepada ketiga orang yang baru masuk.


Hujan tembakan yang secara tiba-tiba itu membuat orang-orang yang berada di samping Rei membalasnya dengan senjata api yang ada di tangan mereka.


Dilain pihak, meski beberapa peluru mengenai baju para agen intelegen itu namun tidak mengakibatkan luka. Sedangkan beberapa dari pemimpin Kurassha yang memegang senjata api telah terkena tembakan.


Saat itu pemimpin Kurassha hanya tersisa 5 orang bersenjata api dan 3 petarung. Mereka yang selamat bergerak mundur kembali ke ruang pertemuan.


"Bagaimana dengan Kenjo dan Teru?" tanya salah seorang pimpinan Kurassha


"Mereka berdua adalah bagian dari 5 pengawal Elit ku, tidak ada yang perlu di khawatirkan" sahut Rei


Disisi lain Riyan mendapatkan ketenangan dan lega dengan kedatangan para bantuan.


"Syukurlah bantuan datang, walau aku juga tidak tau kenapa bisa terjadi. Tapi karena itu, aku bisa fokus melawan dua orang ini" gumam Riyan


Julian dan Rei segera menghampiri tiga orang yang baru saja tiba. Mereka adalah para rekan yang juga senior AII, yaitu Clafita, Radit, dan Markus si pelatih agen baru.


"Kenapa lama sekali?" ucap Julian


"Jalan menuju kesini barusan sangat macet, lagipula kedua orang ini sedikit sulit dihubungi" balas Markus yang sedang mengisi ulang senjatanya


"Hei apa itu yang namanya Riyan?" tanya Radit saat melihat sosok hitam yang sedang bertarung melawan dua orang dengan gerakan cepat.


"Ya" jawab Julian


"Apa perlu kita bantu?" tanya Markus melihat pertarungan sengit Riyan dengan dua orang anak buah Rei.


"Tidak perlu, sebaiknya kita habisi mereka yang kabur" balas Julian mengambil senjata yang sempat terlempar.


"Riyan, kami maju duluan" teriak Markus


Tiba-tiba beberapa shuriken melayang dengan cepat ke arah Markus dan yang lainnya.


"Klink..klink...klink"


Riyan tersenyum setelah menangkis semua shuriken yang dilemparkan Kenjo.


"Kurang ajar" ucap Kenjo geram


"Sejak kapan dia dapat berpindah secepat itu" gumam Teru


Karena disaat itu Riyan sedang melawan Teru ketika Kenjo melemparkan Shuriken untuk menghentikan para aggota AII.


"Kalian pergilah!" ucap Riyan

__ADS_1


Markus dan yang lainnya mengejar menuju jalur ke ruang pertemuan Kurassha. Sekarang hanya tertinggal Riyan dengan dua pengawal elit milik Rei dalam ruangan penuh mayat tersebut.


"Bukannya kalian adalah lawan ku?majulah!" ucap Riyan


__ADS_2